
"Memangnya fitting gaun apa?" tanya Julia dengan malas.
"Gaun pengantin dong. Bulan depan, aku dan Ben akan menikah. Undangan untukmu akan kukirim secepatnya," jelas Nadine dengan senyum mengejek seolah berkata 'Aku menang, Ben menjadi milikku.'
Karel yang sedari tadi hanya mengamati, dalam hati pun merasa bahwa sekaranglah saatnya dia harus bertindak.
"Julia, yuk kita pergi sekarang. Kamu lupa kalau ada janji?!" Karel dengan setengah memaksa menarik tangan Julia agar segera meninggalkan tempat itu.
"Maaf Ben ... Nadine, kami harus segera pergi," pamit Karel yang berjalan menjauh dengan masih menggandeng tangan Julia.
Sementara Julia hanya menganggukan kepalanya berpamitan pada Ben dan Nadine.
Setelah keluar dari caffe, Karel meminta Julia segera masuk ke dalam mobilnya. Hari ini memang Julia tidak membawa mobil ke kantor karena masih diservis di bengkel.
Karel menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Julia sambil melirik Julia yang hanya terdiam memandangi jalanan yang padat sore ini.
"Jul ... kamu baik-baik saja kan?" tanya Karel hati-hati.
"Iya Karel, aku baik. Memang kenapa?"
"Syukurlah ... Karena kamu terlihat shock tadi," selidik Karel yang ingin tahu perasaan Julia.
"Ih enggaklah. Hanya aku kaget aja, ternyata secepat ini mereka memutuskan untuk menikah," kata Julia dengan senyum yang dipaksakan di sudut bibirnya.
"Aku bingung mau mengatakan apa," saut Karel.
"Haha ... Kamu terlihat tegang begitu sih? Aku nggak apa-apa Karel. Aku malah bersyukur sudah membuat keputusan yang benar dan aku bukanlah menjadi penghalang mereka lagi," kata Julia yang tampak menyesal.
"Jul, aku yakin Ben menyesal dalam hati karena telah menyia-nyiakan kamu. Tadi kamu lihat sendiri kan, Ben terus diam dan tampak tidak bahagia saat Nadine memberitahu kita mereka akan menikah."
"Aku tidak yakin Karel. Kita lihat saja besok saat pernikahan mereka. Kamu mau kan temani aku datang ke pernikahan mereka?" tanya Julia yang kini sudah mulai tenang.
"Tentu saja! Kamu juga mau kan temani aku datang ke pernikahan temanku besok hari Minggu?" Karel balik bertanya.
"Iya iya ... Aku akan menemanimu," saut Julia tersenyum.
Karel mengantarkan Julia hingga depan pintu rumahnya.
"Aku nggak ditawari masuk nih," canda Karel saat Julia hanya mengucapkan terima kasih saja.
"Lain kali saja ya, nggak enak dilihat tetangga."
Karel pun mengerti akan status Julia saat ini dan akhirnya dia pun langsung pergi meninggalkan rumah Julia.
***
Siang itu Julia duduk di meja kerjanya. Di depannya ada sebuah undangan berwarna biru langit lembut dihiasi tulisan emas "Ben dan Nadine."
Ya ... undangan pernikahan Ben dan Nadine telah diterimanya. Julia hanya memandangi foto Ben dan Nadine yang ada di cover undangan itu. Senyum bahagia dengan mata yang saling menatap mesra, seolah kebahagiaan telah ada digenggaman mereka.
__ADS_1
"Hei ... melamun saja!" Karel datang mengejutkan Julia.
"Ya ampun Karel! Bikin jantungku copot aja." Julia mencubit tangan Karel sebagai balasan.
"Habis kamu ini, siang-siang melamun. Apa sih itu dari tadi diamati terus?" tanya Karel yang langsung mengambil undangan pernikahan Ben dan Nadine.
"Itu undangan pernikahan Ben dan Nadine," saut Julia.
"Hemm ... Kamu yakin mau datang?" tanya Karel serius.
"Yakinlah, kamu mau menemaniku kan?"
"Tentu saja Jul, kan aku sudah janji. Tapi jika nanti orang bertanya siapa aku ini bagi kamu, aku harus jawab apa?"
"Jawab aja teman kantor. Kan kita memang teman kantor," kata Julia tersenyum.
"Yah ... sedih aku Jul."
"Haha ... kenapa sedih? Terus maunya kamu sebagai apa aku?"
"Sedih deh aku kok kamu nggak ngerasa sih kalau aku ... "
"Stop! Karel, jangan sekarang. Please, beri aku waktu ya," pinta Julia yang tidak ingin mendengar kata yang akan keluar dari mulut Karel.
"Baiklah Jul, aku sabar menunggu sampai kamu siap," kata Karel tersenyum.
Julia pun merasa lega karena Karel sangat pengertian. Jika Julia merenung, Karel itu seperti dirinya yang sabar menunggu Ben mencintainya. Tapi berbeda dengan Ben, Julia mulai membuka hatinya untuk Karel. Dia yakin bahwa cinta akan hadir untuk dia dan Karel.
***
Ya ... inilah malam pesta pernikahan Ben dan Nadine. Julia ingin tampil secantik mungkin. Dia tidak ingin dipandang dengan tatapan kasihan oleh orang-orang yang tahu jika ia adalah mantan istri Ben.
Papa Mama Julia sebenarnya sudah melarang Julia untuk datang ke pernikahan ini, namun Julia dengan yakin akan hadir.
Dia sudah mengganggap keluarga Ben adalah saudara dan juga dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dia pun bahagia sekarang walaupun tanpa Ben.
Karel menjemput Julia tepat waktu. Karel pun tampak keren dan menjadi pasangan yang serasi bagi Julia.
Julia dan Karel datang ke pernikahan Ben Nadine dengan langkah mantap.
Saat memasuki ballroom, Julia melihat Ben dan Nadine yang tengah menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Julia berjalan pelan menuju pelaminan ditemani Karel yang berdiri di sampingnya.
"Selamat Ben, Nadine, semoga bahagia hingga maut memisahkan," ucap Julia saat menyalami Ben dan Nadine.
"Terima kasih Julia, sudah mau datang," balas Nadine dengan senyum dipaksakan.
Julia dan Ben saling bertatapan, dan selama sepersekian detik, Julia merasa hatinya berdesir perih. Sedih mengenang pernikahannya yang dulu dengan Ben.
Betapa bahagianya ia saat itu walaupun kebahagiaan itu hanya dia yang merasakan.
__ADS_1
Dan anehnya, saat Julia melihat mata Ben, dia merasa Ben menatapnya sendu. Julia tidak bisa mengartikan tatapan itu ...
Sedihkah?
Kasihankah?
Menyesalkah?
Namun semua itu buyar saat Nadine menyenggol pinggang Ben dan berdeham. Julia pun mengalihkan tatapannya dari mata Ben.
Setelah Karel mengucapkan selamat, mereka berdua pun akhirnya berbaur dengan tamu undangan lain yang menikmati hidangan yang telah tersedia.
Di sela-sela saat Julia makan, ia melihat pelaminan tempat Ben dan Nadine tengah menjadi raja dan ratu malam ini. Tapi tanpa diduga Julia, Ben pun menatap Julia.
Julia tidak mengerti, setelah sekian lama tidak bertemu, kenapa sekarang saat melihat Ben, hatinya kembali rapuh. Rasa yang dulu ada sepertinya sekarang mengusik hati Julia lagi.
Tak tahan berlama-lama, Julia pun mengajak Karel untuk segera meninggalkan ballroom tempat acara pesta pernikahan.
Saat sudah di dalam mobil, Karel melajukan mobilnya menuju sebuah pantai di pinggiran kota yang mulai sepi saat malam hari.
Kini Julia dan Karel masih duduk di dalam mobil. Keduanya menikmati debur ombak yang akhirnya menghilang saat menyentuh bibir pantai.
"Julia, kamu baik-baik saja kan?" tanya Karel hati-hati.
"Aku baik-baik saja Karel. Kenapa kamu menanyakan itu lagi sih?"
"Maaf Jul, tapi di pesta tadi aku merasa melihat kesedihan saat melihat wajahmu," kata Karel yang saat ini pun terus memandangi wajah Julia.
"Memang tadi untuk sesaat aku teringat saat menikah dulu yang suasananya hampir sama. Namun aku tersadar bahwa semua itu masa lalu," kata Julia yang matanya menerawang seakan menembus ombak pantai di hadapannya.
"Julia, aku tidak ingin melihat kesedihan di matamu lagi. Ijinkan aku untuk bisa membahagiakanmu."
"Maksudnya?"
"Julia, sedari dulu aku selalu mencintaimu dan aku akan selalu mencintaimu," kata Karel tulus. Diraihnya tangan Julia dan diciumnya seakan meluapkan rasa yang ada di hatinya.
"Karel ... "
"Julia ... I love you."
Julia menatap mata Karel. Hatinya saat ini masih rapuh, tapi saat melihat di kedalaman mata Karel ... Akhirnya ia pun sadar, ia tahu jawaban sekarang.
-
-
-
-
__ADS_1
-