Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Kembali ujian datang


__ADS_3

Rama begitu panik melihat istrinya belum sadarkan diri. Ada rasa penyesalan atas semua sifat serta sikapnya selama ini. Bukan tanpa sengaja Ia melakukannya, akan tetapi karena Faktor pikiran yang membebaninya.


Ia ingat betul bagiamana sulitnya mendapat wanita didepannya hingga Ia bisa dijadikan istrinya. Ia serasa gila memikirkan sikapnya. Ada rasa ketakutan kehilangan Syakira.


"Dokter bagiamana istri saya?" tanya Rama dengan sangat panik.


"Selamat, istri tuan hamil. Kehamilannya sekarang memasuki dua minggu," kata dokter dengan sedikit menyimpan kecemasan, akan tetapi ...."


"Akan tetapi apa, dokter?"


Dokter itu diam. Ia tidak tahu prediksinya benar atau salah. Sementara nenek yang melihat kecemasan dokter ikut panik begitu juga dengan keluarga Rama lainnya.


"Begini, aku tidak tahu apa benar atau tidak semoga perkembangan janinnya tumbuh sehat. Tapi, ini masih prediksi melihat Janinnya masih umur dua minggu."


"Apa maksud dokter? katakan yang jelas!" paksa Rama.


Ibu Ratna mengusap punggung putranya sambil melihat Syakira belum sadar juga dari pingsannya.


"Syakira, istri anda mengidap sebuah penyakit kanker rahim dan semoga saja perkembangan janinnya tidak menganggu."


Rama tersungkur dilantai mendengar penuturan dokter mendengar ujian yang datang lagi. Tak lama kemudian Syakira dengan pelan membuka matanya.


"Kak, Rama? panggilnya.


Mendengar Istrinya memanggil namanya Rama mengusap air matanya segera mungkin. lalu, ia duduk di samping istrinya. Syakira memegang kepalanya yang masih sakit dan memegang perutnya yang terasa mual.


Rama langsung memeluk istrinya. "Maafkan aku."


"kak, tidak perlu minta maaf. aku sudah memaafkan suamiku sebelum Ia meminta maaf." Senyum Syakira. "kamu pasti sangat menderita selama ini memendam seorang diri masalahmu, kak. kenapa kamu menyembunyikan ini dariku, hah?" Syakira menggenggam tangan suaminya. Rama pun membalasnya.

__ADS_1


Lalu, Rama mengecup kening istrinya. "Aku takut, Syakira, jika sampai kamu tahu kondisiku yang sebenarnya. Aku takut kau mengetahui jika aku pria tidak sempurna dan kau akan pergi meninggalkan diriku."


"Kak, di dunia ini tidak ada yang sempurna. jika Allah mau mencabut salah satu nikmatnya mengapa tidak. semua mudah baginya, kak." Papar Syakira mengusap wajah suaminya.


"Begitupun dengan kondisimu. Dokter tidak salah. Mereka hanya mengatakan hasil analisanya. Tapi, kita jangan lupa ada Allah, kak. Bisa jadi analisa dokter Allah ingin menguji keimanan kamu sebagai seorang suami.


"Aku paham kondisimu sekarang, kak. Aku tidak akan memaksamu, jika kamu masih meragukan calon janin dalam perutku, tapi aku mohon padamu jangan ikut memfitnahku. Jangan menyakiti perasaanku, kak. karena kakak pasti tahu kelemahan seseorang wanita.kan? kak, wanita lebih peka dan perasa. Sebagian besar keputusan yang kami buat sebagai wanita berdasarkan pertimbangan hati dan emosi, lalu menyusul logika. Hal inilah kadang menjadikan kami lemah."


Rama meneteskan air mata di depan istrinya. ia terlihat begitu lemah menghadapi ujian yang bertubi. Syakira mengusap air mata disudut mata suaminya. "Kita akan bersama melewatinya, kak."


"Iya, kita lewati bersama. Apa pun yang terjadi jangan pernah pergi dariku. dan aku janji padamu akan selalu ada untukmu, istriku."


Syakira tersenyum kemudian berkata, "Kupikir kakak seorang pria tidak peka. Bagaimana nasibku ya seandainya suamiku pria tidak peka dengan perasaan istrinya. Juga aku bayangkan bagaimana nasibku jika seandainya suamiku lebih percaya pada orang lain."


'Rama menatap istrinya. Apa jadinya, jika Syakira tahu kondisinya. Apa aku harus jujur? Ya Allah ujian apa lagi ini? Mengapa aku terus diberikan teka teki seperti ini'


Ibu mertua serta nenek dan Kakak Rama bahagia melihat Syakira kembali dari pingsannya. Ibu Ratna pun menghampiri menantunya. "Maafkan kami, nak. kami tidak akan meragukan kehamilan menantu kami. Justru kami yang lupa, jika Allah ada. Apa yang kamu katakan itu benar bahwa dokter boleh beranggapan, tapi Tuhan yang menentukan semuanya.


"Apaan, kak. Aku bahagia mengandung anakmu, sungguh, sayang. Aku baik saja. Jangan lebay deh, kak. kakak tahu aku melompat-lompat di kamar saat aku melihat ada dua garis merah di sana. Di perutku tumbuh buah cinta kita. Dan ini amanah yang patut kita Syukuri. Bahkan aku rela menjadikan nyawaku adalah taruhan." Senyum Syakira mengembang.


Seketika, Rama memeluk istrinya. Ia tidak ingin melepaskan istrinya itu. Ketulusan Syakira bagi Rama begitu tinggi. Ia tidak ingin melihat istrinya menderita.


"Kak, lepaskan!" Syakira memaksa Rama untuk melepaskan tubuhnya, karena Ia seperti tak bisa bernapas.


Rama pun melepaskannya setelah dicubit oleh istrinya.


"Apa kakak mau membunuhku? kakak jahat deh." Syakira merajuk.


"Hei, jangan berkata seperti itu. Aku minta maaf."

__ADS_1


Kakak Rama begitu bahagia melihat adik dan dan istrinya akhirnya bisa tersenyum. Namun, Ia tidak bisa pungkiri kembali pengakuan dokter sebelumnya. Begitu juga dengan nenek.


Mereka pun keluar dari kamar inap Syakira mereka pulang ke rumah setelah pamit. Mereka membiarkan sepasang suami istri itu menghabiskan waktu bersama setelah masa tegang beberapa bulan terakhir.


Mereka larut dalam pikiran masing-masing dan merundingkan kesehatan Syakira dan janinnya.


"Andai dokter kelak memberikan pilihan ibunya atau anaknya, nenek memilih ibunya diselamatkan."


"Iya, ada baiknya ini kita usahakan dulu. Semoga penyakit Syakira tidak seperti itu," ucap Ibunya Rama.


***


Di lain tempat ibu Syakira merasa gelisah. Ia memiliki firasat buruk terhadap anak-anaknya.


"Ayah apa sebaiknya kamu menelpon Fajri atau Syakira.Apa mereka baik? juga tanyakan pada Fajri apa anak-anak dan istrinya sehat?" tukas ibu Fatimah.


"Ibu, mereka pasti sehat. Jangan khawatir. seandainya diantara mereka ada yang kurang sehat tentu mereka menghubungi kita.


"Tapi, naluri ku sebagai seorang ibu kok aku gak bisa tenang lho, ayah. Sini aku yang telpon mereka."


"Ibu, ini sudah malam. Takutnya menganggu istirahat mereka. Apa lagi Syakira. Kasihan suaminya, ibu. Rama pasti capek dari kantor dan jam seperti ini mereka sudah pasti tidur. jadi, besok saja ibu menelpon. Atau besok kita kunjung anak-anak kita. bagaimana?"


"Iya sih, apa yang ayah katakan benar. Lebih baik kita juga istirahat," ucap Ibu Fatimah pada suaminya.


Ibu Fatimah terus larut dalam pikirannya. Entah mengapa wajah Syakira terbayang dalam benaknya. Ia terus memikirkan anak perempuannya itu.


"Aku tidak yakin, jika diantara mereka baik saja. Tapi, semoga saja mereka baik-baik saja. Ya Allah sehatkan anak-anakku. Semoga ini naluri-ku saja."


Ibu Fatimah pun berdoa dengan khusuk. berharap semuanya baik. Ia tidak bisa bayangkan hal besar terjadi dalam rumah tangga anak-anaknya. Sebagai orang tua naluri seakan tidak pernah berbohong.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


Maaf Author hanya bisa up saat ini. Mohon terus dukungan dari kalian. Makasih. love-love deh buat pembaca setia Author. Jangan lupa baca karya author yang lain ya ... "Yang Membolak-balik balikkan Hati, Takdir Cintaku, Diam-Diam Ku Mengagumimu" Makasih....🙏🙏🙏🙏


__ADS_2