
Ting tong ....
Julia memaksakan dirinya bangun lalu menuju pintu depan. Ia menghapus air matanya dengan tissue, berusaha menampakkan wajah ceria.
Saat membuka pintu, "Ben!"
Julia menahan teriakannya. Ia sangat terkejut melihat Ben lah yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Kamu terkejut sekali lihat aku kayak lihat hantu saja, Jul," kata Ben santai.
Julia memejamkan matanya, kepalanya pening. Ia menghitung dalam hati jika kira-kira sepuluh menit lagi pasti Karel sampai di rumah.
Julia menghalangi Ben agar tidak masuk ke dalam rumah.
"Kamu tidak menyuruhku masuk?" tanya Ben dengan senyum di wajahnya.
"Tidak usah masuk! Kamu mau apa katakan sekarang, Ben. Suamiku sebentar lagi pulang," pinta Julia yang tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Haha tenanglah, pasti Karel malah senang jika kamu ada yang menemani di rumah." Ben malah semakin senang melihat Julia yang kebingungan.
"Ben, please! Kau tahu kan Karel itu cemburuan. Sudah sana pulang! Besok saja kamu temui aku jika mau bicara denganku. Telpon dulu saja." Julia mendorong tubuh Ben agar segera pulang. Ia tidak mau Karel akan salah paham jika melihat Ben di rumah saat ini.
"Ck ck ck ... Baiklah. Nanti malam aku akan menelpon kamu ya," kata Ben akhirnya.
"Sudah cepat sana pulang!" Julia sudah habis kesabaran.
Ben tersenyum santai lalu masuk ke dalam mobilnya. Perlahan ia pun pergi meninggalkan rumah Julia.
Julia menghembuskan nafasnya kasar, memejamkan matanya. Sebenarnya mau apa lagi Ben datang ke rumahnya. Ia tidak mengerti dengan sikap Ben belakangan ini yang sering sekali mengganggunya.
Julia menenangkan dirinya, berharap ia bisa tenang menyambut kepulangan Karel sebentar lagi.
Julia masih berdiri mematung di teras rumah saat Karel turun dari taksi.
Karel tersenyum senang melihat Julia menunggunya.
"Halo sayang," sapa Karel lalu memeluk dan mencium pipi Julia dengan sayang.
Julia membalas ciuman Karel. Ia sangat merindukan suaminya.
"Yuk masuk, malu nanti dilihat tetangga," ajak Karel dengan menggandeng tangan Julia.
Julia pun patuh dan mengikuti Karel masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sayang, aku mandi dulu ya. Badanku rasanya lengket," kata Karel saat keduanya puas melepaskan rasa rindu.
"Oke, aku akan menyiapkan makam malam," kata Julia.
Sesampainya di ruang makan, Julia memejamkan matanya. Ia yakin jika sampai detik ini, Karel pasti belum tahu soal foto-foto dirinya dengan Theo.
Julia tidak tahu bagaimana caranya mengetahui siapa yang mengirim foto-foto itu. Namun ia akan menghubungi Theo besok, karena malam ini tidak mungkin bagi Julia menelpon Theo. Ia takut Karel malah akan curiga.
"Masak apa nih, Jul? Sepertinya istimewa sekali," tanya Karel saat sudah berada di ruang makan.
"Ini ayam bakar kesukaanmu," saut Julia menampilkan senyum ceria yang dipaksakannya.
Karel dan Julia menikmati makan malam bersama. Saat sudah selesai, Julia baru menyadari jika Karel makan sangat sedikit dan seperti tidak berselera, padahal biasanya jika Julia memasak pasti Karel sangat lahap dan menghabiskan semuanya.
"Karel, kenapa makan sangat sedikit? Tidak enak ya?" tanya Julia.
"Enggak kok, sayang. Badanku rasanya masih lelah, jadi tidak bisa makan banyak," kata Karel.
"Karel, kamu sakit? Kenapa wajahmu kelihatan pucat? Juga sekarang badanmu agak terlihat kurus," tanya Julia menyelidik.
Sekarang ia baru menyadari jika Karel terlihat agak lesu dan kelelahan.
"Sayang, aku tidak sakit. Hanya saja aku merasa lelah. Setelah tidur, besok pasti aku sudah sehat lagi." Karel menenangkan Julia yang terlihat sangat kuatir.
Sementara itu Julia duduk di kursi dalam kamar. Ia hanya memperhatikan Karel yang mulai tertidur.
Karel, maafkan aku. Saat ini aku belum bisa menceritakan soal foto-foto itu dan pertemuanku dengan Theo beberapa hari yang lalu. Aku takut kamu marah. Karel ... Aku harus bagaimana?
Julia membatin dalam hati sambil terus memandangi wajah suaminya. Ia merasa sangat bersalah, karena dalam hatinya Julia merasa telah tidak setia pada Karel.
***
Nadine berbaring lemah di ranjang kamarnya. Perutnya terasa sakit. Ia mengalami pendarahan hebat. Nadine mengutuki Ben yang sedari tadi tidak bisa dihubungi.
Sial! Kemana sih Ben pergi? Kenapa telpon dan pesanku tidak juga dibalasnya?!
Nadine bingung harus melakukan apa. Ia sadar jika kemungkinan besar akan kehilangan janin yang sedang dikandungnya.
Rasanya Nadine ingin menyetir sendirian pergi ke rumah sakit, namun ia merasa kesakitan dan tidak bisa berkonsentrasi menyetir.
Menit demi menit berlalu, namun Ben tak juga membalas pesannya. Nadine merasa habis kesabaran. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia pun memesan taksi online.
Tak lama menunggu, taksi pun datang. Dengan berjalan tertatih dan menahan sakit yang teramat sangat, Nadine pun pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
***
Hampir tengah malam, Julia pun akhirnya tertidur. Walaupun banyak hal yang dipikirkannya, namun akhirnya matanya pun tak kuat menahan rasa kantuknya.
Karel tiba-tiba terbangun, keringat dingin mengucur dari dahinya. Tubuhnya merasa tidak enak dan kepalanya sangat pusing.
Ia pun bangun dan mengambil obat yang ia simpan rapi di dalam tasnya.
Setelah meneguk obat, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menit demi menit berlalu, dan rasa sakit di tubuhnya pun berangsur-angsur menghilang.
Karel memandangi wajah Julia yang tidur disampingnya. Wajah yang terlihat sangat damai dalam tidur nyenyaknya.
Julia, sayangku ... Maafkan aku. Entah apa yang kulakukan ini benar atau tidak, namun aku tidak tega jika kamu mengetahui semuanya. Aku hanya ingin kamu bahagia ...
Karel terus memandangi wajah istrinya, tak tega rasanya mengatakan apa yang ada di benaknya saat ini. Tak terasa air mata memenuhi matanya.
Karel mengerjap-ngerjapkan matanya, mengusir air mata yang mendadak penuh dan mendesak keluar.
Ia harus memantapkan hatinya dan tidak boleh goyah. Ia telah mengambil keputusan demi kebaikan dan kebahagiaan Julia.
Karel bangun dari tempat tidurnya dan keluar kamar perlahan-lahan. Ia tidak ingin membuat Julia terbangun.
Karel masuk ke ruang kerjanya dan duduk dengan tenang. Matanya terpejam memikirkan semua rencana yang telah ia buat.
Suara ponsel mengejutkannya. Karel mengerutkan keningnya, bertanya siapakah yang tengah malam begini mengirim pesan padanya.
Karel melihat jika pesan itu dari nomor tak dikenal. Namun ia pun tetap membukanya.
Perlahan tangannya menggulir layar ponsel dan menampakkan foto-foto Julia bersama seorang pria tengah bercengkrama di sebuah rumah entah dimana.
Julia dan pria itu tampak saling tersenyum.
Karel memperhatikan jika tanggal pengambilan foto itu baru beberapa hari yang lalu. Ia pun mengerutkan keningnya, mengingat-ingat jika ia sama sekali tidak mengenal pria yang ada di foto tersebut.
Karel menghela nafasnya, mengatur emosi yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.
Namun ... Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. Mungkin ini sebuah jalan yang akan mempermudah rencananya pada Julia.
-
-
-
__ADS_1
-