
Julia tersenyum melihat Nadine yang terlihat sangat bahagia. Ia pun sangat ingin hamil.
"Jul, kamu belum hamil juga? Wah ... Kasian sekali, pasti Karel akan kecewa kalau kamu lama nggak hamil juga ya," kata Nadine dengan senyum manisnya.
Seketika Julia terkejut, ternyata Nadine memang selalu ingin mengejeknya.
"Tapi aku kan baru menikah 3 bulan Nad. Masih banyak waktu. Lagipula aku masih ingin selalu berbulan madu dengan suamiku," kata Julia yang kini tidak mau terus direndahkan Nadine.
"Haha ... Terserah deh. Aku hanya ingin mengingatkan kamu saja. Lelaki itu bisa berubah kapan saja, sekarang bilang cinta sayang ... Tapi lihat 5 tahun lagi. Apalagi jika kamu masih belum punya anak, bisa-bisa ... "
"Terserah kamu mau berpendapat seperti apa, tapi aku yakin Karel tidak akan berubah," ujar Julia tenang, tidak ingin kata-kata Nadine mempengaruhinya.
"Sekarang Karel di mana Jul?" tanya Nadine yang baru teringat jika tidak melihat Karel di kantor tadi.
"Karel ada tugas ke luar kota beberapa hari," jelas Julia.
"Oh hati-hati saja Jul, jangan terlalu percaya pada lelaki. Oh ya, sekarang Mama Ben jadi sangat memperhatikan sejak aku hamil." Nadine tersenyum bangga.
"Mama Tyas pasti sangat senang akan punya cucu lagi," saut Julia yang membayangkan mantan Mama mertuanya itu.
"Sekarang Ben pun jadi overprotektif sama aku. Nggak boleh terlalu capek, harus banyak istirahat, makan harus teratur. Ya begitulah."
"Tentu saja ibu hamil memang begitu kan?!" Julia menghabiskan minumannya. Ia ingin segera mengakhiri pertemuannya dengan Nadine.
"Jul, jangan buru-buru pulang. Tunggu sebentar temani aku ya," kata Nadine yang tahu jika Julia sudah akan pergi.
"Memangnya kenapa?"
"Ben mau datang menjemputku. Tunggulah sebentar lagi, katanya Ben sudah dalam perjalanan kemari," kata Nadine memohon.
"Tapi aku juga sudah ada janji Nad."
Julia terpaksa berbohong karena merasa malas bertemu Ben.
"Eh itu dia Ben sudah datang." Nadine tersenyum senang dan melambaikan tangannya memanggil Ben.
Saat Ben datang, Nadine langsung berdiri dan memeluk Ben. Tidak merasa malu dilihat oleh pengunjung kafe yang memperhatikan.
"Ben, lama sekali sih baru datang," kata Nadine manja.
"Tadi macet di jalan. Halo Jul, lama tidak berjumpa," kata Ben tersenyum.
"Hai Ben. Maaf ya Nad, Ben, aku pulang duluan. Terima kasih sudah mentraktirku Nad. Aku pamit dulu," kata Julia tergesa.
__ADS_1
Julia menganggukan kepalanya dan berlalu keluar dari kafe.
Masuk ke dalam mobil dan menyetir pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Julia baru teringat jika akan pergi ke rumah Mama, namun saat sudah di rumah, ia mengurungkan niatnya pergi ke rumah Mama.
Julia mandi dan berbaring di ranjang, tubuhnya terasa lelah. Ia pun mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, memeriksa pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.
Kenapa Karel belum mengirim pesan? Telpon juga tidak. Apa terjadi sesuatu?
Julia bertanya dalam hati, merasa kuatir.
Saat akan menelpon Karel, terdengar suara bel pintu berbunyi. Julia enggan membukakan pintu karena ia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun.
Namun akhirnya ia pun beranjak membukakan pintu karena bel terus dibunyikan.
Dengan menggerutu dan muka sebal, Julia membuka pintu rumahnya.
"Ben?!" teriak Julia terkejut.
"Iya ini aku Jul. Kenapa kamu kaget begitu? Aku bukan hantu," kata Ben santai.
"Ehm bukan begitu, tapi darimana kamu tau rumahku?" tanya Julia masih terbengong melihat Ben.
"Kamu nggak menyuruhku masuk?" tanya Ben yang masih berdiri di depan pintu.
"Tapi ... Karel sedang tidak ada di rumah, aku takut nanti jadi fitnah," jelas Julia.
Julia pun akhirnya membiarkan Ben masuk dan tetap membiarkan pintu terbuka.
"Ada apa kamu kesini Ben?" tanya Julia malas.
"Kamu terlihat tidak suka aku datang." Ben malah mengalihkan pembicaraan.
"Bukan tidak suka, tapi sekarang Karel tidak di rumah. Sudah kubilang aku kuatir nanti ada fitnah, apalagi tuh lihat ada cctv jadi Karel pun saat ini bisa memantau dari ponselnya," jelas Julia.
"Haha aku tau Karel tugas ke luar kota kan?" Ben balik bertanya.
"Ben, ayolah mau kamu apa?" Julia sudah tak sabar karena Ben terus mengelak.
"Julia, aku hanya mau bilang jika perasaan cintaku masih tetap sama padamu," kata Ben yang kini menatap mata Julia.
"Jangan bicara sembarangan Ben!"
"Jul, percayalah padaku. Walaupun kamu sudah menikah, tapi aku yakin suatu saat kamu pasti kembali menjadi milikku." Ben berusaha meyakinkan Julia.
__ADS_1
"Lalu mau ditaruh mana Nadine dan calon anak kalian?" tanya Julia yang tidak habis pikir dengan Ben.
Tadi saat di kafe, jelas-jelas Ben dan Nadine memperlihatkan kemesraan di depan matanya. Namun kini, kenapa Ben bertingkah seperti ini.
"Julia, aku tidak tau kenapa Nadine bisa hamil," kata Ben yang kini matanya nampak menerawang.
"Haha ... Tidak usah becanda Ben. Masak aku jelaskan padamu proses terjadinya kehamilan?!" Julia tertawa, menggelengkan kepalanya merasa lucu dan aneh melihat Ben saat ini.
"Tapi benar Jul. Aku dan Nadine sudah lama tidak berhubungan suami istri, tapi kenapa sekarang dia bisa hamil?"
"Kamu meragukan istrimu kamu sendiri?"
"Aku hanya merasa aneh Jul," kata Ben.
"Kalau kamu ragu, tunggu saja hingga anak kalian lahir lalu lakukan tes DNA. Dengan begitu kamu bisa yakin," saran Julia.
"Ehm benar katamu Jul. Tapi bukan itu maksud aku datang kesini."
"Lalu mau apa lagi Ben?" tanya Julia yang mulai kesal ingin Ben segera pergi dari rumahnya.
"Julia, jika besok setelah tes DNA lalu anak itu bukan anakku, lalu kamu belum juga hamil. Maukah kamu janji akan menerimaku kembali?" tanya Karel memelas.
"Jangan gila Ben!"
"Aku tidak gila Jul! Aku benar-benar cinta kamu!"
"Sudah terlalu terlambat untuk kamu Ben. Aku tidak mungkin berpisah dengan Karel. Aku dan Karel saling mencintai, aku tidak mungkin melepas Karel demi kamu Ben," kata Julia yang mulai habis kesabaran.
"Julia, bagaimana jika Karel yang melepaskan kamu? Apakah kamu mau kembali padaku?" tanya Ben yang terus mendesak Julia.
"Haha ... Karel tidak mungkin melepaskan aku," kata Julia yakin.
"Kamu yakin? Baiklah, jika Karel yang melepasmu, aku akan tagih janjimu untuk kembali padaku."
"Ben, aku tidak berjanji ya! Kamu salah sangka. Aku bilang Karel tidak mungkin melepasku!"
"Aku tetap akan memegang kata-katamu Jul. Jika Karel yang melepasmu pergi, maka kamu harus kembali padaku," kata Ben yang kini tersenyum di ujung bibirnya.
Ben merasa masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Julia kembali. Ia pun mulai menyusun rencana dalam kepalanya. Ia yakin suatu saat Julia akan kembali bebas dari Karel.
-
-
__ADS_1
-
-