Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Karena Bersamamu


__ADS_3

"Ayo makan dulu, Jul ... Jangan hanya dilihati saja," kata Theo.


Julia memandangi berbagai hidangan mewah di depannya. Makan siang di balkon villa milik Theo ini memang sangat nyaman.


Dari sini, Julia bisa bebas memanjakan matanya dengan pemandangan hijau yang terhampar di depan matanya.


Letak villa ini memang berada di lereng pegunungan, sehingga Julia bisa melihat pemandangan di bawahnya yang indah. Udara sejuk pegunungan dan suasana yang tenang, membuat siapa saja yang berada disini akan merasa betah.


Namun berbeda dengan Julia ....


Saat ini ia tidak bisa sepenuhnya menikmati apa yang ada di depan matanya. Tempat yang indah, suasana yang nyaman dan hidangan mewah di depannya, tak membuat ia betah berada disini.


"Jul, ayolah makan. Atau mau aku suapi?" tanya Theo sekali lagi yang membuat lamunan Julia buyar seketika.


Ia menatap Theo terkejut.


"Iya, aku makan," saut Julia cepat.


"Nah gitu dong, aku sudah menyiapkan semua menu ini. Sayang kalau nggak dimakan," kata Theo sambil mengambil ikan gurami asam manis.


Julia hanya tersenyum simpul. Ia pun akhirnya mengambil nasi dan udang balado yang berada dekat dengan jangkauan tangannya.


Julia dan Theo menikmati makan siang dalam diam. Mereka sibuk dengan pikirannya yang mengembara entah kemana.


Selesai makan, Theo memperhatikan Julia yang sedari tadi nampak gelisah.


"Jul, daritadi kamu diam saja, seperti takut akan aku lahap," kata Theo yang berusaha mencairkan suasana.


"Haha masa' sih, Theo. Aku biasa saja kok."


"Tapi kenapa wajahmu gelisah begitu?" tanya Theo lagi.


"Aku hanya memikirkan suamiku."


"Oh ... Siapa namanya?"


"Karel. Aku ingin suatu saat pergi kesini dengan suamiku," kata Julia tersenyum.


"Bukankah akhir Minggu kalian libur? Suamimu tidak pernah mengajakmu jalan-jalan?"


"Pernah sih, tapi kalau akhir Minggu biasanya kami pergi ke rumah orang tuaku atau mertuaku," jelas Julia.


"Suamimu sering pergi ke luar kota?" selidik Theo.


"Ehm ... Enggak sering banget sih. Mungkin sebulan sekali kalau nggak salah. Kenapa?" tanya Julia.


"Ehm ... Bukannya aku mau membuat kamu tidak percaya suamimu, tapi jangan terlalu percaya pada laki-laki. Hanya itu nasehatku," kata Theo dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Tapi aku yakin suamiku dapat dipercaya." Julia berkata tegas, yakin pada kata hatinya.


"Haha ... Sudah aku bilang, aku hanya memberimu nasehat. Bukan aku membicarakan kalau suamimu tidak dapat dipercaya," kata Theo tergelak.


"Iya aku tahu. Lalu istrimu bagaimana? Dia sering pergi juga?" Julia bertanya balik.


"Sudahlah, kan kita tadi sepakat tidak membicarakan rumah tangga kita masing-masing," kata Theo berusaha mengelak.


"Lalu kenapa tadi kamu tanya tentang suamiku?!" Julia merasa geram.


"Kan kamu sendiri yang mau bercerita. Sedangkan aku tidak mau membicarakan istriku."


"Curang sekali kamu, Theo. Terserahlah."


"Jul, apakah kamu benar-benar mencintai suamimu?" tanya Theo lagi.


"Katanya jangan membicarakan rumah tangga," saut Julia melengos.


"Aku hanya penasaran, aku kira cintamu hanya untuk Ben selamanya. Jika tahu begini, dulu aku nggak akan melepasmu," kata Theo yang kini menatap mata Julia.


Julia cepat-cepat memalingkan wajahnya melihat pemandangan hijau disekitarnya.


Ia tidak mau menatap mata Theo. Menghela nafas, Julia menenangkan dirinya.


"Entahlah Theo, tapi namanya cinta kan kita tidak bisa memilih. Seperti katamu kan," kata Julia tenang.


Julia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pagar. Ia merasakan semilir angin sejuk yang menerpa wajahnya. Seandainya Karel lah yang ada disini bersamanya, pasti ia akan merasa sangat senang.


Theo pun ikut berdiri di samping Julia.


"Ini villa milikmukah?" tanya Julia.


"Begitulah. Kenapa?"


"Hanya ingin tau saja. Villa ini sangat indah dan nyaman," kata Julia berterus terang.


"Tapi baru kali ini aku merasa bisa menikmatinya."


"Kenapa?" tanya Julia mengerutkan alis matanya. Merasa penasaran.


"Karena bersamamu, Jul." Theo kini menatap dalam mata Julia.


Julia terdiam, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung.


"Kau tahu Jul?! Setelah dulu kita putus hingga saat ini, sebenarnya aku belum bisa melupakan kamu. Semua hal tentangmu sudah aku buang jauh-jauh, namun hatiku selalu ada namamu." Theo berkata dengan wajah sedih.


Menghela nafas, Theo pun berusaha mengendalikan dirinya. Terkadang ia pun benci pada dirinya sendiri, mengapa ia tidak sanggup melupakan Julia.

__ADS_1


"Maafkan aku, Theo. Mungkin kita tidak berjodoh. Namun sekarang kan kamu sudah memiliki istri," kata Julia tersenyum berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Cindy? Ya ... Dia memang istriku. Tapi ...."


"Tapi kenapa?"


"Cindy dan aku dijodohkan dalam perjanjian bisnis yang saling menguntungkan, Jul. Cindy wanita yang baik, namun ia terlalu mencintai orangtuanya. Saat ini Cindy menemani papanya yang sedang menjalani pengobatan di luar negeri. Entah akan sampai kapan," jelas Theo.


"Mamanya Cindy?"


"Mamanya sudah lama meninggal. Bukannya aku tidak sayang pada mertua, namun terkadang Cindy berlebihan. Sering ia tidak memperdulikan aku, tapi jika papanya yang membutuhkan maka saat itu juga ia akan berada disamping papanya."


"Walaupun aku tahu seorang anak harus berbakti pada orang tua, namun sekarang kan kami sudah menikah. Aku ingin membangun sebuah keluarga yang harmonis dengan anak-anak yang meramaikannya. Aku sudah berusaha membuka hatiku untuk Cindy, agar aku bisa melupakanmu." Theo akhirnya mengatakan semua tentang hidupnya.


Julia terdiam mendengarkan setiap perkataan Theo. Ia pun bisa merasakan apa yang Theo rasakan karena ia pernah mengalami bagaimana sulitnya membangun sebuah keluarga.


"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan, Theo?" tanya Julia berhati-hati.


"Aku belum tahu. Mungkin aku akan menunggu," kata Theo yang matanya terlihat menerawang jauh.


"Kamu harus sabar, Theo. Mungkin butuh waktu untuk membangun cinta kalian."


"Aku tidak yakin karena hatiku selalu milikmu, Jul. Namun aku tahu kamu sudah menikah dan bahagia dengan pernikahanmu. Aku hanya ingin berbicara sebagai sahabat saja denganmu," kata Theo yang kini menampakkan senyum di wajahnya.


"Tapi lain kali jangan membuatku berada dalam posisi susah. Datang saja ke rumahku, kamu akan kukenalkan pada suamiku." Julia kini merasa lega karena ternyata Theo tidak memiliki motif yang akan menyusahkan dirinya.


Julia memandangi mata Theo, seolah ingin memberi kekuatan pada mantan kekasihnya dulu yang kini sedang bersusah hati.


Theo meraih tangan Julia, menggenggamnya erat.


"Terima kasih telah menjadi pendengar semua keluh kesah ku, Jul."


"Sama-sama, Theo."


Cekrek ... Cekrek ...


Sepasang tangan dengan lihai mengambil foto-foto yang terlihat sangat mesra bagi orang yang melihatnya.


Ia bersembunyi di balik pohon, mengabadikan momen Julia dan Theo yang berada di balkon. Bibirnya tersenyum senang, foto-foto yang ia ambil sangat memuaskan.


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2