Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Julia menjalani hari-harinya dengan senyuman. Semua beban ia lepaskan, hanya mau fokus untuk merawat dan membesarkan Arka.


Setelah kepergian Irfan, Julia berusaha biasa. Ia tidak mau menyesali dan menangis lagi untuk kisah cintanya dengan Irfan. Biarlah semua kenangan indah tersimpan dalam hatinya.


Tak terasa setahun sudah telah berlalu ....


Makin hari Arka semakin lengket dengan Ben. Bahkan suatu ketika, Arka meminta agar Ben tinggal bersama mereka.


"Ma, ijinkan Papa Ben dong tinggal di sini bersama kita," ucap Arka suatu malam sebelum tidur.


Julia yang mendengar seketika terdiam. Ia harus benar-benar memikirkan setiap kata jawaban yang akan diberikan untuk Arka.


"Arka sayang, nggak bisa kalau Mama dan Papa Ben tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Itu tidak boleh," kata Julia yang bingung akan menjawab apa agar dimengerti untuk anak seusia Arka.


"Kalau begitu, Mama menikah saja dengan Papa Ben. Gampang kan?! Lagipula Papa Ben kan sayang Mama juga. Soalnya Papa Ben pernah bilang begitu sama Arka."


"Kenapa sih Arka ingin agar Papa Ben tinggal di sini sama kita?" tanya Julia pada Arka yang terus mendesaknya agar menikahi Ben.


"Karena Arka sayang sekali sama Papa Ben dan juga Papa Ben sayang pada Arka. Papa Ben sangat baik, Ma," ucap Arka yakin sambil menatap mata Julia seolah ingin meyakinkan Julia.


"Kalau begitu Arka nggak sayang Mama nih?"


"Sayang dong," saut Arka sambil memeluk dan mencium Arka.


Setelah itu Julia menemani Arka hingga terlelap tidur.


Pagi itu Julia sibuk di dapur seperti biasanya. Ia menyiapkan bekal sekolah Arka dan juga untuk dirinya. Sekarang Arka sudah berusia 3 tahun, jadi sudah waktunya bersekolah. Setiap pagi, Arka berangkat bersama Julia dan pulangnya Ben lah yang menjemput. Memang seperti inilah keinginan Arka.


Julia masih sibuk menyiapkan sarapan pagi saat Arka bangun tidur. Lalu Julia mengajak Arka sarapan terlebih dahulu sebelum mandi dan akhirnya bersiap berangkat sekolah.


Kesibukan yang seperti tidak ada habisnya membuat Julia tidak lagi memikirkan tentang cintanya. Namun terkadang ada saat-saat dimana ia pun ingin juga memiliki seseorang untuk tempat berbagi dalam menjalani hari-harinya.


Julia sangat tahu jika Ben masih menunggunya. Tapi ia masih terus meyakinkan dirinya. Ia sudah memaafkan dan melupakan kenangan buruk saat menikah dengan Ben dulu. Julia tahu dulu Ben telah menyakiti hatinya. Tapi ... bukankah manusia bisa berubah? Dan Julia menyadari jika Ben telah berubah.

__ADS_1


Ben juga tahu jika Julia telah berpisah dengan Irfan, namun ia tidak mendesak Julia. Bahkan Ben hanya ingin menemani Julia dan Arka saja tanpa menuntut. Selama ini yang Julia rasakan adalah Ben hanya memberi dan memberi tanpa menuntut apapun.


***


Sore ini Julia sibuk menyiapkan makan malam yang istimewa. Hari ini Ben berulang tahun. Sebenarnya Julia enggan merayakan di rumahnya jika bukan karena permintaan Arka.


Suara bel pintu rumah terdengar dan seketika Arka berlari untuk membukakan pintu karena tahu jika Ben lah yang datang.


"Papa!" seru Arka terdengar senang dan langsung memeluk Ben dengan sayang. Ben pun langsung menggendong Arka dan menciumnya.


"Pa, Mama sudah menyiapkan kue yang enak," ucap Arka antusias.


"Oh ya?!"


"Iya dong, juga Arka sudah menyiapkan hadiah buat Papa," kata Arka sambil menggandeng tangan Ben menuju ruang tengah.


Di sana sudah siap kue dengan lilinnya dan hadiah dari Arka.


"Papa, selamat ulang tahun ya. Arka sayang Papa," ucap Arka sambil memberikan hadiah untuk Ben.


Julia tersenyum melihat itu semua. Hatinya berdesir, terkadang saat seperti ini ia membayangkan Karel lah yang ada bersama mereka.


"Mama, Arka sudah kasih hadiahnya sama Papa Ben. Hadiah dari Mama mana?" tanya Arka mengajak Julia untuk ke ruang tengah.


"Aduh ... Mama lupa beli hadiah tadi. Besok deh hadiahnya menyusul," ucap Julia yang memang bingung akan memberikan hadiah apa untuk Ben. Ia nanti mau bertanya saja Ben ingin apa.


Acara ulang tahun yang sederhana. Tiup lilin dan potong kue, namun Ben merasa sangat bahagia. Memang seperti inilah keluarga yang diimpikannya. Sederhana namun hanya ada kasih sayang satu sama lain.


Selesai acara tiup lilin, Julia mengajak Arka dan Ben untuk makan malam. Arka dan Ben terlihat akrab sekali layaknya ayah dan anak, seperti tidak ada jarak diantaranya meski mereka tidak ada hubungan darah.


Setelah makan malam, Arka meminta Ben untuk membuka hadiahnya. Saat membukanya, Ben tersenyum bahagia melihat hadiah dari Arka.


Arka membuatkan gambar Julia, Ben dan Arka yang berdiri di tengahnya bergandengan tangan. Ia memang sangat menginginkan seorang papa. Arka tahu jika ia memiliki papa Karel, namun baginya itu seperti khayalan saja karena ia belum mengerti benar apa arti meninggal dunia.

__ADS_1


"Terima kasih, Arka sayang. Papa akan menempelkan gambar ini di rumah Papa." Ben lalu mencium Arka.


"Papa, maafkan Mama ya karena katanya belum menyiapkan hadiah. Katanya Mama mau tanya dulu Papa Ben mau hadiahnya apa," ucap Arka yang duduk di pangkuan Ben.


"Nggak apa-apa, Sayang."


Malam itu Arka masih bermain hingga waktunya tidur. Julia menemani Arka hingga tidur, sementara Ben membantu membereskan mainan dan makan malam.


Setelah Arka tidur, Julia keluar kamar dan mendapati Ben sedang duduk di ruang tengah.


"Aku kira kamu udah pulang, Ben," ucap Julia menghempaskan tubuhnya duduk di sebelah Ben.


"Kan aku masih menunggu hadiah ulang tahunku dari kamu, Jul," kata Ben tersenyum kecil.


"Memang kamu mau hadiah apa dari aku, Ben? Jangan yang mahal-mahal ya," tanya Julia.


"Julia, aku ingin dirimu sebagai hadiah ulang tahunku," kata Ben menatap lurus mata Julia.


"Apa maksudnya?" tanya Julia menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.


"Julia, aku ingin kamu mau memberiku kesempatan lagi untuk mendampingimu," ucap Ben dengan sepenuh hati.


Julia hanya terdiam, belum siap untuk memberikan jawaban. Ia menyadari Ben telah berubah dan selalu menunggunya hingga siap menerimanya.


"Jul, aku selalu dan akan selalu mencintaimu. Tidak peduli hingga berapa tahun lagi, aku akan menunggu hingga kamu siap menerima aku. Hatiku ini hanya milikmu, Jul," ucap Ben meyakinkan Julia.


Julia menatap dalam mata Ben, mencoba meyakinkan dirinya untuk menerima Ben kembali. Namun bukankah masa depan tidak ada seorang pun yang tahu. Ia harus berani mengambil keputusan dan ia tahu Ben selalu merasa bersalah padanya. Mungkin ia harus memberikan kesempatan ke dua untuk Ben.


"Baiklah, Ben. Aku menerima dirimu. Kita mencoba lagi dari awal. Aku mempercayaimu, aku harap kamu tidak pernah berubah karena aku menyukai dirimu yang sekarang," ucap Julia dengan senyum meneduhkan. Ia sudah lama melupakan kisahnya dulu dengan Ben dan kini ingin memulainya kembali.


"Terima kasih, Julia. Aku selalu mencintaimu dan Arka," ucap Ben lalu memeluk tubuh Julia, mendekapnya erat serasa tak ingin melepaskannya lagi.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2