Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Tidak Aman


__ADS_3

Julia sangat terkejut. Ia belum sadar sepenuhnya. Kepalanya terasa sakit karena sempat terbentur tembok.


"Julia! Jul, kamu nggak apa-apa?!" teriak Ben kuatir sambil membantu Julia berdiri.


Ben memapah Julia agar duduk di sofa. Sementara Nadine terlihat diam mematung. Ia pun tidak menyangka jika Julia bisa terjatuh. Namun ia menyadari jika ibu hamil tidak memiliki keseimbangan sebaik orang biasa.


"Julia ... Sebentar, aku ambilkan air putih untukmu," kata Ben sangat kuatir.


Saat berdiri, Ben menatap wajah Nadine dengan galak. Seperti mengatakan 'awas kau.'


Nadine menunduk takut. Namun dalam hati ia sama sekali tidak kuatir, mungkin ada rasa sedikit senang.


"Nih minumlah dulu, Jul. Setelah ini kita pergi ke rumah sakit periksakan kandunganmu. Aku takut jika nanti ada masalah," kata Ben menyerahkan segelas air.


Setelah minum dan menenangkan diri. Julia pun menurut saat Ben mengajaknya untuk memeriksakan kandungannya. Ia pun kuatir dengan keselamatan bayinya.


"Jul, maafkan aku," kata Nadine lirih.


"Nggak apa-apa, Nad. Aku tau kamu tidak sengaja tadi." Julia berbicara sambil berjalan perlahan ke mobil Ben.


Perutnya terasa kencang. Julia hanya bisa berdoa semoga bayinya selamat.


"Kamu ikut kita, Nad. Jika ada apa-apa, aku akan melaporkan kamu ke polisi!" ancam Ben.


Nadine pun menurut dan mengikuti mobil Ben dari belakang. Ia memang ingin ikut ke rumah sakit agar tahu bagaimana keadaan Julia. Senyum puas tersungging di sudut bibirnya.


Sementara itu, di dalam mobil Ben, Julia hanya diam. Ia takut membayangkan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Apalagi kandungannya baru menginjak bulan ke-6.


"Jul, bagaimana rasanya perutmu?" tanya Ben kuatir.


"Rasanya sedikit kencang. Aku takut, Ben," kata Julia lirih.


"Berdoa saja, Jul. Tapi aku yakin bayimu pasti kuat." Ben berusaha menenangkan Julia.


Julia menggigit bibirnya cemas saat mobil Ben memasuki area rumah sakit ibu dan anak tempat Julia biasa periksa.


Ben terus mendampingi Julia, sementara Nadine tetap mengikuti dari belakang.


Julia sedang diperiksa dokter di ruang IGD. Ben dan Nadine menunggu di luar.


"Nadine, kamu ini betul-betul jahat ya." Ben tidak dapat menahan rasa marahnya melihat Nadine yang terlihat tenang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Ben, kan tadi aku nggak sengaja. Mana aku tahu jika Julia akan jatuh," elak Nadine memberi alasan.


"Ck ck ck, aku tahu kamu sangat membenci Julia. Tapi harusnya kamu itu sadar, Julia itu terlalu baik padamu. Setelah ini, jangan temui Julia lagi."


"Tapi, Ben!" Nadine setengah berteriak.


"Nad, setelah kita bercerai, aku ingin kamu pergi jauh dari kami. Ke luar pulau saja kalau bisa. Jangan menampakkan batang hidungmu di depanku! Aku akan mengirimimu uang setiap bulan sebagai tunjangan hidup," kata Ben menahan amarahnya yang kini memuncak.


Nadine pun terdiam. Ia tahu tidak baik berdebat dengan Ben saat ini. Tempat dan waktunya tidak memungkinkan. Namun Nadine tidak akan menyerah semudah ini.


Dalam hati ia sudah bertekad, tidak akan membiarkan Julia dan Ben hidup bahagia.


Saat dokter keluar ruangan, Ben langsung menghampirinya.


"Dokter, bagaimana keadaan Julia?" tanya Ben menuntut penjelasan.


"Anda suaminya Nyonya Julia?" tanya Dokter.


"Ehm bukan, Dok. Sebenarnya saya teman dekatnya karena suami Julia sudah meninggal. Anggap saja saya walinya," jelas Ben.


"Baiklah kalau begitu, kita bicara di ruangan saya," kata Dokter yangb berjalan memandu Ben.


"Jadi bagaimana kondisi Julia sekarang, Dokter?" tanya Ben lagi.


"Terima kasih, Dok. Saya akan menjaga Julia dengan baik." Ben merasa ikut bersalah karena kejadian ini.


Ben keluar dari ruang dokter, lalu ia menghampiri Nadine.


"Nad, lebih baik kamu pulang saja. Kondisi Julia sehat, tapi dia harus bed rest di rumah sakit untuk sementara waktu," perintah Ben tegas.


"Tapi aku ingin bertemu Julia dulu," pinta Nadine menampakkan wajah memelas.


"Tidak perlu! Sudah, pulang saja!" Ben hampir berteriak ingin segera Nadine pergi.


Nadine menyorotkan mata marah dan hendak membalas nada suara Ben yang tinggi. Ia merasa tidak terima diperlakukan seperti pengganggu.


Namun ia tidak punya pilihan saat ini. Ia pun akhirnya mengalah dan keluar dari gedung rumah sakit.


Hati Nadine terasa sesak karena amarah yang menggelegak. Sakit hati, marah dan kecewa bercampur aduk.


***

__ADS_1


Ben masuk ke ruang rawat Julia. Terlihat Julia sedang tidur lelap. Mungkin karena pengaruh obat. Memang Julia membutuhkan istirahat yang cukup dan Ben bersedia selalu menjaga di sampingnya.


Ben terus mengamati wajah Julia. Hatinya terasa berdesir setiap kali memandangi wajah Julia yang menenangkan hatinya.


Namun tiba-tiba ponsel Julia berdering. Takut mengganggu Julia, Ben membawa keluar ponsel Julia dan melihat jika Irfan lah yang menelepon.


- "Halo, Rubah."


- "Hei Musang, kenapa ponsel Julia ada sama kamu?"


- "Ssstt, kecilkan suaramu! Julia sedang tidur."


- "Ben, kamu dimana? Apa yang kamu lakukan pada Julia?"


- "Irfan, sekarang Julia ada di rumah sakit ibu dan anak. Dia tadi terjatuh."


- "Aku langsung ke sana sekarang."


Belum selesai bicara sudah main tutup saja.


Gerutu Ben dalam hati.


Ben kembali masuk ke kamar rawat dan mengembalikan ponsel Julia.


Tak lama kemudian, Irfan terlihat masuk ke dalam kamar rawat. Ben memberi kode agar bicara di luar saja karena Julia sedang tidur.


"Ben, apa yang terjadi?" tanya Irfan penasaran.


"Tadi aku ke rumah Julia dan kebetulan Nadine pun datang. Kemudian terjadi kesalahpahaman dan saat Julia hendak menahan tangan Nadine malah disentakkan. Lalu Julia terjatuh. Untung saja Julia tidak apa-apa, tapi dia harus rawat inap dulu beberapa hari," jelas Ben.


"Kamu ini memang tidak bisa menjaga Julia. Ben, tolong menjauhlah dari Julia. Dia tidak akan pernah aman jika bersamamu," kata Irfan serius.


"Kamu yang benar kalau bicara!"


"Aku serius, Ben. Aku mencintai Julia dan ingin membuatnya bahagia. Karel pun mempercayakan Julia padaku. Tapi saat ini Julia sedang hamil dan sepertinya dia tidak aman hidup sendirian. Aku akan melamarnya sekarang," jelas Irfan.


"Irfan, aku juga akan melamarnya sekarang. Kita lihat saja nanti siapa yang akan Julia pilih," balas Ben tidak mau kalah.


"Oke, aku tidak akan kalah darimu." Irfan berkata penuh percaya diri.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2