Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Ingin Bersamamu


__ADS_3

"Kalian berdua ini pada kenapa sih?" Julia bergantian memandangi Ben dan Irfan.


"Jul, selanjutnya biar aku yang selalu menemanimu," kata Ben.


"Jul ... " saut Irfan.


"Sudah cukup, tolong kalian berdua jangan seperti anak kecil. Irfan, tolong pulanglah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ben," pinta Julia.


"Tapi, Jul .... " Irfan merasa tidak terima.


"Irfan, please." Julia memohon.


"Baiklah, Jul. Aku pulang dulu, tapi hati-hati dengan si musang ini," kata Irfan sambil melirik Ben yang terlihat tersenyum penuh kemenangan.


"Apa katamu, Rubah?" Ben berkata dengan menatap mata Irfan galak.


"Ya ampun, pusing aku dengan kalian berdua." Julia memegangi kepalanya yang kini terasa berdenyut.


Namun tiba-tiba Ben dan Irfan tertawa bersamaan.


"Haha ... Kita ini masih seperti anak SMA saja ya, Fan?" Ben menertawakan tingkahnya yang konyol.


"Haha ... Benar, Ben. Jadi kangen masa SMA kita dulu. Saling mengejek, bertengkar hal sepele. Ternyata sekarang kita sudah tua," kata Irfan disela-sela tawanya.


Julia kini malah semakin bingung dengan tingkah dua pria didepannya.


Ya ampun ... Mereka berdua ini sudah tua masih saja seperti remaja labil.


Julia membatin dalam hati. Tersenyum melihat Ben dan Irfan.


"Enak aja ... Kamu yang sudah tua, Fan. Maaf ya, aku ini forever young," kata Ben percaya diri.


"Forever young dari mananya, Musang?" ejek Irfan.


"Tentu saja Julia yang bilang, Rubah. Benar kan, Jul?! balas Ben tidak mau kalah.


"Ya ampun, bisa pecah kepalaku berada diantara kalian. Iya kalian memang forever young. Sudah puas? Haha ... " Julia ikut tertawa bersama Ben dan Irfan.


Bahkan Julia tertawa lepas. Irfan dan Ben saling berpandangan, ikut senang mendengar Julia bisa tertawa lagi. Karena sejak Karel meninggal, Julia seperti sudah lupa bagaimana caranya tertawa.


Air mata sampai keluar saat Julia tertawa. Baru kali ini ia merasa konyol melihat tingkah Ben dan Irfan.


"Jul, aku pulang dulu ya. Hati-hati jika berdua dengan Si Musang itu, jangan sampai kamu digigit," kata Irfan sambil berjalan keluar rumah Julia.


"Hati-hati kalau bicara, Rubah!" teriak Ben dari dalam rumah.


Julia mengantarkan hingga Irfan masuk kedalam mobilnya.


"Irfan, terima kasih sekali ya sudah mengantarku tadi periksa ke dokter kandungan," kata Julia.

__ADS_1


"Malah aku yang senang. Aku pulang dulu ya."


Irfan menyalakan mobil dan melaju pelan menjauhi rumah Julia.


Irfan merasa berat meninggalkan Julia berdua dengan Ben. Hatinya merasa cemburu, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa jika Julia telah menyuruhnya pergi.


Julia kembali masuk kedalam rumah. Ia mendapati Ben sedang duduk santai sambil menyesap kopi yang tadi dibuatkan Julia.


"Kopi buatanmu masih terasa sama, Jul. Tetap enak," kata Ben melemparkan senyumnya.


"Ben, boleh aku tanya?" tanya Julia, ia tidak mau menanggapi perkataan Ben.


"Ada apa, Jul? Tanya saja," kata Ben santai.


"Ben, bagaimana kabar Nadine? Katanya dia sakit? Dimana dia sekarang?" tanya Julia bertubi-tubi.


"Kenapa kamu tanya Nadine?" Ben balik bertanya.


"Ben, jangan bercanda. Aku kuatir dengan Nadine," kata Julia tulus.


"Bukankah Nadine selalu membencimu? Kamu masih perhatian sama dia?"


"Ben, bagaimana pun juga Nadine temanku. Ben, ayolah ceritakan bagaimana keadaan Nadine sekarang?" Julia memaksa agar Ben mau bercerita.


"Jul, sekarang Nadine baik-baik saja. Ada di rumah," kata Ben santai.


"Benarkah? Katanya kemarin Nadine sakit lalu operasi."


"Nadine sakit apa sih, Ben?" Julia terus bertanya karena ia gemas melihat Ben yang seperti enggan bercerita padanya.


"Sebenarnya setelah keguguran dulu itu, rahim Nadine bermasalah. Bahkan jika dibiarkan kemungkinan besar akan mengarah ke kanker. Jadi untuk mencegahnya, dokter mengangkat rahim Nadine," jelas Ben.


"Ya Tuhan, kasihan Nadine. Padahal dia sangat ingin memiliki anak dari kamu, Ben." Julia sangat terkejut. Hatinya ikut bersedih dengan apa yang Nadine alami.


"Mungkin semua ini karma dia, Jul," ungkap Ben yang kini memejamkan matanya.


Sebenarnya Ben juga merasa kasihan dengan Nadine. Namun ia pun merasa terkhianati.


"Maksudnya?"


"Kau tahu?! Ternyata selama ini Nadine telah membohongiku. Gara-gara mamaku yang memberi dia waktu setahun untuk hamil, sepertinya dia jadi gelap mata. Ia mengambil jalan pintas. Dia hamil dengan Theo," jelas Ben.


Walaupun kini Ben tidak lagi mencintai Nadine, namun ia pun merasa marah saat Nadine tidak setia padanya.


"Apa! Kamu jangan bercanda, Ben!" Julia sangat terkejut mendengar semua yang Ben katakan.


"Aku berkata yang sebenarnya, Jul. Nadine sendiri yang mengakuinya. Sebelum operasi, dia akhirnya mengaku padaku. Padahal aku sangat mempercayainya kalau dia tidak mungkin mengkhianatiku. Tapi begitulah yang terjadi. Dia merasa ini adalah karma karena telah mengkhianati aku," jelas Ben lagi.


"Aku tidak menyangka Nadine bisa berbuat nekat seperti itu. Apalagi dengan Theo? Aku sungguh tidak percaya," kata Julia yang kini pikirannya melayang.

__ADS_1


Ternyata ia sama sekali tidak mengenal sosok Theo.


"Lalu sekarang bagaimana Nadine?" tanya Julia.


"Maksudnya?"


"Maksudku, kamu memaafkannya kan?!"


"Aku tidak tahu, Jul. Sekarang jika aku melihat Nadine, rasa marah terasa sesak di dadaku. Jadi sementara ini, aku tinggal di apartemen. Nadine sudah sehat, ia tinggal di rumah sekarang," kata Ben santai.


"Aku jadi kasihan pada Nadine. Kapan-kapan ada waktu, aku ingin menengoknya," kata Julia.


"Tidak usah, untuk apa ketemu dia. Bukankah dia sering menghinamu, Jul?" Ben tidak habis pikir mengapa Julia tetap berbaik hati pada Nadine.


Julia hanya terdiam, pikirannya kini malah melayang jauh. Ia jadi teringat akan foto-foto dirinya bersama Theo dulu.


"Ben, tolong katakan sejujurnya padaku. Apakah kamu yang mengambil foto-fotoku saat bersama Theo? Sebenarnya ini sudah nggak ada artinya lagi, toh Karel sudah tiada. Tapi aku sekarang jadi penasaran."


"Foto? Foto apa?" Ben balik bertanya.


"Itu lho foto-foto candid saat aku bersama Theo di villa. Foto-foto itu lalu dikirimkan ke ponselku dan ponsel Karel. Tapi Karel tidak menanggapi karena ia sakit waktu itu. Sebenarnya sekarang juga nggak ada gunanya aku tau, apalagi Karel juga sudah nggak ada lagi," jelas Julia.


"Jul, aku sama sekali tidak tahu menahu soal foto yang kamu bilang itu. Percayalah," kata Ben meyakinkan Julia.


Julia menatap mata Ben. Ia melihat kejujuran disana.


"Iya, aku percaya. Berarti mungkin Theo sendiri yang mengambil foto-foto itu. Tapi sudahlah," kata Julia lagi.


Ben memandangi wajah Julia, ia sekarang malah penasaran. Untuk apa Julia bersama Theo di villa. Namun jika bertanya, ia merasa tidak enak dan takut jika dikira ikut campur antara Julia dan Theo.


"Ben, lalu bagaimana pernikahanmu dengan Nadine? Jika bisa, tetaplah pertahankan pernikahanmu, Ben," kata Julia lagi. Ia hanya ingin orang-orang disekitarnya bahagia.


"Haha ... Julia, apa kamu bercanda?! Aku dan Nadine sudah tidak ada lagi yang harus dipertahankan," kata Ben geli.


"Kasihan dia, Ben."


"Kasihan? Dia sudah tidak setia padaku, Jul."


"Sekarang kamu sudah bercerai?" tanya Julia penasaran.


"Aku belum bisa menceraikan dia. Karena aku tidak tega dengan keadaannya. Mungkin aku harus memberinya waktu, karena sepertinya mentalnya agak terganggu."


"Jangan bilang seperti itu, Ben. Tapi aku ikut senang jika kamu tetap mempertahankan pernikahanmu, Ben," kata Julia tulus.


"Tapi aku hanya ingin bersamamu, Jul. Aku sangat ingin memiliki anak."


Julia merasa tidak nyaman saat ini. Ia belum siap menerima siapapun untuk menggantikan posisi Karel di hatinya.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2