
Samuel Johnson berusaha fokus pada berkasnya yang menumpuk di meja kerja nya. Waktu nya sudah berkurang karena selingan panas dengan Carla.
Mau bagaimana lagi sudah kewajiban dia untuk menyenangkan nya. Karena mereka terikat kontrak bisnis dan pernikahan nanti nya.
"Mengapa aku selalu mengingat mu, sayang. " Gumam Samuel Johnson saat wajah Steffi melintas di benarnya. "Masa yang sudah kita lewati bersama. Bagaimana kabar mu? " Batin Samuel Johnson berkecamuk.
Tanpa sengaja ia menghempaskan berkas di tangannya di atas meja. Nafasnya turun naik sesaat, teringat tentang kenangan mereka.
"Jadi.. Apa yang terjadi? Kau sudah mendapatkan nya? " Carla bertanya pada seseorang di seberang sana.
"....... .... "
"Lakukanlah aku tak mau tahu. Apa yang ku ingin cepat lakukan. Kau di bayar untuk itu. " Kata Carla penuh penekanan.
Wajah cantik itu menatap tajam, tak suka dengan pemandangan yang ada di depannya. Sudah beberapa waktu lalu ia berdiri di pintu masuk ruangan pribadi Samuel Johnson.
Ia memperhatikan setiap gerakan lelakinya, dan ia yakin jika calon suaminya teringat tentang wanita yang pernah di kencani nya itu. Steffi Gerrard.
"Dari dulu wanita itu memang bikin kesal dan selalu merebut apa yang ku ingin. " Geram Carla penuh kebencian.
(Jadi Steffi ini kecilnya di luar negeri dan remaja hingga dewasanya tinggal di Indonesia dengan kehidupan sederhana. Karena itu keinginan nya dan diijinkan oleh sang ayah. Yang pada akhirnya berbuah kesedihan nya karena orang tuanya meninggal ia tak dapat datang karena komunikasi dan materi. Ini versi author )
"Sayang kau tak pulang untuk bersama aku? Makan malam romantis juga menghabiskan malam ini? " Carla mendekati Samuel Johnson yang mencoba fokus kembali.
"Maafkan sayang. Namun aku sedang kesulitan dalam pekerjaan. Lihatlah menumpuk dan tak pernah berkurang. Maaf. Akhir pekan mungkin? " Tawar Samuel Johnson.
"Ok.Kau yang berjanji harus di tepati. Bye. " Kata Carla manja sambil bangkit dan berpamitan dengan mencium bibir Samuel Johnson. Lelaki itu tak membalasnya hanya tersenyum kaku.
Carla pun berlalu meninggalkan nya, lelaki itu menarik nafasnya panjang. Dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan menatap punggung Carla yang menghilang dari balik pintunya.
__ADS_1
Di tempat lain. Steffi menata meja sehabis memasak. Ia ingin menjamu kakaknya saat pulang dengan makan malam menu Indonesia. "Mungkin sedikit lebih berat menu nya namun dia kan aktif olahraga, " Pikir Steffi puas dengan maha karyanya.
"Salmon grilled, potatoes mushroom, salad buah.. " Belum selesai kegiatan memplate hasil masakan terdengar ponsel nya bergetar.
"Sayang, aku tak dapat pulang. Ada pertemuan jam makan malam. Istirahat lah, jangan menunggu aku. " Suaranya Steven Gerrard terdengar di telinga begitu diangkat oleh Steffi.
"Ok." Steffi mengangguk pelan, baru sadar jika ia mengobrol ditelepon maka dia jawab sepatah kata.
"Istirahat, jangan begadang nonton drama." Nasehat Steven Gerrard.
"Ok." Steffi mengangguk pelan dan menjawab dengan kalimat yang sama.
Bumil itu sudah kehilangan selera dan semangatnya. Pelayan setianya memperhatikan pergerakannya dan mengerti apa yang terjadi.
"Nona mau saya temanin makan malam? Kita bisa melakukan hal itu di halaman belakang dengan menatap langit. Banyak rasi bintang di sana! " Seru Queen.
Mereka duduk di bangku taman dengan meja teh Queen setia menemani Steffi yang murung. Steffi makan dengan perlahan-lahan dan memperhatikan langit-langit.
Benar yang dikatakan Queen ada. rasi bintang di sana terlibat indah walaupun jauh dan samar. Hatinya sedikit terhibur karena jujur aja dia kesepian. Apalagi dia tidak memiliki kegiatan apapun. Hanya fokus pada baby di perut nya.
"Mungkin jika aku memiliki kegiatan akan lain cerita. Dan ia tak akan tergantung pada kakak". Batin nya dengan menengadah menatap langit.
Steffi tak makan banyak ia memutuskan untuk beristirahat saja di kamar nya. Queen pun undur diri saat majikannya memutuskan untuk berdiam di kamar. Wanita itu masih menyediakan air dan camilan di meja kamar Steffi.
Karena majikannya tadi hanya makan sedikit, ia takut dia lapar dan turun. Takut terjadi sesuatu jika ia tak ada di sisinya.
Keesokannya, Steven Gerrard sudah berada di kamarnya Steffi.
Ia mendapatkan laporan jika Steffi memasakkan makan malam untuk nya. Lelaki itu merasa bersalah sudah beberapa hari mengacuhkan Steffi.
__ADS_1
Sibuk dengan pekerjaannya sendiri, ia tak membangunkan nya. Dia melirik jam mewahnya, ia harus ada pertemuan pagi di perusahaan nya. Hanya menghela nafasnya. "Maaf, kakakmu sayang. Pekerjaan ini lebih penting untuk masa depan kita semua. " Ucap Steven Gerrard dengan mengecup surai Steffi ia pun bangkit dan keluar dari sana..
Steffi membuka matanya dan bangkit menuju balkon. menatap sendu punggung Steven Gerrard yang masuk ke dalam mobil mewah nya.
"Hari ini aku melakukan pemeriksaan baby kak. "Bisik nya lirih. Wanita itu terduduk di sana tak ada tenaga, pandangan redup. " Aku hanya menjadi beban saja. " Gumamnya sedih.
Di sini Steffi tak memiliki teman dekat, biarpun ayahnya mengijinkan dia melakukan hal yang di sukainya. Tapi untuk berdekatan dengan teman sekolah dia di batasi, dulu saat dia masih anak-anak.
Sehingga remajanya dia hanya memiliki teman sedikit karena larangan itu. Ia pun juga tidak ingat temannya dulu sebelum pindah ke Indonesia.
Siangnya Steffi memutuskan pergi sendiri ke rumah sakit umum untuk memeriksa kandungan nya. Hanya di temani Queen dan dua pengawal yang merangkap sopir.
"Baby nya sehat, bu. Lihat pergerakannya juga aktif, kan? Apa ada keluhan lain? " Tanya dokter wanita paruh baya itu.
"Tidak ada, sejauh ini normal dan baik saja. " Jawab Steffi.
"Selamat buat ibu. Karena sehat dan tak banyak keluhannya. Semoga demikian hingga masa melahirkan nanti. " Ujar Dokter.
"Terimakasih." Steffi menerima resep vitaminnya untuk menunjang baby nya. Saat hendak menebus resep Steffi memutuskan ke kamar kecil.
Saat di tikungan lorong sepi ke-dua pengawal nya di lumpuh kan juga Queen. Sebuah pistol dengan peredam menempel di pelipisnya.
"Diam dan ikuti terus kami! Atau kau mau mati langsung? " Ancam lelaki mengenakan masker dan baju kasual. Ada tiga orang, mereka menggiring Steffi ke parkir mobil.
Mobil minivan dengan seorang driver menunggu dalam keadaan mesin menyala. Begitu mereka masuk maka mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Begitu lancar tanpa memancing perhatian orang sekitar nya.
Mobil yang membawa Steffi bergerak cepat begitu membelah jalanan. Menuju pinggiran kota. Steffi sendiri tak dapat melihat karena begitu masuk ia di suntik langsung.
Bukan sekali namun dia kali. Wanita melihatnya dalam setengah sadar. Wanita itu sudah terkulai lemas di ampit lelaki bertubuh kekar itu. Tanpa mengetahui ke mana dia dibawa pergi.
__ADS_1