Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Gara-Gara Parfum


__ADS_3

Hai, Kembali author menyapa.


jika suka cerita ini tambahkan ke daftar favorit, jangan lupa Like dan komentarnya.


Author sangat berharap dukungan dari kalian. Author usahakan update setiap hari... doakan author sehat terus😍😍😍


*****


Satu bulan berlalu.


Begitu aku membuka mataku, kak Rama sudah pas di atas kepalaku dengan rambutnya yang basah.


"Assalamu'alaikum, sayang. Aku akan ke kantor sangat pagi, karena asistenku akan pamit hari ini."


"Jadi, apa sudah ada penggantinya?"


"Aku masih mencari pengganti asisten Rayhan. Katanya ada temannya sangat membutuhkan pekerjaan. Ibunya masuk rumah sakit dan membutuhkan biaya. Aku harus menemuinya langsung. Hari ini dia akan datang ke kantor," papar Rama.


"Pergilah. Aku tidak mengapa. Hari ini biar aku ke kampus bawa mobil sendiri. oya, bagikan urusanmu kemarin?"


"Sayang, jangan biar aku yang mengantarmu."


"Sayang, kau akan terlambat kalau kau menungguku. lihatlah aku belum mandi,


ini semua karena ulah kamu, seluruh tubuhku terasa remuk."


"Tapi suka, kan?" goda Rama yang suka sekali dengan muka kesal Syakira. kemudian mengecup keningku. "Cepatlah bersiap aku yang akan mengantarmu."


Syakira langsung bangun. Namun tiba-tiba Rama menarik tangan istrinya, seketika Syakira sudah berada di **s tubuh suaminya.


"Mau kemana?" tanya kak Rama yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang Syakira.


" Mandilah,"


"Sebentar."


"Sayang, jangan seperti ini. Kamu sudah rapi. Ayo, lepaskan aku."


"Sebentar saja. biarkan dulu seperti ini."


"Tidak," Syakira bersikeras untuk lepas. hingga pada akhirnya Rama mengalah.


Ketika posisi tubuh Syakira sudah berdiri, Rama kembali menarik pinggang istrinya hingga tubuh Syakira terduduk di pangkuan Rama serta tangan yang melingkar sempurna di perut milik Syakira.


Syakira tersenyum jaim. Syakira berfikir


bagaimana caranya lepas darinya. Syakira menggigit tangan itu, spontan Syakira lepas juga darinya. Syakira tertawa dan puas melihat suaminya meringis.


"Sayang, awas ya. Sebentar kamu dapat hukumannya!" teriak Rama.


"Iya, aku tunggu hukuman darimu!" balasku dengan berteriak juga.


Rama tertawa melihat istrinya sudah menghilang. Ia pun kembali memperbaiki dasinya.


"Sayang, aku tunggu di bawah ya!" ucap Rama mengintip istrinya di kamar mandi.


"Iya," jawab Syakira.


***


Setelah mengantar Syakira di kampusnya, Rama menuju kantornya. Sampai di kantor, Rama tak mengira seorang pemuda sudah menunggunya sedari tadi bersama asisten Reyhan.


"Tuan, ini yang aku maksud. Akan tetapi masih kuliah. Aku jamin kemampuannya," jelas Rayhan dan menjelaskan dimana kampus pria yang akan menggantikan posisinya.


Yusuf melihat data pria itu yang hampir seumuran dengan Syakira,isyrinya.Ia juga menatap pria itu yang kini duduk di depannya berama Rayhan.


"Siapa namamu anda? "


"Mario." jawabnya.

__ADS_1


"Anda siap bekerja dengan saya?"


"Daya sudah siap," jawab Mario berharap diterima. Rencananya, setelah dapat pekerjaan dia akan menemui Ana dan melamarnya.


Melihat Mario, Rama yakin jika Mario orang yang bisa dipercaya.


Melihat Mario, Rama teringat lajangnya dulu. Cara berpakaian Mario sangat mirip dengannya. Ia yakin Mario orang yang tulus.


"Baiklah Mario, kau boleh bekerja mulai hari ini. Silahkan kau dan Reyhan serah terima jabatan.


Reyhan pun memanggil Mario menuju ruangannya. Di sana Rey menjelaskan semua tugas- tugas yang harus Mario lakukan.


Sementara di ruangannya. Rama mengabari Syakira untuk menjemputnya, namun yang dihubungi tidak ada jawaban.


***


Begitu Syakira usai ujian, tiba-tiba saja perut Syakira terasa mual. Syakira berlari masuk kamar. Melihat itu, Ana ikut kaget dan menyusul Syakira.


Uek... Uek... Uek...


Samar - samar Ana mendengar Suara Syakira di dalam kamar mandi. Ana dengan sigap masuk dan melihat Syakira tampak pucat.


"Ra, baik saja?" panik Ana melihat Syakira masih terus mual.


"Aku tidak mengapa, Na."


"Tidak apa bagaimana, Ra. Kau pucat seperti ini," ujar Syakira. Ana yang hendak menelpon Rama di cegah oleh Syakira.


"Jangan menelpon kak Rama. Aku baik saja kok."


"Apa Jangan-jangan, kamu hamil Ra?" tebak Ana. "coba ingat, hari terakhir kamu haid."


Aku terdiam sejenak mengingat kapan aku terakhir datang bulan. "Sudah satu bulan ini aku tidak dapat haid." Wajah Syakira tersenyum penuh harapan.


"Apa mungkin aku hamil?"


"Mungkin saja, Ra," Senyum mereka di wajah Ana. Ana ikut bahagia jika itu benar adanya.


"Ra, sebaiknya kamu beli Tes** deh. semoga saja hasilnya sesuai pengharapan kamu." Ana memberi saran.


"Semoga saja ini benar. Kak Tama pasti sangat bahagia jika ini benar," gumam Syakira seorang diri mengusap perutnya yang masih rata.


Begitu aku dan Ana selesai ujian, Telpon dari Rama memanggil. "Assalamu'alaikum, kak."


"Kenapa panggilan aku tidak diangkat?"


"Tadi ujian, kak, kak Rama di mana?"


"Aku dibelakang kamu."


satu


dua


tiga


Syakira berbalik. "Kak!" pekik Syakira membuat mahasiswa yang mendengarnya ikut menoleh.


"Ra, aku duluan ya, aku ada janjian dengan sahabatku makan siang."


"Mario ya?" tanya Syakira.


Ana hanya mengangkat jempolnya kemudian berlalu.


"Siapa Mario?" tanya Rama mendekat kearah istrinya.


Entah mengapa aku tidak suka bau parfumnya. "Sayang, kamu ganti parfum, ya?"


"Tidak," jawab Rama heran.

__ADS_1


"Kenapa bau parfum kamu beda yang tadi pagi,kak," ujar Syakira mendorong tubuh suaminya untuk tidak mendekat ke arahnya.


Uek ... Uek ...


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rama panik yang melihat istrinya menutup hidung dan mulutnya.


"Jangan mendekat kemari, kak. Aku ingin mual mencium bau parfum milikmu," Syakira mengangkat tangannya agar suaminya tidak mendekat.


Rama mencium dirinya. "Sayang ini harum lho. Kamu sendiri kan yang memilih parfum ini?"


"Tapi, aku tidak suka baunya."


"Astaghfirullah, sayang. Jadi, kamu maunya aku harus bagaimana?"


"Ganti bajumu, kak."


"Sayang, kamu serius?"


"Iya."


"Baiklah kita ganti di mobil. tidak mungkin kan aku berganti disini?"


Rama cukup heran melihat tingkah istrinya hari ini yang tiba-tiba berubah.


Mau tidak mau Rama pun berganti, Ketika hendak akan menggunakan parfum Syakira melarangnya.


"Sayang, ini bukan kamu lho." ujar Rama mengganti pakaiannya.


"Sudah jangan protes. Aku merajuk nih."


Rama pun mendekat dan mengecup kening istrinya. "Kamu kenapa sih, sayang?"


"Gak harum deh." kata Syakira lagi.


"Sayang, kamu kan yang larang aku pakai parfum."


" Ya pakailah, sayang. Tapi, bukan parfum yang tadi, aku gak suka baunya."


"Ya sudah. kita jalan, nanti kita singgah beli parfum yang kamu suka." Hela Rama yang bingung melihat sikap istrinya sedikit aneh.


***


Ketika di toko parfum, Syakira sibuk memilih parfum yang Ia suka. Dan ada begitu banyak jenis serta merek parfum yang ditawarkan padanya. Namun, tak satu pun ada yang masuk di akalnya.


"Aku suka bau parfum orang itu, sayang." Tunjuk Syakira pada seorang pria yang sedang membeli parfum di samping Rama.


"Sayang, jangan aneh deh. Mana bisa kita tahu merek parfum yang dia pakai." ujar Rama.


Pegawai parfum itu tersenyum sendiri melihat sepasang suami istri didepannya sedari tadi keduanya berdebat masalah parfum.


"Cepat kak, kejar dia! Aku suka bau parfumnya."


Rama mengejar pria tersebut. Mau tidak mau Rama pun dengan menahan malunya, menanyakan merek parfum yang dipakai pria tersebut.


Pria itu tertawa mendengar penjelasan Rama. "Apa istri anda hamil, tuan?"


"Tidak."


"Mungkin saja istri anda hamil, tuan." jelas pria tersebut, kemudian pamit untuk melanjutkan perjalannya.


Rama berbalik melihat istrinya sedang menunggunya. Ia pun kembali dan meminta merek parfum yang di maksud pria tadi.


Ingin rasanya Rana tertawa, karena seperti dikerjai oleh istrinya. Bagaimana tidak, parfum yang dimaksud adalah parfum yang sama, yang selama ini Ia pakai.


"Ini bagus. Aku suka baunya." jawab Syakira pada pemilik toko parfum itu.


Karyawan itu sedari tadi terkekeh melihat pria tampan di depannya seperti di kerjain oleh istri sendiri.


"Jangan tersenyum atau toko ini aku tutup. Mau? Bungkus semua merek parfum itu." Perintah Rama.

__ADS_1


"Sayang, kenapa harus dibungkus semua sih. Cukup ini saja," tolak Syakira. dan Rama, hanya bisa mengikuti saja keinginan istrinya.


"Semoga saja istrimu hamil."


__ADS_2