Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Aku Telah Kalah


__ADS_3

"Ben, aku bilang sekali lagi. Julia adalah kekasihku."


Julia membelalakkan matanya, terkejut karena Irfan mengatakannya pada Ben. Sementara Ben hanya menatap mata Irfan tak percaya.


"Haha Irfan, kalau becanda jangan kelewatan ya," ucap Ben geli. Mana mungkin Irfan adalah kekasih Julia?


"Jul, cepat katakan pada Ben yang sebenarnya dan aku tidak becanda, Ben." Irfan menahan gejolak amarah yang mulai memenuhi hatinya. Ia marah karena Julia seperti malu telah menjadi kekasihnya.


Julia bergantian menatap Irfan dan Ben. Saat-saat seperti inilah yang selalu ia hindari. Julia tahu jika saat ini Irfan marah padanya dan ia pun belum bisa memaafkan Irfan. Tapi ia belum siap mengatakannya pada Ben, ia takut Ben akan terlalu kecewa karena Ben menaruh harapan besar padanya.


"Jul! Cepat katakan!" Suara Irfan terdengar memekakkan telinga Julia.


"Irfan, kamu jangan memaksa Julia! Kenapa kamu malah memarahinya?!" Ben mulai emosi saat Irfan mulai terdengar membentak Julia.


"Aku memang memaksanya! Kau tahu kenapa? Agar semuanya jelas dan kamu tidak terus berada di samping Julia. Agar kamu tahu tempatmu bagi Julia, hanyalah seorang sahabat. Tidak lebih dan tidak kurang!" Irfan menatap tajam mata Ben.


"Irfan, kau tidak sopan sekali! Aku mau berada di mana, itu terserah aku! Kau tidak berhak mengaturnya." Ben balik menatap tajam mata Irfan.


Julia menutup matanya, merasa bersalah. Kejadian seperti ini bukanlah skenario yang ada di kepalanya. Ia tidak tahu mengapa Irfan tidak bisa bersabar sebentar saja.


"Irfan ... Ben ... cukup, sudahlah. Aku yang bersalah di sini. Kalian jangan bertengkar karena aku," kata Julia sedih.


"Jul, aku masih menunggumu. Cepat katakan pada Ben!" Irfan terus menuntut Julia.


"Irfan, mengapa kamu tidak bisa sabar menunggu sebentar saja?" Julia menatap sendu mata Irfan.


"Ben, maafkan aku. Semua yang Irfan katakan benar. Aku dan Irfan beberapa hari yang lalu jadian," ucap Julia lirih, takut menyakiti hati Ben.


Mata Ben hanya memandangi mata Julia, mencari kebenaran dalam setiap ucapannya. Rasanya tidak percaya, Julia menjadi kekasih Irfan. Rasa kecewa, perih memenuhi hatinya. Ia tidak rela, orang yang selama ini dinantinya malah mencintai orang lain.


Perlahan Ben berjalan keluar dari rumah Julia, ia tidak menengok lagi ke belakang. Hatinya pedih melihat wajah Julia yang terlalu dicintainya ataupun kemenangan wajah Irfan. Ia tidak sanggup.


Tak terasa sebutir air mata lolos jatuh di pipi Julia, ia tidak tega melihat kekecewaan di mata Ben. Tapi kakinya terlalu kaku untuk bergerak mengejar Ben sementara Irfan terus menatap tajam padanya.


"Mau mengejar Ben?! Sana kejar saja!" Suara Irfan membuat Julia semakin diam berdiri di tempatnya.


"Irfan, kamu pulang lah! Aku lelah," ucap Julia akhirnya. Ia tidak sanggup menghadapi Irfan saat ini. Tenaganya seperti terkuras habis, tidak sanggup beradu mulut lagi dengan Irfan.

__ADS_1


"Kamu menyuruhku pulang? Oke, aku pulang. Tapi pikirkan lagi baik-baik kata-kataku ini. Sebenarnya siapa yang kamu cintai, aku ataukah Ben? Jangan kamu permainkan kami!"


Irfan berlalu pergi keluar dari rumah Julia.


Menarik nafas panjang, Julia pun akhirnya berjalan keluar rumah memandangi kepergian mobil Irfan hingga hilang dari pandangan matanya. Dengan perlahan, ia pun mengunci pintu-pintu rumahnya dan masuk ke dalam Arka.


"Arka sudah tidur, Mbak?" tanya Julia pada Asih, pengasuhnya.


"Sudah, Bu."


"Terima kasih, Mbak Asih." Julia tersenyum sangat berterima kasih pada pengasuh Arka yang menjaganya dengan baik seharian penuh.


"Maaf, Bu Julia. Bolehkah besok saya ijin pulang kampung seminggu? Kakak saya akan menikah," kata Mbak Asih.


"Iya nggak apa-apa, Mbak. Besok kan juga aku libur dan selebihnya bisa mengambil cuti kerja. Tapi tolong Mbak Asih kembali lagi ya," pinta Julia.


"Iya Bu, saya akan kembali ke sini. Saya juga sangat sayang pada Arka," ucap Mbak Asih menentramkan hati Julia.


Setelah Mbak Asih keluar dari kamar Arka, Julia duduk memandangi wajah buah hatinya. Ia merasa bersalah tidak bisa selalu menjaga dan merawatnya karena ia harus bekerja. Jika ia tidak bekerja, lalu siapa yang akan membiayai kehidupannya?


Julia memejamkan matanya, bertanya dalam hati.


Ataukah ini hanya keinginannya sesaat tanpa memikirkan masa depan Arka?


Bukankah ia hidup berdua saja dengan Arka tanpa seorang pendamping pun, ia baik-baik saja?


***


Ben memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia kecewa, marah bercampur perih di dalam hatinya. Dadanya terasa panas menahan semua gejolak yang campur aduk.


Julia menolak cintanya hanya demi seorang Irfan. Ia tidak terima!


Tiba-tiba Ben menginjak dalam-dalam rem mobilnya dan seketika mobil pun berhenti di pinggir jalan mengeluarkan suara berdecit keras. Kepalanya berdenyut dan nafasnya tersengal.


Julia ... mengapa kamu tega menolak aku?


Mengapa hatimu tidak bisa menerima aku lagi?

__ADS_1


***


Sebuah kamar suite hotel, suara desah nafas saling memburu. Dua tubuh saling membelit, mencari kepuasan ragawi. Irama percintaan yang cepat, seakan gairah sudah tak tertahankan. Lenguhan panjang terdengar, menandakan kepuasan yang mengguyur seluruh tubuh, disusul dengan suara desahan lain yang lebih feminim.


Dua tubuh pun berbaring kelelahan bersebelahan, menikmati kepuasaan yang hanya mereka yang tau.


"Kamu puas, Theo?" tanya Nadine yang ujung ibu jarinya menelusuri dada bidang Theo yang basah oleh keringat.


"Puas untuk saat ini, tapi nanti kita coba lagi yang lebih lambat." Senyum tipis tersungging di bibir Theo.


"Siap sayang," saut Nadine manja. Ia tidak menyangka Theo mengajaknya bercinta lagi walaupun ia tahu ini hanyalah pelampiasan saja.


"Nad, kamu benar sudah tidak bisa hamil lagi?" tanya Theo memandangi langit-langit kamar.


"Sayangnya benar, Theo. Aku telah kalah dan semua ini karena Julia," ucap Nadine pelan.


"Sudahlah, jangan kau pikirkan Julia. Lalu bagaimana rencana kita? Apakah semua sudah matang?" tanya Theo lagi.


"Sepertinya sudah. Perkara membawa Arka keluar dari rumah Julia itu mudah. Tapi bagaimana caramu untuk membawanya ke luar dari negara ini? Aku takut nanti kita tertangkap karena penyelundupan anak," kata Nadine mengutarakan kekhawatirannya.


"Aku sudah menyewa pesawat pribadi. Sangat mudah untuk membawa Arka ke luar negeri. Tapi kita tetap butuh surat-surat, akta kelahiran Arka sudah cukup. Itu tugasmu, Nad," kata Theo.


"Bagaimana kalau kita palsukan saja? Kan hanya fotocopy bisa?"


"Walaupun fotocopy juga harus ada legalisirnya."


"Hem ... stempel beli di pinggir jalan juga bisa. Okelah, pokoknya Minggu ini kita eksekusi ya. Nanti aku kabari waktunya." Nadine yakin rencananya sudah matang.


"Tapi jangan mendadak, paling lambat 3 jam sebelumnya karena aku harus menyiapkan pesawatnya," ucap Theo tersenyum pada Nadine.


"Siap, sayang."


"Siap untuk apa?" tanya Theo kembali menciumi leher Nadine yang seketika membangkitkan gairah di sekujur tubuhnya. Nadine sudah tidak bisa berkata, ia hanya menikmati setiap sentuhan Theo di tubuhnya.


Theo kembali menjelajahi tubuh Nadine, kali ini dengan perlahan, menikmati setiap jengkalnya. Nadine terdenyum di sela-sela desahan nafasnya, ia juga menginginkan kepuasan yang telah lama tak ia nikmati.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2