Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Isi Hati


__ADS_3

"Jul! Julia!!!"


"Eh ... Ada apa Karel?" kata Julia tergagap kebingungan menatap lelaki berwajah ramah di depannya.


"Kamu melamun terus dari tadi kenapa?" tanya Karel lalu duduk di depan Julia.


Karel adalah rekan kerja di kantor Julia. Walaupun berbeda bagian tetapi Julia dan Karel sering bekerjasama dalam hal pekerjaan.


"Aku nggak melamun Karel ... Ada apa mencariku?" tanya Julia mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin dirinya dibahas oleh Karel.


"Ini aku mau menyerahkan proposal yang kamu minta kemarin," kata Karel lalu menyerahkan map pada Julia.


"Terima kasih Karel."


"Sudah begitu doang?" tanya Karel dengan wajah manyun.


"Ha? Memang apa lagi?" Julia tidak mengerti maksud Karel.


"Ada Julia manis ... Sebagai rasa terima kasihmu, ajak aku ke Coffeshop dong," kata Karel santai.


"Ah kamu ini ada-ada saja. Tapi baiklah aku juga sedang ingin minum kopi. Nanti sepulang kerja kamu bisa?" ajak Julia.


"Pasti bisa lah ... Buat kamu apa saja bisa Julia," kata Karel tersenyum lalu berdiri dan meninggalkan meja kerja Julia dengan wajah senang.


Julia hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah Karel. Tidak tahu kenapa tapi bekerjasama dengan Karel terasa menyenangkan. Karel memiliki pribadi yang easy going membuat Julia nyaman dan senang berteman dengan Karel.


Apalagi saat ini, Julia dihadapkan dengan persiapan pernikahannya yang tinggal 2 minggu lagi. Memang semua sudah dipasrahkan pada wedding organizer, tapi Julia tetap harus mengecek dan mengawasi agar acara pernikahannya nanti berjalan dengan baik sesuai impiannya selama ini.


Sedari dulu Julia memang memiliki pernikahan impian. Julia ingin menggelar pernikahan dengan konsep outdoor di sebuah resort yang sudah diincarnya dari dulu. Waktu itu Julia tidak berpikir siapa yang akan menjadi pasangannya, tapi dia akan berusaha mewujudkan pernikahan impiannya.


Sore itu Julia membereskan meja kerjanya dari kertas-kertas yang berserakan. Jam kantor sudah usai, Julia bersiap akan pulang.


"Hei nona, tidak lupa akan janjimu kan?!" Karel duduk di atas meja mengejutkan Julia.


"Ya ampun ... Bikin kaget saja kamu Karel! Kayak hantu tiba-tiba nongol," Julia memegang dadanya yang jantungnya berdetak kencang karena terkejut.


"Sengaja ... Haha. Yuk katanya mau traktir aku," Karel menggandeng tangan Julia tanpa permisi dan berjalan keluar ruangan.


Julia berusaha melepaskan tangannya namun sia-sia karena Karel memegangnya kuat-kuat.


"Karel, lepaskan! Sakit tanganku," teriak Julia.


Karel baru menyadari dan kemudian melepaskan tangan Julia.


"Nih ... Lihat pergelangan tanganku sampai merah begini!" Julia mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit.


"Aduh maaf Jul! Aku tidak sadar. Biasa pegang cangkul jadi terlalu kuat ya. Sebagai permintaan maafku, sore ini aku yang traktir deh. Besok baru giliran kamu. Oke?!" Karel tersenyum manis.


"Hah ... Sama saja!" kata Julia cemberut.


Saat sudah sampai di tempat parkir.


"Jul, kamu ikut mobilku saja yuk," ajak Karel.

__ADS_1


"Terus mobilku bagaimana?"


"Tinggal di sini saja. Besok pagi aku jemput kamu sebelum berangkat ke kantor," kata Karel sedikit memaksa.


"Ah ... Enggak lah. Kita bawa sendiri-sendiri saja. Yuk ah nanti keburu malam," kata Julia lalu masuk ke dalam mobilnya. Tidak memberi kesempatan Karel yang masih ingin membujuknya.


Mobil Julia dan Karel berjalan beriringan menuju Coffeshop yang telah disepakati.


Saat sudah memilih meja dan memesan kopi juga makanan pendamping, Karel terus mengamati Julia yang terlihat banyak pikiran.


"Julia, kamu ini mau menikah tapi aku lihat kok kamu tidak terlihat bahagia sih? Maaf kalau aku salah dan ikut campur masalahmu, tapi itulah yang aku lihat di matamu seminggu ini," kata Karel membuka percakapan.


"Hahaha ... Masak sih Karel? Aku bahagia kok sungguh!" Julia tertawa terbahak.


Tapi Karel tidak tertawa. Dia malah semakin memperhatikan Julia yang tampak sedih melalui matanya.


"Julia, aku memang terkenal orang yang seenaknya dan suka bercanda, tapi aku ini orang yang bisa dipercaya lho. Ceritakan saja padaku, aku pendengar yang baik. Jangan takut, aku bisa menjaga rahasia karena aku menganggapmu sahabatku," kata Karel serius.


Julia memandangi Karel yang berubah menjadi seorang yang serius karena biasanya dia suka bercanda dan seenaknya sendiri.


Pelayan menghampiri meja dan meletakkan pesanan Julia dan Karel.


Julia menyeruput kopi panasnya, begitu juga dengan Karel. Mereka sama-sama terdiam dan terjadi jeda. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.


"Julia, kenapa kamu tidak bahagia menjelang hari pernikahanmu?" tanya Karel hati-hati.


"Aku tidak tahu Karel. Entahlah mengapa aku terlihat kurang bahagia," mata Julia menerawang mengingat hari pernikahannya nanti.


"Tentu saja aku cinta Ben. Tapi ..."


"Tapi?" Karel makin penasaran.


"Ehm ... Ben belum mencintaiku," kata Julia lirih.


"Hah! Kamu serius?"


"Iya Karel. Sekarang kamu tahu kan mengapa aku begini? Jika kupikirkan lagi rasanya aku belum mantap menikah," Julia akhirnya menuangkan isi hatinya pada Karel, sahabat barunya.


"Julia, masih ada waktu jika kamu ingin membatalkannya. Pernikahanmu kan masih dua minggu lagi," kata Karel yang membuat mata Julia seketika membeliak.


"Kamu gila! Aku tidak mungkin membatalkannya. Banyak orang yang akan kecewa nanti."


"Tapi jika kamu menikah, kamulah satu-satunya orang yang akan kecewa Jul," kata Karel terus terang.


"Entahlah Karel."


Pertemuannya dengan Karel sore itu membuat Julia terus berpikir.


Benarkah apa kata Karel aku akan kecewa?


Julia terus-menerus bertanya dalam hati akan keputusannya menikah dengan Ben.


**

__ADS_1


Hari-hari terus berlalu. Hari pernikahan Julia dan Ben tinggal beberapa hari lagi. Dan hari ini adalah hari terakhir Julia masuk kerja karena esok hari sudah cuti. Julia mengambil cuti selama dua minggu karena setelah menikah, Julia langsung pergi berbulan madu di Bali.


Sore sebelum pulang kerja, Julia berpamitan pada rekan-rekan kerjanya dan meminta mereka semua supaya jangan lupa untuk datang ke pesta pernikahannya.


Karel duduk menunggu di depan ruangan Julia. Karel pun ikut merasakan perubahan hati Julia yang makin hari malah terlihat kacau.


"Karel!" teriak Julia terkejut melihat Karel.


"Julia, kuantar pulang?" Karel menampakkan senyum indahnya.


"Tidak usah Karel. Kan aku bawa mobil."


"Oke, kalau begitu kita ke Coffeshop sebentar sebagai bentuk perpisahan akan statusmu?" tanya Karel.


"Baiklah ..."


Sesampainya di Coffeshop, sambil menikmati minuman favorit, Karel melihat Julia yang terus melamun walaupun ada dirinya di depannya.


"Jul, apa sih yang kamu lamunkan?" tanya Karel.


"Eh maaf, aku melamun lagi ya? Haha aku tadi teringat jika harus mengambil sepatu pesananku," kata Julia yang merasa tidak enak hati.


"Oh ... Untuk acara pernikahan?"


"Iya, aku sampai terlupa," kata Julia tersenyum.


"Julia, kamu sudah mantap menikah? Belum terlambat untuk membatalkannya lho," Karel masih tidak mengerti akan keputusan Julia.


"Tidak mungkin aku membatalkannya Karel. Apalagi pernikahanku tinggal 3 hari lagi," saut Julia menampakkan senyum manisnya.


"Kamu yakin?!"


"Yakin!" kata Julia mantap.


"Baiklah, aku doakan semoga keputusanmu tepat Jul. Tapi jika kamu ada masalah apapun itu, datanglah padaku. Sebisa mungkin aku akan membantumu. Oke?!" kata Karel kuatir akan Julia.


"Baik Karel sahabatku. Terima kasih ya," kata Julia yang entah mengapa hatinya merasa terharu.


Julia mengerjapkan matanya menahan air mata yang hampir lolos.


"Jul ..."


"Jangan Karel, aku tidak apa-apa. Aku hanya terharu karena masih ada kamu, sahabatku yang sangat perduli padaku," kata Julia menarik tangannya yang hampir dipegang Karel.


"Aku sayang kamu Julia," kata Karel tulus.


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2