Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Bayi Laki-laki


__ADS_3

Sinar matahari sudah masuk melalui celah-celah jendela. Suara kicau burung bersahutan di atas pohon. Namun Julia masih meringkuk dalam kehangatan di balik balik selimut tebalnya.


Julia merasa kedinginan dengan udara pegunungan yang jarang dapat dirasakannya. Julia menarik selimutnya hingga lehernya. Ia malas untuk bangun.


Julia memang tidak perlu terburu-buru, karena ini adalah liburannya. Ia bebas untuk melakukan apa pun sesuka hatinya. Hingga hari agak siang, akhirnya Julia pun bangun dan mandi. Ia merasa lapar dan ingin segera sarapan.


Saat memasuki resto villa, Julia segera mengambil mi goreng dan segelas teh hangat yang menjadi pilihannya untuk sarapan. Sebenarnya ada bermacam-macam menu yang tersedia, namun Julia memang ingin makan mi goreng saja.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Julia pun ingin berjalan-jalan di taman sekita villa. Tamannya sangat terawat dengan bunga dan pepohonan yang semakin membuatnya indah.


Julia duduk di bangku yang ada di taman itu. Terlihat beberapa orang juga sedang berjalan-jalan di taman itu. Julia memandangi orang-orang itu yang terlihat bahagia. Mungkin karena udara di sana sejuk sehingga membuat orang jadi lebih bahagia. Begitu lah kesimpulan yang Julia ambil.


Julia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya. Ia merasa bahagia saat ini walaupun Karel sudah tidak bersamanya lagi. Tapi ia memiliki buah hati yang sebentar lagi akan lahir menemani hari-harinya. Senyum Julia tersungging, merasa tidak sabar ingin segera bertemu bayinya.


Julia tiba-tiba membuka matanya, ia terkejut karena ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Secara refleks Julia menoleh.


"Ben!" pekik Julia terkejut.


"Hai, Jul. Nggak menyangka kita bertemu di sini." Ben berkata santai.


"Ben, kenapa kamu bisa ada di sini?!" tanya Julia tidak habis pikir.


"Tentu saja naik mobil, Jul." Ben menampakkan senyum lebarnya.


"Ben! Jangan bercanda dong! Kamu tahu aku ada di sini?"


"Julia, mana aku tahu kamu ada di sini? Kemarin waktu kamu bilang mau liburan, tiba-tiba aku juga ingin liburan. Makanya semalam aku datang ke sini, sejenak ingin menenangkan diri. Eh, malah bertemu kamu di sini," jelas Ben dengan menatap wajah Julia.


Hati Ben terasa berdesir setiap kali memandangi wajah Julia. Tidak ada yang berubah di sana, bahkan saat Julia yang saat ini dalam keadaan hamil.


Julia menghela nafasnya, merasa tidak percaya akan semua yang Ben katakan.


"Kenapa diam? Kamu nggak percaya?" tanya Ben geli.


"Iya aku nggak percaya." Julia akhirnya mengaku.


"Ya sudah kalau kamu nggak percaya, nggak masalah buatku." Ben berkata santai sambil menyembunyikan senyumnya.


"Jul, jalan-jalan yuk. Kan kamu harus olahraga biar kamu dan bayimu makin sehat," ajak Ben.


"Capek ah, aku mau duduk di sini saja. Kalau kamu jalan-jalan ya sana lah. Aku tunggu di sini," kata Julia.

__ADS_1


"Eh ... Diajak olahraga biar sehat malah nggak mau. Terserah kamu saja lah," saut Ben.


"Ben, jujur deh. Kamu sengaja datang ke sini karena tahu aku di sini kan? Ayolah, aku nggak akan marah." Julia penasaran akan alasan Ben datang ke sini.


"Jujur nggak ya??? Haha ... Aku nggak tahu kalau kamu di sini. Suer!" Ben bersikeras tidak mau jujur.


"Ih dasar! Terserah lah. Aku mau ke kamar dulu, di sini panas," kata Julia sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Ben.


"Jul, tunggu aku dong." Ben berteriak mengejar Julia.


Julia tidak memperdulikan Ben yang terus mengikutinya. Dan saat hendak membuka pintu kamarnya, Julia berhenti dan menghadap Ben.


"Ben, sana pergilah! Aku mau tidur," perintah Julia dengan wajah galak.


"Kan aku hanya mengantarmu, memastikan kamu selamat sampai di sini. Silahkan istirahat dulu. Nanti siang aku akan memanggilmu untuk makan siang," kata Ben tersenyum manis.


"Terserah!"


Julia masuk dan menutup pintu kamarnya, tidak memperdulikan Ben.


Julia sebenarnya merasa sedikit kesal. Ia tidak ingin bertemu dengan orang yang di kenalnya. Ia hanya ingin menyendiri untuk sesaat. Tapi kenapa Ben bisa muncul di sini?


Setelah menghabiskan waktu 3 hari liburan di villa, akhirnya Julia pun pulang. Ia pun pulang bersama Ben, karena Julia memang tidak membawa mobil.


Sesampainya di rumah, Julia pun berterima kasih karena Ben telah mengantarnya.


Esoknya, Julia berangkat kerja seperti biasa. Tapi saat mau pulang sore harinya, Julia melihat Irfan menunggunya di depan kantor.


"Hai, Julia. Sudah pulang kan? Aku antarkan?" tanya Irfan.


"Ehm ... Bolehlah, kebetulan aku tidak membawa mobil. Lagi aku serviskan di bengkel," kata Julia.


Setelah sudah di dalam mobil, Irfan pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Jul, kamu mau langsung pulang atau mampir dulu ke mana gitu?" tanya Irfan.


"Langsung pulang saja, Fan. Aku agak lelah."


"Oke. Oiya Jul, boleh aku tanya?"


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Jul, apa waktu liburan kemarin, Ben datang menemui kamu?" tanya Irfan menyelidik.


"Iya, benar. Kenapa?" Julia balik bertanya.


"Nggak apa-apa, Jul."


"Irfan, ada apa sih?" Julia malah penasaran.


"Julia, kadang jika kamu dekat dengan Ben, terus terang aku merasa cemburu," kata Irfan mengaku.


"Ah jangan bicara yang enggak-enggak dong, Fan. Selama ini kan aku sudah bilang kalau aku menganggap kalian berdua itu sahabatku. Aku tidak mungkin punya kekasih dalam waktu dekat ini. Aku belum bisa," kata Julia berterus terang.


"Aku tau, Jul. Maaf jika membuatmu merasa tidak nyaman."


"Jujur kadang aku merasa nggak nyaman, tapi aku yakin jika lama kelamaan kamu dan Ben pasti bisa mengerti posisiku," kata Julia tersenyum.


"Terima kasih, Jul."


***


Julia menjalani hari-harinya dengan bahagia karena tidak sabar menantikan kelahiran buah hatinya. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-9. Julia sudah membeli berbagai perlengkapan bayi.


Julia sudah mengambil cuti dan sementara menunggu waktu melahirkan, ia tinggal di rumah Mama. Julia sadar jika tinggal sendirian di rumahnya, ia takut tidak ada yang membantunya saat akan melahirkan nanti.


Hari ketiga tinggal di rumah Mama, Julia merasakan perutnya mulai terasa sakit. Mama menyarankan agar Julia segera pergi ke rumah bersalin.


Semakin lama rasa sakit yang dirasakan Julia semakin meningkat. Julia pun menyadari jika ia akan segera melahirkan.


Saat kesakitan karena kontraksi, Julia merasakan kesedihan karena tidak ada Karel yang menemaninya. Hatinya terasa perih, namun ia selalu teringat jika ia harus kuat untuk bisa melahirkan buah cintanya dengan Karel.


Julia masih bersyukur ada mama yang selalu ada di sampingnya, menemaninya. Julia sengaja melarang Ben atau pun Karel datang menemuinya untuk sementara waktu.


Saat akan melahirkan tiba. Dokter dan perawat membantu Julia berjuang melahirkan bayinya. Rasa sakit ia abaikan demi melahirkan buah hatinya ini.


Dan akhirnya, Julia berhasil melahirkan bayinya. Rasa sakit seperti menguap hilang saat ia melihat bayi mungilnya. Seorang bayi laki-laki.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2