Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Ijinkan Kami


__ADS_3

Ben terkejut mendengar pengakuan dari mulut Julia. Tidak menyangka Julia sangat tulus padanya.


"Julia, kita menikah saja."


Julia memandang wajah Ben yang ada di depannya.


"Ha ha ha ... Kamu sudah gila Ben?" Julia tertawa terbahak-bahak hingga air matanya menetes.


"Julia! Aku serius!" Ben kesal melihat reaksi Julia.


"Ha ha kamu ini bercandanya kelewatan Ben. Terima kasih sudah menghiburku," Julia masih tertawa geli.


Ben menunggu dengan wajah cemberut hingga Julia berhenti tertawa.


"Julia, maafkan aku yang tidak menyadari perasaanmu yang ternyata tulus mencintaiku. Saat ini rasa rasangku ke kamu memang belum sampai pada yang namanya cinta tetapi aku akan berusaha untuk tulus mencintaimu."


"Ben, apa sih sebenarnya maksudmu?" tanya Julia memahami ucapan Ben.


"Julia, aku ingin menikah denganmu. Hanya kamulah satu-satunya orang yang tulus mencintaiku. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu."


"Tapi Ben, kamu tidak cinta aku," kata Julia sedih menunjukkan fakta yang mengiris hatinya.


"Jul, pernahkah kamu mendengar pepatah Jawa yang mengatakan jika 'Tresna jalaran saka kulina' yang artinya 'Cinta datang karena terbiasa'. Aku yakin itu pulalah yang akan terjadi pada hatiku."


Julia hanya terdiam mendengar perkataan Ben yang sebenarnya membuat dirinya shock. Julia tidak bisa mengambil keputusan saat ini.


"Julia, percayalah padaku. Kita menikah?" tanya Ben sekali lagi lalu meraih tangan Julia dan menciumnya.


Julia memandangi mata Ben. Entah mengapa akhirnya Julia pun menganggukan kepalanya tanda setuju untuk menikah dengan Ben.


"Terima kasih Jul. Kamu mau menikah denganku. Selanjutnya aku akan meminta ijin pada Papa Mama kamu secepatnya," kata Ben meyakinkan.


"Ehm ... Ben, bukankah kita seharusnya pacaran dulu?" tanya Julia yang masih bingung dengan apa yang terjadi padanya.


"Tidak perlu Jul. Bukankah kita sudah saling mengenal sejak masih remaja? Kalau kita pacaran terlalu lama Jul. Aku ingin bulan depan kita langsung menikah," jawab Ben yang semakin membuat Julia bingung.


"Tapi ... "


"Tapi apa lagi Jul? Kita masing-masing sudah memiliki pekerjaan tetap. Kita saling menyayangi. Umur kita sudah sama-sama dewasa. Apalagi yang kamu tunggu? Kita menikah bulan depan?"


Ben memberikan fakta tentang hubungannya dengan Julia. Fakta dan bukan hal romantis.


Julia menghela nafas panjang.


"Terserah kamu sajalah Ben," kata Julia akhirnya. Lebih pada pasrah menuruti kemauan Ben.


Dalam hati Julia masih bertanya-tanya.


Akankah Ben juga akan mencintainya?

__ADS_1


Cinta karena terbiasa ... Benarkah?


Bukankah aku tidak bisa mencintai Theo walaupun telah bersama sekian tahun?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayuti pikirannya hingga saat Julia akan tidur malam itu.


Setelah Julia setuju bahwa Ben akan meminta ijin pada orang tua Julia besok malam, Ben pun pamit pulang.


Namun sebelum itu, Julia harus berbicara pada Nadine dan memberitahunya tentang pernikahan ini. Julia tidak ingin dianggap merebut Ben dari Nadine.


**


Esok harinya di kantor, Julia sibuk menghubungi nomor ponsel Nadine. Seharian ini Julia sudah mencoba berulang kali tapi nomor Nadine tidak aktif.


Julia pun bertanya pada teman-temannya mengenai keberadaan Nadine. Sampai saat akan pulang dari kantor sore itu, Julia mendapat pesan dari salah seorang teman lamanya saat kuliah yang mengatakan bahwa Nadine sudah pindah ke Kalimantan Tengah.


Kata temannya ini, Nadine pindah karena membanru usaha Pamannya yang saat ini sedang berkembang pesat.


Mendengar penjelasan ini, Julia pun akhirnya menyerah untuk mencaritahu keberadaan Nadine. Nomor ponsel Nadine pun sudah ganti dan semua sosial media milik Nadine pun sudah tidak bisa diakses.


Sore itu saat Julia membereskan meja kerjanya sebelum pulang, ponselnya bergetar tanda ada telpon masuk.


Julia melihat Ben lah yang menelponnya.


- "Halo Ben."


- "Ini baru mau pulang. Ada apa?"


- "Aku jemput kamu ya?"


- "Tidak usah Ben. Aku membawa mobil kok."


- "Oke, kalau begitu nanti selepas petang aku ke rumahmu ya."


- "Iya Ben. Aku tunggu di rumah."


Julia menutup telponnya. Sebenarnya dia belum memberitahu mengenai maksud kedatangan Ben malam ini. Julia hanya memberitahu Papa Mama agar malam ini agar di rumah saja karena Ben akan minta bertemu.


Papa Mama juga tidak bertanya lebih lanjut karena Ben memang sudah dianggap seperti anak sendiri jadi Papa Mama hanya menyetujuinya.


**


Malam itu Ben datang tepat waktu. Papa Bayu dan Mama Devi mengajak Ben makan malam bersama.


Julia hanya terdiam dan merasa was-was dalam hati akan reaksi Papa Mamanya jika nanti Ben meminta ijin untuk menikahi Julia.


"Jul! Jangan melamun ... Tuh lihat makanan kamu dihinggapi cicak," kata Mama Devi mengejutkan.


"Eh iya Ma, hehe," saut Julia yang salah tingkah karena kini Papa Bayu dan Ben mengamati dirinya.

__ADS_1


Julia pun cepat-cepat menghabiskan makanannya.


Setelah makan malam usai, Papa Bayu mengajak Ben untuk duduk di ruang tamu.


"Ada apa Ben? Om dengar dari Julia kalau kamu ingin membicarakan sesuatu dengan Om dan Tante," kata Papa Bayu membuka pembicaraan.


"Betul Om Bayu, Tante Devi. Begini, maksud kedatangan Ben malam ini adalah untuk meminta ijin pada Om Bayu dan Tante Devi karena saya ingin menikahi Julia," kata Ben mantap.


Papa Bayu dan Mama Devi saling berpandangan heran. Lalu pandangan mata Papa Bayu beralih pada Julia yang ada di sampingnya. Pandangan mata Papa Bayu menampakkan pertanyaan besar. Begitu pula dengan Mama Devi yang terkejut mendengar pernyataan Ben.


"Ehem ... Ben, Om betul-betul terkejut mendengar ini. Tidak menyangka jika kalian ingin menikah."


"Julia, bukankah selama ini kamu berpacaran dengan Theo? Mengapa bisa secepat ini akan menikah dengan Ben?" tanya Papa berturut-turut.


"Papa Mama, Julia sudah putus dengan Theo. Julia harap Papa Mama menyetujui permintaan kami berdua," ucap Julia memohon.


"Ben, kamu yakin mencintai Julia dengan tulus dan berjanji akan membahagiakannya? Kamu tahu kan kalau Julia adalah anak kesayangan Om?" Papa meminta penjelasan.


"Om Bayu, Tante Devi, saya mohon ijinkan saya untuk menikahi Julia. Saya berjanji akan selalu mencintai dan berusaha membuat Julia bahagia," jelas Ben.


Julia terus mengamati Ben. Dia tidak menyangka Ben akan berkata demikian. Benarkah Ben akan berusaha mencintai dan membuatnya bahagia?


"Ben, lalu kapan rencananya akan dilangsungkan pernikahan?" tanya Mama Devi yang sedari tadi hanya diam saja.


"Ben dan Julia sudah merencanakan akan menikah bulan depan. Tolong ijinkan kami dan restui kami," pinta Ben tulus.


"Secepat ini? Kenapa kalian terburu-buru?" tanya Mama Devi tidak percaya.


"Sebenarnya tidak terburu-buru Tante Devi, Om Bayu. Ben dan Julia hanya ingin secepatnya menikah karena sudah tidak sabar ingin memulai hidup baru sebagai suami istri. Lagipula kami kan sudah bersahabat sejak lama, jadi kami sudah mengenal baik satu sama lain. Jadi apa salahnya jika kami ingin menikah secepatnya?" Ben memberikan alasan yang masuk akal.


"Papa Mama, Julia dan Ben saling mencintai. Tolong beri kami restu," akhirnya Julia memohon.


Papa Bayu dan Tante Devi saling berpandangan. Namun akhirnya Papa Bayu lah yang berbicara.


"Bagaimana Papa Mama kamu Ben? Apakah mereka sudah merestui kamu akan menikahi Julia?" tanya Papa Bayu.


"Ben sudah memberitahu dan Papa Mama setuju. Sangat senang malah karena mereka sangat menyayangi Julia," jawab Ben tersenyum.


Ben teringat akan Mama dan Papanya yang menyambut baik Julia sebagai calon menantu mereka. Malah terlihat Papa Mama Ben sangat senang.


"Ben, jika kamu memang mencintai Julia dan berjanji akan membahagiakannya, maka Om dan Tante setuju. Kami berikan restu pada kamu dan Julia untuk menikah bulan depan," kata Papa Bayu.


Ben dan Julia tampak menghela nafas lega karena akhirnya mereka mendapat restu dari Papa Bayu dan Mama Devi.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2