
Wajah Rama berubah pucat Fasih setelah mengetahui kondisinya. "Tidak mungkin, dokter! Tidak mungkin! Pemeriksaan ini pasti salah." kata Rama yang memakai bahasa asing.
Ia meremas dengan geram hasil diagnosa dari dokter bermata blasteran itu tentang dirinya, jika Ia mandul.
"Aku tidak percaya, dokter! Anda pasti salah!" teriak Rama dengan bahasa asing pada dokter Jon.
Dokter jon memegang bahunya, "Aku mengerti dengan perasaan anda, tuan. Tapi ini faktanya. 95 persen menyatakan tuan mandul." Dokter Jon mengulang ucapannya pada pasien asal Indonesia itu dengan bahasa indonesianya yang kurang fasih.
Mendengar dokter Jon, Rama kembali berteriak. Ia begitu Kecewa dengan diagnosa Dokter. Ia kembali teringat dengan perkataan istrinya beberapa hari yang lalu lewat percakapan telpon mereka.
'Kak, kapan aku hamil, ya? Aku sudah sangat siap untuk hamil. Biar nanti saat kamu pergi lagi seperti ini aku tidak akan kesepian dan merasa sendiri. Pasti sangat lucu saat anak kita nanti memanggil aku dengan sebutan ummi dan memanggilmu dengan sebutan Abi.'
Kata itu sangat menyakitkan bagi Rama. Bagaimana ia pulang nanti. Apa yang akan Rama katakan pada istrinya. Haruskah Ia jujur dengan kondisinya yang sekarang. Apakah Syakira tidak akan meninggalkan dirinya?
"Akh!"
Rama Frustasi dan kecewa. Ia tidak menyangka menjadi pria tidak sempurna. Ia pun keluar dari ruangan Dokter Jon dengan menutup pintu dengan kasar.
Tidak serta merta Rama kembali ke hotel. Ia menuju sebuah tempat yang memberinya sebuah ketenangan. mengambil air wudhu dan ikut shalat jamaah bersama di salah satu mesjid yang ada di New York.
Ponsel miliknya berdering dan itu dari Syakira. Rama hanya menatap dan membiarkan ponselnya terus bergetar. Rasa kecewa menyelimuti hatinya.
Seseorang datang menghampirinya. "Tuan ponsel anda bergetar." ucap orang tersebut yang juga merupakan orang Indonesia.
"Ia. Terimakasih." kata Rama pada orang tersebut yang kini duduk berzikir di dekatnya.
Bukannya menjawab Rama malah membalikkan ponselnya. Kembali Ia mengambil shalat sunnah dua rakaat setelah shalat dzuhur.
Usai shalat dzuhur, Rama bangkit dari tempatnya. kertas dari Dokter Jon jatuh tepat di depan pria yang sebelumnya menegur Rama.
Tidak sengaja ia membaca hasil diagnosa Rama. Pria tersebut ikut kaget. Dengan segera pria tersebut menyusul Rama yang kini sudah lebih duluan meninggalkan mesjid besar tersebut.
"Tuan, tunggu!" Cegahnya. "Apa ini milik anda?" katanya lagi sambil memberikan kertas itu pada Rama.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Rama dan berbalik untuk pergi.
"Aku turut prihatin dengan kondisi anda, tuan, Akan tetapi bukan berarti anda berputus asa. Masih banyak cara yang bisa anda lakukan." Suara pria tersebut menghentikan langkah Rama.
Pria tersebut tersenyum dan menghampiri Rama, Lalu mengajaknya berkenalan. "Namaku Zakir juga asal Indonesia dari kota X."
Rama pun nerima uluran tangan Zakir kemudian menyebutkan namanya. "Rama. Aku juga asal Kota X sama seperti anda. Senang berkenalan dengan tuan, Zakir."
"Ada baiknya anda memeriksakan ulang kondisi anda, Tuan Rama. Bisa jadi Dokter salah diagnosa. Atau bisa juga memeriksakan diri ke beberapa dokter lainnya agar hasilnya lebih meyakinkan. Terus bertawakal, tuan."
"Terimakasih atas Sarannya." lanjut Rama.
Mereka pun tampak akrab dan terus berbincang seputar tujuan masing-masing kedatangan mereka di New York.
"Baiklah, tuan Zakir. Saya permisi. Assalamu'alaikum." Pamit Rama dan beranjak pergi dari tempat tersebut.
Ia memikirkan saran Zakir cukup masuk dalam benak Rama. kembali Ia melihat ponselnya ada lima panggilan tak terjawab dari sang istri. Ada rasa bersalah dan sesal dalam dirinya.
Setelah sampai di hotel, Ia bergegas masuk kamarnya. pria itu kembali melihat hasil diagnosa dari dokter Jon. dengan wajah frustasinya Rama melemparkan kertas itu sembarang arah. Harga dirinya sebagai pria merasa hancur.
"ini tidak mungkin! Dokter pasti salah!"
Dokter itu pasti salah, iya pasti salah. aku tidak tidak mungkin mandul. tidak!" teriaknya.
Rama berdiri dan meninju sekuat tenaga didinding kamar hotel tersebut sampai buku-buku tangannya berdarah. ia tidak menghiraukan luka pada tangannya bahkan darah yang sudah keluar.
"Apa yang akan aku lakukan. bagaimana jika Syakira tahu? bagaimana dengan nenek yang ingin cicit dariku? Bagaimana? mengapa harus terjadi padaku?"gumam Rama seorang diri mengusap wajahnya dengan kasar.
Rama melihat dirinya di cermin. "Besok aku harus kembali memeriksakan diriku pada dokter lain," gumam Rama mengingat saran Zakir.
Ia berbalik dan matanya tertuju pada ponsel yang Ia sengaja non aktifkan. Pria itu kembali dikuasai emosinya dan melemparkan semua benda yang ada dikamar hotel itu.
"Akh!" teriaknya. Ia duduk di atas kasur sambil menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu. Rama melihat siapa di luar. Rama pun membukakan pintu dengan wajah lusuh serta rambut berantakan. Rama melihat nama di sana dan juga asal gadis itu ternyata dari Indonesia.
"Ada apa?" kata Rama pada pegawai hotel. suaranya terdengar seperti orang marah membuat wanita itu seperti ketakutan.
"Tuan, saya mau membersihkan kamar anda juga ingin mengganti seprei." jawab gadis itu menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat berhati-hati.
Gadis itu cukup kaget dan bertanya dalam dirinya mengapa kamar pria di depannya berantakan seperti kamar yang telah diacak-acak.
Tidak sengaja mata gadis itu juga tertuju pada tangan Rama. tapi, Ia tidak berani untuk bertanya atau menawarkan diri membantu mengobati.
"Sudah keluar! Bersihkan saja kamar lainnya," Rama mengusir gadis tersebut.
lalu, Ia menutup pintu kamar hotelnya dengan cukup kasar.
***
Syakira yang terabaikan panggilan dari suaminya marah dan kesal serta kecewa. Ia semakin dilanda rasa curiga.
"Apa benar, kak. Kau bersama Maura? mengapa ini menyakitkan padahal belum ada bukti." Syakira bergumam dalam diamnya.
"Syakira, kamu masih disini? Mengapa belum tidur? Ini sudah larut malam, nak," kata Ibu Fatima melihat putrinya masih berdiam diri di depan kamarnya yang duduk di sofa.
Syakira memeluk ibunya. "Ibu, aku benar-benar merindukan suamiku. Aku merasa tidak tenang, ibu. Aku mencoba mengubungi beberapa kali, akan tetapi telpon dariku tidak di jawab, ibu. Ibu ada apa dengan kak Rama. ada apa ibu?"
Ibu Syakira mengelus lembut Putrinya. Ia tidak bisa melihat Syakira tampak seperti orang yang kehilangan semangatnya. Bahkan makan pun hanya sesuap.
Ibu Syakira mengantar putrinya masuk kamar. Ia mencoba menghubungi Rama tapi, tidak aktif. "Apa Rama baik-baik saja?" pikir Ibu Syakira yang ikut khawatir dengan menantunya.
Ibu Syakira melihat putrinya sudah tertidur. ketika akan keluar Syakira mengigau. "Kak, kamu kenapa? ada apa, kak."
Ibu Syakira kembali duduk di samping putrinya. "semua akan baik-baik saja, nak.
Melihat Syakira sudah pulas Ibu Fatimah pun keluar dan menutup pintu kamar putrinya dengan pelan.
__ADS_1
Sepertiga malam Syakira kembali mengigau, " Kak, apa salahku! mengapa kau pergi. kembalilah! kembalilah! jangan pergi! kak, jangan pergi! kau sudah berjanji kita akan selalu bersama, tapi mengapa kakak pergi! kembalilah!" teriaknya dan Syakira terbangun dari mimpinya dengan napas terengah-engah.