
Sepi ... Sendiri ...
Terpuruk dalam gelapnya malam
Tak ada lagi senyum
Tak ada lagi bahagia
Hanya kenangan indah
Dan secuil asa di hati
Julia berdiri sendirian di teras rumahnya. Kenangan terakhir saat Karel tersenyum untuknya masih sangat jelas membekas di ingatannya.
Ya ... Pagi itu Karel memberikan senyum terakhirnya untuk Julia. Setelah itu semua bagaikan mimpi yang Julia sendiri tak ingin mengingatnya lagi.
Malam setelah pemakaman Karel, Julia sengaja ingin tinggal di rumahnya sendiri. Semua orang yang ingin menemani diusirnya pergi.
Ia hanya ingin sendirian berteman sepi. Bukan karena ia kuat, namun Julia ingin membiasakan dirinya sendirian tanpa tergantung pada orang lain.
Papa Mama sangat cemas dengan kondisi Julia, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena yakin Julia pasti kuat menghadapi semuanya.
Julia selalu menguatkan dirinya saat mengingat buah cintanya bersama Karel. Peninggalan Karel yang sangat berharga.
Julia yakin waktulah yang akan menyembuhkan kesedihannya karena kehilangan Karel, suami tercintanya.
Seminggu telah berlalu sejak Karel meninggal. Hampir setiap hari jika Julia ada waktu, ia selalu mengunjungi makam Karel. Menceritakan semua hal yang dilakukannya hari itu.
Julia telah berangkat kerja seperti biasa. Ia harus kuat demi buah hatinya. Teman-temannya selalu menghibur dan mengajak Julia makan bersama ataupun sekedar jalan-jalan cuci mata di mall, untuk menghilangkan kesedihan dan kesepian yang Julia rasakan.
Jika sampai di rumah, Julia merasakan sepi yang selama ini tidak dirasakannya. Apalagi rumah ini terbilang besar dengan 2 lantai.
Setelah memikirkannya baik-baik, akhirnya Julia ingin pindah kembali ke rumah lamanya saat menikah dengan Ben dulu.
Rumah yang dulu tidak terlalu besar dan juga lebih dekat dengan kantor dan rumah orang tuanya. Jika tinggal di rumahnya sekarang, ia terus merasakan kesedihan karena di setiap ruangan seperti ada bayangan Karel.
Julia tidak akan menjual rumah ini dan akan menyewakannya saja. Mungkin bagi orang lain ini keputusan yang aneh, tapi Julia menyadari jika hidup harus berjalan. Ia akan selalu mengenang Karel di dalam hati dan jiwanya.
Suatu sore saat pulang kerja, Julia terkejut saat melihat Irfan menunggunya.
"Julia, bagaimana kabarmu?" tanya Irfan.
"Aku baik, Irfan. Ada apa mencariku?" Julia balik bertanya.
__ADS_1
"Jul, kamu ada waktu? Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Irfan.
"Baiklah."
Julia mengajak Irfan ke taman belakang kantornya.
"Ada apa, Fan?" tanya Julia penasaran.
"Sebelumnya aku minta maaf, Jul. Setelah hari pemakaman Karel dulu, aku harus mengurus pekerjaanku di luar kota jadi tidak bisa menemanimu."
"Haha ... Tidak apa-apa, Fan. Aku baik-baik saja, kan sekarang selalu ada yang menemaniku," kata Julia sambil mengelus perutnya, merasakan bayi mungil yang tumbuh dalam perutnya.
Irfan tersenyum melihat Julia, ia lega melihat Julia ternyata wanita yang kuat. Selama ini ia sangat kuatir memikirkan Julia, tapi ternyata kekuatirannya sirna saat melihat Julia menjalani hari-harinya dengan tabah.
"Jul, aku hanya mau memberikan ini padamu. Maaf terlambat, karena saat itu aku terburu-buru pergi," kata Irfan sambil menyerahkan ponsel Karel dan sebuah amplop surat.
Julia menerimanya, menguatkan hatinya. Ia tidak mau menangis saat ini. Dipaksakan senyum tersungging di bibirnya, ia harus kuat.
"Terima kasih sekali, Fan," saut Julia menelan ludahnya, rasanya sulit berkata-kata.
"Oiya, ada tas Karel di mobilku. Berisi baju-baju saat Karel tinggal di rumahku," lanjut Irfan.
"Terima kasih, Fan. Selama ini sudah merawat Karel," kata Julia lirih. Tak terasa air mata yang ditahannya keluar sudah.
"Jul, aku antarkan pulang?" Irfan menawarkan karena melihat Julia kembali bersedih.
"Tidak usah, Fan. Aku baik-baik saja kok. Oiya, Minggu depan rencananya aku akan pindah kembali ke rumah lamaku." Julia mengalihkan pembicaraan.
"Boleh aku bantu?"
"Terima kasih, Fan. Dengan senang hati aku menerimanya," kata Julia.
Irfan mengamati wajah Julia didepannya. Ia tahu jika saat ini Julia sangat sedih melihat barang peninggalan Karel. Ia memahami jika Julia ingin pindah rumah dan tidak mau menanyakan sebabnya. Ia akan selalu mendukung apapun keputusan Julia.
***
Kembali ke rumah, Julia cepat-cepat mengisi baterai ponsel Karel. Ia ingin sekali melihat kenangan foto atau apapun itu di dalam ponsel Karel.
Lama Julia hanya memandangi sebuah amplop putih di depannya. Surat yang Karel tinggalkan untuknya.
Tak sanggup membukanya lalu Julia memasukkannya dalam laci.
Malam itu Julia makan sendirian, menonton tv sendirian dan karena bosan, ia pun membuka-buka ponselnya.
__ADS_1
Ada satu pesan dari Theo.
- Halo Jul, bagaimana kabarmu sekarang? Aku tahu semuanya tentang kamu yang baru saja kehilangan suamimu. Maaf aku tidak bisa hadir menemanimu, sekarang aku sedang ada di luar negeri. Mertuaku sakit dan sekarang keadaannya kritis. Aku belum tahu kapan akan kembali. (Theo)
Julia membalas bahwa ia baik-baik saja dan mengatakan jika keluarga adalah yang utama.
Julia memutar kembali ingatannya akan Theo. Ia malah senang jika Theo kembali pada istrinya. Bukankah memang harusnya seperti itu? Ia menghela nafas panjang, ikut mendoakan agar Theo dan keluarganya dalam lindungan Tuhan.
Hari telah malam, Julia pun akhirnya naik ke ranjangnya bersiap tidur karena besok harus berangkat kerja.
Namun entah mengapa ia tidak bisa tidur. Berkali-kali hanya membolak-balikkan badannya. Ia selalu teringat surat dari Karel yang belum ia buka.
Akhirnya Julia pun beranjak turun dan berjalan ke ruang kerja Karel, tempat ia memasukkan surat itu ke dalam laci.
Julia mengambil surat itu lalu duduk di meja kerja Karel. Dengan tangan gemetar, akhirnya Julia pun menyobek pinggiran surat itu dengan hati-hati.
Teruntuk istriku tercinta, Julia.
Sayangku Julia,
Sebelum membaca surat ini, berjanjilah jangan menangis. Oke?!
Julia, sebelumnya aku minta maaf jika tidak memberitahumu mengenai sakitku. Bukan karena tidak mempercayaimu, tapi aku hanya tidak ingin membuatmu sedih dan menangis karena aku. Aku tidak tega.
Maaf aku tidak cukup berjuang melawan sakitku karena aku tahu jika saatku sudah tiba. Penyakit telah menyebar di seluruh tubuhku, jadi aku sudah tidak mampu melawannya.
Jika kamu membaca surat ini, aku sudah sembuh dan tidak merasa sakit lagi. Jangan terus bersedih karena aku.
Teruslah menjalani hidup walaupun aku tidak bisa bersamamu.
Temukanlah penggantiku untuk menemani hingga tua bersamamu. Aku iklas dan hanya ingin melihatmu bahagia.
Kenangan kita akan selalu terpatri dalam hatiku dan hatimu.
Tataplah kehidupanmu dengan senyuman. Aku akan selalu melihatmu dari sini.
Aku selalu mencintaimu Julia ...
(Karel)
-
-
__ADS_1
-