
Julia dan Ben saling berpandangan tanpa kata. Masing-masing berusaha mencari jawaban dari mata yang seperti jendela hati. Keduanya tidak menyadari ada seseorang yang berjalan menghampiri keduanya.
"Halo Ben, Julia ... Lama kita tidak berjumpa."
Julia dan Ben seketika terkejut dan refleks menengok ke arah sumber suara.
"Nadine?" teriak Julia tertahan.
Sementara Ben hanya terdiam, benar-benar terkejut melihat kemunculan Nadine yang tiba-tiba.
Nadine masih berdiri dan hanya tersenyum. Matanya lebih fokus menatap Ben daripada Julia.
"Silahkan duduk, Nadine," tawar Julia sambil berdiri dan menggerakkan kursi untuk Nadine tempati.
"Terima kasih Jul. Tapi apakah aku akan mengganggu?" tanya Nadine basa-basi karena ia sudah duduk diantara Julia dan Ben.
"Tentu saja tidak," saut Julia tersenyum tulus.
"Bagaimana kabarmu Nad? Kemana kamu pergi selama ini?" tanya Ben.
Wajah Ben terlihat kaku, seperti masih ada sisa kemarahan disana. Padahal sudah lebih dari setahun Ben dan Nadine putus, namun sepertinya masih ada hal yang belum terselesaikan diantara mereka.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya ini makan malam istimewa untuk kalian berdua. Ada acara apa nih?" tanya Nadine mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya.
Ben hanya terdiam seolah tidak mau menjawab pertanyaan Nadine. Julia melihat Ben untuk meminta pertimbangan namun Ben terlihat tidak perduli.
"Ehm ... Nadine, aku dan Ben merayakan satu tahun pernikahan kami," kata Julia akhirnya.
"Hah?! Kalian berdua menikah?" Nadine tampak terkejut sekali. Tidak menyangka jika persahabatan antara Julia dan Ben menjadi sebuah ikatan pernikahan.
"Benar Nadine. Saat akan menikah setahun yang lalu, aku berusaha menghubungi kamu untuk memberi tahu tentang pernikahan ini namun semua aksesmu tertutup. Aku tidak berhasil menghubungimu," jelas Julia yang merasa tiba-tiba tidak enak hati.
Entah mengapa dirinya merasa telah merebut Ben dari Nadine. Sedangkan Ben tidak membantunya sama sekali dan seolah tidak perduli.
"Benar Julia, aku pindah ke Palangkaraya dan mengganti nomor ponsel juga menutup semua sosial mediaku. Aku hanya ingin menenangkan diri dan memulai hidup dari awal lagi," kata Nadine menjelaskan tentang dirinya selama ini.
"Lalu mengapa sekarang kamu kembali?" tanya Ben dengan sorot mata tajam kepada Nadine.
__ADS_1
"Ehm ... Aku ... Maaf aku harus pergi sekarang." Nadine tiba-tiba berdiri dan berjalan tergesa meninggalkan Julia dan Ben yang hanya terbengong melihat kepergian Nadine.
Julia ingin berteriak memanggil Nadine, tapi suasana resto yang tenang membuat Julia enggan berteriak.
"Aku kejar Nadine dulu Ben," kata Julia yang sudah bersiap berdiri.
"Tidak usah Jul! Biarkan saja. Lagipula siapa Nadine itu?." Ben melarang Julia dan berkata dengan tidak perduli.
"Tapi Ben ... Aku merasa tidak enak hati," kata Julia gusar.
"Untuk apa? Salah dia sendiri kan? Lagipula dia sudah merusak acara kita malam ini." Masih terlihat sisa-sisa kemarahan dalam nada suara Ben.
Julia menghela nafas dalam, menenangkan dirinya akan kejutan malam ini. Julia pun patuh untuk tidak mengejar kepergian Nadine, walaupun sebenarnya dia sangat penasaran.
"Julia, jika memang Nadine ingin bertemu aku atau kamu, aku yakin dia pasti yang akan menghubungi kita. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Nadine hanyalah kepingan masa lalu," kata Ben menenangkan.
"Iya Ben," kata Julia tersenyum.
Julia dan Ben masih tinggal di resto untuk beberapa saat sebelum mereka pulang kembali ke rumah.
Selama perjalanan pulang, Julia terus memperhatikan Ben yang tampak menjadi pendiam.
Julia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Takut dengan imajinasinya yang malah mengarah hal yang negatif.
Julia pun merasa gundah akan kedatangan Nadine yang tiba-tiba. Entah apa tujuan Nadine muncul di acara ulang tahun pernikahannya.
Tapi jika Ben benar, maka tidak lama lagi pasti Nadine akan menghubunginya.
***
Malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Julia tidur di sebelah Ben dengan tenang. Tidak ada ciuman ataupun hubungan selayaknya suami istri.
Julia iklas menerimanya jika memang Ben belum siap menerima dirinya. Namun malam ini ingatan Julia melayang-layang.
Selama setahun ini, Ben tidak pernah memperlakukan dirinya dengan istimewa. Apakah memang sesulit itu untuk menerima dan mencintai dirinya? Tak terasa air mata Julia pun menetes, merasa kasihan dengan dirinya sendiri.
Entah sampai kapan Julia akan sanggup bertahan.
__ADS_1
Pagi hari telah menjelang. Masih ada sisa-sisa kesedihan di wajah Julia pagi ini. Matanya pun terlihat sedikit bengkak tapi Julia menutupinya dengan rambut sehingga jika tidak diperhatikan betul-betul, tidak akan ada yang tahu jika semalam dia menangis.
"Jul, apa rencanamu hari ini?" tanya Ben masih tiduran di samping Ben.
Karena ini hari Minggu, maka Julia dan Ben masih bersantai dan tidak terburu-buru pergi bekerja.
"Mungkin hari ini aku mau pulang sebentar ke rumah Mama Devi. Aku kangen Mama," kata Julia.
"Baiklah, nanti aku antar ya," Ben menawarkan.
"Tidak usah Ben, bukankah hari ini kamu ada janji dengan teman-temanmu?" Julia mengingatkan.
"Oh iya benar. Tapi reuni ini nggak penting Jul."
"Jangan Ben, kamu harus tetap datang ke reuni. Setelah selesai reuni, kamu ke rumah Mama ya. Aku akan menunggumu," kata Julia agar Ben tetap datang reuni.
Sebenarnya Julia hanya ingin sendiri pulang ke rumahnya. Ingin sekali bercerita permasalahannya pada Mama tersayangnya. Julia merasa harus bercerita pada seseorang untuk menumpahkan kesedihannya saat ini.
"Baiklah jika itu maumu. Kamu naik taksi saja ke rumah Mama, jadi pulangnya nanti aku jemput," kata Ben kemudian.
"Oke," saut Julia.
Ben dan Julia bersiap untuk pergi hari ini walaupun dengan tujuan yang berbeda. Ben pergi terlebih dahulu untuk mengikuti reuni sahabatnya semasa kuliah dulu.
Siangnya, Julia mengambil ponsel untuk memesan taksi ketika ada suara bel pintu berdering di rumahnya.
Siapa sih itu yang datang? Sudah mau pergi juga. Gerutu Julia dalam hati. Enggan rasanya membukakan pintu rumahnya.
Julia akhirnya membuka pintu.
Ceklek
"Halo Julia, selamat hari Minggu," sapa Karel dengan wajah ceria dan senyum lebarnya.
"Ya ampun, Karel?! Kamu mau apa kesini?" tanya Julia yang terkejut melihat Karel datang ke rumahnya.
-
__ADS_1
-
-