
Irfan memandangi kepergian Julia dan Ben. Matanya tidak bisa lepas hingga bayangan Julia dan Ben menghilang.
"Kak Irfan, siapa mereka?" tanya gadis di sebelahnya membuatnya kembali tersadar.
"Ehm itu ... itu, yuk kita duduk dulu," saut Irfan gelagapan.
"Hem pasti deh cemburu nih, haha." Gadis manis di sebelahnya malah tertawa geli.
"Karin, jangan bicara sembarangan. Yuk, duduk di pojok sana, pemandangannya bagus," ajak Irfan tidak menghiraukan Karina yang yang masih menertawainya.
Karina, adik sepupunya yang pagi ini datang dari luar negeri, memang membuat Irfan kerepotan. Bagaimana tidak? Karina menuntut Irfan menemaninya seminggu ke depan. Karina memang sangat manja, tapi Irfan sangat sayang karena ia tidak memiliki adik perempuan.
Irfan pun dengan senang hati akan memanjakannya selama Karina tinggal di rumahnya. Tapi saat tadi bertemu Julia setelah sekian lama tidak melihat Julia, mengapa ia merasa semakin jauh dari Julia?
"Kak, melamun terus ih! Tadi itu siapa? Cantik lho, mantan pasti," kata Karina yang ingin menggoda Irfan.
"Jangan banyak tanya gadis tengil." Irfan melengos.
"Haha ... kan bener. Atau Kak Irfan ditolak sama cewek tadi ya?"
"Ck ck ck, apa lagi ini. Sudahlah ayo kita makan, sudah lapar nih," kata Irfan mengalihkan pembicaraan, merasa tidak nyaman membahas Julia saat ini.
Sepanjang makan malam, Irfan seperti tidak menikmatinya, pikirannya kacau melihat kebersamaan Julia dan Ben.
Tapi bukankah selama ini ia menjauh dari Julia karena ia belum siap jika Julia menolaknya. Irfan seperti prajurit yang kalah sebelum berperang.
Ia mengutuki dirinya, mengapa tidak punya keberanian mendekati Julia. Ataukah cintanya tidak cukup besar untuk diperjuangkan?
"Kak Irfan? Kamu masih di sini kan?" tanya Karina sebal.
"Masih gadis tengil! Ada apa?"
"Fisikmu memang di sini, tapi hati dan jiwamu entah di mana," kata Karina tertawa geli.
"Karin, kamu mau tambah lagi?" tanya Irfan mengalihkan pembicaraan lagi.
"Kak, aku ini sudah bukan gadis kecil lagi. Apa Kakak ingin bantuanku buat mendapatkan wanita tadi? Siapa namanya?"
"Julia. Memang apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Irfan malas, tidak tertarik dengan ide dari adiknya yang sok tahu.
"Oh namanya Julia." Karina manggut-manggut.
"Kamu mau apa memangnya?"
"Apa Kak Irfan tadi nggak bisa lihat kalau Julia itu sepertinya cemburu deh waktu lihat Kakak sama aku?" tanya Karina serius.
__ADS_1
"Cemburu? Sama aku dan kamu? Nggak mungkin lah, dia pasti sudah mengira kalau kamu itu adikku," kata Irfan tak percaya.
"Kan bener, cowok itu sama aja di mana-mana. Nggak peka. Huh aku udah hafal," kata Karina sewot sendiri.
"Kamu yakin kalau tadi Julia cemburu? Kalau begitu setelah ini aku mau ke rumahnya, jelasin kalau kamu itu hanya adik sepupuku saja." Irfan terlihat kebingungan.
"Kan ... Cowok itu bukan hanya nggak peka, tapi juga kalau sudah dibutakan cinta kayak jadi sedikit bodoh."
"Heh gadis tengil, apa katamu?!" Irfan bukan marah, tapi hanya tidak mengerti maksud Karina.
"Kak Irfan, seharusnya dari dulu itu Kakak konsultasi sama aku, ahli percintaan khususnya bagaimana membaca hati seorang wanita," kata Karina yang makin menggoda Irfan.
"Haiss, nggak percaya. Kamu aja jomblo akut," kata Irfan geli sendiri.
"Kak, ini bukan sedang membahas aku ya. Sekarang kita kembali ke pokok masalahnya. Menurutku tadi aku beneran lihat Julia itu cemburu. Terus siapa cowok kece yang bersama Julia tadi?"
"Kalau kamu yakin Julia memang cemburu, terus aku harusnya bagaimana?" Irfan bertanya balik.
"Kak, cowok kece yang bersama Julia tadi siapa?" Karina masih terus bertanya.
"Namanya Ben. Dia itu juga cinta sama Julia."
"Kan bener, Kak Irfan cinta Julia. Sekarang kita bikin rencana yang oke yuk biar cinta Kak Irfan tidak bertepuk sebelah tangan," kata Karina serius.
"Kak Irfan, kita buat Julia semakin cemburu yuk biar Kakak yakin kalau Julia itu juga cinta sama Kakak," kata Karina meyakinkan.
"Aku nggak tega kalau benar Julia cemburu. Aku itu nggak ingin membuat Julia sedih," kata Irfan.
"Cie ... yang terlalu cinta. Bukan itu maksudku Kakakku yang bucin. Sementara selama seminggu ini aku di sini, jangan bilang kalau aku ini adikmu."
"Lah bohong dong namanya," saut Irfan.
"Ya bukan bohong juga, cuma nggak kasih tahu aja. Beda kan?!" Karina berusaha meyakinkan.
"Sama aja itu, Karin. Aku nggak tega, nanti Julia kecewa," kata Irfan.
"Hadeh ... emang susah bener ngomong sama bucin," kata Karina geleng-geleng kepala.
"Menurutmu ini akan berhasil?" tanya Irfan setelah beberapa saat berpikir.
"Pasti!" Karina tersenyum lebar, ia akan memastikan rencananya berhasil. Karina memang sangat sayang pada Irfan, ia juga ingin melihat Irfan bahagia.
"Kak, nanti kalau Julia benar cemburu, berarti udah jelas, dia pasti juga cinta Kakak," kata Karina.
"Oke, tapi kalau sampai gagal, awas kau!" Irfan menjitak kepala Karina.
__ADS_1
"Sakit, Kak," teriak Karina mengusap-usap kepalanya.
"Kak Irfan, nanti kalau berhasil, kasih aku hadiah ya," ucap Karina lagi.
"Hadiah apa lagi? Terserah lah, tapi jangan yang aneh-aneh."
"Asiap ..... " Karina tersenyum dalam hati, ia sudah menentukan hadiahnya.
***
"Julia, kamu kenapa melamun?" tanya Ben saat melihat Julia terus memandangi jendela mobil selama perjalanan pulang.
"Eh enggak kok Ben, mungkin aku capek aja," saut Julia.
"Hadiah ulang tahunku jangan terlalu kamu pikirkan. Kan kamu adalah hadiah buat aku," kata Ben tersenyum.
"Haha kamu ini suka banget becanda, Ben. Kita langsung pulang kan?" tanya Julia, ia merasa kacau dan ingin segera pulang. Entah kenapa sejak tadi saat melihat Irfan bersama seorang gadis, hatinya terasa perih.
Berbagai skenario melintas di kepala Julia, mengatakan jika gadis itu adik Irfan. Tapi yang Julia tahu, adik Irfan adalah seorang cowok.
Memikirkannya membuat Julia makin gelisah, ia tak sabar ingin cepat sampai di rumah. Julia hanya ingin menenangkan dirinya.
Setelah sampai di rumah, Ben ingin mampir ke rumah Julia karena masih ingin bermain dengan Arka.
"Yah ... Arka sudah tidur," kata Ben terlihat kecewa saat melihat Arka tidur pulas di box nya.
"Memang sudah waktunya dia tidur, Ben." Julia pun merasa sedih karena sore ini belum sempat bermain dengan anaknya.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu saja, Jul. Tapi mungkin besok 2 hari ke depan aku nggak ke sini dulu, ada tugas ke luar kota," ucap Ben sambil berjalan keluar rumah Julia.
"Nggak apa-apa, Ben."
"Sampai ketemu lagi, Jul. Jangan lupa rindukan aku dan mimpiin aku ya," kata Ben pamit lalu menjalankan mobilnya menjauhi rumah Julia.
Julia tersenyum sendiri, terkadang Ben membuatnya terhibur. Setelah masuk ke dalam rumah, Julia membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur.
Rasa lelah akan aktivitasnya seharian ini, tak membuatnya bisa segera tidur. Pikirannya melayang pada pertemuannya tadi dengan Irfan di resto.
Entah kenapa rasa cemburu di hatinya tidak dapat ia tepis. Setelah sekian lama tidak bertemu membuat hatinya rindu. Ia merindukan sosok Irfan yang dewasa, sabar dan juga tangannya selalu terbuka untuk melindungi dirinya. Dan akhirnya Julia tersadar, ia telah jatuh cinta.
-
-
-
__ADS_1