
Julia memutar kepalanya melihat Theo. Tidak percaya dengan apa yang sudah Theo katakan. Tiba-tiba saat itu Julia merasa sangat sedih. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
"Julia ... Aku melepasmu," Theo berkata menatap mata Julia sendu.
"Theo ... Bukan begitu. Please dengarkan aku dulu!"
"Sudahlah Jul. Aku tidak mau memperpanjang ini lagi. Aku pergi dulu," Theo bangkit dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam mobilnya.
Julia hanya memandangi kepergian Theo dengan sedih dan bingung. Tidak menyangka Theo akan memutuskan hubungan seperti ini. Walau bagaimanapun, Julia merasa sayang pada Theo.
Setelah beberapa lama, akhirnya Julia pun masuk ke mobilnya dan pergi dari rumah Theo.
Julia mengendarai mobilnya tak tentu arah. Tidak ada tujuan yang pasti.
Saat berhenti di lampu merah, ponsel Julia bergetar tanda ada telpon masuk. Julia melihat layar ponselnya dan melihat ternyata Ben lah yang meneleponnya.
- "Halo Ben."
- "Halo Jul. Kamu dimana sekarang?"
- "Aku masih di jalan. Kenapa?"
- "Kita bertemu di coffeshop sekarang bisa?"
- "Ada apa lagi Ben? Sekarang mungkin tidak bisa, aku lelah."
- "Please Jul. Kutunggu ya."
- "Oke lah."
Julia menutup telponnya dan menghela nafas panjang. Rasanya Julia tidak ingin bertemu siapapun saat ini. Hatinya masih kacau dan Julia merasa tidak bisa untuk mendengar keluhan isi hati Ben.
Hampir 30 menit barulah Julia sampai di coffeshop yang dimaksud. Saat Julia masuk ke dalam, ternyata Ben sudah menunggunya.
"Halo Ben, maaf lama menunggu ya? Jalanan macet tadi," sapa Julia yang lalu duduk di kursi depan Ben.
"Aku belum lama menunggu. Ayo pesan dulu minuman. Aku sudah kok," kata Ben menunjukkan kopi mocaccino miliknya.
Julia memesan kopi latte favoritnya.
"Ben, apa ada yang ingin kamu bicarakan? Sepertinya mendesak?" tanya Julia.
"Ehm tidak, aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Memangnya tidak boleh?" Ben balik bertanya.
"Bukan begitu, tapi aku sangat lelah hari ini. Mungkin saat ini aku tidak bisa menjadi pendengar yang baik bagimu."
"Jul, kamu sudah bertemu Theo?" tanya Ben yang merasa tidak enak hati karena kesalahpahaman yang terjadi antara Julia dan Theo.
Julia terdiam dan tampak berpikir. Seberapa banyak kah dia akan memberitahu apa yang terjadi.
"Julia ... Jul! Malah melamun ... Ada apa sih?" Ben malah dibuat penasaran karena melihat Julia yang tampak sedih.
"Kamu sudah bertemu Theo?" tanya Ben sekali lagi.
"Iya sudah, sore tadi sebelum aku ke sini," kata Julia akhirnya.
__ADS_1
"Terus?"
"Yah ... Begitulah," saut Julia malas.
"Begitulah bagaimana? Aku nggak tahu apa maksudmu Jul," desak Ben.
"Theo memutuskan hubungan kami," akhirnya Julia memberitahu Ben kebenarannya.
"Lho ... Kenapa?"
"Ya begitulah. Sudah ... Jangan bahas ini dulu," kata Julia dengan wajah sedih.
"Apa karena kejadian kemarin itu saat dia melihat kita berpelukan?" tanya Ben yang terus mendesak Julia.
"Bukan karena itu Ben. Ini masalah diantara kami berdua."
"Aku akan menemui Theo sekarang. Kamu jangan kuatir, aku akan menjelaskan lagi padanya."
"Please jangan Ben. Memang hubungan kami seharusnya sudah putus dari dulu. Aku sudah menerimanya. Kamu jangan bertemu Theo, itu akan membuatku tampak lebih buruk di depannya," pinta Julia.
Ben yang tidak tega hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk membuat Julia lega.
Keduanya sama-sama terdiam, sibuk dengan pikirannya.
**
Esok sore sepulang kerja, Ben pergi ke rumah Theo. Ben merasa tidak terima karena dia berpikir dialah yang sudah merusak hubungan Julia.
Saat mengetuk pintu rumah Theo, tak berapa lama pintu pun terbuka. Theo terkejut melihat kedatangan Ben di rumahnya.
"Eh halo Ben, silahkan masuk."
"Bisa kita berbicara sebentar? Di teras saja," tanpa persetujuan Ben sudah mendaratkan dirinya duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Bicara apa Ben?" tanya Theo yang sebenarnya mulai bisa menebak maksud Ben datang menemuinya. Pasti soal Julia.
"Theo, maaf aku ikut campur. Apakah kamu benar sudah memutuskan hubunganmu dengan Julia?"
"Ya. Apa Julia langsung datang memberitahumu semalam?" tanya Theo skeptis.
"Semalam aku yang memaksanya untuk memberitahu karena Julia terlihat sangat sedih."
"Benarkah?! Seharusnya kan dia bahagia?" Theo semakin sinis.
"Theo, percayalah! Aku dan Julia tidak ada apa-apa. Kami hanyalah sahabat dan kamu sudah salah sangka saat melihatku dan Julia berpelukan," jelas Ben agar Theo mengerti keadaannya saat itu.
"Aku tahu diantara kalian memang hanyalah sahabat. Tapi apakah kamu benar-benar tidak tahu perasaan Julia sesungguhnya?"
"Maksudmu?" Ben balik bertanya.
"Ah Ben ... Ben ... Kamu ini sangat bodoh atau bagaimana?"
"Maksudmu apa Theo?!" tanya Ben yang merasa dipermainkan Theo.
"Ben, kamu tidak sadar jika Julia itu sudah mencintaimu sejak lama?"
__ADS_1
Theo hanya terdiam terpaku. Otaknya mencerna semua perkataan Theo yang menghujam dan membuatnya terkejut.
"Kan benar?! Kamu tidak menyadarinya? Saat awal Julia menerima aku sebagai kekasihnya, aku sudah tahu jika Julia hanya mencintaimu. Tapi aku berbesar hati dan sabar menunggu hingga Julia bisa mencintaiku. Tapi percuma. Hingga saat ini, setelah hubungan kami berjalan lebih dari 3 tahun, Julia tidak bisa mencintaiku. Dan akhirnya aku sadar jika cinta memang tidak bisa dipaksakan. Julia sangat mencintaimu Ben," jelas Theo panjang lebar.
"Aku memang bodoh."
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Ben.
"Ben, kuharap kamu bisa mengerti keadaanku. Aku tidak bisa terus menunggu cinta Julia yang entah kapan akan ada untukku. Jadi dengan terpaksa, aku melepasnya," kata Theo sedih yang kembali mengingat Julia yang masih dicintainya.
**
Sepulang dari rumah Theo, Ben menyetir mobilnya pelan-pelan. Pikirannya kacau. Bagaimana dirinya bisa sebodoh ini?
Bagaimana dirinya bisa tidak peka terhadap Julia yang ternyata mencintainya?
Tak terasa Ben menjalankan mobilnya menuju rumah Julia. Hari sudah beranjak malam dan Ben yakin saat ini Julia pasti ada di rumahnya.
Saat mengetuk pintu rumah, Julia sendirilah yang membukakan pintu.
Julia melihat wajah kacau Ben. Disuruhnya Ben untuk duduk di sofa ruang tamu. Julia membuatkan secangkir teh hangat agar Ben merasa lebih tenang.
"Ben, kamu kenapa? Kamu terlihat kacau begini? Nadine lagi?" tanya Julia beruntun.
"Julia, apakah kamu benar sangat mencintaiku?"
"Ben ... Kamu kenapa?"
"Julia, katakan sejujurnya! Apa benar kamu cinta aku?" tanya menuntut jawaban.
Julia terdiam, matanya terus memandangi Ben. Membaca situasi, apa yang terjadi pada Ben.
"Kamu ini bicara apa sih Ben. Kamu kenapa?"
"Julia, maafkan aku yang sangat bodoh ini. Tidak tahu perasaanmu yang sedari lama. Maaf," ucap Ben.
"Apa Theo yang memberitahumu?"
"Ya benar. Theo memberitahuku semuanya. Maafkan aku Julia," kata Ben sedih.
"Ben, seharusnya kamu tidak minta maaf. Memang seharusnya dari dulu aku tidak menerima cinta Theo."
"Julia, sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" tanya Ben.
"Sejak kita pertama bertemu saat SMP."
Ben terkejut mendengar pengakuan dari mulut Julia. Tidak menyangka Julia sangat tulus padanya.
"Julia, kita menikah saja."
-
-
-
__ADS_1