
Julia tak menyangka hari ini berakhir dengan kesan indah yang tertanam dalam benaknya. Sehari bersama Theo di villanya, ternyata sama sekali berbeda dengan dugaannya.
Selesai makan siang, ia dan Theo berjalan-jalan di taman sekitar villa. Pemandangan indah memanjakan matanya. Ditambah dengan udara sejuk yang jarang ia dapatkan di kota.
Selesai berjalan-jalan, Theo mengajak Julia berenang di kolam renang pribadi yang ada di villa.
Sudah lama Julia tidak berlibur seperti ini. Karel sangat jarang mengajaknya berlibur walaupun hanya dekat-dekat tempat tinggalnya.
Julia merasa dirinya relaks. Ia sangat menikmati saat-saat berada di villa. Theo pun memegang janjinya, memperlakukan Julia sebagai teman baik saja.
Selesai berenang, Theo dan Julia makan malam di villa. Suasana sangat romantis, hidangan yang menggugah selera dan semuanya terasa perfect. Namun hanya satu yang Julia inginkan, yaitu Karel lah yang menemaninya saat ini.
"Jul, kenapa melamun lagi? Ayolah makan dulu, nanti keburu dingin jadi nggak enak lho," kata Theo tersenyum.
"Eh iya terima kasih,Theo." Seketika Julia mengalihkan pikirannya pada hidangan yang ada di hadapannya.
Setelah makan, Theo mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya pada Julia.
"Julia, aku mohon terimalah ini." Theo meraih tangan Julia dan meletakkan sebuah kotak.
"Apa ini, Theo?" tanya Julia.
"Buka dan tolong terimalah," pinta Theo dengan wajah tulus.
Pelan-pelan Julia membuka kotak yang berlapis beludru hitam. Setelah terbuka, Julia melihat sebuah gelang cantik dengan hiasan batu berlian yang berkilau.
"Wow cantik sekali gelang ini, Theo. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya." Julia kembali menutup kotak dan meletakkannya di hadapan Theo.
"Kenapa? Ini hadiah untukmu dan aku tidak bermaksud apa-apa," tanya Theo heran.
"Maaf Theo, tapi aku takut nanti suamiku akan mengira hal yang bukan-bukan. Selain itu, gelang ini sangat mahal. Aku tidak bisa menerimanya."
"Julia, please terimalah! Jangan bilang suamimu kalau gelang ini dari aku. Kau tahu, gelang ini sudah aku simpan bertahun-tahun untukmu. Dulu aku ingin memberikannya sebagai hadiah pertunangan kita, namun ternyata kita tidak berjodoh. Jadi, gelang ini memang milikmu," jelas Theo.
Ada nada sedih tertahan dalam suaranya.
Julia menatap mata Theo, ia merasa tidak enak hati jika menolak pemberiannya.
"Baiklah, aku terima gelang ini. Terima kasih, Theo," kata Julia akhirnya.
"Boleh aku pakaikan? Aku hanya ingin melihatnya di tanganmu," pinta Theo dan Julia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Cantik sekali dan sangat pas di tanganmu," kata Theo memandangi tangan Julia.
Theo membuang napasnya, mengatur sesak di dadanya yang tiba-tiba menyeruak. Hatinya pedih setiap kali melihat gelang itu. Yah ... Gelang yang seharusnya ia berikan dulu, namun semuanya ternyata tidak seperti rencananya.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Theo. Aku akan menyimpan gelang ini," kata Julia tersenyum.
***
Julia duduk di tepi ranjang, menimang-nimang gelang pemberian Theo.
Memang sangat indah, namun ia bingung harus menyimpannya dimana. Takut jika Karel akan menanyakannya.
Namun akhirnya, Julia meletakkan gelang itu di rak paling bawah lemarinya, bercampur dengan perhiasannya yang lain.
Ia tidak mengistimewakan gelang itu.
Julia merebahkan dirinya di ranjang, ia sangat lelah. Setelah makan malam tadi, Theo langsung mengajaknya kembali. Ia harus mengambil mobilnya terlebih dahulu di rumah Theo lalu baru pulang. Karena itu sekarang ia sangat lelah.
***
Nadine duduk sendiri, termenung di kursi tunggu sebuah rumah sakit bersalin. Hatinya gundah, ia bingung apa yang akan terjadi nanti.
Saat namanya dipanggil, ia pun berdiri dan berjalan pelan masuk ke ruang periksa.
"Selamat pagi, Ibu Nadine," sapa Dokter dengan ramah.
"Selamat pagi, Dokter," balas Nadine dengan senyum dipaksakan.
"Ehm, kandungan Ibu sudah berjalan sepuluh Minggu. Minggu lalu kan baru periksa, apakah ada masalah?" tanya Dokter sambil membaca lembaran rekam medis ditangannya.
"Begini Dokter, sejak minggu lalu kan saya mengalami pendarahan namun tidak banyak. Tapi semakin hari kenapa makin banyak?" tanya Nadine.
"Baiklah, kita USG dulu," kata Dokter.
Perawat membantu Nadine untuk cek USG. Dokter melihat melalui layar dan hanya manggut-manggut tanpa berkata apa-apa.
Setelah selesai, Nadine kembali diminta duduk.
"Bagaimana dokter? Apakah berbahaya untuk anak yang saya kandung?" tanya Nadine cemas.
"Janinnya masih dalam keadaan baik, namun ibu harus berhati-hati dan banyak istirahat. Jika bisa bedrest saja di rumah, karena terus terang kandungan ibu sangat rentan. Ini saya resepkan penguat kandungan, semoga janinnya baik-baik saja," jelas Dokter.
"Dokter yakin tidak akan ada masalah? Bagaimana jika pendarahannya makin banyak?" tanya Nadine dengan kecemasan yang sangat terlihat.
"Jika begitu, ibu harus cepat datang kesini."
"Baiklah Dok, tolong lakukan semuanya untuk keselamatan anak saya," pinta Nadine.
Setelah mengambil obat, Nadine berjalan lemah dan masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Ia sangat cemas, takut jika janin yang ia kandung tidak akan bisa bertahan. Ia bertekad akan melakukan apapun untuk mempertahankan calon anaknya ini.
***
Hati Julia sangat senang karena malam ini Karel akan pulang. Perkiraan Karel akan tiba di rumah sekitar pukul 7 malam.
Julia sudah menyiapkan hidangan kesukaan Karel untuk makan malam. Sepulang kerja tadi, ia sudah sibuk di dapur memasak masakan kesukaan Karel.
Julia ingin menyambut Karel dengan makan malam yang istimewa.
Julia sudah menantikan hari ini, ia selalu menghitung jam demi jam karena dirinya sangat merindukan suaminya itu.
Saat memasak telah selesai, Julia cepat-cepat mandi dan bersiap menyambut kedatangan Karel.
Hari telah beranjak malam, jam dinding menunjukkan pukul 18.30.
Sambil menunggu Karel, Julia duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Saat tengah membuka-buka sosial medianya, ada beberapa pesan masuk ke ponselnya.
Julia segera mengecek, dan ternyata Karel memberitahunya jika sekitar 15 menit lagi akan sampai di rumah.
Julia tersenyum senang karena tak lama lagi ia akan bisa memeluk dan melepaskan rasa rindu pada suaminya.
Namun dahi Julia mengernyit saat dilihatnya ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Saat membukanya, matanya pun membeliak dan secara refleks tangannya menutup mulutnya untuk meredam keterkejutannya.
Ya ... Julia mendapat kiriman foto-foto dirinya dan Theo tengah makan dan juga saat berdiri di balkon villa beberapa hari yang lalu. Ada 12 foto yang dikirim. Semuanya menampakkan wajahnya yang tersenyum ceria dan nampak bahagia saling bertukar pandang dengan Theo.
Tangan Julia gemetar, ia pun memejamkan matanya.
Ya ampun ... Siapakah yang telah mengambil foto-foto ini? Apa maksudnya? Tega sekali dia ...
Julia bingung tidak tahu harus bagaimana. Ia takut foto-foto itu akan sampai ke tangan Karel.
Apa yang harus aku lakukan?
Julia terdiam, air matanya meleleh tanpa ia sadari.
-
-
-
-
__ADS_1