Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Buka Matamu


__ADS_3

Tiga hari sudah Julia dengan setia menemani Karel. Julia sengaja mengambil cuti agar bisa merawat Karel dengan baik walaupun ia tidak bisa cuti terlalu lama.


Sejauh ini belum ada perkembangan yang berarti dari kondisi Karel. Bahkan dokter sudah menyerah dan menunggu keputusan pihak keluarga.


Julia memandangi wajah suaminya dengan sendu. Ia tak sampai hati jika harus memutuskan untuk melepaskan ventilator sebagai penyambung hidup Karel saat ini. Karena jika demikian, maka ia akan menyesalinya seumur hidup.


Setiap hari Irfan selalu datang walaupun hanya sebentar karena ia pun ada pekerjaan yang harus dilakukannya.


Beberapa hari merawat Karel ditambah rasa sedih yang selalu menggelayuti hati, kondisi Julia pun menurun. Hingga suatu sore, Julia hampir pingsan.


Untung saja saat itu ada Irfan yang sedang berkunjung. Dengan sigap Irfan membawa Julia ke IGD.


Setelah diperiksa, dokter hanya tersenyum menenangkan.


"Kondisi Ibu tidak apa-apa, hanya kelelahan saja karena sedang masa awal kehamilan."


"Dok, saya hamil?" tanya Julia tidak percaya.


"Iya, Ibu hamil. Untuk lebih jelasnya, periksakan ke dokter kandungan. Jangan terlalu lelah karena awal kehamilan adalah kondisi yang rawan," jelas dokter.


"Baik, terima kasih."


Julia terpekur, tidak percaya jika ia hamil. Dengan tak sadar, tangannya mengelus perutnya yang masih rata, ia meneteskan air mata. Ada seorang bayi yang tumbuh di rahimnya, senyum tersungging di bibirnya.


"Selamat, Jul. Karel pasti sangat bahagia jika tahu," kata Irfan yang saat itu menemani Julia.


"Karel!"


Julia seketika turun dari tempat tidur periksa. Ia bergegas pergi ke kamar perawatan.


"Karel sayang, kau tahu ... Aku hamil buah cinta kita. Ayo buka matamu, lihatlah anakmu."


Julia berbicara dengan lembut dan senyum bahagia di telinga Karel, memeluknya dengan hangat seolah dengan begitu, Julia berharap Karel membuka matanya.


"Jul!" panggil Ben pelan.


Julia menoleh, dilihatnya ada Irfan dan Ben berdiri tak jauh darinya.


"Ben?!"


"Jul, aku ikut prihatin dengan kondisi Karel. Tadi aku melihat kamu di IGD, lalu aku mengikutimu kesini," kata Ben yang berjalan mendekati Karel.


"Kamu ke IGD? Siapa yang sakit?" tanya Julia.

__ADS_1


"Ehm ... Nadine sakit. Setelah keguguran dulu, ternyata Nadine mengalami pendarahan yang belum berhenti. Sekarang masih diobservasi karena ditakutkan ada sesuatu yang tidak beres di rahim Nadine," jelas Ben.


Irfan hanya berdiri, mengamati Julia dan Ben. Ia tak menyangka bisa bertemu Ben lagi. Ingatannya melayang saat masih SMA dulu, saat Julia dan Ben begitu sangat dekat.


Ia terpaksa menjauh, mengubur keinginannya untuk dekat dengan Julia karena ia tahu Julia hanya menginginkan Ben saat itu.


Namun sekarang ... Mungkinkah ia masih memiliki kesempatan dekat dengan Julia lagi?


Irfan pun hanya menyerahkan semuanya pada takdir. Ia tak kuasa melawan jika cinta lah yang akhirnya memilih.


***


Tiga hari berlalu, siang itu Julia duduk di samping Karel. Setia menemani.


"Karel, kau tahu ... Setiap hari aku selalu makan yang banyak agar bayi kita tumbuh sehat. Aku berharap bayi kita laki-laki agar seperti kamu. Bangunlah sayang, aku ingin membesarkan anak kita bersama."


Julia selalu mengajak berbicara dan memegang tangan Karel.


Namun Julia terkejut saat tangan Karel sedikit bergerak seolah ingin menggenggam tangan Julia.


"Karel, aku tahu kamu mendengar semua yang aku katakan. Aku akan selalu sabar menunggu hingga kamu mau membuka mata."


Julia tersenyum bahagia, tangan Karel diciumnya penuh sayang. Ia yakin sebentar lagi Karel akan bangun.


"Karel, aku mengantuk. Kita tidur sama-sama ya, nanti kita juga akan bangun sama-sama," kata Julia sambil mencium kening dan mulai tidur disamping Karel masih dengan menggenggam tangannya.


Tanpa pikir panjang, Julia segera berlari memanggil dokter jaga dan perawat.


Air mata mengalir deras di pipi Julia. Ia berdiri mematung melihat dokter dan perawat yang berusaha memberi pertolongan pada Karel dengan alat kejut jantung.


Namun ... Takdir berkata lain, Karel telah pergi tanpa sepatah kata pun terucap untuk Julia.


"Karel!!!" teriak Julia.


"Karel ... Jangan tinggalkan aku dan bayimu ini! Karel ... Bangunlah! Lihat bayimu ini!"


Julia terus berteriak histeris. Tangan Karel yang kini sudah lemas ditempelkan Julia pada perutnya, berharap Karel dapat merasakan buah hatinya yang kini tumbuh di dalam perut Julia.


"Sayang ... Buka matamu! Lihat aku sekali saja!"


"Tadi kau janji akan bangun bersamaku! Kenapa kini kamu pergi???" Julia meneriakkan kata-kata yang terdengar menyayat hati.


Saat itu Ben yang akan menengok Karel, sangat terkejut melihat Julia yang berteriak histeris.

__ADS_1


"Jul, tenanglah. Mungkin ini yang terbaik untuk Karel. Dia sudah tenang ada di sisi Tuhan." Ben berusaha menenangkan Julia.


"Dia harus bangun, Ben ... Dia harus melihat anaknya." Isak tangis Julia tak bisa berhenti.


"Karel akan selalu melihat anaknya jika nanti lahir, Jul. Aku yakin Karel akan selalu mengawasi kalian dari sana."


Ben tak kuasa melihat Julia yang sangat bersedih. Ia lalu segera menelepon orang tua Julia dan juga Irfan untuk memintanya segera datang.


Perawat meminta Julia agar merelakan jenazah Karel untuk dimandikan agar bisa segera dipulangkan.


Julia hanya terduduk lemas, serasa tulangnya telah dilepas dari tubuhnya. Ia ingin ikut pergi bersama suami tercintanya.


Tangan Julia meraba perutnya, seperti meminta kekuatan pada janin kecil yang tumbuh di dalam rahimnya. Bagaimana pun ia harus kuat untuk buah cintanya.


Karel meninggalkan kenangan yang akan selalu menemani Julia kelak.


Julia kembali menangis dalam diam, ia tidak tahu bagaimana akan membesarkan anak ini tanpa kehadiran Karel disisinya.


Julia merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Dengan lemah ia menoleh, Ben memeluknya dengan erat, seakan memberi kekuatan.


Tanpa sepatah kata pun yang terucap. Hanya pelukan pun dapat membuat sedikit kesedihannya terangkat.


Tak lama kemudian, Papa Mama dan Irfan datang. Hanya pelukan dan belaian yang dapat diberikan untuk Julia. Mereka menangis bersama, menangisi kepergian Karel yang sangat disayangi.


Hari telah menjelang sore, Karel dibawa ke rumah duka dan akan dimakamkan esok hari.


Julia memandangi tubuh Karel yang terbujur kaku di dalam peti. Orang yang sangat disayanginya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Tak ada lagi yang akan menemani hari-harinya, menghiburnya dengan lelucon konyol dan membantunya saat ia dalam kesulitan.


Kerabat dan teman Julia maupun Karel datang melayat. Namun Julia sama sekali tidak mengingat mereka semua.


Pandangan mata dan pikirannya hanya ada pada sesosok tubuh yang ada di peti, Karel, suaminya.


Julia sudah tidak mampu berpikir. Ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Papa Mama, Irfan bahkan Ben selalu menemani Julia dan membantu segala persiapan untuk mengebumikan Karel.


Esok harinya, langit mendung sejak pagi. Matahari enggan bersinar, tertutup awan kelabu. Seolah semesta ikut bersedih seperti hati Julia kini.


Area pemakaman Karel berada tak jauh dari rumah. Julia sengaja memilihnya agar bisa setiap saat menjenguk Karel disini jika ia merindukan suaminya.


Hati Julia serasa tercabut dari tubuhnya, ikut terkubur bersama jenazah Karel yang mulai tertutup tanah. Kembali dalam pelukan semesta.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2