Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Mengunjungi Karel


__ADS_3

"Ben! Jangan bercanda yang aneh-aneh deh," kata Julia menggelengkan kepalanya, selalu tak habis pikir dengan kata-kata Ben yang terkadang melantur.


"Tapi aku serius, Jul. Meskipun Arka bukan anak kandungku, tapi saat aku melihatnya, terasa seperti anakku sendiri. Julia, ijinkan aku menjadi papa buat Arka." Ben menatap mata Julia tulus.


"Ben, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Ben. Jika di kemudian hari, Arka sendiri yang memanggilmu papa, aku nggak apa-apa. Tapi bukan aku yang akan mengajarinya," ucap Julia menyunggingkan senyumnya.


Ben terlihat sedih, namun ia tak bisa memaksa Julia. Ia tahu jika Julia orang yang sangat baik hati, jika mau, Ben bisa memaksanya. Tapi Ben tidak tega, ia selalu merasa bersalah jika mengingat apa yang dulu ia lakukan pada Julia. Ben menatap sendu mata Julia, ia ingin sekali memeluk Julia sepenuh hatinya.


Tidak ingin berlama-lama, Ben memalingkan wajahnya. Saat ini ia semakin menyadari jika cintanya pada Julia telah memenuhi seluruh hatinya.


Ben akhirnya pamit pulang, namun ia akan selalu kembali ke rumah Julia untuk bertemu Arka yang kini telah membuatnya jatuh hati. Dan juga ia ingin memenangkan hati Julia yang dulu ditolaknya. Ben sangat menyesal.


***


Julia sedang menimang Arka saat dilihatnya sebuah mobil berhenti di depan rumah. Nadine terlihat keluar dari mobil dan berjalan mendekati Julia.


"Halo, Julia. Maaf aku baru sempat kemari," kata Nadine yang sekarang terlihat lebih cantik dan bersemangat.


"Halo Nadine, senang berjumpa kamu." Julia menyambut Nadine dengan tulus, melupakan hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu.


"Wow ... Bayi cowok ganteng sekali seperti almarhum," pekik Nadine saat melihat Arka di gendongan Julia.


"Namanya Arka."


"Nama yang bagus, cocok untuknya yang imut sekali." Nadine terlihat sangat gemas melihat Arka.


"Boleh aku gendong, Jul?" tanya Nadine.


"Tentu saja, Nad."


Nadine menggendong Arka dengan hati-hati. Julia merasa senang jika ada yang ikut menyayangi anaknya.


"Apa kegiatanmu sekarang, Nad?" tanya Julia sambil mengawasi Arka yang terlihat nyaman dalam gendongan Nadine.

__ADS_1


"Sekarang aku kerja, Jul. Baru tahu rasanya susahnya mencari uang sendiri. Aku juga sudah resmi bercerai dengan Ben," kata Nadine yang terlihat kesedihan terpancar dari matanya.


"Sabar ya, Nad. Jika memang jodoh, suatu saat kamu dan Ben pasti akan bersama lagi."


"Julia, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Nadine.


"Tentu saja."


"Jul, apakah sekarang hubunganmu dengan Ben masih sabahat?" tanya Nadine pelan.


"Nad, aku dan Ben memang hanya sahabat sedari dulu. Tidak mungkin lebih dari itu," kata Julia yang semakin hari semakin menyadari, jika ia dan Ben sangat sulit untuk bersama. Mungkin seperti siang dan malam yang tidak mungkin disatukan.


"Tapi Ben .... "


"Nad, percaya sama aku. Ben itu orang yang tidak peka dan kadang tidak tahu isi hatinya sendiri. Mungkin ia harus kehilangan dulu baru sadar jika sesuatu yang lepas dari genggamannya adalah sesuatu yang sangat berharga," ucap Julia menenangkan hati Nadine.


"Seperti kehilangan dirimu kah, Jul?"


Nadine hanya tersenyum menanggapi perkataan Julia, tapi ia tahu bagaimana isi hati Ben sekarang. Hanya ada nama Julia yang terpatri di sana.


Hingga malam menjelang, Nadine masih betah berada di rumah Julia. Ia merasa senang ikut membantu merawat Arka. Namun akhirnya Nadine pamit pulang.


"Jul, besok boleh kan aku datang lagi ke sini? Aku ingin bertemu dengan Arka," pinta Nadine.


"Tentu saja, Nad. Kan aku sudah bilang padamu kalau Arka adalah anak kita bersama." Julia berkata tulus dari dalam hatinya, kasihan dengan Nadine yang tak akan pernah memiliki anak dari rahimnya sendiri.


"Terima kasih, Jul."


Nadine pulang dengan hati puas tapi rasa iri selalu menyergap hatinya. Iri akan Julia yang diberi Arka, bayi yang tak akan ia miliki. Namun mungkin suatu saat nanti, Nadine akan bisa memiliki Arka.


***


Irfan memandangi sebuah amplop bersampul putih yang terletak di meja kerjanya. Surat terakhir dari Karel untuk Julia. Karel memang telah menyiapkan surat untuk Julia jika suatu hari nanti Julia kembali menikah.

__ADS_1


Masih sangat jelas dalam ingatan, saat Karel berpesan padanya mengenai surat ini. Karel bilang jika disisi lain surat ini tak akan pernah diterima Julia, yang artinya Julia tak akan lagi menikah suatu saat kelak.


Tapi disisi lain, menyingkirkan keegoisan dalam dirinya, Karel ingin Julia kembali menikah, bahagia dengan pasangan barunya.


Irfan masih menatap surat yang masih tertutup rapat. Rasanya ia ingin sekali membukanya. Namun, rasa kesetiaan terhadap sahabatnya membuat ia mengurungkan niatnya.


Irfan mengambil surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam laci. Menghela nafas dalam, Irfan memejamkan matanya. Ia merindukan Julia. Ingin sekali membaca surat dari Karel bersama Julia. Ia akan dengan senang hati menghapus air mata haru di pipi Julia.


Dada Karel terasa sesak, ia memang sangat mencintai Julia. Namun entah sampai kapan ia harus menunggu.


***


Sejak pagi hari hati Julia sangat senang. Ia memakaikan baju terbaik untuk Arka. Julia pun memakai baju terbaik dan berdandan secantik mungkin. Hari ini usia Arka tepat 2 bulan, ia akan membawanya menemui papanya.


Julia bersiap sejak pagi, ia sudah tidak sabar membawa Arka untuk dibawanya ke makam Karel. Setelah semuanya siap, Julia pun berangkat.


Perjalanan menuju pemakaman tidaklah terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya di pemakaman, Julia menggendong Arka yang tertidur pulas.


Hati Julia merasakan kerinduan terhadap Karel, memang sudah beberapa bulan ini ia tidak berkunjung.


Julia bersimpuh di nisan Karel, namun kali ini ia menyunggingkan senyumnya. Hatinya masih merasa kehilangan sosok suaminya, namun ia bahagia mendapatkan buah cinta dari Karel.


"Karel suamiku, bagaimana kabarmu di sana? Aku yakin kamu pasti sudah bahagia. Karel, sengaja aku datang ke sini membawa anak kita, Arkana Mahendra. Lihat, mirip sekali dengan kamu kan, Karel? Aku yakin kamu pasti tambah bahagia menyaksikan dari sana bahwa anak kita lahir dengan sehat. Karel, jangan kuatir lagi ya, aku sudah ada yang menemani dan aku tidak akan kesepian lagi."


"Karel, aku berjanji akan membesarkan anak kita dengan baik. Aku juga akan menceritakan sosok papanya yang padanya. Maaf jika aku tidak bisa lagi sering-sering mengunjungimu. Karel, terus lihat aku dan Arka ya. Bahagia dan tenanglah di sana."


Julia mencium nisan Karel. Ia lega akhirnya bisa mengunjungi Karel, mengenalkan Arka. Julia yakin, Karel akan sangat bahagia melihat ia dan Arka baik-baik saja.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2