Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Aku Melepasmu


__ADS_3

Julia menyetir mobilnya pelan-pelan. Hati-hati menyusuri jalanan yg macet malam itu. Julia menenangkan pikirannya yang kacau sepulang dari Coffe Shop bertemu Nadine.


Julia merasa gagal membujuk Nadine untuk kembali menjalin hubungan dengan Ben.


Tanpa disadari, Julia mengarahkan mobilnya menuju rumah Ben. Dia ingin menceritakan pertemuannya dengan Nadine secara langsung.


Sesampainya di rumah Ben, Julia menghentikan mobilnya lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


Julia menekan nomor ponsel Ben dan menunggu hingga terdengar suara Ben yang menyahut.


- "Halo Julia."


- "Halo Ben. Kamu sekarang ada di rumah?"


- "Iya, ada apa Jul?"


- "Sekarang aku ada di depan rumahmu. Boleh aku datang?"


- Tentu saja. Cepatlah masuk!"


Terdengar Ben menutup ponselnya.


Julia keluar dari mobil lalu berjalan ke rumah Ben.


Terlihat Ben sudah membukakan pintu bahkan sebelum Julia menginjakkan kakinya di teras rumah.


"Julia, ayo masuk. Tadi nggak usah menelpon, langsung masuk saja. Kamu ini seperti orang lain saja," kata Ben kesal saat melihat Julia.


"Kan aku mengira kamu belum tentu ada di rumah," Julia berkelit memberikan alasan.


Ben mengajak Julia masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


"Papa Mama kamu ke mana Ben? Rumah sepi sekali," Julia bertanya sambil melihat keadaan sekitar rumah yang terasa lengang malam itu.


"Papa Mama ke rumah Kak Bella. Biasalah ... Kangen cucu katanya," sahut Ben.


"Ada apa Jul? Tumben sekali kamu datang ke sini, malam-malam lagi," tanya Ben setelah melihat Julia yang hanya terdiam.


"Ehm ... Kamu ingat kan kalau sore tadi aku bertemu dengan Nadine?" Julia balik bertanya.


"Iya aku ingat. Tapi aku sudah pasrah Jul," Ben berkata lalu menyandarkan tubuhnya dengan malas.


"Ben, tadi Nadine bilang jika sebenarnya dia tidak pernah berselingkuh," ucap Julia hati-hati.


"Ah! Lalu kamu mempercayainya?"


"Aku lihat Nadine jujur Ben. Dan dia masih cinta denganmu. Sepertinya Nadine hanya sakit hati karena kamu terus cemburu padanya dan bagi Nadine, sikapmu bisa dibilang posesif," ungkap Julia menyampaikan apa yang Nadine katakan sore tadi.


"Nadine bilang aku posesif? Huh ... Sudahlah Jul! Biarkan aku dan dia putus. Nadine itu memang tidak bisa dipercaya," kata Ben meluapkan emosinya.


"Aku jadi bingung sendiri. Ah ya sudahlah. Jika kalian berdua memang sama-sama ingin putus, berarti tugasku untuk menyatukan kalian sudah selesai," kata Julia putus asa melihat Ben dan Nadine yang menurutnya sama-sama keras kepala.

__ADS_1


Julia dan Ben terdiam cukup lama. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Kemudian Ben dululah yang memecah kesunyian diantara mereka.


"Julia, lalu bagaimana dengan Theo? Apa kamu sudah berbaikan dengan dia?" tanya Ben penasaran.


"Belum. Sejak kemarin nomor ponselku diblokir sama dia. Biarkan sajalah, nanti kalau Theo sudah bisa menenangkan dirinya pasti dia dululah yang akan menghubungi aku," kata Julia yang sebenarnya enggan membicarakan masalahnya.


"Julia, seharusnya kamu jangan berdiam diri. Kamu datangi rumahnya saja dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan malah kamu diam saja begini," Ben menasehati.


"Baiklah, besok aku akan menemui Theo," kata Julia akhirnya.


"Ya begitu dong ... Jelaskan jika diantara kita tidak ada apa-apa dan kita hanyalah sahabat seperti dulu," kata Ben.


"Tapi bagaimana kamu dengan Nadine? Aku merasa tidak tenang jika masalahmu belum selesai," kata Julia merasa kuatir.


"Memang harus bagaimana lagi? Aku dan Nadine sudah putus. Ya sudah! Berarti kami tidak berjodoh."


"Kamu yakin bisa menerimanya?" tanya Julia lagi.


"Aku yakin Jul. Walaupun aku cinta Nadine, tapi jika kami tidak berjodoh mau apa lagi. Sudahlah. Aku akan berusaha melupakan Nadine," kata Ben mantap kali ini.


"Jika memang itu keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu," kata Julia akhirnya.


**


Sepulang dari rumah Ben, Julia memacu mobilnya pulang ke rumahnya. Setelah sampai rumah, Julia pergi mandi dan naik ke tempat tidurnya. Seharian ini rasanya sangat lelah fisik dan mentalnya. Banyak kejadian yang dilaluinya selama 24 jam terakhir yang benar-benar menguras tenaganya.


Julia menekan nomor ponsel Theo, namun gagal. Rupanya nomornya masih diblokir Theo.


Dengan napas berat, akhirnya Julia meletakkan ponselnya di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Ternyata Theo benar-benar marah kepadaku. Biarlah ... Besok saja aku akan pergi ke rumahnya. Aku akan pasrah menerima apapun keputusannya nanti.


Malam itu akhirnya Julia terlelap tidur. Hingga esok paginya, dia terbangun dengan badan yang terasa panas. Julia menempelkan tangan ke dahinya dan merasakan panas di telapak tangannya.


Hah ... Kenapa mesti sakit sekarang sih?


Julia membatin dalam hati dan merasa jengkel dengan dirinya sendiri.


Pekerjaan di kantor banyak yang belum dia selesaikan, juga masalahnya dengan Theo pun juga belum ada penyelesaiannya.


Tapi Julia merasa kepalanya pusing berdenyut-denyut. Akhirnya dia pun tertidur kembali sebelum mengirim pesan kepada atasannya di kantor untuk meminta ijin tidak masuk kerja hari itu.


Mama merawat dengan sayang saat mengetahui jika Julia sakit. Walaupun hanya demam, namun Mama merasa kuatir dan menyuruh Julia untuk pergi ke dokter. Tentu saja Julia menolaknya karena Julia merasa hanya demam biasa.


Dua hari berlalu dan akhirnya Julia sembuh, dan kebetulan sekali ini adalah akhir minggu sehingga dia tidak harus berangkat ke kantor.


Sore harinya, Julia menyetir mobilnya menuju rumah Theo. Dalam hati Julia sudah pasrah menerima apapun yang nanti akan terjadi.


Saat sudah sampai di depan rumah Theo, Julia merasa ragu untuk mengetuk pintu. Dia hanya diam mematung beberapa waktu lamanya.

__ADS_1


Tapi saat akan mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka dan dilihatnya Theo pun juga terkejut melihat Julia yang berdiri di sana.


"Julia!" kata Theo terpekik.


"Eh ... Theo, ma - maaf aku datang tanpa membuat janji terlebih dulu," kata Julia tergagap.


Theo menampakkan wajah galak dan hanya berdiri tanpa mempersilahkan Julia untuk masuk ke dalam rumah.


"Theo, bisa kita bicara sebentar?" tanya Julia menatap mata Theo tanpa rasa takut.


"Untuk apa? Aku mau pergi, tidak punya waktu untuk semua omong kosongmu," kata Theo galak lalu menutup pintu rumahnya dan berjalan ke mobilnya yang terparkir di garasi rumah.


"Theo! Theo ... Tolonglah, beri aku waktu sebentar saja untuk bicara," Julia menarik tangan Theo menahan agar Theo tidak masuk ke dalam mobilnya.


Theo berhenti dan tampak berpikir.


"Ya sudah, katakan cepat!" kata Theo akhirnya lalu mengajak Julia untuk duduk di teras rumah.


"Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu!" ucap Theo tidak sabar.


"Theo, aku tidak akan meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin saat kamu melihatku berpelukan dengan Ben karena memang tidak ada apa-apa diantara kami berdua," jelas Julia.


"Sedikit pun kamu tidak merasa bersalah?!"


"Aku memang tidak salah Theo!" kata Julia dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Lalu kenapa baru sekarang kamu datang ke sini dan menjelaskannya? Kenapa tidak kemarin-kemarin?" suara Theo mulai meninggi menahan emosi.


"Karena kemarin itu aku sakit Theo. Bagaimana aku bisa mengatakannya padamu jika nomor ponselku kamu blokir?" kata Julia mulai kehilangan kesabaran.


"Aku sama sekali tidak percaya Jul. Sudah 3 tahun lebih kita berpacaran, tapi aku tahu jika kamu masih memiliki perasaan untuk Ben. Kamu kira aku tidak tahu?" kata Ben memandang di kedalaman mata Julia berusaha mencari jawaban di sana.


Julia memalingkan wajahnya dari tatapan Theo yang terasa menusuk hatinya. Karena ucapan Theo memang benar adanya.


Julia hanya terdiam dan tidak membantahnya sedikit pun.


"Julia, kurasa sudah waktunya kita mengakhiri hubungan kita. Tidak ada gunanya jika diteruskan. Aku juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan aku harap kamu juga mendapat kebahagiaan," kata Theo sendu. Dia pun merasa sangat sedih saat ini karena harus melepas wanita yang dicintainya yang sudah menemani hari-harinya beberapa tahun ini.


Julia masih terdiam dan tidak mengatakan apapun.


"Julia, kamu tahu kan jika aku sangat mencintaimu. Namun aku sudah lelah menunggumu dan aku menyerah. Kita putus saja. Kuharap kita tetap berteman seperti dulu walaupun rasanya mustahil. Aku harap kita tidak bertemu dalam waktu dekat. Kamu menerimanya?" tanya Theo dengan berat hati.


Julia memutar kepalanya melihat Theo. Tidak percaya dengan apa yang sudah Theo katakan. Tiba-tiba saat itu Julia merasa sangat sedih. Tak terasa air mata menetes di pipinya.


"Julia ... Aku melepasmu," Theo berkata menatap mata Julia sendu.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2