
Marwa kembali ke rumahnya terlihat uring-uringan. Bahkan ibu Ratna menyapa putrinya tidak dihiraukannya. membuat sang ibu dan nenek saling pandang.
"Kenapa anakmu, Ratna?" tanya ibu mertua.
"Entahlah, Ibu. sepertinya dia sedang memikir sesuatu."
Marwa terus berjalan hingga menginjak tangga ketiga, ketika Ia hendak menginjak tangga ke enam, tegur Sapa Syakira membuyarkannya.
"Assalamu'alaikum Kak, kak Marwa kenapa?"
"A—iya, Aku tidak mengapa?" jawab Marwa tersenyum pada adik iparnya itu yang terlihat sudah segar bugar setelah sudah satu bulan persalinannya. Bahkan Syakira terlihat sudah cekatan mengurus tiga Beby kembarnya.
"Tapi, kak tidak terlihat baik, lo." ujar Syakira yang kini keduanya berdiri ditangga sambil berbincang.
Ibu Ratna dan nenek hanya menatap mereka dari jauh.
"Apa Rama sudah pulang?" Marwa berusaha mengalihkan perhatian Syakira. Dia tidak ingin tahu perasaannya sekarang. Dia sangat tahu adik iparnya itu, saat dia menjawab pertanyaannya, otomatis Syakira akan menanya sampai akar-akarnya.
"Belum, kak. mungkin sedikit lagi dia pulang."
Baru selesai Syakira berujar suara mobil Rama terdengar sudah memarkirkan mobilnya. Rama masuk memberi salam sambil berlari.
"Hei ada apa?" teriak ibunya melihat Rama membuka sepatunya dan kemudian berlari.Tentu Syakira dan Marwa ikut panik melihat tingkah bapak itu.
"Minggir!" Teriak Rama meminta Marwa minggir dan memberinya jalan.
"Astagfirullah, kak, ada apa?!" teriak Syakira tidak dihiraukan oleh Rama yang terus berlari menuju lantai atas.
Melihat Rama seperti itu, Ibu Ratna, nenek dan semuanya menyusul Rama. Rama membuka pintu kamarnya dan mendapatkan sikembar terlentang di atas kasur sedang bermain yang di temani oleh baby sisternya.
"Ini dia, dua boy dan satu putri raja! mmuaa... " Rama Langsung mengecup wajah gembul sikembar.
Semua orang-orang melihat kelakuannya hanya bisa geleng kepala. wajah panik mereka berubah jadi tersenyum.
"Astagfirullah, Rama. kamu bikin panik Nenek saja. Dasar bapak tukang onar!" Nenek masuk dan menarik telinganya.
"aw... Nenek ini sakit!" pekik Rama.
"Datang dari kantor lari-lari. memangnya ada yang mau ambil anakmu, ha?"
"Ya tidak, nek. Apa Nenek tahu, sedari tadi dikantor di gembul-gembul ini membuatku rindu," jelas Rama dan melirik istrinya.
"Apa?" Judes Syakira saat melihat suaminya melirik kearahnya.
"Juga merindukan ibu dari anak-anakku." ulas Rama memegang wajah istrinya.
"Woi, kita masih di sini, kamu pikir kita ini orang-orang sawahan," kata Marwa yang membuat Syakira merasa lucu.
"Sudahlah, kaboor... lelah mau istirahat. jawab Matwa yang berbalik.
"Bagaimana keputusanmu, kak?" Rama menahan Marwa.
Namun Marwa tidak peduli pertanyaan adiknya.Dia hanya menoleh sebentar dan berlalu setelah mengecup pipi gembul si kembar dan berkata,
"Aunty istirahat, ya. Sebentar kita main." Marwa pun berlalu.
kembali ibu Ratna penasaran dan begitu juga yang lainnya.
"Ada apa sih, Rama?"
"Ibu mulai kepo ya?" ujar Rama yang menggendong putrinya.
"Abi, lebih baik bersihkan diri dulu." ujar Syakira yang melihat suaminya terus bermain dengan buah hatinya dengan masih baju kantor.
Ibu Ratna kembali berujar, "Marwa kenapa?"
"Nanti juga ibu akan tahu, semoga kak Marwa tidak menutup dirinya, karena Statusnya." ujar Rama dan beranjak yang akhirnya mendengar saran istrinya. putri kecilnya ia serahkan pada Syakira kemudian dia masuk ke ruang ganti.
__ADS_1
Baby sister dan lainnya pun keluar dari kamar mereka. Tinggallah Syakira bermain dengan buah hatinya.
Tampak ketiga malaikat kecil itu semakin hari semakin menggemaskan. sesekali terlihat tersenyum dengan pembawaannya masing-masing.
"Jadilah anak-anak sholeha kelak nanti," ujar Syakira.
"Amiin," Rama mengaminkan doa istrinya yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. sangat jelas tercium aroma sabun miliknya.
"Dimana baju kokoku, sayang." Rama mencari baju koko yang sering dipakai. baju itu dibelikan oleh Syakira saat mereka belum menikah.
"Ada banyak kok baju di lemari, Abi. bukan hanya itu baju shalat, Abi," Ujar Syakira yang memakaikan minyak telon untuk sang buah hati sambil mengajaknya bercerita. Setelahnya ia meminta Rama menjaga sikembar, lalu beranjak mencari baju yang di inginkan suaminya.
"Aku sukanya baju itu, baju itu memiliki makna tersendiri bagiku."
"Benarkah?" Senyum Syakira mengembang."
"iya dong. Aku tidak pernah melupakan hari itu." Rama menatap istrinya yang terlihat sedang mencari baju yang di inginkan.
Rama ingat baju itu Syakira belikan saat Syakira tengah memilih baju untuknya di sebuah pusat perbelanjaan dan Rama berpura-pura saat itu bingung memilih baju bahkan menganggapnya pertemuannya dengan Syakira hari itu secara kebetulan. padahal dia memang mengikuti Syakira.
Hingga di depan Kasir, saat Rama akan membayar ia lupa dompetnya di mobil, alhasil Syakira kembali membayar baju koko tersebut. Tentu Rama begitu berbunga, selain dipilihkan baju oleh Syakira juga di bayarkan. begitu di tempat parkir, Syakira menolak untuk digantikan uangnya.
"Saat itu kamu mengatakan padaku—" ucapan Rama langsung di jawab oleh Syakira.
"Sedekah," timpal Syakira tertawa mengingat momen itu.
"Kau jual mahal hari itu ya padaku. padahal mungkin kamu juga suka kan aku hari itu?" Goda Rama pada istrinya.
"Gak lah, kamunya saja narsis. kamu ikutin kan akun hari itu, ayo ngaku?"
"Iya, karena memang aku mau, kamulah yang jadi pendamping hidupku. menemani hari tuaku dan menua bersma."
Syakira berbunga mendengar pengakuan suaminya. Dia mendekat dan memberikan baju koko itu pada suaminya. bukannya mengambil baju koko itu, Rama menarik istrinya hingga Syakira duduk di tepi ranjang. dan memasukkan kepala istrinya dalam pelukannya.
"Terimakasih untuk semuanya Syakira. maafkan aku bila pernah menyakiti perasaanmu selama kita menikah. Maafkan aku bila belum bisa menjadi suami yang sempurna."
Sebagai seorang istri, tentu Syakira begitu berbinar mendengar pengakuan suaminya. Apa yang dikatakan Rama begitu sangat berharga, melebihi harga sebuah intan berlian. SEBUAH KATA MAAF, dan sentuhan ketulusan dari sang suami, bagi Syakira lebih dari cukup.
"Aku mecintaimu, Suamiku. Maafkan juga aku jika banyak megeluh, maafkan aku juga yang belum bisa menjadi istri yang sempurna. Terimakasih juga semua pengorbananmu.
Terdengar suara azan berkumang memamnggil penghuni bumi untuk bersujud dan bersyukur. Rama pun beranjak untuk menuju ke mesjid.
***
Setelah makan malam, keluarga itu berkumpul sambil bermain dengan si kembar di ruang tamu. Marwa pun menceritakan seputar Zakir pada keluarganya secara terbuka.
"Jadi, Zakir melamar kamu, lalu apa Jawaban yang kamu berikan pada Zakir, Marwa?" tanya ibu Ratna pada putrinya yang terlihat sedikit tegang.
"Aku belum memberikan jawaban padanya." Marwa menatap ibunya dan nenek.
"Kak, gak ada salahnya kamu menerima hal baik Zakir. Yang aku lihat, Zakir tulus mencintaimu. Aku bisa melihat tatapan dia pada kakak," ujar Rama.
"Jangan dengar kata orang, kak. untuk ayah dan ibu mertua kakak, mungkin mereka bisa paham. Dengar ya kak, wanita yang ditinggal mati oleh suminya, talak jatuh dengan sendirinya dan itu artinya si wanita boleh menikah setelah masa indahnya selesai jika ada yang melamarnya dan wanitanya juga beredia." Rama menatap Marwa.
***
Zakir yang tampak sibuk melayani pengunjung hari itu lebih bersemangat. ia sudah tidak sabar menunggu jawaban Marwa. Senyum di wajahnya terus menghias.
Para karyawan yang menyaksikannya saling berbisik. "kenapa Tuan Zakir, ia terlihat begitu bahagia?"
"Bisa jadi Tuan Zakir dapat orderan mungkin, atau—"
"Atau apa?"
Marni lewat dan dengan berdeham. "lagi gosip bos sendiri? Apa kalian pernah berfikir. karena dia, kamu bisa makan karena di beri pekerjaan.Ini gosip lagi pada bos sendiri."
Mereka berhenti bergosip dan pokus bekerja. Seorang wanita datang dan mencari Zakir kembali mereka bebisik lagi.
__ADS_1
"Siapa wanita itu? Apa mungkin pacar Tuan atau mungkin calon istri tuan bos?" tanya Mala karyawan paling ember.
"Huss... nanti dapat teguran lagi lo... mau. dipecat?" ujar Marno bagian kasir.
Marwa datang dan kembali menanyakan keberadaan Zakir. "Tuan Zakir ada?"
Marni datang dan menjawab, "Tuan ada di ruangannya, mari saya antar."
Marwa mengikuti langkah Marni hingga di depan pintu sebuah ruangan. lantas Marni mengetuk pintu sembari melirik Marwa dan pintu pun di buka. Zakir melihat Narni dan belum menyadari kehadiran Marwa.
"Tuan, ada yang ingin bertemu," Lapor Marni pada majikannya.
"Itu, Tuan," timpal Marni lupa menanyakan nama wanita yang kini berada di sampingnya.
"Siapa, Marni? kalau bicara yang jelas," ujar Zakir.
Marni pun menyampaikan kehadiran Marwa. "Nona Marwa."
Detik kemudian perasaan serta jantung Zakir kembali degdegan. Seolah saraf-sarafnya tak berfungsi dan aliran darahnya seakan berhenti mengalir.
"Marwa?" Zakir keluar dan mendapati Marwa juga menatapnya. "Baiklah Marni kau boleh kembali bekerja."
"Baik, Tuan. Saya permisi. Mari nona."
Marwa tersenyum dan mengangguk.
"Mau masuk? Tawar Zakir. Atau—"
Marwa geleng kepala dan berkata sambil melihat tempat. "Mmm ... bagaimana kalau kita bicara di luar saja. Aku—"
"Aku paham, Ayo!" Zakir dan Marwa pun duduk di luar ikut bergabung dengan pengujung kafe lainnya. Zakir juga memberi kode pada Marni agar membawakan minuman.
keduanya terdiam. Marwa tidak tahu harus memulai dari mana. melihat Marwa diam, Zakir pun mengawali pembicaraan mereka.
"Kenapa?" tanya Zakir. Sejujurnya Zakir sangat gugup. Hanya saja dirinya terlalu pintar menyembunyikan perasaan gugupnya itu.
"Aku tidak tahu harus mulai darimana."
"Pada intinya saja," Jawab Zakir tidak sabar menunggu jawaban yang ia ajukan satu hari yang lalu.
"Aku ... aku tidak tahu."
"Aku kenapa? apa yang ingin kamu katakan, Marwa. Jagan buat aku menunggu," Zakir semakin penasaran dibuat oleh Marwa.
"Aku bersedia ... aku sudah ... memutuskan ... bahwa aku—"
"kau mau menikah denganku." Zakir melanjutkan ucapan Marwa yang terpotong.
Marwa mengangguk dan berkata, "Iya."
"Kau serius, Marwa?! kau Benar-benar mau menikah denganku?!" Suara Zakir membuat semua pengunjung kafe menoleh.
"Pelankan suaramu, Zakir." Marwa menutup mulut Zakir dengan telapak tangannya.
"Biarkan saja mereka mendengarnya, Marwa. Aku terlalu bahagia kau menerima lamaranku pada akhirnya." lanjut Zakir tak peduli suaranya di dengar oleh pengunjung kafe. Hingga terdengar suara tepuk tangan begitu riuh. Marwa hanya bisa menutupi wajahnya degan daftar menu yang ada di atas meja. Dia sangat malu.
"Dengarkan semua!" Marwa mengangkat kepalanya melihat Zakir yang berdiri seperti dia ingin mengumumkan sesuatu. Marwa penasaran apa yang akan Zakir ucapkan.
"Hari ini aku aku gratiskan! silahkan kalian makan sepuasnya!" Kata Zakir. Tentu hal itu disambut gembira oleh semua pegunjung yang hadir hari itu.
"kamu akan rugi, Zakir," Marwa geleng kepala.
"Biarkan aku rugi, aku sudah beruntung telah mendataparkanmu, Marwa, aku tidak peduli apa yang mau terjadi. Yanga jelasnya aku sangat bahagia," ungkap Zakir.
...BERSAMBUNG...
...Perjuangan dalam membangun dan menjaga esensi dari cinta, karena cinta bukan ditemukan melainkan ditentukan lewat kehendak untuk membangun. ...
__ADS_1
...Cinta sejati tidak harus berarti menyatu, terkadang cinta sejati itu terpisah namun tak ada yang berubah. ...
...Selalu beri dukungan dan maafkan author. love you pembaca setia TERLANJUR SAYANG💕💕💕💕💕...