
Julia meredam detak jantungnya yang tak beraturan. Diletakkannya ponsel di pangkuannya. Ia tahu telah mengambil keputusan yang sangat beresiko. Namun, apa yang bisa dilakukannya?
Beberapa hari ini semua perusahaan yang dimintai untuk menjadi donatur telah mengundurkan diri. Dan tragisnya semua donatur itu adalah perusahaan besar. Sedangkan tenggat waktu sudah sangat mepet. Tak ada waktu lagi untuk mencari donatur besar.
Kepala bagian terus mendesak Julia untuk segera bertindak jika tidak ingin dipermalukan, karena acara ini telah diumumkan pada khalayak ramai.
Walaupun Julia bekerja di departemen pemerintah, namun untuk acara ini sangat sedikit bantuan dari pemerintah. Karena acara ini adalah murni dari kantor tempat Julia bekerja.
Dan akhirnya, Julia mengambil tindakan nekad. Ia pun tidak bisa menceritakan masalahnya pada Karel, karena Karel berbeda bagian dengan Julia.
Julia terpaksa menerima syarat dari Theo karena janji Theo untuk menjadi donatur tunggal. Julia meyakini jika Theo adalah orang baik seperti yang ia kenal saat masih berpacaran dulu.
Julia memutar otaknya, karena apa yang akan dilakukannya bersama Theo tidak boleh diketahui oleh Karel, suaminya.
Theo telah mengirimkan pesan yang berisi hari dan jam dimana ia harus bertemu. Julia mulai menyusun rencana. Apalagi hari yang diminta Theo adalah hari Sabtu besok.
Hari demi hari berjalan, tak terasa sudah berganti menjadi hari Jumat.
Siang itu di kantor, Julia termenung. Kepalanya berdenyut mencari alasan agar besok Sabtu ia dapat pergi sehari tanpa dicurigai Karel.
"Sayang, kamu kenapa melamun?" tanya Karel yang sudah berdiri di depan meja kerja Julia.
"Eh ya ampun, bikin kaget saja," sungut Julia sambil memegangi dadanya.
"Melamun apa sih, Jul?" tanya Karel lalu duduk di kursi depan Julia.
"Enggak sih, cuma ini lho ada temen sekolahku dulu yang besok mengajak reuni," kata Julia tergagap. Ia sudah bingung mencari alasan.
"Temen SMP atau SMA?" tanya Karel ingin tahu.
"Temen SMA sih," saut Julia.
"Ya sudah, aku ijinkan kamu," kata Karel. tersenyum.
Julia menatap mata Karel, rasanya ia tak tega berbohong. Tapi ... Ia harus mengambil tindakan ini karena sudah tak ada jalan lain dan inilah jalan paling mudah.
"Beneran boleh?" tanya Julia memastikan.
"Haha ... Tentu saja boleh, sayang. Sebenarnya sore ini aku juga harus berangkat ke luar kota. Mungkin baru pulang hari Selasa nanti," kata Karel.
"Loh kenapa?!" Julia malah yang kini bingung.
"Baru saja, Kepala bagianku mengutus aku untuk acara gathering besok hari Sabtu hingga Minggu. Terus hari Senin dan Selasa juga ada seminar di kota yang sama. Jadilah aku harus pergi hingga hari Selasa besok," kata Karel menjelaskan.
Seketika hati Julia merasa lega. Entah nasib baik atau apapun itu yang sedang berpihak padanya, tapi ia sangat bersyukur jika Karel besok tidak ada di rumah.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan Jul, jika aku pergi lagi beberapa hari?" tanya Karel.
Ia merasa tidak enak karena sering meninggalkan Julia sendirian.
"Oh nggak apa-apa dong, kan ini tugas," jawab Julia mantap.
"Jadi besok kamu bersenang-senanglah dengan teman-temanmu ya." Karel berkata dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.
Julia mengangguk, dalam hati merasa telah sangat berdosa telah membohongi suaminya.
Karel pulang kantor terlebih dahulu karena ia harus mengejar pesawat. Julia tidak bisa mengantar Karel, karena ia masih belum selesai jam kantor.
Ketika jam kantor usai, Julia membereskan meja kerjanya. Saat bersiap hendak beranjak dari kursinya, terdengar dering ponselnya berbunyi.
Julia tertegun melihat nama Theo tertera di layar ponselnya. Namun akhirnya ia pun mengangkatnya.
- "Halo, Theo"
- "Hai Julia, bagaimana kabarmu?"
- "Baik, ada apa menelpon?"
- "Aku hanya mengingatkan kamu soal acara kita besok. Kamu tidak lupa kan?!"
- "Apalagi, Jul?"
- "Aku tidak ingin ada foto atau dokumen apapun tentang kebersamaan kita besok sehingga pasangan kita masing-masing tidak akan tahu. Bagaimana?"
- "Deal, aku juga akan bilang seperti itu padamu."
"Baiklah, Theo, aku akan datang tepat waktu seperti janji kita."
"Oke, Jul. Aku menunggumu."
Julia menutup telponnya. Ia menarik nafas panjang mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang.
Ia merasa telah mengambil tindakan yang salah, namun mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa mundur lagi.
Dengan langkah gontai akhirnya Julia pulang ke rumahnya.
***
Julia menyetir mobilnya ke sebuah alamat yang Theo kirimkan. Ternyata alamat itu adalah sebuah rumah di kawasan elit.
Saat Julia hendak memarkir mobilnya, terlihat Theo keluar dari rumah dan menyuruh Julia untuk memarkir mobilnya di halaman saja.
__ADS_1
"Julia, mobilnya kamu tinggal disini saja." Theo memberikan perintah. Ia tidak mungkin berbeda mobil dengan Julia nanti.
Theo langsung mengajak Julia masuk ke dalam mobilnya dan Theo sendirilah yang menyetir.
"Rumah siapa itu tadi, Theo?" tanya Julia.
"Rumahku," saut Theo singkat.
"Lalu dimana istrimu?" tanya Julia penasaran.
"Itu hanya rumahku. Biasanya aku tinggal bersama istriku di rumah yang lain, tapi beberapa hari ini istriku sedang di luar negeri. Lalu bagaimana suamimu?" tanya Theo.
"Kebetulan suamiku ada tugas di luar kota."
"Wow ... Kebetulan sekali. Baiklah kalau begitu, untuk sehari ini kita tidak usah menyinggung tentang rumah tangga kita. Bagaimana?" tanya Theo yang kini nampak sangat senang.
"Baiklah, tapi ingat jika jangan sampai pasangan kita tahu dan juga jangan kau lupakan janjimu untuk menjadi donatur tunggal." Julia mengingatkan Theo.
"Tenang saja, Jul. Aku tidak akan lupa."
Julia terdiam dan melihat jalanan di sekitar kanan kirinya. Namun ia tersadar jika ini bukanlah jalan ke taman hiburan, tapi jalan ke luar kota.
"Theo, kita mau kemana?" tanya Julia bingung.
"Kamu mau aku ajak ke villaku yang ada di luar kota," kata Theo santai.
"Tapi katamu kita akan pergi ke taman hiburan?" tanya Julia mengingatkan akan persyaratan yang Theo katakan.
"Aku sedang malas dengan keramaian. Aku ingin mencari ketenangan di villa dengan hanya berdua denganmu. Aku yakin kamu akan menyukainya, Jul. Tempatnya sejuk dan tenang karena berada di daerah pegunungan," jelas Theo.
Wajah Julia memucat, ia takut dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Haha ... Kenapa wajahmu pucat begitu? Tenang saja, aku tidak akan berbuat sesuatu yang tidak akan kamu setujui. Aku janji tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh, kita hanya mengobrol saja nanti," kata Theo tersenyum di sudut bibirnya.
Julia terdiam dan tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan, ia takut memikirkan apa yang akan terjadi hari ini.
Benarkah Theo bisa memegang janjinya?
-
-
-
-
__ADS_1