Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Terserah Kamu


__ADS_3

Julia selalu tersenyum menjalani hari-harinya. Kini ia tak sendiri lagi karena ada Irfan yang selalu ada jika ia ingin berbagi cerita saat menyenangkan atau kadang saat menyebalkan.


Irfan pun sedapat mungkin memberi perhatian lebih untuk Julia dan Arka. Apalagi Arka anak yang aktif dan banyak maunya. Mungkin sedikit keras kepala tapi walaupun begitu, Arka tetaplah anak yang imut dan menggemaskan.


Seperti sore ini saat Irfan datang ke rumah Julia. Walaupun Julia belum pulang dari kerja, Irfan dengan telaten menemani Arka bermain. Irfan sengaja mengajak Arka bermain di halaman rumah.


Julia agak tergesa pulang sore ini. Pengasuh Arka tadi mengirim pesan ke ponselnya, mengatakan jika Irfan datang ke rumah. Julia merasa senang, ia memang sudah rindu ingin bertemu Irfan.


Saat Julia sampai di rumah dan melihat Irfan sedang bermain dengan Arka di halaman, senyumnya mengembang. Ia bahagia jika Arka bisa menyayangi Irfan. Karena selama ini, Arka memang lebih dekat dengan Ben.


"Halo sayang," panggil Julia mendekati Arka.


"Mama," kata Arka berlari ke arah Julia dan memeluknya. Julia mencium pipi Arka sayang.


"Halo, Irfan. Sudah lama di sini?" sapa Julia tersenyum.


"Belum, mungkin baru sekitar setengah jam."


"Yuk masuk, sepertinya Arka sudah waktunya makan," ajak Julia.


Arka terus memeluk mamanya karena ia memang belum pandai bicara karena usianya juga baru satu tahun.


Julia menyerahkan Arka pada pengasuhnya karena akan disuapi sedangkan ia ingin segera mandi. Badannya terasa gerah dan ingin menyegarkan diri.


Saat Julia masih mandi, Irfan duduk sambil memainkan ponselnya di teras rumah. Namun Irfan mendongakkan kepalanya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ia tahu mobil itu milik Ben. Irfan mendesah dalam hati, ia merasa kebersamaannya dengan Julia akan terganggu. Apalagi Ben belum tahu jika Julia adalah kekasihnya sekarang.


"Halo, Irfan. Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Ben saat sudah berada di depan Irfan. Ia lalu duduk di samping Irfan.


"Halo, Ben. Lama nggak ketemu kamu."


"Kamu kenapa datang ke sini?" tanya Ben lagi.


"Kamu juga kenapa datang ke sini, Musang?" Irfan balik bertanya sebal. Rasanya ia ingin mengusir Ben saat ini juga.


"Haha tentu saja ingin bertemu anakku, Arka. Di mana ya dia?" tanya Ben seperti pada dirinya sendiri.


"Arka sedang disuapi. Ya sudah kalau kamu ingin bertemu Arka. Kalau aku ke sini ingin bertemu Julia," kata Irfan santai.


"Hei Rubah, jangan macam-macam ya. Aku ke sini juga ingin bertemu mamanya Arka. Lagi pula sudah beberapa hari ini aku nggak ketemu, ada tugas ke luar kota," jelas Ben.

__ADS_1


"Ben, kamu itu ternyata percaya diri sekali ya. Bagaimana jika Julia memilih aku daripada kamu?" Rasanya Irfan ingin sekali mengatakan jika Julia adalah kekasihnya, tapi ia tidak berani jika Julia belum menyetujuinya. Terpaksa Irfan pun menurutinya.


"Tidak mungkin itu, Rubah. Aku yakin jika di hati Julia hanya ada aku," kata Ben yakin menatap lurus mata Irfan.


"Hei ada Ben rupanya." Julia agak terkejut melihat Ben ada di rumahnya bersamaan dengan Irfan. Kepalanya tiba-tiba pusing jika harus menjadi penengah di antara 2 orang yang terkadang kekanak-kanakan.


"Halo, Julia. Boleh aku melihat anakku?" tanya Ben yang langsung masuk ke dalam rumah Julia seperti di rumahnya sendiri.


Julia hanya geleng-geleng kepala sementara Irfan menahan kejengkelan dalam hatinya. Ia merasa tidak habis pikir dengan sikap Ben. Mungkin memang Ben sudah dekat dengan Arka, tapi dia kan juga bukan ayahnya?!


"Ben! Arka sedang makan, jangan kamu ganggu dulu, nanti dia jadi nggak mau makan," kata Julia menghentikan Ben.


"Tuh lihat, Arka sudah selesai makan kok," saut Ben yang berjalan lagi mendekati Arka.


Arka yang melihat Ben melonjak senang, seperti ingin minta gendong," Papa pa."


"Sini, Arka," kata Ben sambil menggendong Arka dengan sayang.


Julia memang tahu kedekatan Ben dengan Arka selama ini, tapi sekarang karena ada Irfan, ia jadi merasa tidak enak. Apalagi Arka sudah terbiasa memanggil Ben dengan sebutan 'Papa'.


Julia memberanikan diri melirik wajah Irfan. Dan benar saja, Irfan terlihat geram atau marah? Julia tidak bisa menebak dengan pasti.


"Arka sayang, lihat nih Papa membawakan kamu mainan. Maaf ya kemarin-kemarin Papa nggak bisa main denganmu karena Papa harus kerja jauh," ucap Ben sambil menciumi Arka yang tertawa kegelian.


Untuk mencairkan suasana, Julia mengajak Irfan dan Ben untuk makan malam bersama. Ia hanya berharap Irfan bisa mengerti keadaannya. Bukankah selama ini Irfan juga jarang ke rumah Julia untuk bermain dengan Arka?


"Wah ada udang asam manis nih, enak banget," ucap Ben sambil mengambil nasi dan lauk kesukaannya.


"Irfan, ayo ambil nasinya," kata Julia menawarkan.


"Iya, terima kasih. Kamu suka udang, Ben?" tanya Irfan.


"Iya favoritku banget. Julia sering membuatkan aku lauk ini. Ya kan, Jul?" Ben menatap mesra Julia.


"Yang masak bukan aku, Ben. Mbak nya tuh yang masak," saut Julia berusaha menjelaskan yang sebenarnya karena ia tahu jika saat ini Irfan terlihat marah.


Irfan menelan makannya dengan terpaksa. Ia benar-benar marah pada Julia yang tidak mau berterus terang pada Ben jika saat ini Julia adalah kekasihnya, jadi Ben seperti berbuat seenaknya.


Sementara Ben dengan santainya menikmati makanan favoritnya, meskipun ia tahu jika Irfan tidak menyukai kehadirannya. Sedari tadi Irfan menatapnya tajam.

__ADS_1


Selesai makan malam, Ben pamit pulang karena ia masih ada urusan.


"Arka, Papa pulang dulu ya. Tapi Papa janji, besok pasti main ke sini lagi. Oke?!" pamit Ben pada Arka yang sedang asyik bermain mainan yang baru saja ia berikan.


"Pa pa pa," ucap Arka minta digendong Ben.


Ben yang tidak tega, menyempatkan menggendong Arka sebentar lalu menciumnya.


"Julia, aku pulang dulu ya. Masih ada urusan mumpung belum terlalu malam," pamit Ben.


"Iya, Ben. Terima kasih ya sudah membawakan Arka mainan," kata Julia.


"Sama-sama. Irfan, aku pulang dulu," kata Ben sambil lalu.


Setelah Ben pergi, Julia pun menyiapkan Arka untuk tidur karena memang sudah waktunya. Sementara Arka ditemani pengasuhnya karena ada Irfan yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang penting.


Irfan menunggu di ruang tamu. Ia sudah tidak sabar ingin mengatakan isi hatinya pada Julia. Saat melihat Julia duduk di depannya, Irfan sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Jul, kita harus memberitahu Ben tentang hubungan kita. Apalagi aku merasa tidak nyaman saat Arka memanggil dia 'Papa'.


"Irfan, mohon mengerti lah. Ben itu orang yang sensitif, aku merasa tidak enak hati jika mengatakannya sekarang. Kita pelan-pelan ya," kata Julia memohon.


"Tapi dia berbuat seenaknya, Jul!"


"Ben itu sering sekali datang ke sini. Dia sangat akrab dengan Arka. Jika Arka memanggil Ben itu 'Papa', aku sendiri juga merasa tidak nyaman. Tapi itu sudah jadi kebiasaan. Kamu jangan tiba-tiba protes, bukankah kamu yang jarang bertemu dengan Arka?!" Julia mulai menaikkan nada suaranya, rasa jengkel mulai hinggap di hatinya.


"Jadi kamu malah menyalahkan aku karena Arka lebih dekat dengan Ben karena Ben sering datang ke sini?"


"Aku nggak menyalahkan kamu, Fan .... Aku hanya bicara kenyataan," saut Julia semakin naik emosinya.


"Tapi kalau kamu bicaranya begitu itu seperti nyalahin aku, Jul. Iya aku akui kalau aku tidak dekat dengan Arka, tapi sekarang kamu itu kekasihku, harusnya kamu itu jaga jarak dengan orang lain!" Irfan bertambah emosi karena Julia tidak mau menuruti keinginannya.


Julia memejamkan matanya, mengatur rasa marah yang mulai naik ke kepalanya. Ia tidak menyalahkan Irfan, tapi ia sendiri tidak tega jika sekarang mengatakan kebenarannya pada Ben. Bagaimana pun Ben sahabat baginya, selalu ada untuknya dan Arka menyayanginya.


"Irfan, kita ini baru jadian 3 hari, kenapa kamu sudah mengatur-atur aku sih. Ah aku pusing, lebih baik kamu pulang saja!" Julia tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Irfan, takut jika nanti kata-kata yang keluar dari mulutnya atau pun mulut Irfan malah akan menyakiti hati keduanya.


"Terserah kamu, Jul! Aku pulang!" Irfan pun tidak bisa menahan rasa marahnya. Ia berdiri dan berjalan, masuk ke dalam mobil dengan membanting pintunya. Melaju pergi, Irfan tidak menoleh lagi melihat Julia.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2