Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Menjelaskan


__ADS_3

"Saya kemari ingin mengantarkan ini, untuk nona Marwa," Firman menyerahkan sebuah kotak besar entah apa isinya pada Syakira.


"Aku terima, terimakasih."


Firman masih berdiri entah apa yang ingin di sampaikan. Syakira pun menyahut. "Ada lagi?"


"Saya permisi, salam dengan nona Marwa dari kami."


"Akan saya sampaikan, terimakasih," Syakira tersenyum.


Nenek menghampiri Syakira, "Siapa nak, apa itu?"


"oh, ini untuk Marwa, dari Pak Firman. Entahlah apa isinya, nek."


"Yasudah simpan saja di kamarnya, mungkin itu barang berharga."


"Bisa jadi."


Hingga malam tiba, Syakira menunggu kepulangan suaminya. tepat jam 08.00 malam Rama pulang dengan wajah cukup lelah. Bagaimana tidak, seharian tidak ada istirahat.


"Kak, kapan pulangnya? Syakira cukup terkejut melihat penampilan suaminya yang acakan.


Rama menatap istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. "Kamu sudah minum obat?"


"Sudah."


Rama langsung merebahkan tubuhnya setelah mendengar jawaban istrinya.


Syakira berbalik dan menemukan suaminya sudah tertidur.


Syakira duduk di sisi suaminya menatap wajah lelah itu dengan penuh kasih, melepaskan kaos kaki yang masih melekat. Tiba saja, tubuhnya langsung di raih oleh Rama. "Biarkan sebentar seperti ini."


"Tapi aku harus melihat nenek, dia sudah makan atau belum."


"Nenek sudah ditemani oleh bibi Mirna, tadi aku melihatnya makan."


"Kamu sudah makan?" ujar Syakira yang yang masih berada di atas suaminya.

__ADS_1


"Belum, aku belum lapar. tadi aku ketemu Fajri di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" Syakira terkejut.


"Ayah mertuanya, Tuan David Tamin."


"Sakit apa Om David?" tanya Syakira yang kini sudah ikut merebahkan posisinya di dekat suaminya.


"Entahlah, aku tidak sempat tanya. karena begitu aku mau bertanya dengan Fajri, ibu memanggilku," ujar Rama menatap istrinya. "Bagaimana kabarmu, nak?" Rama mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Kami baik ayah." Syakira menyahut meniru suara anak kecil.


"Aku penasaran dengan mereka, ingin tahu jenis kelaminnya." wajah berbinar Rama sangat terlihat.


"Kalau aku tidak mau tahu," ujar Syakira yang membiarkan Rama mengecup perutnya.


"Kenapa? Kamu tidak penasaran? Aku kok sangat penasaran."


"Tidak, aku biasa saja. Mau dia perempuan atau laki, bagiku sama saja," jawab Syakira dengan antusias.


Rama termenung mengingat perkataan Marwa, kakaknya. 'Rama, boleh gak, kelak Syakira melahirkan, biarkan aku merawat satu anakmu.'


Rama kembali mengecup perut istrinya yang membuat Syakira merasakan bergidik sendiri.


"Geli, kak."


"Biar anak kita ikut tertawa," ujar Rama.


"Bagaimana kabar kak Marwa?" tanya Syakira serius di tengah tawanya yang terhenti mengingat kakak iparnya.


"Kak Marwa sudah membaik. kemungkinan besok akan pulang. Aku lihat dia sudah sedikit ikhlas menerima."


"Semoga saja dia bisa dan mampu melewati ujian ini," ujar Syakira ikut mendudukkan tubuhnya. "O iya, tadi Pak Firman datang dan menitipkan kotak besar untuk kak Marwa, tapi aku tidak tau apa isinya."


"Kau yang menerimanya?"tanya Rama dengan serius.


"Iya, mau siapa lagi?"

__ADS_1


"Kau menerima langsung dari tangannya?" tanya Rama lagi.


"Iya, aku dan nenek di sana."


"Pasti dia menatapmu, kan?"


"Ya jelaslah, kak. Memangnya kenapa? kok, kakak terlihat aneh. Kenapa bertanya seperti itu? "


"Kenapa bukan bibi saja yang kamu suruh, sayang. Untuk mengambilnya?"


"Ya gak lah, kak. Kan aku yang sudah di sana. Masa bibi yang sibuk di dapur menerimanya, dan jelas aku dan nenek sudah di situ. kak Rama mengherankan, tau gak?"


Syakira memegang wajah suaminya agar Rama menatapnya. "Sayang kamu cemburu?"


"Siapa yang cemburu?" Rama memalingkan wajahnya.


"Benar nih, gak cemburu?" Syakira merasa lucu menatap wajah suaminya.


"Gak lah," jawab Rama dengan masih mode wajahnya yang menggemaskan bagi Syakira.


"Tapi, hidungnya kembang kempis begitu," ujar Syakira menertawakan suaminya.


Rama melirik suaminya dan seketika memberi hukuman untuk Syakira sampai Syakira tahan napas dibuatnya. Cukup lama menikmati momen itu hingga berakhir di pembaringan.


"Masih cemburu nih?" ujar Syakira setelah suaminya keluar dari kamar mandi.


"Aku gak suka saja sayang, dia melirik-mu malam kemarin."


"Kak, dia punya mata, bukan?"


"Benar," Rama duduk samping istrinya.


"Lalu, kenapa kakak harus cemburu buta seperti itu?" Syakira kembali mengukir senyum. "Kak, aku mencintaimu, kau adalah bagian dari nafasku, semua yang kau berikan padaku lebih dari cukup, semoga cinta dan hati ini tetap terjaga untuk selamanya." Syakira menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Bahagia itu sederhana tinggal kita yang menyikapinya seperti bagaimana."


"Apakah kau bahagia selama ini bersamaku?" Rama mengelus kepala istrinya, lalu beralih mengecup perut istrinya.


"Tentu saja, aku tidak mungkin bertahan Sampai saat ini, jika aku tidak bahagia. Terimakasih telah memberikan cintamu untukku, kak. Sepenuhnya."

__ADS_1


Rama tersenyum. "Maafkan aku."


Syakira tersenyum, hingga pada akhirnya mereka pun masuk dalam dunia mimpi.


__ADS_2