Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Tenangkan Dirimu


__ADS_3

Julia memacu mobilnya kencang. Dadanya terasa sesak menahan amarah yang meluap. Kepala terasa berdenyut, dahinya nampak berkerut berusaha berkonsentrasi.


Diinjaknya gas kuat-kuat dan mobil pun berlari semakin kencang. Dalam benaknya hanya ada satu tujuan.


Berbagai skenario dan kata-kata berputar di kepalanya. Ia marah, kecewa, bingung dan entah kata apalagi yang bisa mengungkapkan perasaannya kini.


Julia mengerem mobilnya secara mendadak. Ia berhenti di depan sebuah rumah. Menghela nafas panjang dan mengatur irama jantungnya yang masih berdetak kencang. Ia menoleh ke arah rumah yang dindingnya bercat putih. Rumah yang tampak mewah dengan taman yang indah terawat, membuatnya semakin asri.


Namun kini Julia merasa ragu untuk masuk ke dalam rumah itu. Ia memejamkan matanya. Masih sangat jelas terngiang di telinganya saat sore tadi Theo memberitahukan nama orang yang telah memotret kebersamaannya dengan Theo.


"Kamu tidak ingin tahu siapa yang mengirimi foto-foto ini?"


"Sebenarnya aku sudah tahu, Jul."


"Benarkah? Siapa dia, Theo?" tanya Julia menuntut jawaban.


Theo terlihat tenang, ia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


"Theo, tolong beritahu aku sekarang!" desak Julia memaksa.


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji tidak akan bertindak bodoh."


"Apa maksudmu bertindak bodoh?" tanya Julia yang tidak sabar.


"Aku tau kamu, Jul. Maksudku kamu jangan langsung mendatangi orang ini dan marah-marah," kata Theo santai.


"Jelas aku akan marah. Siapa dia, Theo?" tanya Julia dengan penekanan di setiap kata-katanya.


"Ehm ... Dia adalah Ben," kata Theo menatap mata Julia.


"Ben? Bagaimana mungkin? Dia .... " Julia tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi. Ia sendiri bingung dengan apa yang akan dikatakannya.


"Memang Ben orangnya. Tujuannya sudah jelas kan?! Dia ingin rumah tanggamu hancur dan kamu kembali menjadi miliknya," jelas Theo.


Julia hanya terdiam, mencerna semua yang dikatakan Theo.


"Sebaiknya tenangkan dulu dirimu. Kita biarkan saja Ben akan berbuat apalagi. Kita tunggu dan lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya," kata Theo lagi.


Namun Julia nampak tidak bisa mengendalikan amarah yang kini mulai menyeruak dalam dadanya.


Julia seketika berdiri dan hendak meninggalkan Theo.


"Maaf Theo, aku pergi dulu. Terima kasih sudah memberitahuku" kata Julia tergesa.


"Kamu mau kemana, Jul?"


Julia sama sekali tidak menggubris pertanyaan Theo, ia sudah setengah berlari menjauhi Theo.


"Jul!" teriak Theo tertahan. Ia tidak mau membuat keributan di dalam kafe ini.


Theo pun kembali duduk. Ia mengambil gelas minumannya, meneguknya hingga habis tak bersisa.

__ADS_1


Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Wajah puas tak dapat ia sembunyikan. Ia tahu jika rencananya ini pasti akan berhasil.


Sementara itu Julia langsung masuk mobilnya dan memacunya hingga saat ini, disinilah ia.


Langit senja mulai nampak di cakrawala. Pelan namun pasti, hari mulai beranjak malam. Julia menyurukkan kepalanya diatas setir mobil.


Ia memang sangat bodoh. Dirinya tidak menyangka jika Ben akan bertindak sejauh ini. Namun jika dipikirkan kembali, mungkin kata-kata Theo ada benarnya.


Ia harus menunggu hingga tahu apa yang akan dilakukan Ben selanjutnya.


Julia mengambil sebotol air mineral yang ada didekatnya. Diteguknya air bening itu hingga habis tak bersisa.


Ia menenangkan dirinya dan akhirnya keputusannya sudah bulat. Ia mengurungkan niatnya untuk mengkronfontasi Ben tentang masalah foto ini. Ia akan sabar menunggu.


Saat akan menstater mobilnya, Julia melihat sebuah mobil masuk ke dalam gerbang rumah Ben.


Julia masih memperhatikan. Ia melihat Ben keluar mobil dan berjalan menuju pintu mobil satunya. Ia membantu Nadine keluar mobil dan memapahnya.


Julia melihat Nadine berjalan tertatih dan terlihat sangat lemah.


Apa Nadine sakit? Bukankah ia sedang hamil?


Julia bertanya-tanya dalam hati. Dan setelah berpikir ia pun akhirnya memutuskan untuk mencaritahu rasa penasarannya.


Julia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Ben. Saat itu Ben dan Nadine masih berjalan pelan di teras rumah.


"Halo Ben, Nadine," sapa Julia.


"Halo, Jul." Ben balik menyapa, memperlihatkan senyum di wajahnya.


"Halo, Jul. Mau apa kesini?" tanya Nadine sinis.


Julia terdiam, ia sendiri bingung dengan tujuannya datang kesini.


"Oh ... Kamu senang ya sekarang karna tau kalau aku keguguran?" Nadine terlihat sinis dan galak.


"Kamu keguguran, Nad?" Julia balik bertanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Semalam Nadine keguguran, Jul," jelas Ben.


"Maaf, jika begitu aku turut bersedih Ben, Nad," kata Julia tulus.


"Aku tidak butuh simpatimu, Jul." Nadine terlihat masam.


"Maaf, aku pulang dulu saja. Lain kali aku akan datang lagi."


Julia buru-buru menjauh dari Ben dan Nadine.


Masuk ke mobil dan pergi menjauhi rumah Ben.


Tangan Julia terasa bergetar, ia tidak menyangka jika Nadine kehilangan bayi yang dikandungnya. Ia merasa kasihan dan ikut bersedih. Namun, mengapa tadi Nadine terlihat marah padanya?

__ADS_1


Julia menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu mengapa sekarang Nadine bersikap sinis padanya.


Julia melihat jam tangannya dan seketika ia pun terkejut saat mendapati jam telah menunjukkan pukul. 18.10.


Ia harus cepat sampai di rumah. Ia tidak ingin Karel kuatir karena menunggunya pulang.


Julia menambah kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah.


Saat memarkir mobilnya di halaman rumah, dahi Julia mengernyit. Rumah terlihat gelap gulita, tak ada satu pun lampu menyala.


Kemana Karel ya? Mengapa rumah gelap dan terlihat sepi?


Julia cepat-cepat keluar dari mobil dan mencari kunci rumah yang ada didalam tasnya.


Saat telah membuka pintu, Julia pun menyalakan sakelar lampu dan seketika rumah pun terang benderang.


"Karel," panggil Julia sambil mencari keberadaan Karel di setiap ruangan rumah.


Saat masuk ke kamar tidur, dilihatnya Karel berbaring di ranjang dengan tenang.


Seketika hati Julia pun lega. Dengan lembut disentuhnya lengan Karel.


"Sayang, kamu tidur?" tanya Julia.


Karel terlihat membuka matanya dan melihat ke sekeliling.


"Jam berapa sekarang? Apa aku ketiduran?" tanya Karel yang terlihat belum terlalu sadar.


"Sekarang sudah hampir jam 7 malam. Apa kamu masih merasa sakit? Kita periksa ke dokter saja ya," bujuk Julia dengan lembut.


"Aku sudah sehat kok, jangan kuatir," kata Theo tersenyum lalu bangkit dan duduk.


"Oh ya sudah, kalau begitu aku mau mandi dulu. Aku sudah pesan makanan online untuk makan malam kita."


"Ya, aku akan menunggunya di depan," saut Karel lalu berjalan keluar kamar.


Karel merasa kepalanya sangat sakit. Ia berjalan terhuyung, tangannya menggapai mencari pegangan.


Aahhrrgg ... Sakit sekali rasanya. Tapi aku harus kuat! Julia tidak boleh tau dan biarlah aku sendiri yang menanggungnya.


Perlahan Karel masuk ke ruang kerjanya. Dengan cepat diminumnya sebutir kapsul. Menarik nafas panjang, Karel menghalau rasa sakit yang menyerang kepalanya.


Ia pun terduduk di kursi dan memejamkan matanya.


Berbagai hal kini melintas di kepalanya, terutama rencananya terhadap Julia, istri yang sangat dicintainya.


Ia harus segera bertindak karena mungkin, ia tidak punya banyak waktu yang tersisa.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2