
Wulan merogoh saku seragam sekolahnya, Dimasukkannya selembar ratusan ke kantung plastik yang di ulurkan cowok itu. Dan sebelum geletar di dadanya sirna, Cowok itu sudah lenyap...
Hampa lagi hati Wulan sekarang, tapi senyum manis itu masih terasa di sini, di hatinya. dan rasanya, ia yakin sekali, senyum cowok itu cuma untuk nya.
Wulan berdiri ketika sekolahnya terasa dekat. Wulan melompat turun ketika bus berhenti.
sebersit harapan hadir di benaknya. semoga besok, lusa, atau siang nanti sepulang sekolah, dia bertemu kembali dengan nya.
__ADS_1
“Lan...," Delia berlari menyusul nya.
“Eh, kamu naik bus yang tadi?" tanya Wulan sambil berdiri supaya Delia dapat menjajarinya.
Delia menggeleng.“ Diantar bang Ary, kok," jawab Delia.
“Kepa sih kamu naik bus? mobilnya di jual?" tanya Delia agak heran. Soalnya Delia tahu, Sejak kelas satu, Wulan sudah bawah kendaraan sendiri ke sekolah. kalau nggak bawa sendiri di antar sopir.
__ADS_1
“pengen naik bus aja, Alasannya sih kerna mobil saya masuk bengkel, terus sopir Papa saya tunggu datangnya lama, Padahal kantor Papa dan sekolah kita kan nggak searah. waktu itu karena sudah agak telat dan nunggu taksinya datang malah bus, terpaksa naik deh. Eh, nggak taunya asyik loh, Del, nggak nyangka," Wulan mengakhiri ceritanya dengan mata berbinar.
“Benar-benar asyik?"
“ sungguh."
“ Orang tua kamu nggak apa-apa?"
__ADS_1
“ nggak apa-apa,dong. Malah kayaknya Papa bangga anaknya mencoba hidup sederhana."