Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Menatap jauh


__ADS_3

Zakir menatap mobil Rama, Ia berharap peluang untuk mengejar kembali cintanya yang tertunda bisa tergapai. sejujurnya ada rasa trauma bagi Zakir dalam percintaan, akan tatapi kembali dia berpikir bahwa, ada sesuatu hal yang lebih baik di siapkan untuknya.


Di lain pikirannya, ia termenung sejenak memikirkan cara memulai kembali memperjuangkan cintanya. Mengingat status Marwa sebagai seorang janda. Tentu status itu Marwa pasti sangat berhati-hati, Status itu tidaklah mudah mengabaikan hal negatif di tengah masyarakat.


Zakir yang terbuai dengan pikirannya tidak menyadari seorang membuyarkan lamunannya.


"Tuan, apakah mobil ini milik anda?" tanya seorang wanita yang juga merupakan salah satu orang tua peserta wisuda yang ingin mengeluarkan mobilnya, tetapi terhalangi oleh mobil milik Zakir.


"Ah ... Iya, ini mobil saya, Maaf." Zakir dengan segera meninggalkan tempat itu .


Zakir pun pada akhirnya melajukan mobilnya menuju kafe miliknya yang selama ini dia rintis. Lalu ia berhenti tepat di sekolah SMA dulu, kembali ia mengenang tempat pertama kali dia mengungkapkan perasaannya pada Marwa.


Memory manis terurai di sana, Walau hari itu cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan, Kecewa pastinya saat itu, tapi Zakir memilih untuk mengalah demi sahabat terbaik. Namun saat ini cinta itu seakan tergantikan dengan cerita baru.


memperjuangkan cintanya mungkin sedikit sulit, juga rasa takut pastinya ada, jika hal itu akan terulang. Kembali Zakir memikirkan bagaimana cintanya bertemu dalam satu tujuan.


Keadaan yang tak lagi sama. Sangat jauh lebih sulit memperjuangkan kembali cinta itu.


"Wahai sang pemilik hati, Seandainya


telah engkau ciptakan dia untuk diriku,


maka satukanlah hatinya dengan hatiku,


titipkanlah kebahagian di antara kami


agar kemesraan itu abadi


dan takkan pernah berhenti


Wahai sang pemilik cinta, yang maha mengasihi, seiring waktu berjalan tiada henti, bimbinglah kami melayari hidup ini menuju kebahagiaan yang abadi.


Akan tetapi, jika telah engkau takdirkan


dia takkan pernah menjadi milikku,


bawalah ia jauh dari pandanganku,


pikiranku dan relung kalbuku.

__ADS_1


Hilangkanlah kerinduan


yang menyayat-nyayat perasanku.


Luputkanlah dia dari ingatanku


dan peliharalah aku dari keputusasaan," Doa Zakir yang kini berdiri tepat di pintu gerbang sekolahnya dulu.


Puas bernostalgia seorang diri, Zakir kembali melanjutkan perjalanannya menuju kafe miliknya.


***


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Rama?" tanya Marwa yang kini duduk tepat di belakang Rama yang sedang mengemudi.


"Aku tidak menatapmu, kak. kebetulan saja aku melihatmu dan kakak melihatku lewat pantulan kaca ini," Alasan Rama yang sebenarnya pikirannya terbayang dengan ucapan Zakir sebelumnya.


"Kak, ada apa sih?" tanya Syakira yang sedari tadi penasaran dengan mimik wajah suaminya.


"Tidak kok, sayang," ujar Rama yang memilih tutup mulut saat ini. "Apa kamu tidak ingin sesuatu atau pergi kemana?"


"Tidak, kok. Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin segera sampai di rumah. Pahaku terasa keram dan aku merasa sangat gerah dan lelah," jawab Syakira pasrah dengan kondisinya yang sekarang dalam keadaan hamil besar.


"Jangan terlalu mesra di hadapanku! Apa kalian menganggap aku bayangan di sini?" Marwa tersenyum.


Syakira dan Rama terkekeh mendengar Ocehan Marwa di belakang mereka. Tepat di sebuah tokoh buku, Marwa minta diturunkan.


"Pulanglah kalian, aku akan pulang sendiri," jelas Marwa. "Aku ada perlu di toko ini. Sampaikan pada ibu setelah ini aku akan segera pulang."


"Baiklah, kak. Kami tinggal ya," ujar Rama yang kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mengantar istrinya segera pulang.


Marwa berdiri tepat di depan toko buku menatap kepergian Rama, tak sengaja kembali Zakir bertemu dengan Marwa. Ada rasa untuk menghampiri Marwa, akan tetapi Zakir urungkan niatnya.


Zakir hanya bisa menatap Marwa dari jarak cukup jauh di mana Marwa sekarang sedang sibuk memilih buku. terlihat Marwa menyungging senyum menatap cover buku berhijab.


Marwa kembali teringat pesan sang suami. 'Sayang, jika suatu hari kamu merasa siap untuk mengenakan hijab aku akan mendukung.'


Seketika bulir bening lolos begitu saja di pinggir mata Indah milik Marwa. "Mas, aku sekarang sudah siap untuk berhijrah." Marwa meraih buku itu dan membawanya ke kasir.


Tatapannya terus tertuju dengan buku yang ada di atas meja kasir. Kesedihan dalam hati tak bisa dielakkan hingga usai membayar buku itu, Marwa pun melangkah meninggalkan toko tersebut.

__ADS_1


Hati dan perasaannya berkecamuk, rasa takut kian muncul satu persatu seperti apa kehidupannya yang akan di hadapinya hari esoknya.


Kini Marwa menuju makam suaminya. Langkah itu terhenti tepat di samping makam sang belahan jiwa yang kini tinggal batu nisan dan juga meninggalkan sejuta cerita yang cukup menyiksa perasaan.


"Mas, aku tidak tahu seperti apa perjalanan hidupku kedepannya tanpamu, aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk berdiri menjadi wanita tegar. Dan lihatlah, Aku sudah membeli buku ini, aku berjanji akan mulai berhijrah sesuai keinginanmu, mas."


Marwa memeluk batu nisan suaminya, bahkan meninggalkan bekas bibirnya di sana. Bulir bening itu kembali tumpah di atas Makam sang pujaan hati yang tak lagi menemani kesendirian.


Zakir yang menyaksikan itu ikut terbawa dalam suasana. Hatinya ikut perih melihat mata indah itu kembali basah dengan derai air mata. 'Mengapa harus dalam keadaan berpura-pura menjadi kuat?' lirih Zakir menatap Marwa dari jarak jauh.


Zakir menyesali dirinya tak bisa berbuat di saat Marwa dalam keadaan seperti yang sekarang. Dada terasa sesak melihat sang gadis pujaannya yang membutuhkan sandaran. Namun apa daya, dirinya tak bisa memberikan itu untuk saat sekarang.


'Tunggu hari itu Marwa, aku akan menghapus semua kesedihan itu.' batin Zakir yang terus mengikuti Marwa.


Hingga dalam perjalanan Zakir yang tidak fokus menabrak mobil yang ditumpangi Marwa tepat di lampu merah.


Brak!


"Astaghfirullah! pak, apa yang terjadi?!" pekik Marwa ikut terkejut mendengar suara mobil dari belakang.


"Anu neng, sepertinya ada kendaraan lain menabrak mobil dari belakang!"


"Apa?"


"Benar neng, ini tidak bisa di biarkan," kata pak supir yang kemudian turun dari mobilnya dan memeriksa apa yang terjadi.


Sementara itu, Zakir mengutuk dirinya yang terlalu ceroboh tidak berhati-hati. dirinya terlalu dekat mengikuti mobil di tumpangi gadis yang pernah mengacak-acak perasaannya.


"Woi, turun!" teriak pak supir.


Marwa ikut turun melihat apa yang terjadi. Begitu pintu mobil merah itu terbuka, Marwa begitu dikejutkan siapa pria yang muncul dari dalam mobil merah tersebut.


"Zakir?" Lirih Marwa yang kemudian berjalan menuju arah Zakir sedang berdiri meminta maaf pada pemilik mobil yang ditabrak olehnya.


"Lihat, tuan! mobil saya ringsek atas kecerobohan anda yang membawa mobil tidak berhati-hati," Geram pak supir itu yang terus memeriksa bagian belakang mobilnya.


Sementara pengemudi lain yang terhalangi jalannya atas peristiwa tersebut silih berganti terdengar bunyi klakson bersahutan.


"Sudah! Ini bisa diselesaikan di tempat aman bukan?" Hela Marwa yang menatap Zakir.

__ADS_1


__ADS_2