Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Kecewa


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kedatangan Nadine di rumahnya. Julia berusaha melupakan semua masa lalunya dan tidak ingin mengingatnya lagi.


Sore itu sepulang kerja, seperti biasa Karel telah menunggu Julia. Mereka ingin makan bersama karena besok Karel ditugaskan kantor untuk mengikuti pelatihan selama satu minggu di luar kota.


Julia dan Karel pergi ke sebuah resto di pinggiran kota. Resto keluarga yang terkenal dengan menu istimewa kesukaan Julia. Memang Karel selalu ingin menyenangkan dan membuat Julia tersenyum.


Julia memesan menu seafood favoritnya, sedangkan Karel pun mengikutinya. Berdua mereka menghabiskan waktu menikmati makan malam dan suasana resto yang memang indah saat malam hari.


Selesai makan, Karel duduk dan hanya menatap wajah Julia.


"Karel, kenapa lihat wajahku terus sih? Ada sisa nasi yah?" tanya Julia sambil mengambil tissu dan mengelap mulutnya.


"Tidak Jul ... Kamu cantik."


"Karel, kamu ini bikin aku malu aja," kata Julia tersipu.


"Kuat nggak ya aku seminggu ke depan nggak lihat kamu?" tanya Karel seperti pada dirinya sendiri.


"Ya ampun Karel, kan kita bisa videocall," kata Julia tersenyum geli.


"Iya sih, tapi kan kalau videocall nggak bisa memelukmu ... "


"Haiss ... Karel! Sudah ah malu aku," saut Julia memotong kata-kata Karel.


"Haha kamu kalau tersipu kelihatan imut banget." Karel mencubit pipi Julia gemas.


Julia dan Karel sama-sama tersenyum bahagia, menikmati kebersamaan malam ini sebelum berpisah untuk seminggu ke depan.


***


Julia duduk sendiri di taman belakang rumahnya. Tadi pagi Karel sudah berangkat ke luar kota. Julia merasa kesepian dan mempertimbangkan apakah ia di rumah saja atau pergi ke rumah Mama.


Sebenarnya Julia ada teman di kantor yang bernama Nita. Mereka sering berbelanja dan jalan-jalan untuk menghabiskan waktu saat bosan, tapi beberapa hari ini Nita sakit jadi Julia pun tidak ingin menganggunya.


Saat Julia memutuskan akan pergi ke rumah Mama, ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.


Julia mengusap layar ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan karena ia berharap Karel lah yang mengirimkan pesan.


Jari Julia terhenti, seketika ia ragu untuk membuka pesan yang masuk karena ternyata nama Ben lah yang ada disana.


Ben mengirim pesan? Mau apa dia?


Julia menimbang dalam hati, apakah ia akan membukanya atau tidak.


Namun setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Julia membuka pesan dari Ben karena ia takut jika itu adalah pesan yang sangat penting.


- Julia, bisa kita bertemu? (Ben)


Untuk apa Ben ingin bertemu?


Akhirnya Julia pun membalas pesan dari Ben.


- Untuk apa ingin bertemu? (Julia)


- Aku ingin bercerita padamu seperti saat dulu kita masih bersahabat. (Ben)

__ADS_1


- Dimana? (Julia)


- Aku ada di depan rumahmu. (Ben)


Ya ampun ... Ben ada di sini?


Segera Julia berlari menuju pintu depan. Dilihatnya Ben duduk di belakang kemudi mobilnya.


Ben terlihat turun dan berjalan menuju rumah. Julia.


"Halo Jul, " sapa Ben.


"Halo Ben, ayolah masuk." Julia mempersilahkan Ben masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


Melihat Ben sekarang, Julia memandangnya hanya seperti sahabat lamanya.


"Rumah ini terlihat berbeda dengan saat kita masih menikah dulu Jul," kata Ben yang memperhatikan rumah Julia kini.


Semua perabotan telah diganti, cat temboknya pun telah berubah warna. Hiasan dinding dan pernak-pernik pemanis rumah pun semua telah berubah.


"Iya Ben, aku menggantinya."


Aku tidak ingin ada kenangan tentangmu lagi.


"Setelah berubah begini, terasa sangat nyaman," lanjut Ben.


"Masa' sih. Oiya, ada apa kamu datang Ben?" tanya Julia yang tidak ingin melanjutkan topik tentang rumahnya.


"Ehm ... Aku rindu bercerita denganmu Jul. Aku ingin tahu kabarmu," kata Ben yang matanya nampak sayu memandang Julia.


"Kamu terlihat bahagia Jul, aku jadi lega dan bahagia," kata Ben masih memandangi wajah Julia.


"Tentu saja aku bahagia Ben. Kamu juga kan?" tanya Julia.


"Jul, kamu dan Karel sekarang menjalin hubungan spesial?"


"Ya begitulah."


"Kapan kamu akan menikah?" tanya Karel menelisik.


"Haha ... Aku belum tahu Ben, tapi semoga tahun depan. Memangnya kenapa?"


"Karel pria yang baik. Semoga kamu bahagia Jul," kata Ben tersenyum di sudut bibirnya.


"Ben, kamu baik-baik saja?" tanya Julia yang kini penasaran karena Ben mengalihkan pembicaraan saat menanyakan tentang dirinya.


"Aku baik Jul."


"Kamu bahagia kan Ben?" tanya Julia lagi.


"Ehm ... Aku tidak tau Jul, bagaimana mengukur kebahagiaan itu," kata Ben yang matanya terpejam sekarang.


"Maksudnya? Kamu dan Nadine terlihat bahagia."


"Kamu tau darimana?" Ben malah bertanya.

__ADS_1


"Haha ... aku juga tidak tau sih, hanya saja kan dari dulu kamu hanya mencintai Nadine," kata Julia sarkastik.


Entah mengapa sekarang mengatakannya menjadi mudah, tidak ada beban sama sekali di hati Julia.


Ia memang tahu jika di hati Ben, hanya nama Nadine lah yang ada disana.


"Julia, maafkan aku dulu ya," kata Ben yang terdengar penuh penyesalan.


"Ben, sudahlah ... Semua telah berlalu, jangan minta maaf lagi." Julia tersenyum mantap, hatinya ternyata telah berubah. Ben hanyalah sahabat lamanya.


"Baiklah."


"Ben, kamu bahagia kan? Ada apa denganmu?" tanya Julia yang penasaran.


"Aku malu untuk menceritakan padamu."


"Ayolah ceritakan saja, katanya tadi mau bercerita," kata Julia sedikit memaksa.


"Jul, kenapa ya Nadine sangat berbeda denganmu? Ternyata dia tidak sebaik yang aku pikir," kata Ben yang matanya menerawang menatap langit-langit rumah Julia.


"Tentu saja setiap orang berbeda. Memang kata orang, pacaran dan menikah sangat berbeda. Setelah menikah barulah ketahuan pribadi yang sebenarnya." Julia sedikit bingung bagaimana menanggapi Ben yang kini tampak kekecewaan di raut wajahnya.


"Iya aku tahu, tapi kamu yang kukenal sebelum dan setelah menikah sama saja Jul."


"Haha ... Itu sudah jelas Ben, tentu saja sama kan kita memang sahabat walaupun saat kita masih menikah dulu." Julia kini bisa tertawa, menertawakan pernikahannya dengan Ben dulu.


Tapi Ben malah terdiam dan seakan menyesal melihat Julia yang masih tertawa di depannya.


"Ben ... harusnya kamu ikut tertawa dong. Sekarang rasanya lucu ya, kita dulu menikah hanya seperti sahabat yang tinggal bersama." Julia masih tertawa.


"Jul, maaf ya."


"Ben, kamu kenapa sih? Aku bingung sendiri. Memang Nadine sudah melakukan apa padamu?" tanya Julia yang benar-benar sangat penasaran saat ini.


"Nadine ... Nadine ... Dia telah membohongiku," kata Ben sedih.


Julia hanya diam dan menunggu Ben melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.


"Ternyata Nadine sudah tidak suci saat menikah denganku," kata Ben dengan suara lirih.


"Tapi jika kamu mencintainya kan semua itu bukan hal yang penting." Julia bingung akan mengatakan apa.


Bukankah hal seperti ini tidak pantas untuk diceritakan walaupun pada sahabat?


"Entahlah Jul, tapi seharusnya Nadine memberitahukannya dulu padaku. Aku benar-benar kecewa Jul. Dan ternyata selama putus denganku dulu, saat dia menghilang itu, dia menjadi istri kedua," jelas Ben dengan kekecewaan yang sangat nampak di wajahnya.


-


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2