
"Karena aku ... Aku melarangnya!" kata Ben tergagap.
Julia menatap Ben bingung.
"Ben?"
"Julia, tolong dengarkan alasanku kenapa aku melarang kamu menikah dengan Karel."
"Memang kenapa Ben?" Julia berusaha sabar menghadapi Ben saat ini.
Sebenarnya dalam hati Julia merasa kesal dengan sikap Ben. Namun bagaimana pun juga Julia masih menghargai Ben sebagai sahabatnya.
"Julia, aku melarangmu karena aku tidak yakin Karel mencintaimu," kata Ben mantap.
"Haha ... Ben Ben, kamu ini lucu sekali sih?! Memang selama ini kamu kenal dekat dengan Karel? Akulah yang tau dan bisa merasakan jika Karel benar-benar mencintaiku," jelas Julia bersabar.
"Tapi Jul ... Aku tidak rela jika nantinya Karel akan menyakitimu."
"Memangnya kamu tidak sadar jika telah menyakiti hatiku Ben?!" Julia tersenyum sinis.
Jika mengingat lagi perjalanan pernikahannya dulu dengan Ben, ingin rasanya Julia memaki-maki Ben saat ini. Namun, ia masih bersabar dan berusaha menjalin hubungan yang baik dengan mantan suami dan sahabatnya ini.
"Karena itu aku ingin memperbaikinya Jul," kata Ben lirih.
"Ya ampun Ben, aku sudah memaafkanmu! Kamu mau memperbaikinya bagaimana lagi?" Julia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraannya dengan Ben.
"Jul, tidak bisakah kau berikan padaku kesempatan kedua?" tanya Ben dengan wajah memelas.
"Haduhhh Ben ... Aku tidak mengerti apa maksudmu." Julia sangat bingung, hampir frustasi menghadapi Ben.
"Julia, aku ingin memulai kembali dari awal. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai sepasang kekasih," kata Ben menatap lurus mata Julia.
Julia terdiam, tidak bisa berkata apapun. Mencerna semua yang Ben katakan.
Terjadi jeda yang cukup lama sebelum akhirnya Julia mulai menjawab apa yang Ben katakan.
"Haha ... Becandamu sungguh keterlaluan Ben." Julia tertawa terbahak-bahak.
Ben hanya diam menunggu hingga Julia menghentikan tawanya.
"Aku serius Jul."
"Ben, sadarkah kamu jika ada Nadine, istrimu! Mau dikemanakan dia?" kata Julia heran dengan pemikiran Ben yang aneh.
"Nadine tidak bisa membuatku bahagia Jul." Ben lirih berkata.
"Lalu aku pasti akan membuatmu bahagia? Dulu saja aku kamu campakkan." Julia menahan tawanya, geli sendiri dengan sikap Ben.
"Maaf Jul, makanya aku ingin memperbaikinya. Jika dipikir-pikir, sekarang aku telah sadar jika hanya kamulah yang membuatku bahagia."
"Sekarang kamu sudah mencintaiku?"
"Aku mencintaimu Julia." Ben berkata mantap.
"Kamu yakin?"
Julia hanya senyum-senyum, merasa geli dan aneh. Namun sekarang dia menghadapinya dengan santai.
"Julia, aku serius!"
__ADS_1
"Iya iya, kamu serius. Terus kalau sekarang kamu mencintaiku, kamu mau menceraikan Nadine?" tanya Julia geli.
"Inginnya begitu Jul, tapi aku tidak bisa menceraikan Nadine saat ini."
"Tuh kan ... Memangnya kenapa?" Julia makin aneh mendengarkan Ben sekarang.
"Nadine kini sebatang kara, kedua orang tuanya sudah meninggal. Aku tidak tega melepaskannya hidup sendiri."
"Tuh kan ... lalu maumu bagaimana Ben?" Julia masih bisa bersabar.
"Aku ingin menunggu agar Nadine bisa hidup mandiri, mendapatkan pekerjaan yang layak," jelas Ben.
"Lalu sampai kapan? Terus kamu menyuruhku menunggumu?"
"Jul, selama menunggu Nadine bisa hidup mandiri, aku ingin menjalin hubungan kasih denganmu," ucap Ben yang sangat berharap.
"Haha ... Kamu mau menjadikan aku kekasih gelapmu? Tidak, terima kasih Ben." Julia hanya tertawa menanggapi Ben.
"Julia, tapi aku mencintaimu!"
"Terima kasih Ben, tapi aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Sudah ada Karel yang mencintaiku," kata Julia serius.
"Tapi tidak sebesar cintaku padamu Jul ... "
"Sudahlah Ben, cukup! Kita akhiri omong kosong ini. Aku anggap kamu tidak pernah datang ke rumahku, tidak ada percakapan diantara kita."
"Tapi Jul ... "
"Lebih baik sekarang kamu pulang Ben. Dan tolong terimalah jika aku akan menikah dengan Karel," lanjut Julia yang sudah ingin menyudahi percakapannya dengan Ben.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya Jul, karena aku cinta kamu," kata Ben dengan perlahan seolah ingin meyakinkan Julia.
"Aku yakin lambat laun kamu akan jadi milikku lagi Jul," ucap Ben mantap.
Julia yang sudah habis kesabaran lalu berdiri dan mempersilahkan Ben keluar dari rumahnya.
Ben mengerti dan berjalan keluar, namun saat sampai di teras, dilihatnya Karel turun dari mobil.
Karel menatap Ben bingung dan curiga, tapi hanya sesaat karena setelah itu amarahlah yang Karel rasakan. Dia merasa tidak terima Ben datang ke rumah Julia.
Julia pun terkejut dengan kedatangan Karel yang tiba-tiba. Karena setelah mengalami kecelakaan, Karel tidak pernah datang ke rumahnya.
"Halo Karel, ternyata keadaanmu sudah membaik," sapa Ben saat bertemu Karel.
"Halo Ben, aku memang sudah baik dan sehat. Lalu untuk apa kamu datang kesini?" tanya Karel menahan amarahnya.
"Tanyakan saja pada Julia," saut Ben dengan senyum di sudut bibirnya.
Ben pun masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya menjauhi rumah Julia.
"Karel!" Julia berjalan menghampiri Karel dan membantunya.
Julia merasa takut melihat wajah Karel saat ini yang terlihat sangat marah.
"Kelihatannya kamu tidak senang aku datang," kata Karel sinis.
"Ya ampun Karel, tentu saja aku sangat senang kamu datang kesini karena sudah lama kan kamu tidak kesini?!" Julia menyadari kemarahan Karel.
Namun ia harus menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
__ADS_1
"Aku kesini mau memberimu kejutan untuk kita bisa makan malam bersama, tapi ternyata malah aku yang terkejut."
Karel menyerahkan bungkusan makanan pada Julia.
"Itu Mama yang memasak khusus untukmu. Aku pulang dulu," kata Karel lalu berbalik hendak pergi.
"Karel, masuklah dulu. Katanya mau makan bersama. Aku akan menjelaskan semuanya tentang kedatangan Ben tadi," bujuk Julia.
"Aku sudah tidak selera makan. Kamu saja yang makan."
"Karel, tolong dengarkan aku dulu ya," kata Julia yang berusaha terus membujuk.
Akhirnya Karel pun luluh dan mau masuk ke rumah Julia.
"Tadi Ben kesini ada perlu apalagi?" tanya Karel langsung saat telah masuk ke dalam rumah.
"Oh itu tadi dia ingin menyelesaikan urusan rumah ini. Kan rumah ini masih atas nama Ben, dia memang sudah memberikannya padaku jadi dia ingin agar rumah ini balik nama atas namaku saja," kata Julia yang terpaksa berbohong.
Tidak ingin memperpanjang masalah antara Karel dan Ben.
"Aku kira kalian ada apa-apa lagi. Aku cemburu Jul. Lain kali jangan biarkan hal ini terjadi lagi!" Karel masih merasa marah.
"Iya Karel, kalau kamu cemburu berarti kamu cinta aku dong."
"Aku memang sangat mencintaimu Jul."
Karel memeluk Julia erat, tidak ingin melepaskan wanita yang telah mengisi hatinya.
***
Seminggu telah berlalu, Julia sudah tidak mendapat kabar lagi dari Ben. Hatinya malah merasa senang karena Ben sudah tidak mengusiknya lagi.
Namun, sore sebelum pulang kantor, Julia mendapat pesan jika dirinya ditunggu Nadine di sebuah Caffe dekat rumah Julia.
Julia menghela nafasnya berusaha bersabar.
Ada urusan apalagi Nadine mau bertemu? Sampai kapan urusanku dengan Ben dan Nadine berakhir?
Walaupun merasa tidak senang, namun Julia akhirnya mau untuk menemui Nadine setelah dirinya mengantarkan Karel pulang.
Saat sampai di Caffe, Julia melihat Nadine telah duduk menunggunya.
"Halo Nadine," sapa Julia lalu mengambil duduk di depan Nadine.
"Halo Julia, lama tidak berjumpa," balas Nadine dengan wajah datar.
Nadine mempersilahkan Julia untuk memesan minuman dulu.
"Nadine, ada perlu apa mau bertemu denganku?" Julia langsung bertanya karena sudah tidak sabar.
"Ehm ... Julia, aku ingin minta tolong padamu." Nadine berkata masih dengan raut wajah datar yang sulit ditebak.
-
-
-
-
__ADS_1