
Siang itu Julia, Arka dan Ben duduk bersantai di rumah Theo yang asri. Memang tidak besar, namun sangat nyaman. Sayang sekali karena rumah ini kini tidak ditinggali lagi karena Theo lebih banyak tinggal di luar negeri.
Hidangan makan siang telah disiapkan. Theo mengajak Ben dan Julia untuk menikmati makan siang bersama.
"Ben, Jul, ayo kita makan siang dulu. Sudah lapar kan?!"
"Oke, ayo Jul." Ben mengajak Julia yang tengah asyik bermain dengan Arka. Peluhnya mengalir di dahi karena Arka berlarian di taman belakang rumah Theo.
"Iya, tunggu sebentar," saut Julia yang kemudian menggendong Arka.
Arka ikut makan siang bersama walaupun ia hanya makan sup ayam saja. Julia sangat menikmati acara makan siang bersama ini.
"Ah aku jadi rindu anakku setiap kali melihat Arka," kata Theo tersenyum melihat Arka.
"Berapa usia anakmu, Theo?" tanya Ben.
"Usianya hampir satu tahun. Namanya Celine."
"Wah kapan-kapan ajak ke sini dong supaya Arka bisa bermain bersama Celine," kata Julia.
"Mungkin kalau ada waktu yang tepat karena saat ini kondisi kesehatan mertuaku belum terlalu baik, jadi aku masih lebih banyak stay di luar negeri dulu karena ada usaha keluarga yang harus terus aku pantau di sana," jelas Theo.
Percakapan terasa akrab hingga selesai makan siang. Setelah itu karena Arka mengantuk, Ben meminta agar ia saja yang menidurkan Arka di kamar tamu rumah Theo. Sementara Theo mengajak Julia untuk duduk di taman belakang rumahnya.
"Julia, sebelumnya aku ingin minta maaf untuk semua hal yang pernah aku lakukan padamu," ucap Theo tulus.
"Theo, aku malah akan mengatakan kalau aku sangat berterima kasih untuk semua bantuanmu untukku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Arka jika kamu tidak membantuku," kata Julia yang sangat berterima kasih.
"Julia, sudah aku bilang kalau itu semua sudah kewajiban ku untuk membantumu sebisaku. Tapi yang terpenting, aku ingin minta maaf padamu."
"Baiklah Theo, aku memaafkanmu walaupun aku tidak tahu salah apa kamu sama aku," kata Julia akhirnya.
"Terima kasih, Jul. Kamu memang orang yang sangat baik. Aku berharap kamu akan menemukan kebahagiaan bersama orang yang kamu cintai dan yang mencintaimu," ucap Theo.
"Amin. Semoga menjadi kenyataan."
"Apakah kamu dan Ben balikan?" tanya Theo kemudian yang merasa penasaran.
"Haha ... apa kelihatannya seperti itu? Saat ini aku menjalin hubungan dengan Irfan. Kau ingat pria yang bersamaku saat kejadian penculikan itu?"
__ADS_1
"Oh iya aku ingat. Tapi yang aku lihat Ben itu sangat sayang sekali pada Arka dan juga kamu. Aku kira kamu dan Ben bersama lagi," kata Theo yang ternyata salah mengira.
"Ben memang sayang sekali pada Arka. Tapi aku tidak bisa menerima Ben lagi. Tidak tahu kenapa, tapi sepertinya perasaan cintaku yang dulu untuknya telah berubah menjadi sayang pada seorang sahabat atau kakak," ungkap Julia.
"Kalau yang aku lihat sih kamu itu memang ditakdirkan bersama Ben. Jul, pesanku sih kamu jangan terburu-buru memutuskan. Dengan berjalannya waktu, kamu akan bisa melihat ketulusan hati seseorang. Semoga pilihanmu nanti tepat, menjadi teman seumur hidupmu," ucap Theo tulus mendoakan kebahagiaan Julia.
"Terimakasih untuk semua perhatianmu, Theo. Aku akan ingat dan aku memang tidak terburu-buru untuk segera menikah, mengingat semua hal yang pernah terjadi padaku. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang sayang padaku," kata Julia menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Aku akan selalu berdoa untukmu, Jul. Kalau ada apa-apa atau kamu membutuhkan bantuan apapun itu, ingat saja aku. Aku akan membantumu sebisaku," pesan Theo tulus.
"Terima kasih banyak, Theo. Semoga kamu juga selalu bahagia bersama keluargamu tersayang."
Sepulang dari rumah Theo, hari telah menjelang sore. Julia terlihat lelah, sehingga Ben pun mengambil alih untuk menjaga Arka. Memandikan dan juga membuatkan susu. Beberapa hari ini sangat menguras fisik dan mental Julia. Ia hanya berharap pengasuh Arka segera datang agar ia bisa beristirahat.
Setelah Julia beristirahat dan memulihkan tenaganya, Ben pun pamit pulang.
"Jul, aku ingin bicara sebentar boleh?!" tanya Ben.
"Ada apa, Ben?" Julia balik bertanya sambil memangku Arka yang tengah minum susu.
"Julia, aku mau minta maaf padamu. Selama ini aku tidak buta, aku tahu hubungan spesialmu dengan Irfan. Jadi aku tidak mau mengganggumu lagi dengan kedatanganku ke sini."
"Jul, aku ini sudah berubah dan belajar untuk mengerti perasaan orang lain. Aku tidak ingin menjadi pengganggu hubunganmu dengan Irfan. Aku akan tetap datang ke sini untuk menemui Arka, tapi mungkin tidak sesering kemarin-kemarin. Aku ingin memberi waktu untuk Irfan lebih dekat dengan Arka. Maaf, mungkin aku akan datang seminggu sekali saja. Lagipula aku akan lebih fokus untuk mulai membangun usahaku sendiri," ucap Ben dengan hati sedih.
Sebelum mengatakan ini, Ben sudah memikirkannya baik-baik. Ia sadar telah menjadi batu sandungan bagi hubungan Julia dan Irfan. Ia telah banyak belajar untuk mengerti perasaan orang lain dan lebih dari itu, ia sangat mencintai Julia. Ia hanya ingin melihat Julia bahagia walaupun tidak bersamanya.
"Ben .... " Julia mulai mengerti apa maksud Ben, dan i a bisa menerimanta. Mungkin ini yang terbaik untuk menjaga perasaan semua orang.
"Maaf ya, Jul. Tapi ingat kalau aku sangat sayang Arka. Aku minta kamu sering-sering mengirim foto atau video saat Arka bermain. Oke?!" pinta Ben.
"Baiklah, Ben. Terimakasih untuk semuanya," ucap Julia tulus.
Setelah kepulangan Ben, Julia kembali menjaga dan bermain dengan Arka hingga waktunya Arka tidur. Setelah Arka tidur, Julia keluar kamar dan duduk di ruang tengah. Ia memandangi nama Irfan di ponselnya.
Julia merasa jika Irfan marah padanya. Tapi ia tidak mengerti kenapa Irfan marah. Bahkan kini untuk menelponnya pun ia ragu. Julia memijit keningnya, ternyata hubungannya dengan Irfan tak semudah perkiraannya. Namun di sisi lain, ia senang dengan keputusan Ben yang ingin menjauh darinya dan Arka untuk memberi kesempatan pada Irfan. Mungkin ini yang terbaik.
Esok harinya, Julia senang karena pengasuh Arka sudah kembali bekerja. Siang hari saat Arka tidur, Julia pergi untuk menemui Irfan. Ia tidak ingin memperpanjang masalah yang seharusnya bisa diselesaikan.
"Jul, kamu kenapa ke sini? Kalau ada perlu kan bisa menelpon saja," ucap Irfan menyambut kedatangan Julia. Sepertinya hatinya tidak terlalu senang.
__ADS_1
"Irfan, aku rindu ingin bertemu denganmu dan juga aku merasa kamu marah padaku. Kamu marah kenapa?" tanya Julia mengabaikan suasana hati Irfan yang kurang baik.
"Aku tidak marah, Jul. Sudahlah, ada apa kamu datang?"
"Sudah aku bilang kalau aku rindu kamu, Fan. Jika aku salah, maafkan aku ya," ucap Julia menampakkan senyum manisnya.
Hati Irfan pun luluh, rasa kesal pun lenyap dari hatinya. Ia pun memeluk Julia dengan sayang walaupun sekarang mereka masih ada di ruang kantornya.
"Aku juga rindu kamu, Jul."
Hari mulai gelap, Irfan pun mengajak Julia untuk makan malam di resto dekat kantornya. Selesai makan, Irfan pun menanyakan hal yang sejak tadi ada di hatinya.
"Jul, kamu ke sini lalu siapa yang menjaga Arka?"
"Mbak Asih, pengasuhnya Arka sudah kembali kerja."
"Kalau begitu kamu tidak usah buru-buru pulang ya, aku masih ingin bersamamu," ucap Irfan tersenyum. Julia hanya mengangguk.
"Irfan, tadi Ben bilang padaku kalau ia akan jarang datang ke rumah."
"Kenapa?" tanya Irfan penasaran.
"Katanya ia sibuk akan membangun usaha sendiri. Juga ia tidak mau menjadi penghalang hubungan kita," ungkap Julia.
"Oh begitu, ya baguslah kalau dia sadar. Aku juga merasa terganggu jika ada Ben yang terus-terusan ada di rumahmu," kata Irfan yang lega karena akhirnya Ben sadar akan posisinya.
"Iya, Fan. Aku harap ke depannya hubungan kita akan lebih baik lagi."
"Jul, sebenarnya aku ingin segera menikah denganmu. Bagaimana?" tanya Irfan.
"Irfan, aku mohon beri aku waktu. Aku tidak ingin terburu-buru. Kita jalani saja dulu dan biar kita lebih saling memahami satu sama lain. Kamu mau kan menunggu?" tanya Julia memohon.
"Baiklah, Jul. Jika memang itu maumu."
-
-
-
__ADS_1