
Julia berdiri mematung memandangi ban mobilnya yang kempes dengan lesu. Entah kenapa hal ini bisa terjadi.
Sepulang dari makan malam di resto hotel, Theo langsung mengantarkannya ke kantor agar Julia mengambil mobilnya.
Suasana bazar masih ramai saat Julia tiba. Sengaja Julia menolak Theo untuk menemaninya karena ia enggan jika nanti Theo malah ikut mengantar hingga rumah.
Julia cepat-cepat keluar dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada Theo. Tanpa menoleh lagi, Julia berlari ke parkiran. Namun nasib enggan berpihak padanya saat Julia melihat ban mobil depan kiri terlihat kempes.
Julia sebenarnya membawa ban cadangan, namun ia tidak bisa menggantinya. Untuk meminta tolong juga ia merasa tidak enak.
"Julia?!" panggil seseorang dengan suara baritonnya.
Seketika Julia mengernyit menatap seorang lelaki yang berpakaian formal berdiri di depannya.
Otak Julia menggali memori, sepertinya ia sangat mengenali wajah dan suara lelaki ini.
"Irfan? Apa benar kamu Irfan?" tanya Julia ragu-ragu.
Parkiran ini memang tidak terlalu terang, sehingga Julia tidak jelas menangkap sosok lelaki ini di depannya.
"Benar, Julia. Aku Irfan, teman SMA kamu dulu. Apa aku sudah berubah ganteng sehingga kamu lupa?" Irfan tersenyum menatap Julia.
"Ya ampun Irfan, sudah berapa tahun kita tidak berjumpa ya?" tanya Julia senang.
"Ehm ... Mungkin kira-kira sudah lima puluh tahun," canda Irfan.
"Ah kamu bisa aja."
"Kamu mau pulang, Jul?" tanya Irfan.
"Iya nih, tapi ban mobilku ternyata bocor."
"Kamu bawa ban candangan?" tanya Irfan mendekat dan memeriksa ban mobil Julia yang terlihat kempes.
"Bawa sih, tapi aku nggak bisa menggantinya."
"Ya sudah, sini aku bantu," kata Irfan tulus.
"Terima kasih sekali, Fan. Tapi nanti malah merepotkanmu."
"Tidak repot kok. Mana bannya?" tanya Irfan sambil melipat lengan bajunya. Ia bersiap membantu Julia.
Julia memberikan ban candangan dan peralatan yang dibutuhkan.
Irfan dengan sigap mengganti ban mobil sehingga tidak butuh waktu lama, mobil pun bisa digunakan.
"Terima kasih sekali, Irfan. Untung saja kamu tadi disini," ungkap Julia yang sangat bersyukur bertemu Irfan malam ini.
"Mungkin sudah takdir, Jul." Irfan melemparkan tawa di matanya.
__ADS_1
"Irfan, kamu kok bisa ada disini? Datang ke bazar ya?" tanya Julia yang penasaran dengan pertemuannya dengan Irfan malam ini.
"Aku jadi agak haus setelah mengganti ban mobilmu. Kita cari minum yuk, Jul, sekalian bercerita," ajak Irfan.
"Tapi ini sudah malam." Julia mencari alasan untuk menolak ajakan Irfan.
"Ayolah." Irfan memohon dengan wajah yang dibuat memelas tapi tampak jenaka.
"Ehm ... Okelah. Tapi sebentar saja ya."
Irfan mengajak Julia berjalan kaki pergi ke kafe terdekat. Sebenarnya Julia ingin segera pulang dan menghubungi Karel, namun ia terpaksa mengikuti Irfan sebagai balas budi telah mengganti ban mobilnya.
Sesampainya di kafe, Irfan dan Julia memesan minuman.
"Irfan, kamu tadi belum menjawab pertanyaanku soal bagaimana kamu kebetulan bertemu aku?" tanya Julia yang masih penasaran.
"Oh tadi itu aku hanya mengunjungi teman. Dia seorang dokter yang memberi pelayanan gratis di bazar kantormu itu," kata Irfan santai.
"Apa Dokter Robby?"
"Iya betul. Dia teman kos ku saat aku masih kuliah," jelas Irfan.
"Wah kebetulan sekali ya. Apakah kamu tinggal di kota ini?"
"Aku baru pindah sekitar 3 bulan ini. Setelah lulus SMA dulu, aku kuliah di luar kota dan membuka usaha disana. Sekarang aku pindah kesini untuk menjajaki perluasan usahaku," kata Irfan.
"Ternyata begitu, makanya setelah lulus SMA dulu kita tidak pernah sekalipun bertemu ya."
"Ya begitulah, tapi tidak bertahan lama. Kau tahu kan cinta memang tidak bisa dipaksakan dan hasilnya gagal. Tapi untung aku bertemu dengan Karel, suamiku sekarang. Kami saling mencintai."
"Aku ikut bahagia kamu telah menemukan seseorang yang mencintaimu."
"Bagaimana denganmu, Fan? Apakah kamu sudah menikah?" tanya Julia penasaran.
"Aku pernah menikah tapi tidak bertahan lama. Dulu aku dan Nisya dijodohkan. Tapi seperti yang kamu bilang, cinta tidak bisa dipaksakan."
"Kamu cinta sama wanita lain? Atau istrimu yang tidak cinta kamu? Eh ... Maaf, kenapa aku jadi kepo ya haha." Julia merasa tidak enak hati karena keingintahuannya.
"Haha ... Nggak apa-apa kok, Jul. Aku mengakui tidak bisa membuka hatiku untuk Nisya karena dihatiku hanya untuk satu wanita ini, cinta pertamaku. Eitss, jangan kepo ya, karena aku nggak akan kasih tau kamu," kata Irfan dengan mata penuh arti.
"Iya iya." Julia tersenyum menatap mata Irfan.
Setelah dari kafe, Julia pun langsung pulang ke rumah. Namun Irfan bersikeras mengikuti mobil Julia dari belakang karena hanya ingin memastikan Julia sampai rumah dengan selamat.
Saat sudah sampai di rumah, Julia pun memarkir mobilnya. Ia keluar mobil dan berjalan menghampiri mobil Irfan.
"Sekali lagi aku mau bilang terima kasih untuk semua bantuanmu, Irfan. Jika ada suamiku di rumah pasti aku akan memintamu masuk, tapi suamiku sedang tugas di luar kota. Suatu saat aku akan mengenalkannya padamu jika kita bertemu lagi," kata Julia.
"Iya, Jul. Aku pulang dulu, tapi besok pasti kita akan bertemu lagi."
__ADS_1
Irfan pun menjalankan mobilnya menjauhi rumah Julia.
Saat sudah keluar kompleks rumah Julia, Irfan pun dapat bernafas lega. Seketika senyum puas tersungging di bibirnya.
Irfan menambah kecepatan mobilnya agar segera pulang ke rumah.
Hari belum terlalu malam saat Irfan sampai di rumahnya. Jam baru menunjukkan pukul 10 malam. Dengan langkah perlahan, ia masuk ke sebuah kamar. Dilihatnya mata Karel terpejam. Ragu Irfan berdiri di samping sahabatnya ini.
"Bagaimana tadi, Fan?" tanya Karel mengejutkan.
"Ya ampun, Karel ... Kamu bikin jantungku mau lompat saja! Aku kira kamu tidur. Bagaimana keadaanmu, kawan?" Irfan balik bertanya.
"Aku tanya kamu belum jawab, malah kamu yang bertanya," saut Karel kesal.
"Iya aku berhasil bertemu Julia dengan natural. Seperti rencana kita, aku membocorkan ban mobilnya sedikit supaya pertemuanku dengan dia tampak kebetulan." Irfan bercerita dengan senyum diwajahnya. Tidak menyangka akan selancar ini.
"Hem ... "
"Kenapa cuma 'hem'? Maaf Karel pasti rasanya berat sekali melepas istrimu." Irfan merasa tidak enak hati.
"Sudahlah Fan, kita sudah membicarakannya berulang kali. Aku sudah rela." Karel memantapkan hatinya, ia hanya ingin Julia aman di tangan orang yang bisa dipercayainya.
"Lalu bagaimana keadaanmu, Rel?" tanya Irfan kuatir.
"Aku baik-baik saja sejauh ini, asal tidak membuka mataku. Jika aku membuka mataku, pusing di kepalaku bertambah sakit."
"Kita ke rumah sakit saja ya," ajak Irfan sedikit memaksa.
"Sudah aku bilang tidak usah. Aku mau disini saja."
"Karel, apa kamu tidak kasihan dengan Julia? Seharusnya sebagai istri, ia berhak tahu keadaanmu," kata Irfan membujuk agar Karel memberitahu Julia.
"Jangan dulu, Fan. Aku mohon padamu. Aku kira belum waktunya Julia tahu."
"Baiklah jika itu keinginanmu. Kamu istirahat saja dulu. Besok kita bicarakan lagi," kata Irfan akhirnya.
Berjalan perlahan, Irfan keluar kamar. Hatinya merasa sedih melihat sahabatnya ini. Ia dan Karel bertemu saat kuliah dulu dan karena cocok maka persahabatan pun terus terjalin hingga kini.
Irfan sangat sedih saat Karel memberitahunya tentang penyakitnya dan permintaan tolongnya. Ya ... Sejak kecelakaan yang dulu menimpa Karel, ternyata benturan keras di kepalanya meninggalkan gumpalan darah yang terlewat saat pemeriksaan CT scan.
Gumpalan darah yang kecil malah membuat Karel terserang kanker otak sekarang.
Irfan pun sangat terkejut saat mengetahui jika istri Karel adalah Julia, cinta pertamanya saat masih SMA dulu.
Namun Irfan berterus terang mengatakannya pada Karel, sehingga terbersit lah di benak Karel jika ingin mempercayakan Julia kepada Irfan setelah dirinya tiada.
-
-
__ADS_1
-