Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Kenangan Indah


__ADS_3

Waktu terus berjalan, Julia melewati hari-harinya dengan perasaan was-was. Ia dengan tenang menunggu apa yang akan Ben lakukan. Namun Ben seperti menjauhi Julia, bahkan pesan ataupun telpon tidak diterima Julia.


Padahal Julia sangat berharap Ben segera bertindak dan mengatakan apa maksudnya telah mengambil foto kebersamaannya dengan Theo.


Dan sejauh ini, sepertinya Karel tidak tahu menahu tentang foto-foto itu.


Pagi ini, Julia membantu Karel menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk bertugas ke luar kota.


"Karel, kamu yakin akan berangkat? Wajahmu kelihatan pucat. Jika sakit jangan memaksakan diri, ijinlah dulu untuk beristirahat sehari saja." Julia mengungkapkan rasa kekhawatirannya karena beberapa hari ini semenjak Karel pulang bertugas sebelumnya, Karel terlihat lemah dan tidak nafsu makan.


"Aku tidak apa-apa, sayang. Kamu tenang saja, mungkin aku terlalu banyak pekerjaan saja."


"Tapi kamu sekarang seperti tidak nafsu makan. Apakah masakanku tidak enak?"


"Masakanmu sangat enak, sayang. Tapi kamu tahu kan kalau maag ku lagi kambuh. Semoga saja sepulang dari tugas ini, aku sudah kembali seperti dulu. Selalu menghabiskan makanan di rumah," kata Karel tersenyum. Ia tidak ingin Julia kuatir padanya.


"Tapi ... "


"Sudah sana kamu berangkat kerja, nanti terlambat. Kan hari ini ada event penting." Karel ingin menyudahi percakapannya dengan Julia, ia takut kalau Julia akan curiga jika ia memang sedang sakit.


Julia mengambil tasnya, memasukkan ponsel dan dompetnya. Hari ini memang event penting di kantor, hari ulang tahun kantornya yang diisi dengan berbagai acara.


Ia harus datang sebelum acara pembukaan dimulai. Sebenarnya Julia sedih karena selalu tidak bisa mengantar Karel pergi, namun bagaimana lagi? Ia punya tanggung jawab yang harus dilaksanakannya.


"Karel, maaf ya aku tidak bisa mengantarmu ke bandara," kata Julia dengan wajah sedih.


"Sudahlah, nggak masalah. Kan ada mobil jemputan. Mungkin baru sejam lagi sampai," saut Karel menenangkan Julia.


"Baiklah, aku berangkat dulu, sayang."


"Iya, hati-hati di jalan. Aku doakan acara hari ini sukses ya," kata Karel mencium pipi Julia.


"Kamu juga hati-hati, sayang. Jika sudah sampai disana jangan lupa kabari ya dan sering-sering videocall ya," ucap Julia sambil mencium tangan Karel.


Ia memang selalu mencium tangan Karel sebelum pergi


Julia berjalan keluar rumah. Saat mau masuk ke dalam mobil, dilihatnya Karel berdiri di teras dengan senyum khasnya. Tangannya melambai sebagai tanda perpisahan.


Julia memandangi wajah Karel, entah mengapa hatinya terasa berdesir. Perasaannya mengatakan jika ini adalah terakhir kalinya melihat Karel tersenyum padanya.


Julia menundukkan kepala dan memejamkan matanya, menghalau perasaan gundah yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.

__ADS_1


Mengapa tiba-tiba hatiku terasa tidak enak seperti ini?


Julia membuang nafas dengan kasar, mengusir perasaan tidak enaknya. Ia menatap Karel, membalas senyum dan melambaikan tangannya.


Julia membuang jauh-jauh pikirannya tentang Karel. Ia harus berkonsentrasi mengemban tugas acara hari ini, karena Julia lah yang bertanggung jawab.


Acara ini dibuka oleh pejabat penting yang akan hadir. Dilanjutkan dengan bazar yang diisi dengan pemberian bantuan berupa sembako, pengobatan gratis dan acara pentas seni hingga malam hari. Bazar diadakan selama 2 hari.


Julia memacu mobilnya menuju kantor karena acara ini diadakan di halaman kantor. Saat sudah sampai, Julia cepat-cepat mengecek agar acara berjalan dengan lancar.


Sementara itu setelah mengantar kepergian Julia, Karel terduduk di kursi teras. Ia menahan sakit di kepalanya. Matanya terpejam dan merasakan kepalanya yang berdenyut hebat.


Setelah sakitnya agak berkurang, Karel masuk ke dalam rumah dan mengambil obatnya. Dengan cepat ditelannya pil yang diresepkan dokter.


Dokter memang memberikan pil ini sebagai penghilang rasa sakit untuk sementara. Setelah menunggu beberapa saat, lambat laun rasa sakit di kepala Karel pun menghilang.


Karel berjalan masuk ke dalam kamar tidur, ia tahu jika mungkin inilah terakhir kalinya ia berada disini. Dengan lembut disentuhnya ranjang yang selama ini menjadi saksi bisu kebahagiaannya bersama Julia.


Air mata pun lolos jatuh ke pipinya. Karel tersuruk di ranjang, meraung menangisi kesedihannya sendirian. Ia tahu jika tak akan dapat bertahan melawan penyakit ini.


Namun ia tak dapat menceritakan semuanya pada Julia, ia tak mau menjadi beban untuk istrinya. Bahkan orang tuanya pun tidak tahu.


Karel menenangkan dirinya saat dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 08.00. Mobil penjemputnya akan segera datang.


Karel keluar kamar tidur dengan kesedihan yang tidak dapat ia halau. Tas yang akan ia bawa, diletakkan di ruang tamu.


Dengan perlahan Karel berjalan ke taman belakang, dapur dan semua ruangan yang ada di dalam rumah.


Ia hanya ingin mengingat kenangan indah yang pernah ia rasakan saat berada didalam rumah ini.


Tawa Julia terasa menggema di telinganya, juga suara Julia saat memanggil namanya. Karel memejamkan matanya, ia hanya ingin mengingat kenangan indah didalam rumah impiannya bersama Julia.


Namun hatinya terasa sedih saat mengingat jika sampai saat ini Julia belum hamil. Sebenarnya ia sangat ingin memiliki buah hati, darah dagingnya bersama Julia.


Mungkin jika ia sudah tidak ada lagi, buah hatinya bisa terus menemani Julia. Mengusir rasa sepi jika ia sudah tidak dapat menemani Julia lagi.


Namun ... Sepertinya Tuhan belum mengijinkan ia memiliki buah hati bersama Julia.


Karel menghirup nafas dalam-dalam, berlama-lama merasakan bau khas rumahnya ini. Setelah puas, Karel berjalan keluar rumah, mengunci pintu dan duduk di teras, menunggu penjemputnya datang.


Sebuah mobil berwarna putih berhenti di halaman rumah. Karel berdiri dan mengambil tasnya. Ia tahu sudah saatnya ia pergi. Dipandanginya sekali lagi rumah yang menjadi saksi perjalanan pernikahannya yang indah bersama istrinya.

__ADS_1


Seorang lelaki terlihat keluar dari mobil dan membantu Karel memasukkan tasnya kedalam bagasi.


Setelah semuanya beres, mobil putih itu pun perlahan menjauhi rumah.


"Bagaimana keadaanmu, Karel?"


"Aku masih bisa bertahan. Jangan kuatir," kata Karel yang menyandarkan kepalanya.


"Keadaanmu sudah parah begini masih kau paksakan," gerutu lelaki itu.


"Jangan cerewet! Kita langsung ke tujuan saja," kata Karel yang sebal dengan temannya ini.


"Oke, kita langsung ke rumahku. Aku sudah menyiapkan kamar perawatan khusus untukmu dan perawat yang akan merawatmu hingga sembuh."


"Jangan bercanda, aku tau keadaanku," kata Karel tenang.


"Lalu sampai kapan kamu akan merahasiakan semua ini dari Julia?" tanya lelaki itu.


"Kan aku sudah bilang padamu jika Julia tidak akan melihatku kesakitan. Biarlah hanya kenangan indah saja yang boleh diingatnya." Karel berkata dengan yakin karena ia sangat menyayangi istrinya.


"Terserah kau saja. Oh iya, untuk operasi besok sudah disiapkan. Aku yakin operasi ini pasti akan berhasil dan kau akan sembuh."


"Aku sudah memutuskan tidak akan operasi."


"Kenapa?" tanya lelaki itu bingung.


"Sudahlah, aku tau sudah tiba untuk waktuku berhenti. Keberhasilan operasi ini tidak lebih dari 50%. Aku hanya ingin pergi dengan tenang," jelas Karel.


"Jangan begitu, kawan. Kamu harus optimis dan terus berjuang."


"Aku sudah siap jika harus pergi. Hanya aku minta tolong sekali lagi padamu, jagalah Julia. Aku titip dia," kata Karel dengan ikhlas.


Lelaki itu hanya terdiam, ia tahu jika cintanya hanyalah untuk Julia. Tapi ...


"Kawan, aku sudah jelaskan semua rencana kita. Aku rasa kini waktunya kamu bertindak. Aku hanya percaya padamu untuk menjaga dan mencintai Julia dengan tulus," kata Karel memohon.


"Baiklah, kawan. Aku janji akan selalu menjaga dan mencintai Julia," kata lelaki itu dengan tulus.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2