Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Sehari Bersamaku


__ADS_3

Hari telah menjelang sore saat Julia sampai di rumah. Matahari perlahan mulai masuk ke peraduannya dan lambat laun hari pun mulai gelap.


Karena Karel tidak ada di rumah, Julia tidak perlu memasak untuk makan malam.


Sebelum pulang tadi, ia sudah mampir ke rumah makan untuk membeli sebungkus nasi goreng seafood favoritnya untuk makan malam.


Sepi yang dirasakan Julia saat menikmati makan malam sendirian. Walaupun baru sekitar tiga bulan menikah dengan Karel, namun ia telah terbiasa makan bersama suaminya itu. Sarapan, makan siang di kantor ataupun makan malam, selalu dilakukannya bersama Karel.


Julia cepat-cepat menyelesaikan makan malamnya. Rasanya sangat berbeda saat makan sendirian seperti ini, tidak senikmat saat berdua dengan Karel.


Selesai makan, Julia tiduran di ranjangnya. Ia membuka pesan-pesan dari Karel di ponselnya. Ia tidak perlu kuatir karena Karel baik-baik saja. Karel juga mengirimkan foto-foto selama bertugas di luar kota.


Julia tersenyum geli saat melihat foto Karel yang konyol. Ia pun merasakan rindu yang tak tertahankan ingin segera bertemu dan bisa memeluk suaminya.


Sendirian seperti ini membuat ingatan Julia kembali ke siang tadi saat pertemuannya dengan Theo. Masih sangat jelas dalam ingatannya semua percakapannya dengan Theo.


"Tapi ada syaratnya Jul," kata Theo dengan senyum di sudut bibirnya.


"Apa maksudnya, Theo? Syarat?" tanya Julia bingung.


"Haha ... Benarkan apa yang aku bilang kalau kamu itu naif? Julia, semua di dunia ini tidak ada yang gratis," kata Theo tersenyum simpul.


"Tapi ini masalah pekerjaan, aku mewakili kantor. Jika kamu tidak mau menjadi donatur tidak masalah kok, masih banyak perusahaan lain yang mau membantu," kata Julia sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan kantor Theo.


"Eits tunggu, Jul! Kamu belum mendengar syarat yang kuajukan," kata Theo meraih tangan Julia bermaksud menahan agar Julia tidak keluar dari ruangannya.


"Lepaskan tanganku Theo!" kata Julia masih bersabar.


"Duduklah dulu, Jul! Dengarkan dulu," bujuk Theo.


Julia pun luluh dan akhirnya kembali duduk di depan Theo.


"Apa syaratnya? Aku tidak mau jika aneh-aneh," kata Julia dengan wajah kesal.


"Sudah aku bilang jika aku mau menjadi donatur tunggal. Tapi dengan syarat, kamu harus menghabiskan waktu sehari bersamaku," jelas Theo santai.


Seketika mata Julia membeliak. "Apa?!"


"Haha ... Kamu jangan berpikir aneh-aneh dulu. Aku hanya ingin jalan-jalan denganmu dari pagi dan ditutup dengan makan malam. Mudah kan?" Theo tersenyum senang.


"Theo, aku ini sudah menikah."


"Aku juga sudah menikah," saut Theo.


"Ini masalah pekerjaan dan aku tidak mau membawa masalah pribadi," kata Julia mengelak.


"Justru itu, memang ini pekerjaan kan. Kamu menemani aku seharian dan kamu mendapatkan kemudahan mendapat donatur. Kita sama-sama untung dan senang," kata Theo santai dengan senyum dibibirnya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selama sehari?" tanya Julia.


"Sebentar ... Aku pikir dulu."


Julia diam menunggu. Ia sebenarnya sudah menolak syarat yang Theo katakan, namun akhirnya ia jadi penasaran. Hanya penasaran, kata Julia meyakinkan dirinya.


"Ehm begini, pagi hari kita jalan-jalan ke taman hiburan, lalu makan siang dan setelah itu kita lanjut bersantai atau berenang di villa milikku. Malamnya ditutup dengan makan malam. Setelah makan malam, aku langsung mengantarkanmu pulang. Jangan berpikir yang tidak-tidak ya. Bagaimana?" tanya Theo.


"Wow seperti kencan saja, Theo," kata Julia tersenyum di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Terserah jika kamu mau bilang seperti itu. Tapi aku hanya ingin menghabiskan waktu hanya denganmu. Anggap saja kita sedang reuni."


"Haha ... Terima kasih untuk tawaranmu Theo, tapi lebih baik aku menolaknya. Aku masih bisa mencari dana dari donatur lain."


Julia menolak dengan halus lalu berdiri dan bersiap keluar dari kantor Theo.


"Yakin kamu menolaknya, Jul?"


"Jelas aku menolaknya! Bagaimana jika suamiku atau istrimu nanti tahu?" tanya Julia tidak habis pikir.


"Ya jangan sampai mereka tahu," saut Theo santai.


"Theo, maaf dan terima kasih sudah menawariku syarat yang mustahil. Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku. Aku mau pulang sekarang," kata Julia pamit dan segera ingin pergi jauh dari Theo.


"Baiklah, tapi aku yakin beberapa hari lagi kamu pasti akan datang menemuiku. Aku memberimu waktu seminggu untuk menerima tawaranku, Jul."


"Maaf akan membuatmu kecewa, Theo."


"Aku yakin tidak akan kecewa."


Theo menampilkan senyum percaya dirinya.


Julia keluar dari kantor Theo dan langsung menuju parkiran mengambil mobilnya. Ia menahan geram dalam hatinya.


Kenapa aku selalu bertemu orang-orang yang tidak waras? Tawaran apa itu? Seharian bersamaku? Astaga ... Seperti kencan saja.


Julia mengutuki pertemuannya dengan Theo.


***


Julia menghela nafasnya, menahan geram dalam hatinya. Entah apa yang Theo pikirkan. Bukankah ia dan Theo sudah sama-sama menikah?


Akhirnya ia pun tidur malam itu dengan nyenyak. Masalah Theo ia buang jauh-jauh dari kepalanya. Ia tidak mau mengingat-ingat lagi pertemuannya dengan Theo hari ini.


***


Ruang vip sebuah resto eksklusif di pinggir kota yang mewah. Suasana tenang, nyaman, dengan hidangan yang lezat tak membuat Nadine senang berada disana.


Ia duduk dengan gusar. Sesekali meminum jus jeruknya untuk menghilangkan gugup dalam dirinya. Makanan yang telah tersedia pun tidak ia sentuh sedikit pun. Selera makannya hilang begitu saja.


Nadine mengusap layar ponselnya, mencari pesan yang diharapkan akan memberitahunya jika pertemuannya kali ini dibatalkan. Namun ia harus menelan kekecewaan saat tak ada satu pun pesan masuk ke ponselnya.


"Sial!" teriaknya tertahan. Ingin rasanya ia membanting ponselnya.


Terdengar pelayan mengetuk pintu, mengantarkan Theo masuk ke dalam ruangan.


"Halo Nad, sudah lama menungguku?" tanya Theo yang menyematkan senyum di bibirnya.


"Halo Theo," balas Nadine dengan wajah masam.


Theo berterima kasih pada pelayan resto lalu langsung mengambil tempat duduk di hadapan Nadine. Pelayan pun menutup pintu kembali. Karena ini ruang vip, jadi privasi pelanggan sangat dijaga.


"Resto ini sangat nyaman ternyata. Wow kamu sudah memesan makanan untuk kita? Yuk kita makan dulu, kasihan nanti bayimu kelaparan," kata Theo santai.


"Cukup berbasa-basinya," balas Nadine dengan tidak ramah.


Theo santai mendengar perkataan Nadine yang tidak ramah, ia tetap menikmati hidangan yang tersedia didepannya.

__ADS_1


Akhirnya Nadine pun ikut makan dengan terpaksa.


Selesai makan, Nadine sudah terlihat tidak sabar.


"Theo, untuk apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Nadine.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Memang tidak boleh?"


"Kan bisa lewat telpon?" Nadine jengkel dengan tingkah Theo saat ini.


"Haha ... Memang kamu bisa dipercaya? Aku tahu jika kamu hamil saja karena usahaku sendiri. Kamu tidak memberitahuku kan?"


"Untuk apa memberitahumu? Kamu kan bukan suamiku?!"


"Wah wah ... Kucing liar sudah mulai menampakkan cakarnya ya," kata Theo santai.


"Cukup Theo! Sekarang katakan apa maumu!" teriak Nadine tertahan.


"Aku hanya ingin mengingatkan perjanjian kita. Kamu tidak akan ingkar kan?!" Theo menatap mata Nadine dengan penuh ancaman.


"Huh ... Aku tidak akan melupakannya! Jika hanya itu yang mau kamu sampaikan, lain kali lewat telpon saja. Aku tidak ingin Ben curiga," kata Nadine meredam amarahnya.


"Itu terserah aku. Lagipula aku sedang bosan menunggu sesuatu. Tapi anehnya juga membuat jantungku berdegub kencang jika mengingatnya." Theo menghela nafasnya, menahan kesabarannya namun disisi lain adrenalinnya serasa dipompa.


Theo menunggu kabar baik yang ia yakin akan datang kepadanya.


"Menunggu sesuatu, lalu kamu menghabiskan waktuku? Kamu seperti bocah sedang jatuh cinta saja." Nadine tersenyum sinis.


"Karena sesuatu ini sangat berharga tentunya," saut Theo.


"Apa itu?" Nadine kini penasaran.


"Hoho ... Itu sangat rahasia kucing liar."


Nadine terlihat memasukkan ponsel ke dalam tasnya, ia bersiap mengakhiri pertemuannya dengan Theo.


Namun dering ponsel Theo membuat Nadine mengalihkan perhatiannya, saat dilihatnya Theo tersenyum senang melihat layar ponselnya.


Senyum Theo terkembang melihat nama penelepon yang tertera dalam layar ponselnya. Tak menunggu lama, ia pun mengangkatnya.


- "Halo, aku tahu kamu pasti akan menelepon."


- "Theo, tawaranmu yang kemarin masih berlaku?"


- "Tentu saja! Ingat kan syaratnya?"


- "Ya, aku terima syaratmu."


Theo menutup telponnya. Tawanya pun pecah, ia sangat senang.


Akhirnya kesempatan ini datang juga.


-


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2