Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Mengenang


__ADS_3

Semua keluarga kembali berkumpul di rumah sakit. Menunggu hasil pemeriksaan Marwa dari dokter. Rama yang melihat istrinya tampak lelah berkata, "Sayang, baiknya kita pulang ya?"


"Tapi kak, Apa Marwa baik saja?" Tanya Syakira melihat suaminya yang juga sudah sangat terlihat lelah.


"Semoga saja baik. Kak Marwa hanya belum bisa menerima. Sakit memang kehilangan, akan tetapi dia harus bisa mengikhlaskan." Rama mengelus kepala istrinya.


"Dia hanya butuh waktu juga butuh dorongan semangat dari kita semua," ujar Syakira.


"Benar. Ayo aku antar kamu pulang! Kamu juga harus jaga kesehatan. Ingat, bukan hanya satu orang di sini." Rama menunjuk perut istrinya.


Syakira mengangguk setuju. Dia memang sudah merasa lelah, sedari tadi pahanya terasa keram. juga perutnya sudah minta diisi. Rama dan Syakira pun pamit. Namun, begitu akan melangkah, dokter keluar dari ruangan UGD dan menjelaskan jika keadaan Marwa baik-baik saja.


"Alhamdulillah," ucap nenek yang mendengarnya.


"Tapi sebaiknya, pasien di rawat dulu sampai kesehatannya lebih membaik lagi." Saran dokter tersenyum ramah pada keluarga pasien.


"Baik dok, kami setuju saja." jawab Ibu Ratna mewakili.


"Apa pasien sudah bisa dibesuk, dok?" tanya Syakira dengan penuh harap.


"Nanti, setelah pasien dipindahkan ke ruangan inap," jawab dokter itu kemudian pamit masuk kembali ke UGD.


"Rama, antar-lah istrimu! bawa juga nenek pulang bersama kalian. kasihan nenek," Ibu Ratna memegang bahu putranya. "Kamu harus banyak istirahat. Biarkan ibu di sini yang menjaga Marwa." Ibu Ratna melihat kearah Syakira.


"Baik Bu, Syakira pulang. Titip salam sama Kak Marwa."


Syakira pun mengandeng tangan nenek mengikuti langkah Rama yang berjalan di depannya menuju arena parkir.


***


Sampai di rumah utama, Keadaan rumah terasa begitu senyap. Semua pegawai di sana tampak sibuk membersihkan sampah yang berserakan.


Masuk dalam rumah menyisakan cerita menyedihkan keluarga tersebut. Rama menatap foto kakak iparnya. "Ternyata maut begitu cepat memanggilmu, kak."


Sementara Syakira, mengantar nenek masuk dalam kamarnya. Usai mengantarkan nenek, Syakira keluar menemui suaminya yang masih berdiri di depan foto sang prajurit yang tangguh.


"Kak?" Panggil Syakira memegang pundak suaminya.


Rama buyar dari lamunannya. "Aku hanya mengenang beliau. Selama menjadi menantu di rumah ini, aku belum pernah menemukan kebohongan. Bahkan dialah mengajariku banyak hal tentang kesetiaan."


"Pastinya kak Marwa sangat mencintai suaminya. Dia tipe laki-laki penuh tanggungjawab, sangat kelihatan raut wajahnya."

__ADS_1


"Benar. Apa yang kamu katakan benar." Rama masih setia menatap almarhum kakak iparnya.


Syakira melirik suaminya, "Suamiku juga tipe pria setia serta bertangungjawab. Aku bersyukur mendapatkannya."


Rama melirik istrinya sambil tersenyum.


"Jangan menilai aku berlebihan, Sayang. Aku hanya memberi sebisa yang aku beri."


"Itu lebih dari cukup." Senyum Syakira.


Rama meraih tangan istrinya, lalu mengecup kening gadisnya. setelahnya, mereka naik lantai atas untuk beristirahat.


Merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tidak sengaja matanya tertuju dengan mangga muda. "Aku ingin makan mangga."


Rama menoleh melihat mangga muda yang diletakkan di atas meja rias. "Kamu serius, makan sekarang?"


"Iya, aku baru ada selera," ujar Syakira.


"Baiklah, aku akan meminta Bibi Mirna membuatkan rujak yang enak." Rama berdiri dari kasur.


"Tidak perlu, Kak. Aku tidak mau mangga ini di buat rujak. Aku hanya ingin garam saja. pasti enak." Syakira mengangkat jempolnya.


"Kenapa wajahmu terlihat kecut, Kak?"


"Sayang, apa tidak mengapa?"


"Tidak mengapa bagaimana? Ini enak kok, malahan lebih enak kalau ada garamnya," Syakira mulai mengupas kulit mangga itu. Matanya terlihat berbinar ketika daging mangga sudah terlihat.


Bibi Mirna datang membawa garam secukupnya setelah mendapat telpon dari Rama. Bibir Mirna menelan air liurnya sendiri melihat nona mudanya makan mangga.


"Bibi mau ikut coba?" Rama menawarkan melihat Bibi Mirna tampak asyik menonton istrinya makan mangga di siang hari.


"Tidak tuan muda, suka saja lihat ibu hamil makan mangga terlihat nikmat. Tuan muda tidak ikut? biar seru tuan."


ingin rasanya Rama menutup bibir pembantunya, takutnya ide Bibi Mirna memancing perhatian Syakira. Benar saja, begitu ucapan Bibi Mirna selesai, Syakira menyahut.


"Ayo Kak, temani aku ya biar tambah enak."


"Benar nona muda, biar lebih enak kalau ditemani makan mangga sama suami, tambah mesra, Calon bayinya pasti suka."


"Bibi!" pekik Rama.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan bibi benar kok. Ayo Kak duduk di sini!" Syakira menarik tangan suaminya untuk duduk di sampingnya makan mangga.


Bibi Mirna terkekeh telah berhasil mengerjai tuan mudanya.


"Bibi, balas dendam sama aku ya?"


Bibi mengingat saat dirinya asyik menyiram bunga beberapa hari yang laku, tiba-tiba saja air tidak jalan, begitu dia menghadapkan wajahnya, air tiba saja menyembul keluar. Terdengar suara sedang mentertawakan dirinya, saat Bibi Mirna berbalik, tenyata yang mengerjainya kembali adalah tuan mudanya sendiri. Hal inilah yang sebenarnya Bibi Mirna betah bekerja di rumah tersebut. Keluarga itu termasuk keluarga humoris.


"Benar kan bibi, apa yang saya bilang. Bibi balas dendam, 'kan?"


Bibi Mirna buyar, dia hanya tersenyum dan berkata, "tidak dendam, tuan muda. Hanya balik saja ngerjainnya.


"Apa maksud Bibi, Kak? Aku tidak mengerti." Syakira meminta suaminya menjelaskan.


Syakira tertawa mendengar penuturan suaminya. "Pasti bibi saat itu langsung mandi ya?"


"Iya nona Syakira, itu benar. Bukan hanya satu dua kali tuan muda mengerjai saya, bahkan sudah berkali-kali. Dari kecil hobi sekali tuan muda seperti itu nona."


"Oh astaga, semoga saja anakku tidak ketularan jaim ayahnya." Syakira menjewer telinga suaminya.


Bibi Mirna terpingkal melihat aksi keduanya dan memberi ruang pada dua sejoli itu.


"Ini mengingatkan aku saat kak Marwa dengan suaminya bermain di taman belakang." ujar Rama mengingat momen bahagia kakaknya.


"Sekarang tinggal doa yang Kak Irwan harapkan. Juga, semoga kak Marwa cepat pulih dan berkumpul kembali."


Usai makan mangga mudanya, Syakira pun merebahkan tubuhnya. melihat istrinya tertidur, Rama dengan pelan menutup pintu kamar dan kembali ke rumah sakit menggantikan ibunya berjaga setelah menelpon sekertaris pribadinya menggantikan semua rapat untuk esok hari.


Sekitar 2 jam Syakira tertidur dan tidak menemukan suaminya. Syakira turun ke lantai bawah dan melihat nenek tampak berdiri menatap foto suami Marwa.


"Nek?"


"Syakira, suamimu ke rumah sakit, nak."


"Iya, nek. kak Rama sudah mengirim pesan."


Nenek mengelus wajah foto suami Marwa dan berkata, "Dia suami yang baik. Suami yang baik untuk cucuku."


Syakira terdiam sambil terus mendengar pengakuan nenek itu. 'Ternyata benar adanya, orang baik sulit di lupakan, tubuhnya dan jasadnya memang sudah tidak ada, tetapi kebaikannya selalu dikenang.'


Nenek dan syakira buyar, ketika seorang mengetuk pintu. Syakira berbalik melihat siapa yang datang.

__ADS_1


__ADS_2