Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Akan Kucoba


__ADS_3

"Ehm ... Julia, aku ingin minta tolong padamu." Nadine berkata masih dengan raut wajah datar yang sulit ditebak.


Julia meminum kopi lattenya, meneguknya perlahan. Ia membiarkan Nadine berbicara terlebih dahulu.


"Julia, apa kamu tahu jika seminggu ini Ben tidak pulang ke rumah?" tanya Nadine yang hanya ditanggapi biasa oleh Julia.


"Nadine, aku tidak mau ikut campur urusan rumah tanggamu," kata Julia datar.


"Tapi hanya kamu temanku satu-satunya Jul! Kita sudah lama kenal, sejak awal kuliah kita sudah berteman," saut Nadine.


"Teman? Kamu yakin menganggapku teman?!" Nada suara Julia terdengar getir.


"Maafkan aku Julia ... Tapi tolonglah aku sekali ini!" Nadine memohon.


Julia mengamati sosok Nadine didepannya. Memang wajah cantiknya terlihat kusut, tidak seperti penampilan Nadine biasanya.


Lingkaran hitam di sekitar matanya nampak samar, mungkin karena ditutupi make up yang tebal.


Kini Julia bisa melihat jika mata Nadine memancarkan frustasi. Namun ia tidak merasa kasihan saat ini karena Julia teringat akan penghinaan yang pernah Nadine lontarkan padanya waktu lalu.


"Nad, kamu mau apalagi dari aku?" Akhirnya Julia luluh dan mencoba menjadi pendengar yang baik.


"Jul, apa kamu tau jika Mama Tyas tidak suka denganku?" tanya Nadine yang kini terlihat sedih.


"Tapi Mama Tyas kan baik banget, bagaimana mungkin ia tidak menyukaimu?" Julia merasa tidak percaya karena setahunya, Mama Tyas, Mamanya Ben sangat baik padanya.


Menyayangi Julia seperti anaknya sendiri, bahkan saat ia sudah tidak jadi menantunya pun, Mama Tyas masih sering bertukar kabar melalu ponsel.


"Awalnya memang Mama Tyas menerima dan menyukaiku, tapi setelah menikah dan tahu jika aku pernah menikah menjadi istri kedua, Mama Tyas mulai bersikap sinis," jelas Nadine.


"Mungkin karena sedari awal kamu tidak berterus terang Nad. Jika kamu berterus terang, mana mungkin sikap keluarga Ben akan begini?" Julia mencoba memahami dari kedua sisi.


"Tapi aku tidak sanggup berterus terang Jul, aku takut kehilangan Ben," kata Nadine yang kini menghapus air mata yang mulai menetes di pipinya dengan tissue.


"Nad, kenapa dulu kamu mau dijadikan istri kedua?" tanya Julia yang kini merasa penasaran.


"Terus terang saat itu aku hanya bertahan hidup. Papa Mamaku mendadak meninggal karena kecelakaan, dan kamu tahu kan jika aku anak tunggal. Hanya itu pilihanku saat itu Jul," jelas Nadine yang matanya tampak sayu.


Julia merasa tidak tega dengan Nadine yang kini tampak lemah dan sedih. Walaupun Nadine telah menghinanya dulu dan bisa dibilang telah merebut Ben dari sisinya, namun melihat Nadine sekarang hati Julia mulai luluh.


"Nad, kamu sudah minta maaf dengan Papa Mama Ben?" tanya Julia.


"Sudah, tapi ... "


Nadine terdiam, enggan meneruskan kata-katanya.


"Tapi kenapa?" Julia kini merasa penasaran.


"Tapi ... Mama Tyas memberiku waktu setahun ini untuk memiliki anak. Jika aku gagal maka ... " Nadine terlihat tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


Julia mengerti dan kini ia pun berpikir kenapa Mama Tyas bisa setega itu dengan menantunya.


"Lalu apa yang Ben lakukan untuk membelamu?" tanya Julia kemudian.


"Bahkan Ben mendukung Mama Tyas. Walaupun Ben terlihat sudah memaafkanku, tapi aku tahu jika didalam hatinya, ia belum menerimaku sepenuhnya," kata Nadine menerawang jauh.


"Lalu apa yang bisa kulakukan Nad?" Julia merasa iba dan entah mengapa ia ingin membantu Nadine.


"Jul, tolong bujuk Mama Tyas untuk memberi aku waktu setidaknya 3 tahun. Mama Tyas memberi waktu hanya satu tahun yang bagiku sangat singkat."

__ADS_1


"Aku tidak tau bagaimana caranya aku hamil padahal Ben saat ini tidak pulang ke rumah," pinta Nadine yang kini menggenggam tangan Julia.


"Tapi ini kan urusan rumah tanggamu Nad."


"Iya Jul, tapi aku tahu jika kamu dan Mama Tyas sangat dekat. Aku yakin ia pasti mau mendengarkanmu," pinta Nadine yang kini tampak memelas.


Pikiran Julia pun melayang kembali saat ia masih menjadi istri Ben. Saat itu Mama Tyas sangat baik padanya, bahkan tidak pernah mengungkit-ungkit masalah anak.


Bagaimana mungkin aku bisa hamil jika Ben saja tidak pernah menyentuhnya?


Mama Tyas tidak pernah mendesaknya untuk memberikan cucu. Dan malah sering mengajak Sovia, cucu pertama Mama Tyas, untuk bermain ke rumah Julia saat itu.


"Aku tidak bisa janji Nad, tapi akan kucoba," kata Julia akhirnya.


Ia merasa tidak tega melihat Nadine yang sangat tertekan.


"Terima kasih Jul, kamu memang sahabatku," kata Nadine lega.


Julia hanya mengangguk.


Setelah pertemuannya dengan Nadine, Julia pun langsung pulang ke rumah.


Pikirannya terus berkecamuk memikirkan Ben dan Nadine.


Jadi seminggu ini Ben tidak pulang ke rumahnya? Pasti Ben sekarang tinggal di rumah Papa Mamanya. Jika begitu kenapa Nadine tidak langsung datangi saja ke sana?


Berbagai pertanyaan hinggap di kepala Julia. Tidak habis pikir dengan yang Ben lakukan. Padahal yang Julia lihat, selama ini Ben dan Nadine terlihat hidup bahagia.


***


Hari-hari terus berlalu. Terkadang Nadine mengirim pesan menanyakan tentang permintaan tolongnya, namun Julia belum bisa memenuhinya karena ia belum punya waktu yang tepat untuk berbicara berdua dengan Mama Tyas.


"Halo Julia sayang," sapa Mama Tyas senang lalu memeluk dan mencium pipi Julia.


Julia membalas pelukan Mama Tyas dengan sayang. Sudah lama memang ia tidak bertemu Mama Tyas karena berbagai kesibukan masing-masing.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Mama Tyas yang mengajak Julia untuk duduk di taman kecil yang asri di samping rumah.


"Baik kok Ma," saut Julia yang hingga sekarang masih memanggil Mama pada mantan mertuanya.


Julia memang sudah menganggap Mama Tyas seperti Mamanya sendiri.


Julia duduk di bawah pohon rindang berdua dengan Mama Tyas karena Papa Andi pergi bersama dengan Ben.


Udara sore sudah terasa sejuk karena matahari perlahan mulai tenggelam.


Julia sangat menikmati taman yang dipelihara dan ditata dengan apik oleh penghuni rumah.


Mama Tyas memang hobi sekali dengan tanaman.


"Maaf Jul, Papa dan Ben tidak bisa bertemu denganmu karena sudah ada janji dengan Om Tito."


"Om Tito adiknya Papa Andi yang terakhir?" tanya Julia mengingat.


"Iya betul, kan kamu juga pernah bertemu kan?"


"Iya Ma," saut Julia tersenyum.


Mengobrol dengan Mama Tyas memang terasa santai dan menyenangkan.

__ADS_1


"Julia, Mama dengar kamu akan menikah? Apa benar?" tanya Mama Tyas yang telah mendengar berita tentang pernikahan Julia.


"Benar Ma, Julia akan menikah dengan teman kerja di kantor. Mungkin masih sekitar 5 bulan lagi. Doakan semua lancar ya Ma," kata Julia yang meminta restu mantan mertuanya ini.


"Julia, kamu yakin dengan keputusanmu?"


"Julia sudah yakin Ma."


"Mama sebenarnya sangat kecewa dengan pernikahanmu dan Ben yang gagal dalam waktu singkat. Mama juga sudah tahu permasalahan yang terjadi dalam pernikahanmu karena Ben sudah menceritakan semuanya," kata Mama Tyas yang kini terlihat sedih.


"Aduh Ma, jangan ungkit-ungkit lagi masalah itu. Julia sudah ikhlas kok."


Julia kini merasa bersalah. Apakah dulu dia tidak cukup berjuang untuk mendapat cinta Ben sehingga semua gagal?


"Mama sangat sedih dan tidak habis pikir dengan Ben. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan semua sudah tak bisa terulang lagi." Mama Tyas kini menutup matanya, seolah menelan sendiri kekecewaannya.


"Maafkan Julia Ma."


"Ya ampun sayang, kamu tidak bersalah! Yang salah disini adalah Ben dan Nadine."


"Ma sudahlah, semua telah berlalu dan kini semoga aku juga bisa menemukan kebahagiaan," kata Julia tersenyum menenangkan Mama Tyas yang kini nampak jengkel dengan Nadine.


Julia terdiam dan jadi teringat tujuannya datang bertemu Mama Tyas.


"Ma, Minggu kemarin Nadine datang menemuiku. Dia minta tolong supaya Mama memberikan lebih banyak waktu untuknya," kata Julia perlahan, takut jika Mama Tyas marah karena ia telah mencampuri urusan rumah tangga Ben dan Nadine.


"Nadine masih berani minta tolong padamu?"


"Mungkin dia terpaksa Ma." Julia kini malah terlihat membela Nadine.


"Dari awal Mama sudah merasa kalau Nadine itu bukan wanita baik-baik. Tapi waktu itu Ben bersikeras dan kini terlihat kan wanita seperti apa Nadine itu."


Mama Tyas berkata dengan emosi tertahan.


"Mungkin seiring berjalannya waktu, Nadine bisa berubah Ma."


"Huh ... Mama tidak akan memberi waktu tambahan padanya. Jika dalam satu tahun Nadine belum hamil juga, maka biarlah Ben berpisah dengan Nadine," ucap Mama Tyas mantap.


"Julia, kamu yakin akan menikah dengan temanmu itu? Mama mohon tunggulah sebentar saja untuk Ben," pinta Mama Tyas yang kini matanya terlihat sangat memohon.


"Tunggu bagaimana Ma?"


"Julia, tahukah kamu jika Ben kini mencintaimu? Tolong tunggu dan beri kesempatan kedua untuk Ben."


Julia memejamkan matanya, mengapa kini semuanya malah kian rumit.


-


-


-


-


Halo readers setia, bagaimana episode kali ini? Semoga kalian suka. Nah, buat kamu yang mau tahu lebih tentang informasi seperti info update dan lainnya seputar cerita Terlanjur Menikah, kalian bisa follow Instagram author ya. Nama Instagramnya: @Pelangiella_


Jangan lupa nantikan visual cerita Terlanjur Menikah


Makasih🤗🤗🥰🥰

__ADS_1


-


__ADS_2