
Sinar mentari pagi masuk melalui celah jendela, menembus tirai yang masih tertutup rapat. Udara pagi yang sejuk perlahan menghangat seiring dengan sinar matahari yang menghangatkan bumi.
Suara kicau burung bagai nyanyian merdu di pagi hari. Julia meringkuk dalam selimut hangatnya, matanya masih enggan membuka. Namun otaknya mulai berputar.
Julia teringat jika hari Sabtu ini adalah hari kepindahannya ke rumah lama. Maka dengan semangat, Julia pun bangun dan segera membersihkan dirinya.
Julia membuat sarapan yang praktis. Sepiring nasi goreng dan telur ceplok sudah membuat perutnya kenyang.
Ia sangat bersyukur karena tidak mengalami mual ataupun keluhan-keluhan seperti layaknya awal masa kehamilan. Apalagi ngidam, Julia tidak merasakannya sama sekali.
Mungkin bayinya mengerti dan memahami kondisi Julia yang hidup sendirian saat ini.
Selesai sarapan, bel pintu terdengar. Julia pun berjalan menuju pintu depan.
Senyum seketika tersungging di bibirnya yang berwarna merah muda.
"Halo, Irfan," sapa Julia saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Halo, Jul. Apakah aku terlalu pagi?" tanya Irfan sedikit malu-malu.
"Enggak kok, malahan aku senang. Silahkan masuk," ajak Julia mempersilahkan Irfan.
"Terima kasih."
"Fan, kamu sudah sarapan?" tanya Julia memandu Irfan masuk ke dalam rumah.
"Sudah, tadi aku mampir ke warung makan dalam perjalanan kesini. Kamu sendiri?"
"Sudah, baru saja selesai."
"Kita mulai dari mana?" tanya Irfan saat melihat banyak barang yang sudah dikemas rapi berjejer di ruang tengah.
Hari ini Irfan berjanji akan membantu kepindahan Julia ke rumah lamanya.
"Irfan, bisa bantu aku mengangkat barang-barang yang di dalam kamar? Sebentar lagi mobil pengangkut akan datang." Julia memang sudah mempersiapkan semua barang yang akan dibawa pindah.
"Siap," saut Irfan tersenyum.
Tak lama mobil pengangkut pun datang, Irfan dengan sigap membantu. Julia dilarang untuk mengangkat barang-barang yang berat karena kondisinya yang sedang berbadan dua.
Ada juga 2 orang tukang yang membantu agar segera selesai.
Saat sudah selesai memasukkan semua barang ke mobil pengangkut, Julia berkeliling rumah untuk mengunci semua pintu.
Ia kembali merasakan kesedihan saat mengingat kenangan-kenangan indah bersama suaminya.
Julia membuang nafasnya panjang, ia harus kuat bertahan dan melanjutkan hidup seperti yang Karel inginkan.
__ADS_1
Setelah memastikan semua terkunci, Julia pun dengan langkah ringan keluar dari rumahnya. Ia telah siap menyambut kehidupan baru tanpa Karel disisinya.
Irfan terlihat menunggu Julia di dalam mobilnya. Julia memang akan bermobil bersama Irfan karena mobil Julia telah dibawa ke rumah lamanya.
"Jul, kita berangkat?" tanya Irfan saat Julia sudah duduk di dalam mobilnya.
"Iya."
Irfan pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka tidak terburu-buru.
"Jul, bagaimana kehamilanmu?" tanya Irfan memecah keheningan.
"Baik kok, Fan. Untung saja bayiku ini sangat mengerti keadaanku, aku tidak merasakan mual atau ngidam. Sangat pengertian kan?" Julia tersenyum sendiri mengingat betapa ia tidak merasa seperti ibu hamil.
"Syukurlah. Ehm ... Kapan-kapan kalau periksa ke dokter kandungan aku temani?" tanya Irfan lagi.
"Haha ... Tidak usah, Fan. Aku bisa sendiri kok. Kamu sudah banyak membantuku, aku sangat berterima kasih," saut Julia melemparkan senyumnya pada Irfan.
"Bantu apa sih, Jul. Sebenarnya aku ingin melihat bayi yang masih ada dalam kandungan. Pasti sudah terlihat lucu dan menggemaskan."
"Jika memang kamu ingin, bolehlah kapan-kapan menemani aku," kata Julia akhirnya.
Ia tidak keberatan ditemani Irfan, walaupun hubungan mereka hanyalah teman.
"Irfan, apakah akhir-akhir ini kamu bertemu Ben? Kemana ya dia, seperti hilang ditelan bumi?" tanya Julia.
Setelah pemakaman Karel dulu, memang Ben seperti menghilang. Bahkan Ben sama sekali tidak berkirim kabar pada Julia melalui telpon ataupun pesan.
"Nadine sakit apa sih, Fan?" tanya Julia terkejut. Tidak menyangka Nadine sakit serius karena selama ini, Julia tidak memperhatikan orang-orang sekelilingnya, karena ia pun sedang dirundung duka.
"Kamu ingat kan, saat Nadine dulu dirawat di rumah sakit? Aku tidak tahu sebabnya, tapi dokter menyarankan Nadine untuk mengangkat kandungannya. Namun Nadine bersikeras mempertahankan kandungannya, karena ia sangat ingin hamil. Nadine memaksa Ben untuk berobat ke negeri sebelah, berharap ia sembuh. Yang aku tahu hanya sejauh itu, kalau sekarang bagaimana, aku tidak tahu," jelas Irfan.
"Aduh, semoga Nadine tidak kenapa-kenapa. Kasihan dia, sangat ingin memiliki anak dari Ben."
"Kamu tidak berkomunikasi dengan Ben?" tanya Irfan lagi.
"Tidak. Selama ini aku tidak memperhatikan orang lain, kau tahu kan aku harus menata hidupku lagi?!"
"Iya, Jul, aku memahami."
Saat sudah sampai di rumah, Julia melihat Papa Mamanya sedang mengawasi barang-barang yang diturunkan dari mobil pengangkut.
Julia turun dari mobil bersama Irfan. Julia sangat senang memiliki orang-orang yang selalu menyayangi dan mendukungnya. Ia bersyukur memiliki orang tua yang selalu siap membantunya.
Hari telah menjelang malam, Julia sangat puas dengan kerja kerasnya hari ini. Semua perabotan dan barang telah ada ditempatnya sesuai dengan keinginan Julia.
Papa, Mama dan Irfan makan malam bersama di rumah Julia. Mama telah menyiapkan hidangan istimewa untuk merayakan kepindahan Julia di rumah ini.
__ADS_1
Selesai makan malam, Papa Mama pamit pulang terlebih dahulu. Julia memeluk dan berterima kasih karena bantuan yang sangat besar dari orang tuanya itu.
Setelah itu, Irfan pun juga pamit hendak pulang.
"Jul, yakin kamu berani tinggal sendirian?" tanya Irfan saat keduanya masih berdiri di teras rumah.
"Yakin lah, Fan. Kan aku sudah terbiasa tinggal sendiri. Terima kasih ya untuk semua bantuanmu hari ini."
"Ah bukan apa-apa, jangan terus berterima kasih. Oiya, Jul, apakah besok kamu ada acara?" tanya Irfan lagi.
"Besok nggak ada acara sih. Memang ada apa?"
"Jul, tolong temani aku menengok temanku yang baru saja melahirkan ya," pinta Irfan.
"Jauhkah tempatnya?" tanya Julia, karena ia malas jika bepergian jauh saat ini.
"Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar satu jam perjalanan."
"Ehm ... Baiklah, aku akan menanimu." Julia merasa tidak enak hati jika menolak karena Irfan telah banyak membantunya selama ini.
"Oke, besok aku jemput sore ya," saut Irfan senang.
"Oke."
Irfan masuk ke mobil dengan senyum di bibir yang tak ia tutup-tutupi. Hatinya senang karena Julia menerima ajakannya.
"Bye Jul, hati-hati di rumah. Jika ada apa-apa, jangan ragu menghubungi aku. Oke?!" pamit Irfan.
Julia mengangguk sebagai jawaban, tangannya melambai seiring mobil Irfan yang kian menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan matanya.
Masuk ke dalam rumah, Julia pun ambruk di sofa ruang tengah. Tubuhnya terasa sangat lelah. Setelah beristirahat selama beberapa saat, Julia pun bangkit.
Ia berjalan perlahan dan tangannya memegang sebuah kotak.
Kotak yang berisi semua kenangannya bersama Karel. Julia mengangkat dan membawanya ke kamarnya.
Diletakkannya kotak itu di atas lemari. Ia sudah merelakan kepergian suaminya dan akan tetap menyimpan semua kenangan indah bersama suaminya.
Julia pun merebahkan tubuhnya di ranjang, bersiap untuk tidur. Namun ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk.
Saat membukanya, dahi Julia mengernyit, ada pesan dari Ben.
Julia, maaf aku belum bisa menemanimu saat ini. Tapi tidak lama lagi, aku pasti datang. Tunggu aku dan kita akan bersama lagi.
(Ben)
-
__ADS_1
-
-