Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Bulan Madu Part 1


__ADS_3

Esok harinya, Julia dan Ben bersiap terbang ke Bali untuk berbulan madu.


Sesampainya di Bali, mereka langsung menuju villa di Ubud. Bulan madu ini adalah hadiah pernikahan dari Papa Bayu dan Mama Devi, orang tua Julia.


Saat sudah berada di kamar, Julia membereskan barang bawaannya. Begitu juga dengan Ben. Mereka akan menginap selama tiga hari. Selanjutnya mereka akan menginap lagi di Uluwatu selama tiga hari juga.


Makan siang sudah disediakan, Ben mengajak Julia untuk makan.


"Jul, setelah ini kamu mau istirahat di villa atau mau jalan-jalan?" tanya Ben sambil meminum jus jeruknya.


"Aku mau istirahat sebentar lalu berenang saja Ben," kata Julia mengedarkan pandangannya ke kolam renang yang airnya sangat jernih.


"Baiklah, aku ikut kamu," saut Ben menyelesaikan makan siangnya.


Menjelang sore, Julia berenang bersama Ben. Rasanya sangat menyenangkan bisa berlibur seperti ini. Ya ... Julia menganggapnya ini hanyalah liburan bersama Ben dan bukanlah bulan madu pernikahannya.


Julia terus menata hati dan akan berusaha membiasakan diri jika hubungannya dengan Ben adalah sahabat dalam ikatan pernikahan.


Aneh??? Demikian pun Julia, ia merasa dalam situasi yang aneh. Entah nasib apa yang akan membawanya dalam pernikahan ini, namun Julia berusaha menerimanya.


Julia bolak balik mengitari kolam renang yang tidak seberapa besar namun airnya sangat menyegarkan.


Sementara Ben hanya duduk bersantai di pinggir kolam renang mengamati Julia sambil makan buah-buahan yang disediakan pelayan villa.


"Ben! Kamu nggak berenang?" teriak Julia dari seberang kolam renang.


"Iya, nanti dulu," saut Ben sambil makan buah-buahan hingga tidak bersisa.


Setelah itu Ben berenang menghampiri Julia.


"Jul, nanti malam kita mau kemana?" tanya Ben.


"Malam ini kita istirahat di villa saja ya. Besok kita baru jalan-jalan sekalian mencoba kuliner di sini," kata Julia.

__ADS_1


"Oke, terserah kamu saja," saut Ben kembali masuk ke dalam air untuk berenang dan menyegarkan kembali tubuhnya.


Makan malam itu ditata dengan apik oleh pelayan villa. Candle light dinner dengan suasana romantis.


Ben dan Julia sangat menikmati makan malam itu. Hidangan yang disuguhkan sangat mengundang selera, pun dengan suasana yang membuat siapapun akan betah berlibur di villa ini.


"Julia, aku ingin membahas sesuatu dalam perjanjian pernikahan kita," kata Ben setelah selesai menyantap hidangan utama.


Sementara Julia yang mendengar Ben, sedang meminum teh hangatnya.


"Apa lagi?" tanya Julia malas.


Julia merasa enggan membahas segala hal tentang pernikahannya karena hanya akan menimbulkan luka di hatinya.


"Hem ... Kemarin kan aku bilang jika kita adalah sahabat dalam ikatan pernikahan. Aku akan memberimu nafkah lahir tapi untuk batin aku belum bisa," kata Ben menjelaskan hal yang sudah diketahui Julia.


"Iya aku ingat Ben. Apa lagi yang ingin kamu bahas?" tanya Julia memandang Ben malas.


"Julia, aku tahu kamu cinta aku tapi kamu tahu kan jika aku belum mencintaimu sepenuhnya? Aku akan mencoba sekeras mungkin untuk mencintaimu dalam waktu 5 tahun. Jika setelah 5 tahun aku tetap belum mencintaimu, kuharap kita jalan masing-masing saja untuk mencari kebahagiaan kita sendiri," jelas Ben yang membuat Julia terkejut.


Tapi sekarang? Ben sangat berubah. Di mata Julia saat ini, Ben memandang dirinya sangat rendah seperti pengemis cinta.


Tak terasa air mata menumpuk di bola mata Julia, hanya sekali kedip maka air mata itu akan menetes dengan deras.


Julia mengerjapkan matanya. Ia tidak boleh menangis saat ini. Jika menangis, maka pikirannya akan kacau dan ia hanya akan semakin tak berharga di mata Ben.


"Ben, terus terang aku kecewa padamu. Seharusnya kamu mengatakannya sebelum kita menikah! Jika tahu ini yang kau rencanakan, aku tidak mungkin melangkah dalam pernikahan seperti ini! Lima tahun? Aku tidak akan menunggu selama itu. Aku beri kamu waktu tiga tahun. Jika dalam tiga tahun kita gagal, ya ... apa boleh buat?!" kata Julia menahan emosinya sekuat tenaga.


"Tiga tahun waktu yang singkat Jul!" saut Ben dengan suara datar.


"Lalu kau pikir aku akan menunggu hingga lima tahun! Umurku sudah 30 tahun kalau begitu. Aku bisa jadi perawan tua Ben!" saut Julia sengit.


"Bagaimana kalau empat tahun?" kata Ben menawarkan.

__ADS_1


"Ya ampun Ben ... Kita ini deal apa sih?" kata Julia menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


"Julia, maafkan aku. Baiklah aku akan minta waktu tiga tahun," kata Ben akhirnya mengalah.


"Ingat ya Ben. Tiga tahun! Jika kita masih dalam situasi seperti ini, aku yang akan pergi dari kamu dengan iklas. Mengerti?!" ancam Julia lalu berdiri dan berlalu masuk ke dalam kamar.


Julia menutup pintu kamar dan mengatur nafasnya yang memburu. Emosi terasa ada di ubun-ubun kepalanya.


Baru menikah sehari sudah membuatku emosi. Ben sepertinya sudah gila. Dan jika berlama-lama hidup bersamanya mungkin aku bisa gila juga.


Rutuk Julia dalam hati.


Rasa sedih digantikan rasa marah yang meluap dalam diri Julia. Pernikahan yang sudah direncanakannya telah berantakan. Belum-belum Julia sudah ragu apakah dia sanggup menjalani ini semua selama tiga tahun.


Malam itu Julia naik ke tempat tidur terlebih dahulu. Dia tidak mau menunggu Ben yang hingga larut malam belum kembali ke kamar. Entah Ben dimana saat ini, Julia tidak mau memperdulikannya.


Dengan kepala yang terasa berdenyut, Julia berusaha tidur. Dan malam itu saat Ben masuk ke dalam kamar, Julia tidak mengetahuinya karena dia sudah terlelap di alam mimpi.


Ben memperhatikan Julia yang tidur di sebelahnya. Hati dan pikirannya kacau. Ben merasa bersalah telah membuat Julia menikahinya. Seharusnya dia tidak menyeret Julia dalam kekecewaannya terhadap Nadine yang saat ini pun masih mengisi hatinya.


"Maafkan aku Julia," kata Ben sangat lirih.


Tangannya menyentuh anak rambut Julia yang menutupi pipi Julia.


Ben mendesah panjang, merasa jika ia telah menyakiti hati Julia, sahabat tersayangnya.


"Aku akan berusaha memberikan hati dan cintaku untukmu Jul," kata Ben lirih lalu mencium kening Julia lembut, takut Julia akan terbangun.


Julia sedikitpun tidak bergerak karena ia tertidur lelap.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2