Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Bayi Arkana


__ADS_3

Julia memandangi wajah bayinya, ia sungguh bahagia memiliki seorang anak yang akan dibesarkannya dengan sepenuh hati. Namun, ia masih bingung untuk memberikan sebuah nama yang cocok untuknya.


Setelah 2 hari kemudian, Julia dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Untuk sementara, Julia tinggal di rumah mamanya. Ia merasa belum terlalu sehat dan belum bisa merawat bayinya sendirian.


Hari-hari Julia menjadi pengalaman baru baginya. Merawat bayi ternyata tidak semudah perkiraannya. Terkadang jika melihat bayinya, air mata hampir menetes di pipinya. Ia merasa kasihan dengan buah hatinya yang tidak akan pernah bisa bertemu ayah kandungnya.


Jika sudah seperti itu, biasanya Julia hanya bisa memeluk bayinya, berharap kasih sayangnya akan cukup tercurah dan sanggup menjadi mama sekaligus seorang ayah bagi anaknya.


Seminggu sudah Julia menjalani harinya menjadi seorang ibu. Mama dan Papa menanyakan siapa nama bayinya, namun Julia seperti belum yakin akan nama yang cocok.


Suatu sore yang mendung, Julia sedang menimang bayinya di taman samping rumah saat dilihatnya sebuah mobil berhenti di depan rumah.


Irfan turun dari mobilnya dan senyumnya terkembang saat melihat Julia sedang menggendong bayinya.


"Halo, Julia. Lama tidak melihatmu. Wah ... Sudah lahiran ya, ini bayi laki-laki?" tanya Irfan mengagumi bayi di gendongan Julia.


"Halo, Irfan. Iya bayiku laki-laki."


"Siapa namanya, Bayi mungil?" tanya Irfan sambil menatap bayi Julia.


"Aku belum memberinya nama. Aku bingung," kata Julia yang terlihat sedih.


"Aduh kasihan sekali bayi mungil. Boleh aku memberinya nama?" tanya Irfan yang sangat berharap Julia mengijinkannya.


"Boleh, Fan. Menurutmu nama yang cocok apa?" Julia bertanya balik.


"Sebentar aku ingat-ingat ya. Dulu waktu masih kuliah, aku dan Irfan pernah mengkhayal jika kami punya anak laki-laki aku akan menamai anakku Kenzo. Sedang Karel inginkan memberi nama Arkana. Ya betul, aku ingat nama itu Arkana." Irfan senang masih bisa mengingat nama itu.


"Benarkah Karel menginginkan nama itu? Pantas saja selama ini aku tidak menemukan nama yang cocok. Mungkin bayiku menunggumu untuk menyampaikan sebuah nama untuknya pemberian dari ayahnya," kata Julia tersenyum bahagia namun sekaligus juga terharu.


Irfan menatap wajah Julia, sadar jika Julia masih merindukan Karel. Apalagi sekarang dengan adanya buah cintanya dengan Karel. Irfan mengulas senyum di bibirnya, mungkin ia harus bersabar menanti hingga Julia kembali membuka hatinya.


"Irfan, terima kasih sekali ya. Sekarang bayiku sudah punya nama, Arkana Mahendra." Julia merasa nama itu memang cocok untuk bayinya.

__ADS_1


"Wah selamat bayi mungil, sekarang aku akan panggil 'Arka' ya," ucap Irfan tersenyum memandangi bayi Arka yang sangat menggemaskan.


Irfan pun cukup lama mengobrol dengan Julia. Bertukar cerita selama mereka tidak berjumpa. Irfan pun menanyakan apakah Ben sudah pernah datang sejak Julia melahirkan. Namun Julia mengatakan jika Ben belum datang.


"Jul, sebenarnya Ben memang sedang sibuk. Ia bolak-balik mengurus perceraiannya dengan Nadine. Persidangan lumayan panjang karena Nadine tidak bersedia bercerai," jelas Irfan.


"Benarkah? Mungkin seharusnya memang Ben dan Nadine tidak usah bercerai. Semoga saja mereka bisa rujuk."


"Semoga saja ya."


Sebelum hari menjelang petang, Irfan pun pamit pulang. Julia sangat senang dengan kedatangan Irfan. Apalagi Irfan seperti membawa sebuah pesan dari Karel. Julia masih tersenyum jika ia mengingat Irfan. Tidak tahu kenapa ia merasa rindu mengobrol dengan Irfan.


Namun kemudian dibuangnya jauh-jauh perasaan itu, tidak ingin terlalu memikirkannya. Mungin rasa rindunya hanya sekedar rindu pada teman lama.


***


Hampir dua bulan usia bayi Arka. Julia sudah mulai kembali ke rumahnya sendiri. Ia mencari seorang baby sitter untuk membantunya. Apalagi sebentar lagi Julia harus kembali masuk kerja.


Mama tetap akan datang ke rumah Julia jika ada waktu, ikut mengawasi baby Arka.


Ben terlihat berdiri dan tersenyum saat melihat Julia.


"Halo, Julia. Bagaimana kabarmu? Maaf baru sekarang aku datang," sapa Ben.


"Halo, Ben. Silahkan masuk."


Julia tidak heran melihat Ben. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan Ben yang datang dan pergi sesuka hatinya. Tapi jika dipikir, memang kemarin-kemarin Julia melarang Ben menemuinya.


"Terima kasih, Jul."


Julia mempersilahkan Ben untuk duduk di ruang tamu. Ben menanyakan ke mana bayinya dan Julia mengatakan jika Arka sedang tidur ditemani pengasuhnya.


"Julia, aku minta maaf karena lama tidak datang menemuimu," ucap Ben.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ben."


"Aku benar-benar disibukkan oleh si Nadine itu. Dia memperpanjang persidangan perceraian. Hampir habis kesabaranku," jelas Ben.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Julia penasaran.


"Huh untungnya sekarang sudah diputuskan perceraiannya. Masih menunggu proses surat resminya, tapi secara hukum aku dan Nadine sudah bercerai," ucap Ben yang tidak terlihat menyesal. Mungkin lebih tepatnya terlihat lega.


"Ben, lalu bagaimana nasib Nadine?"


"Jangan kuatir, Jul. Sekarang kan Nadine kerja, terus juga aku membelikan dia rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya," kata Ben.


"Julia, lama tidak melihatmu. Aku rindu sekali, Jul." Ben berkata menatap mata Julia.


Julia membalas dengan senyuman, ia tidak mau menanggapi Ben saat ini. Entah mengapa dari semenjak bercerai dengan Ben, hatinya sudah melepaskan Ben. Ia hanya menganggap Ben sebagai sahabatnya saja dan tidak mungkin baginya untuk memberikan perasaan lebih pada Ben.


"Ben, kamu mau lihat Arka?" tanya Julia mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja," saut Ben cepat. Memang ia sangat penasaran dengan bayi Julia. Ia ingin sekali bertemu.


"Siapa namanya?" tanya Ben sambil berjalan mengikuti Julia dari belakang.


"Arkana Manhendra. Semoga kelak dia akan menjadi pemimpin yang berhati terang dan bijaksana," kata Julia bangga.


"Amin."


Julia mengajak Ben pergi ke kamar tidur Arka yang masih terlihat tidur nyenyak di box tempat tidurnya. Ben memandangi Arka, bayi mungil menggemaskan, tapi bukan bayinya. Seandainya dialah yang memiliki Arka. Rasanya Ben ingin sekali memiliki seorang bayi. Arka akan ia anggap sebagai anak sendiri.


"Julia, aku siap menjadi papa bagi Arka. Tolong ajarkan Arka untuk memanggilku 'Papa'. Ben berkata sambil memandangi wajah mungil Arka. Mungkin ia sudah jatuh hati pada bayi ini.


Seketika mata Julia langsung membelalak dan melihat Ben dengan aneh. Sepertinya Ben tidak sadar dengan apa yang diucapkannya baru saja. Menjadi papa bagi Arka?


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2