
Julia merasa tubuhnya pegal, seperti habis bekerja keras seharian. Perlahan ia membuka matanya dan yang ia lihat membuatnya ingin memejamkan matanya kembali.
"Jul, kamu sudah bangun?" tanya Ben sambil mendekati ranjang.
"Julia, kamu sudah bangun?" tanya Irfan hampir berbarengan dengan Ben.
Julia merasakan kepalanya malah semakin pening. Ia tidak sanggup menghadapi Ben dan Irfan sekarang. Apalagi jika mereka beradu mulut.
Merasakan tubuhnya sendiri saja sudah lelah, apalagi jika ditambah dua lelaki yang hobi beradu mulut.
"Jul, bagaimana keadaanmu? Mau aku panggilkan dokter?" tanya Irfan terdengar kuatir.
"Tidak usah, Fan. Aku sudah merasa lebih baik, tapi tolong kalian jangan mengajakku bicara ya. Kepalaku terasa pusing," pinta Julia.
"Iya, Jul," kata Irfan memelototkan matanya pada Ben.
Ben pun membalas Irfan. Mereka seperti saling menyalahkan satu sama lain.
"Ben, apa kamu memberitahu Mamaku?" tanya Julia.
Ia takut malah akan membuat mamanya kuatir jika tahu keadaannya sekarang.
Apalagi saat ini Papa Mamanya sedang berlibur ke luar negeri selama 2 Minggu dalam rangka wedding anniversary mereka. Julia tidak mau mengganggu kebahagiaan orang tuanya.
"Aku tidak berani menelpon Mamamu sebelum kamu memberi ijin, Jul. Atau mau aku telponkan?" tanya Ben menawarkan.
"Jangan! Biarkan Papa Mamaku liburan. Lagipula aku nggak apa-apa kok. Kan hanya disuruh bed rest 3 hari," kata Julia.
"Terserah kamu, Jul. Lagipula kan ada aku yang akan menjagamu," kata Ben tersenyum.
"Aku yang akan menjagamu, Jul," kata Irfan tidak mau kalah.
"Sudahlah, kalau kalian berdua seperti ini, lebih baik kalian pulang saja. Yang ada nanti aku tambah pusing," keluh Julia sambil memijit keningnya.
"Maaf, Jul. Nanti aku akan berbagi waktu saja dengan Ben untuk menjagamu," kata Irfan.
"Terserah kalian sajalah. Oiya Ben, dimana Nadine? Kok tidak kelihatan?" tanya Julia sambil mencari keberadaan Nadine.
"Nadine sudah aku suruh pulang. Nggak ada gunanya dia disini, bisanya bikin masalah terus dia," kata Ben dengan kejengkelan yang tidak bisa ditutup-tutupi.
"Sudahlah, Ben. Lagipula dia nggak sengaja kan?!"
"Jul, kamu ingin makan? Ini tadi perawat sudah mengantarkan makan malam," kata Irfan menawarkan.
"Ehm okelah, aku makan dulu. Kasihan anakku yang didalam sini," kata Julia sambil mengelus perutnya, merasakan anaknya yang yang mulai terasa bergerak namun belum terlalu kuat.
__ADS_1
"Aku suapi ya, Jul," kata Ben.
"Aku yang suapi Julia. Kamu pulang saja, Ben," kata Irfan tanpa memandang Ben.
Julia bergantian menatap Irfan dan Ben yang seperti anak kecil, berebut perhatiannya. Kepala Julia menggeleng tak habis pikir.
"Aku makan sendiri saja. Kalian berdua pulang saja ya, tidak usah menemani aku."
Julia mengambil nampan makan malamnya dan mulai melahapnya.
"Oiya Ben, Irfan, kalian sudah makan?" tanya Julia.
"Sudah tadi, Jul," saut Irfan.
Irfan mengajak Ben untuk bicara berdua di luar kamar.
"Ada apa lagi, Fan?" tanya Ben setelah keduanya ada di luar kamar perawatan.
"Ben, kita harus bagi tugas untuk menjaga Julia. Aku tidak ingin Nadine datang dan mengganggu Julia," kata Irfan.
"Aku bisa menjaga Julia 24 jam. Besok aku akan cuti kerja." Ben berkata santai.
"Hei ... Jangan begitu Ben. Bagaimana kalau kamu berjaga pagi hingga sore dan aku akan menjaga Julia sore hingga pagi?" tanya Irfan.
"Terserah kamu saja. Tapi jika begitu, aku akan mengambil cuti kerja," kata Ben.
"Oke, sepakat."
"Sepakat," kata Irfan sambil meminta Ben berjabat tangan.
Saat Ben dan Irfan masuk ke kamar rawat, Julia sudah selesai makan dan sedang minum obat yang disediakan perawat.
"Julia, malam ini Irfan yang akan menjagamu. Aku akan gantian menjaga besok pagi. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ben.
"Ehem." Irfan berdeham merasa aneh melihat Ben yang terlalu percaya diri.
"Haha ... Kamu ini lucu sekali, Ben. Kalian berdua tidak usah menemaniku juga nggak apa-apa kok." Julia tertawa geli.
"Tapi aku kuatir, Jul. Aku pulang dulu, jangan kangen ya karena besok pagi-pagi sekali aku pasti sudah datang," kata Ben menatap mata Julia.
Julia menahan tawanya. Geli sendiri karena tingkah aneh Ben.
"Terima kasih, Ben," kata Julia tersenyum.
"Rubah, aku pulang dulu. Jaga Julia dengan baik!" perintah Ben pada Irfan.
__ADS_1
"Baik, Musang," saut Irfan mendelik.
"Sampai ketemu besok pagi, Jul. Bye," pamit Ben melemparkan senyumnya.
Setelah kepergian Ben, Irfan membantu Julia kembali tiduran.
"Jul, tidur saja jika kamu lelah. Aku akan menjagamu," kata Irfan sambil menyelimuti tubuh Julia.
"Kamu juga tidur saja, Fan."
Di ruang rawat ini memang tersedia extra bed untuk penjaga pasien.
"Iya, nanti aku akan tidur jika kamu sudah tidur. Tadi aku benar-benar kaget saat tahu kamu jatuh dan dirawat disini. Maaf aku tidak bisa menjagamu seperti yang diamanatkan almarhum Karel," kata Irfan yang terlihat menyesal.
"Tadi itu kecelakaan yang tidak disengaja. Yang penting aku tidak apa-apa."
"Syukurlah, tapi kamu harus hati-hati kedepannya, Jul," pinta Irfan.
"Irfan, memangnya apa pesan Karel padamu?" tanya Julia penasaran.
"Hem ... Karel pernah bilang jika ia ingin agar aku menjagamu seumur hidup karena dia tahu aku mencintaimu, Jul," kata Irfan yang tidak bisa berbohong.
"Benarkah Karel bilang seperti itu?" tanya Julia memastikan.
"Iya, benar." Irfan menatap mata Julia sendu.
Rasa cinta di hatinya seperti tak tertahankan.
Irfan menghela nafas panjang, ia tidak boleh terburu-buru mengambil langkah.
Ia sangat memahami kondisi Julia saat ini yang hatinya pasti masih tertutup untuk siapapun. Irfan akan sabar menunggu walaupun hingga seumur hidupnya.
Julia memejamkan matanya, pikirannya kembali melayang pada almarhum Karel, suaminya.
Hatinya kembali terasa perih dan air mata seperti memenuhi kelopak matanya. Ia merindukan Karel berada di sisinya saat ini.
Julia ingin Karel mendampinginya saat hamil buah cinta mereka. Tapi takdir berkata lain.
Julia membuang nafasnya kasar, seperti berusaha membuang kesedihan yang kembali hinggap di hatinya.
Ia harus kuat, seperti pesan Karel padanya.
-
-
__ADS_1
-