
Syakira keluar dari kamarnya dengan banyak buku di tangannya. Ia bersiap untuk ke kampus. wajah kecewa masih terlihat. Syakira ingin tidak peduli lagi dengan kerinduannya pada sang suami.
perasaannya untuk berharap suaminya kembali sudah mulai Syakira tanamkan dalam hatinya TERSERAH.
"Aku tidak akan berharap lagi kamu pulang cepat, kak. terserah kamu. kamu pikir cuma kamu yang bisa aku juga bisa untuk tidak berharap," gumam Syakira.
Ayahnya yang melihat Syakira berbicara sendiri merasa bingung. "Ra, kamu baik, nak?"
Syakira kaget. "Iya. Aku baik, ayah. Malahan aku baik sekali, ayah. Emang wajahku tidak tampak baik kah, ayah?" tanya Syakira yang melihat wajahnya di meja yang berlapiskan kaca.
"Terlihat sedikit murung," tukas Ayahnya. "Dan apa kamu semalam kurang tidur, Ra?" tanya Ayah Syakira lagi.
"Mmm.... mungkin," jawab Syakira. "Aku pamit ayah, ibu. Aku sarapan di kantin," katanya lagi.
"Kampus kamu, Ra?" tanya Fahri yang tiba-tiba nongol di depannya.
"Sejak kapan kakak di rumah ini dan mana si kembar?"
"Baru datang. dia ada di rumah. Aku kemari cuma bawakan punyamu yang ketinggalan di rumah. Mungkin ini berharga," cetus Fajri memberikan gantungan kunci berbentuk dua hati yang saling berdempetan di dalamnya ada nama Syakira dan Rama di sana. benda itu merupakan pemberian suaminya dulu.
"Buang saja, kak. Itu tidak penting," hela Syakira.
"Kamu marah dengan benda ini? Atau karena rindu yang mendalam?" ledek Fahri pada adiknya sambil memainkan gantungan kunci milik Syakira di depan mata Syakira.
Syakira pun menarik gantungan kunci itu dan memasukkan dalam tasnya dengan kasar. "Apaan sih kak, sok tahu saja urusan orang lain. Siapa yang merindu? Terserah dia. Dia mau pulang satu bulan, dua bulan, tiga bulan, atau tahun depan sekalian. Terserah. Aku sudah tidak peduli, kak."
"Wii ... merajuk nih, apa benar? bagaiman jika dia pulang 2 tahun akan datang?" senyum Fajri dan berkata lagi, "Sepi dong tidak ada yang peluk, ya kan?" ledek Fajri dengan niat menghibur adiknya.
"Kak....!" pekik Syakira yang terus menerus mendapat ledekan dari kakaknya. Ia pun memukul belakang Fajri sampai Fajri jera.
Syakira memicingkan matanya ke arah Fajri yang masih menertawakan dirinya. "sudah, ah. aku malas dengan kakak."
"Ra, emang benar kok yang kakak katakan. iya, kan?" teriak Fajri melihat adiknya menjauh.
"iya. sangat benar, tapi aku sudah tidak peduli!" kata Syakira dengan suara berteriak pula dan berlalu.
***
Sampai di kampus. Syakira mendapat panggilan dari suaminya. Ia pun membalas untuk tidak menjawab.
Syakira memilih ke kantin dimana Ana yang sedari tadi sedang menunggunya. Ia heran mengapa Leon juga di sana.
__ADS_1
"Hai, Syakira, Hari ini kamu terlihat sangat cantik." Goda Leon melihat Syakira.
"Makasih pujiannya, tapi maaf tidak ada uang kecil," ketus Syakira.
"Uang besar aku terima juga, hatimu pun jika mau di tukar aku akan beli dengan perasaan cintaku padamu, Syakira."
"Udah tidak jaman bagiku kau goda aku seperti itu, karena aku...."
Ana kaget mendengar kata Syakira yang terpotong, Ana berharap untuk tidak berkata-kata Ia takut Allea akan mendengarnya dan Syakira di jadikan bahan gosip oleh mereka.
"Karena dia sudah kenyang dengan godaan maut darimu, Leon," potong Ana yang membuat Leon tertawa dan Syakira hanya diam.
"lho kenapa sih? kelihatan banget lho gak baik?" bisik Ana pada Syakira yang sedang menikmati sarapannya.
"Lagi datang bulan. iya kan?" ledek Leon yang mendengar Ana berbisik.
"lho dengar aku berbisik pada Syakira, Leon?" tanya Ana.
"Iyalah. Itu bukan berbisik namanya, tapi berteriak." tawa Leon sambil menyeduh teh hangatnya dan melihat Syakira kurang baik.
"Ada apa denganmu Syakira?" Batin Leon. "Apa benar Syakira sudah bersuami?" Leon kembali membatin. Ia sungguh akan kehilangan jika Syakira sudah bersuami. pikirnya. seakan tidak rela Syakira milik orang lain. Ia sudah terlanjur suka dengan Syakira di awal pertemuannya.
ketiganya kembali diam menghabiskan sarapan masing-masing.Leon menyuguhkan Syakira tissue karena ada sisa nasi di dekat bibirnya.
Leon dan Ana Saling menatap satu sama lain. Ana pun menyusul Syakira. Dan Leon menatap jarinya. Ia ingat tatapan Syakira padanya. tatapan itu mampu menggetarkan jantung Leon.
"Syakira. Kau wanita yang sama. Aku yakin itu," gumam Leon melihat bros hijab yang selalu Ia simpan selama ini.
Leon pun menyusul masuk kelas. tidak sengaja Leon mendengar Ana dan Syakira berbincang.
"Aku merasa tersiksa jauh darinya, Ana. aku merindukannya, tapi jiwaku sudah mulai lelah untuknya. Andai aku bisa berangan ingin ku putar mesin waktu untuk tidak mengenal sosok Rama. Aku benci, Ana.
"Ra, istighfar kamu. Biar bagaimana dia suamimu. wajar jika kau merindukannya, tapi bukan berarti kau terus membenci dirimu sendiri. ingat Ra, ini ujian dalam rumah tanggamu."
Deg! pengharapan Leon seakan runtuh. dugaannya ternyata benar. Ia mengepalkan tangannya. seakan Ia marah melihat kesedihan berhari-hari di wajah Syakira.
Cukup lama Leon berdiri di tempatnya. setelah melihat ada banyak orang di kelas Leon pun masuk dan duduk di tempatnya dengan perasaan yang berkecamuk.
Beberapa jam mereka mengikuti ujian perkuliahan dari dosen harun pun usai.
Dosen harus sudah seperti dosen biasa. Ia sudah menikah setelah tahu Syakira juga sudah menikah. Bahkan Ia sudah mengikhlaskan Syakira.
__ADS_1
Usai perkuliahan Ana dan Syakira akan pulang. Leon pun mengikuti mereka dan berkata, "Ra, tunggu! Jika aku tidak bisa menempati hatimu, jadikan aku temanmu."
"Kita sudah teman, Leon."
"Bukan seperti itu, akan tetapi jadikan aku teman yang bisa menghapus kesedihanmu," kata Leon dengan serius.
Syakira dan Ana tertawa. Bagi Syakira dan Ana itu lucu menurutnya melihat wajah Leon seperti anak kecil. tidak biasanya Leon berujar serius. Syakira tidak sadar suaminya sudah berada tidak jauh dari tempatnya.
Ada guratan marah melihat tawa itu. Rama mengepalkan tangannya. Ia tidak sudi Syakira tertawa dengan pria lain. semua sifatnya seakan berubah. Ada apa dengannya?
Seorang datang tiba-tiba dan menabraknya membuat Syakira terseret pas di dada Leon.
"Syakira?" panggil Rama dengan suara cukup menekan.
Syakira berbalik dan melihat Rama berdiri tidak jauh dari tempatnya. Dengan pelan Leon membantu Syakira memperbaiki posisinya. Dan Syakira dengan pelan sedikit menjauh dan meminta maaf.
Leon dan Rama saling menatap. Ia tidak tahu harus marah pada siapa. sementara Syakira terdiam. Ana melihat itu menarik tangan Leon untuk menjauh.
"Tunggu!" kata Rama.
Leon pun berhenti. Rama mendekati Leon. "Jauhi syakira. Jangan kau terus dekati dia."
"Aku paham. tapi, suami sepertimu tidak pantas untuknya. apa pantas kau membiarkan dia terus bersedih? setiap hari aku harus melihat kesedihan diwajahnya dan hari ini aku berhasil membuatnya tertawa," kata Leon melihat kearah syakira.
Ana kembali menarik tangan Lon untuk pergi. Leon pun mengikuti langkah Ana sambil terus berbalik melihat ke belakang. hatinya sakit melihat Syakira bersama pria yang merupakan suaminya, bukan dirinya.
Syakira dengan wajah yang bahagia bercampur sedih memilih diam. Rama menarik tangan istrinya dengan lembut tanpa ada sepatah kata diantara mereka.
"kunci mobilmu mana?" katanya.
Entah Rama harus marah kerena alasan apa. Bukankah dia melihat sendiri Syakira tidak sengaja jatuh dalam pelukan Leon.
"Akh!" batin Rama.
Syakira pun memberikan kunci mobil pada suaminya. Entah Ia bahagia suaminya di depannya atau Ia harus marah karena kerinduan itu seakan sudah sirna.
"Apa, kak Rama belum berganti? mengapa wajahnya terlihat lusuh," batin Syakira yang kasihan melihat penampilan suaminya.
Hampir dua bulan mereka tidak bertemu. Bagaimana tidak kerinduan itu tidak memuncak. Ingin rasanya Syakira membenamkan tubuhnya dalam pelukan suami, tapi Ia tahan.
Rama pun membukakan pintu mobil untuk istrinya. sepanjang perjalan keduanya membisu.
__ADS_1
"Jangan diam kak," batin Syakira.