Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Seorang Anak?


__ADS_3

Cerahnya mentari pagi membangunkan Julia dari nyenyak tidurnya semalam. Bangun pagi dengan Ben disampingnya menjadi hal yang sudah biasa bagi Julia.


Julia dan Ben telah menempati rumah baru. Setelah pulang dari bulan madu, Julia dan Ben segera menyiapkan rumah yang akan mereka tempati.


Ben telah membeli rumah di pinggiran kota sesaat sebelum pernikahannya dengan Julia.


Julia segera membeli perabotan dan menata rumah agar nyaman untuk ditempati. Dengan desain minimalis dan tidak banyak perabotan, kini rumah Julia dan Ben nampak asri dan nyaman untuk ditinggali.


Julia melemaskan otot-ototnya sebelum turun dari tempat tidur. Hari ini hari terakhir liburnya karena besok dirinya dan Ben sudah kembali bekerja.


"Mau ke mana Jul?" tanya Ben dengan suara serak menggumam dengan mata yang masih terpejam.


"Aku mau pergi ke pasar sebentar Ben. Kamu tidur lagi aja. Nanti jika aku sudah selesai menyiapkan sarapan, aku akan membangunkanmu," kata Julia lalu keluar dari kamar.


**


Selesai sarapan pagi itu, Ben mengajak Julia untuk berbelanja segala keperluan di rumah.


"Aku sebenarnya malas pergi keluar Ben. Hari ini ingin bersantai dulu di rumah karena kan besok kita sudah berangkat kerja," kata Julia yang sedang tiduran di sofa ruang keluarga.


"Ya sudah terserah kamu Jul," saut Ben.


"Besok sepulang kerja aku kan bisa mampir ke supermarket," kata Julia lagi.


Belum sempat Ben menjawab, terdengar suara ketukan di pintu rumah. Ben segera berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.


"Mama, Kak Bella ... "


"Sovia ... " Julia melihat anak Bella yang sekarang sudah menjadi keponakannya.


"Mama, Kak Bella," sambut Julia lalu memeluk Mama Tyas dan kakak iparnya.


Julia langsung menggendong Sovia yang selalu menggemaskan di mata Julia. Dengan penuh kasih sayang, Julia menimang-nimang keponakan kecilnya.


Mereka semua duduk bersantai di ruang keluarga ditemani camilan dan minuman jus yang dibawa Bella dari rumah.


"Jul, kamu suka sekali anak kecil. Semoga kamu dan Ben segera memilikinya sendiri ya," kata Bella yang memperhatikan jika Julia sangat sayang pada putri kecilnya.


"Mama tidak sabar menanti cucu dari kamu Jul," saut Mama Tyas tersenyum.


"Amin. Doakan ya Ma, Kak Bella," kata Julia sambil melirik Ben yang terdiam seolah cuek.

__ADS_1


"Ben! Kamu ingin punya anak kan?!" tanya Bella yang mengejutkan Ben.


"Ih bikin kaget aja. Sebenarnya aku dan Julia sudah sepakat untuk mempunyai anak tahun depan saja karena sekarang masih mengumpulkan tabungan dulu. Punya anak kan membutuhkan banyak biaya," jelas Ben.


Huh ... Bisa-bisanya Ben dengan santainya membuat keputusan sendiri. Sejak kapan ada kesepakatan tentang anak? Jangankan punya anak ... aku aja belum disentuhnya.


Julia meratap dalam hati. Selain sebal dengan pernyataan Ben, dirinya juga belum sepenuhnya mengerti apa sebenarnya keinginan Ben dalam pernikahan yang dibangunnya bersama Julia.


"Benarkah itu Jul?" tanya Mama Tyas mempertanyakan.


"Ehm ... iya Ma, aku hanya ikuti saja maunya Ben bagaimana," jawab Julia yang bingung hendak mengatakan apa.


"Loh ... kamu jangan ikuti semua kemauan Ben dong Jul! Ben itu nyebelin tau nggak sih?! Jika memang kamu sudah ingin memiliki anak, ya jangan menunda terlalu lama," kata Bella yang tidak mengerti akan keinginan Ben.


"Iya Kak Bella." Julia tersenyum menenangkan kakak iparnya yang mulai kelihatan emosi.


"Ben, kamu jangan menunda terlalu lama ya. Mama ingin menambah cucu," kata Mama Tyas.


"Iya Ma, semoga," kata Ben akhirnya. Tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan mengenai anak.


Mama Tyas, Bella dan Sovia berada di rumah Julia hingga sore hari. Setelah rumah sepi lagi, Julia duduk membuka ponselnya. Memeriksa pesan-pesan yang masuk. Julia melihat ada pesan dari Karel yang membuatnya penasaran ingin membacanya.


- Julia, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu di kantor. Jangan berprasangka salah ya karena aku menantimu untuk kembali bekerjasama denganku. Banyak proyek yang sudah menantimu. (Karel)


"Ada apa Jul? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ben yang kemudian duduk di samping Julia.


"Oh ini, teman kantor ingin aku segera berangkat kerja lagi," saut Julia tersenyum.


"Julia, aku ingin menanyakan sesuatu. Bolehkan?"


"Apa yang ingin kamu tanyakan Ben?"


"Jul, benarkah kamu menginginkan seorang anak?" tanya Ben hati-hati.


"Tentu saja Ben. Aku memang menyukai anak kecil, aku ingin punya banyak anak," Julia berkata santai.


"Hah! Banyak?"


"Iya, biar rumah jadi ramai," kata Julia senyum-senyum.


"Tapi kita kan ... " Ben enggan menyelesaikan kata-katanya.

__ADS_1


"Iya aku tahu Ben. Sudahlah, kita tidak usah membahas ini lagi. Biarlah semua terjadi dengan semestinya. Aku tidak akan memaksamu Ben. Kan kita sudah sepakat," kata Julia panjang lebar.


"Iya 2 tahun. Tapi aku merasa bersalah Jul."


"Ahaha ... kamu ini akhirnya merasa bersalah juga," Julia merasa senang melihat Ben yang terlihat salah tingkah.


"Ben, kita sudah sepakat. Kita jalani saja ya. Oke?!"


"Oke. Terima kasih Jul, kamu sangat pengertian," kata Ben memandangi Julia, yang kini sudah menjadi istrinya.


**


Pagi hari saat sudah tiba di kantor, Julia disambut rekan-rekan kerjanya dengan kegembiraan. Julia sangat senang karena ternyata teman-temannya menyanyanginya.


Julia membagikan oleh-oleh dari bulan madunya. Tak lupa Karel pun mendapat oleh-oleh juga.


"Terima kasih Jul. Aku nggak menyangka kamu ingat aku," kata Karel tersenyum saat menerima bungkusan dari Julia.


"Karel ... Sudah ah kamu ini banyak drama aja." Julia sudah hafal akan tingkah Karel, rekan kerja dan sahabatnya.


Julia dan Karel berpandangan geli. Namun ada tatapan mendamba di mata Karel, Julia pun tergesa-gesa mengalihkan pandangannya. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang.


"Yuk ah kita mulai bekerja. Katanya banyak tugas yang menantiku," kata Julia mengalihkan tatapannya dari Karel.


"Eh iya, yuk ke ruanganku. Aku akan memberi berkas-berkas yang harus kamu teliti," kata Karel akhirnya.


Karel memberikan setumpuk berkas pada Julia.


"Nih ... Cepat kerjakan ya," kata Karel santai.


"Ya ampun, sebanyak ini?" Julia hanya menggelengkan kepalanya melihat banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Julia pun akhirnya berbalik sambil menggerutu. Namun panggilan Karel membuatnya memutar kepalanya melihat Karel.


"Julia, aku senang kamu kembali. Aku merindukanmu," kata Karel lirih.


Untuk sesaat, terjadi keheningan diantara keduanya. Julia menatap mata Karel mempertanyakan apa maksud perkataannya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2