Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
terlanjur sayang 2


__ADS_3

Wulan menengok lagi ke belakang, tapik tubuh tadi tidak bisa ia lihat. ia hanya merasakan bus berhenti sebentar, dan ia perkirakan, pengamen tadi tentu sudah lompat ke jalanan dan Wulan kehilangan harapan untuk bertemu ia kembali.


Besok, akan ia kabarkan pada Eka, Via, dan teman-temannya yang lain tentang penemuannya hari ini. Meraka pasti tidak akan percaya bila Wulan mengatakan ia bertemu idola mereka di bus dan sedang mengamen pula. tapi Wulan tidak akan peduli, pokonya ia telah ketemu Gunawan di sini, walaupun cuma fotocopy nya.


“kiri!" Wulan berteriak ketika ia sadar rumah nya hampir terlewat “kiri, bang!" ia berteriak lagi karena bus tidak juga berhenti.


Wulan menyelinap keluar, susah sekali! sampai akhirnya ia mendekati pintu lalu melompat turun. tapi rupanya ada di sana, terlewat beberapa belas meter.


“Sialan! Udah lapar, capek, eh, harus jalan juga!” omelnya sendirian, lupa kalau tidak ada seorang pun teman di sisinya.


Wulan melangkah lemas menuju rumahnya. Wajah tampan sang pengamen tadi masih membayangi pelupuk matanya. ah, rasanya aneh, bilah pertemuan sekejap itu mampu memberi kesan agak dalam di hatinya. apalagi pertemuan itu dalam suasana dan tempat yang samasekali tidak nyaman.


Wulan mendorong pintu pagar rumahnya yang terkunci, ia mempercepat langkahnya ketika menyusuri jalaman rumah nya yang luas.


Di pintu rumahnya dia berpapasan dengan Bibik.

__ADS_1


“nih, simpan.” diserahkan tasnya pada wanita seusia mamanya yang sudah lebih sepuluh tahun bekerja di rumah itu.


Setelah tasnya pindah di tangan Bibik, Wulan bergegas ke dalam, menuju meja makan.


Dia langsung menyeret kursi dan duduk. Dia sudah sangat lapar


"Eeee anak Mama, bukanya ganti baju dulu, buka sepatu dulu, malah langsung makan," tegur Mama yang tiba-tiba muncul.


“udah lapar, ma, capek lagi, mana pusing," sahut Wulan dengan mulut penuh.


Mama duduk di sebelahnya.


Wulan mengangguk karena sedang menelan nasi.


“ besok mobilnya sudah bisa di ambil,kok," hibur Mama.

__ADS_1


tadinya Wulan tidak sabar ingin mobilnya cepat diambil dari bengkel, tapi sejak pertemuan dengan pengamen tadi, keinginan itu terbang entah kemana. Rasanya naik bus itu tidak menyengsarakan seluruhnya. ada saat-saat menyenangkan. ada bintang idola, dan musik dari sebuah gitar akustik dengan penyanyinya yang bersuara tak kalah dengan penyanyi-penyanyi beken dan punya tempat keren. sayang Wulan tidak menikmati itu semua tadi. tapi besok-besok, ia pasti dapat menikmatinya.


Wulan mau naik bus ke sekolah ma, mobilnya biar Nadia yang pake."


“Loh, Nadia kan punya Rival, dia selalu siap mengantar kakak mu kemanapun Nadia akan pergi," kata mama dengan kata bangga.


“Nggak selalu dong, ma. Rival kan bukan sopir Nadia," Eh, kamu kenapa sih pengen naik bus? kan lebih enak bawah mobil sendiri, nggak perlu nunggu sampai capek, nggak perlu berjejal-jejal, nggak kepanasan juga."


Wajah tenang cowok tadi yang dilihatnya hanya sekilas, kembali berkelebat di benaknya.


“Rasanya, naik bus nggak seburuk apa kata mama. malah banyak yang menarik di sana."


“Misalnya?"


Lagi-lagi sosok pengamen itu yang muncul, tapi tentu bukan itu yang ingin diutarakannya pada Mama.

__ADS_1


“Misalnya apa?" ulang Mama lebih tegas.


“Misalnya... ng... Wulan jadi dapat melihat jelas penderitaan orang-orang kecil, yang harus terpaksa berjejal-jejal di dalam bus karena tidak punya mobil sendiri."


__ADS_2