
"Sudahlah, yuk kita turun! Semakin lama kita disini malah akan membuat Ben dan juga Mama kamu salah sangka," kata Karel lalu membuka pintu mobilnya dan keluar.
Julia pun akhirnya keluar dari mobil dan memberanikan diri melihat raut wajah Ben.
Tapi ...
"Jul! Kenapa masih berdiri disitu? Yuk!" teriak Karel mengejutkan.
"Eh iya," kata Julia lirih.
Mama terlihat tersenyum dan menyambut kedatangan anak gadis tersayangnya.
"Julia, lama sekali kamu datang. Ben sudah sedari tadi menunggu kamu lho," kata Mama langsung memeluk.
"Ehm iya Ma, tadi waktu mau pesan taksi tiba-tiba Karel datang dan memberi tumpangan," jelas Julia.
"Karel, mari masuk dulu," ajak Mama.
Sementara Ben hanya diam mengamati dengan wajah yang tidak ramah. Matanya menatap tajam Karel dan tubuhnya berdiri kaku seolah menahan amarah.
Julia takut menatap mata Ben dan sudah menduga jika Ben pasti salah sangka.
"Terima kasih Tante, tapi saya akan melanjutkan perjalanan karena tadi saya akan ke rumah teman dan kebetulan tadi melihat Julia. Kapan-kapan pasti saya akan main kesini," kata Karel yang ikut mendukung Julia berbohong.
Karel sadar jika mengatakan hal yang sebenarnya maka permasalahan akan menjadi panjang dan yang akan dirugikan disini pastilah Julia.
"Saya langsung pamit Tante, Ben," ucap Karel lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Mama dan Ben.
"Jul, aku pergi dulu," pamit Karel.
Julia pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah kepergian Karel, Mama mengajak Julia dan Ben untuk menikmati minuman dan camilan buatan Mama.
Sementara Mama di dapur, Ben menarik tangan Julia dengan kasar ke taman di belakang rumah.
"Julia, kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Ben dengan suara tertahan menahan marah.
"Apa maksudmu Ben?"
"Jul, kamu berselingkuh?!" Ben menahan suaranya agar tidak terdengar Mama.
Wajah Ben merah padam dan tubuhnya kaku, menahan kegeraman.
"Ben, jaga kata-katamu! Jangan bahas disini, kamu sadar kan ini dimana?!" Julia pun ikut terpancing emosinya karena tuduhan Ben yang tak berdasar.
"Jul, Ben, kenapa masih berdiri? Ayolah duduk sama-sama," kata Mama yang muncul tiba-tiba membawa minuman dan camilan.
Julia dan Ben pun sesaat hanya saling berpandangan sengit, menahan emosi di hati untuk sementara waktu.
Mama yang tidak menyadari apa yang terjadi tetap ceria dan bercerita tentang berbagai hal, namun tak satupun yang Julia mengerti.
__ADS_1
Pikirannya kacau bagaimana akan menjelaskan hal yang sesungguhnya pada Ben sedangkan tadi dia sudah berbohong akan kebersamaannya dengan Karel.
Hari menjelang sore, Ben yang sudah tidak sabar akhirnya berpamitan pada Mama.
"Kalian ini kok cepat-cepat pulang sih. Padahal Mama sudah menyiapkan makan malam dan Papa pasti sebentar lagi pulang," kata Mama yang terlihat kecewa.
Hari ini Papa memang harus kerja lembur di kantor sehingga Julia dan Ben tidak bisa bertemu.
"Maaf Ma, tapi kami sudah ada janji dengan teman untuk makan malam bersama," kata Ben beralasan, padahal ia hanya ingin cepat-cepat pulang.
"Ya sudah, kalau ada waktu kalian harus kesini lagi," saut Mama tersenyum.
"Pasti Ma," kata Julia dan Ben bersamaan.
Mereka bergantian memeluk Mama berpamitan dan segera masuk ke dalam mobil.
Saat sudah berada di dalam mobil, Julia terdiam dan menunggu. Biarlah Ben yang memulai apa yang ingin dia katakan dahulu.
Namun, Ben masih tetap bungkam. Tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya. Julia melirik melihat wajah Ben yang kaku, mata yang tajam menatap jalan di depannya. Berkonsentrasi menyetir.
"Ben ... "
"Diam Jul! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu!"
Seketika Julia pun terdiam. Bingung bagaimana menjelaskan bahwa dia tidak seperti yang Ben tuduhkan.
Mobil sudah memasuki kawasan kompleks perumahan. Ben menghentikan mobilnya di depan rumah.
"Turun!"
"Turun sekarang!" teriak Ben geram.
"Kamu tidak pulang Ben? Kamu mau kemana?" tanya Julia yang masih bertahan di tempat duduknya.
Ben yang tidak sabar lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Julia.
"Keluar! Jangan tunggu aku pulang!" Ben berkata tertahan. Tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka.
Julia pun menuruti perkataan Ben dan akhirnya keluar dari mobil.
"Kamu mau kemana Ben?" tanya Julia tidak menyerah.
Namun Ben tidak menggubris dan langsung menyalakan mobilnya, menekan gas kuat-kuat. Suara decit terdengar keras di telinga Julia dan mobil Ben melaju kencang meninggalkan Julia yang mematung di depan rumahnya sendiri.
Dengan langkah lunglai, Julia masuk ke dalam rumah. Ambruk di sofa dan tak terasa air mata mengalir di pipinya.
Ben ... kamu kenapa tidak mau mendengarkan aku dulu? Sekarang kamu pergi kemana? Bagaimana bisa kamu salah paham? Padahal kamu tahu jika Karel hanyalah teman kerjaku saja ...
Julia menangis terisak dalam rumahnya yang sepi. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
Hingga malam menjelang, Julia masih duduk terdiam di tempatnya. Gelap menyelimuti rumah dan Julia tidak ingin menyalakan lampu. Hatinya terlalu sedih mengingat apa yang terjadi.
__ADS_1
Kelelahan fisik dan mental membuat Julia pun akhirnya terlelap tidur di sofa.
Bunyi dering ponsel membangunkan Julia dari tidurnya yang gelisah.
Tangan Julia mencari ponsel yang tersimpan di dalam tasnya. Ketika melihat yang menelpon, Julia pun hanya membiarkannya dan akhirnya menolak panggilan masuk.
Sudah jam 9 malam ternyata. Kenapa Karel menelpon malam begini? Biarlah saja, aku tidak ingin menambah masalah lagi.
Saat panggilan telpon dari Karel kembali masuk, Julia hanya membiarkannya saja. Julia lalu menyalakan lampu-lampu di rumahnya.
Sudah malam tapi Ben belum pulang. Kemana Ben pergi?
Julia akhirnya membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa lengket dan gerah. Dia ingin menyegarkan diri agar jika Ben datang, ia bisa menjelaskan semuanya tanpa terpancing emosi.
Malam itu, Julia duduk diam di ruang tengah. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Matanya terus mengawasi jam yang terus bergerak, menunggu Ben kembali pulang ...
***
Sementara di sebuah sudut caffe hotel berbintang, Ben terlihat duduk dengan secangkir kopi di depannya. Tak sendirian, ada seorang wanita cantik menemaninya.
Terlihat senyum terpancar di wajahnya. Keduanya saling mengobrol santai dan saling melontarkan candaan. Ben terlihat sangat terhibur dari cerita-cerita yang keluar dari bibir berlipstik pink lembut.
Berkali-kali Ben pun tak bisa menahan tawa lebarnya.
'Ku selalu mencoba untuk menguatkan hati
Dari kamu yang belum juga kembali
Ada satu keyakinan yang membuatku bertahan
Penantian ini 'kan terbayar pasti
Lihat aku sayang ... Yang sudah berjuang
Menunggumu datang, menjemputmu pulang
Ingat slalu sayang ... Hatiku kau genggam
Aku tak 'kan pergi, menunggumu kamu di sini
Tetap di sini
Jika bukan kepadamu aku tidak tahu lagi
Pada siapa rindu ini 'kan kuberi
Pada siapa rindu ini 'kan kuberi
(Song by Anji)
-
__ADS_1
-
-