
Hari bahagia untuk wisuda di sambut oleh Syakira. Ia tampil begitu cantik. Bolak balik melihat pantulan dirinya di cermin memakai baju wisuda dengan perut membuncit yang kini umur kehamilannya menginjak 8 bulan 20 hari. Itu artinya, Syakira tinggal beberapa hari lagi akan melahirkan.
Wajah tampak berseri-seri. Perjuangan panjang berapa tahun menjadi seorang sarjana di bagian hukum selesai juga. Semakin tinggi gelar akademik seseorang, semakin besar juga penghargaan masyarakat terhadap dirinya.Tidak mengherankan apabila seseorang dengan banyak gelar akademis menuliskan semua titel yang dimiliki pada namanya. Karena hal itu dapat menunjukkan seberapa besar penghargaan masyarakat pada dirinya. Rentetan gelar yang dipakai di depan dan di belakang nama jadi sebuah keharusan.
"Sudah cantik, kok," Puji Rama melihat sang istri menatap di rinya di cermin.
Rama mendekat dan ikut mengusap perut istrinya yang semakin membuncit. "kamu terlihat cantik seperti ini, sayang." puji Rama pada Syakira.
"Jangan menggodaku, lagi."
"Apa yang aku utarakan adalah benar, jika istriku memang selalu cantik."
"Jangan merayu lagi."
"Istriku memang cantik," puji Rama yang kemudian mengajak istrinya untuk berangkat menuju kampus. "Ayo, kita berangkat! nenek sama ibu sudah menunggu!" Rama menggandeng tangan istrinya turun lantai bawah menemui semua keluarga yang sudah menunggu.
Hingga akhirnya satu keluarga berangkat menuju kampus Syakira. ada begitu banyak mahasiswa serta para pendamping sudah tiba. Momen wisuda jadi hari yang dinanti untuk pelajar maupun mahasiswa. Hari wisuda menjadi perayaan yang menyenangkan untuk perjuangan yang sudah dilalui dalam menyelesaikan studi.
Rasa bahagia juga tergambar jelas dari wajah Syakira serta para wisudawan ketika satu persatu nama mereka dipanggil. Tentu kebahagiaan ini nggak hanya dirasakan para wisudawan, kedua orang tua Syakira, termasuk Rama sendiri dan keluarga lainnya juga ikut merasakan perasaan bahagia ini.
Datangnya hari wisuda menjadi saksi seseorang berhasil melewati salah satu tantangan hidup. Tidak bisa dipungkiri oleh Syakira, bukan hal yang mudah untuk dapat menyelesaikan sebuah jenjang pendidikan seperti dirinya yang sudah berumah tangga di tambah ujian datang silih berganti menerpa.
"Perjalanan hidup membawa tantangan dan peluang. Semoga kamu membawa semangatmu untuk merebut peluang dan mengalahkan tantangan. Selamat atas kelulusan-mu sayang," ungkap Rama memeluk dan mencium kening istrinya dan beralih mengecup perut buncit sang istri, tidak peduli ada banyak sepasang mata yang menatapnya.
Syakira kembali dikejutkan dengan buket bunga yang tampak begitu besar
yang diberikan oleh suaminya. semua keluarga yang hadir di hari wisuda turut merasakan kebahagiaan mereka
"Wow! sayang, ini untuk saya?"
Rama tersenyum dan berkata, "Lalu untuk siapa? jelaslah ini untuk istri aku."
Syakira langsung memeluk suaminya. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. kebahagiaan yang dirasakan sungguh sangat mengejutkan baginya. lalu, Rama mengecup kening istrinya berlanjut mengecup perut buncit Syakira
"Selamat ya, nak. Ibu sangat bersyukur akhirnya kuliahmu selesai juga."
__ADS_1
"Iya ibu, ayah, terimakasih. Berkat doa kalian aku bisa sampai di sini," ujar Syakira yang kini dalam pelukan ayah dan ibunya.
"Jangan cepat berpuas diri dengan apa yang kamu gapai sekarang," kata ayah Syakira yang sangat bangga dengan prestasi putrinya. Mereka tidak menyangka Syakira masuk dalam kategori lulusan terbaik di antara banyaknya peserta wisuda lainnya.
"Selamat ya, atas kesuksesanmu hari ini," ujar Marwa yang turut hadir.
"Terimakasih, kak."
Satu persatu keluarga dari Rama memberikan ucapan selamat pada Syakira. Syakira tak hentinya mengucap rasa syukur dengan pencapaiannya saat ini.
di saat keluarga itu bercengkrama, Ana datang bersama Zakir. Syakira cukup kaget melihat Sahabatnya menggandeng seorang pria yang ia kenal pria yang pernah mengejar cinta Maura.
Ana berlari terlihat begitu riang tak terkira lagi menuju arah Syakira. Di mana Syakira dan keluarga masih setia bercengkrama dan berfoto. Syakira melihat Ana berlari ke arahnya segera menyambutnya bersama keluarga besarnya. Ana begitu sangat bahagia atas usainya jenjang pendidikan selama ini mereka nantikan hingga berada di titik finish.
"Syakira!" Ana berteriak. Ia baru sadar jika sahabatnya itu dalam keadaan hamil besar hingga ia membatalkan untuk memeluk erat satu perjuangannya itu.
"Ra, akhirnya kita usai juga kuliahnya. sungguh perjalanan yang begitu panjang hingga berada di titik ini,"
"Iya, Ana. Kamu benar." Syakira mengingat perjuangannya selama ini hingga berada di posisi sekarang.
Mendengar ocehan Ana, Semua tertawa. Syakira yang baru sadar melihat siapa pria bersama Ana segera ia melenyapkan rasa penasarannya dan bertanya.
"Ana, dia—" Syakira menunjuk dan matanya melihat ke arah ana, sahabatnya.
"Kenalkan, dia kakak aku, Syakira," jawab Ana memegang pundak Zakir.
"Apa? jadi, Zakir kakak kamu?" tanya Syakira tak percaya dan menoleh ke arah Rama. Begitu juga dengan Rama.
Ana hanya tersenyum sambil bergelut manja di lengan Zakir.
"Bagaimana kabar anda, Tuan? Aku masih ingat jelas hasil diagnosa itu, saat itu anda terlihat sangat terpuruk." Zakir mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Rama.
Syakira mendengar itu cukup heran. "Jadi, kalian sudah lama kenal?"
"Iya, sayang. Tidak sengaja pertemuan kami saat New York kala itu berlanjut hingga saat ini," Jawab Rama memeluk pinggang istrinya.
__ADS_1
"Kenapa baru cerita sekarang, sayang?" tanya Syakira.
"Apa yang perlu di ceritakan, Sayang. Kan semua sudah jelas." jawab Rama.
di tengah perbincangan mereka, Marwa datang dari toilet dan cukup kaget dan tidak percaya melihat Zakir dan Rama terlihat akrab.
"Zakir?" Sapa Marwa.
Rama dan Syakira berbalik dengan penuh tandanya.
"Kak Marwa kenal Tuan Zakir?" tanya Rama wajah herannya.
"Siapa? kakak? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Zakir melihat kerah Marwa dan Rama, sementara Syakira dan Ana hanya menyimak.
"Baiknya kita duduk di sana, kasihan bumil sedari tadi berdiri," Sela Ana di tengah obrolan itu.
"Jadi, tuan Rama dan Marwa adik kakak?" Zakir kembali mengulang pertanyaannya.
"Iya, dia adik aku, Zakir. Dan Zakir ini teman SMA aku, Rama. Dia juga sahabat suami aku," jelas Marwa yang cukup membuat Rama tak menyangka.
Rama terlihat begitu cukup terkejut mengetahui hal itu. Dia baru ingat, jika kakaknya dulu pernah bercerita seputar dua pria yang bersahabat mengungkapkan perasaannya. Ternyata oh ternyata, yang dimaksudkan kakaknya saat itu adalah Zakir. Kini Rama baru paham jika pria di depannya sekarang adalah Seorang pria yang pernah menaruh hati pada kakaknya.
melihat suaminya mengukir sebuah senyum membuat Syakira sedikit penasaran. Hingga pada akhirnya mereka pun meninggalkan tempat itu. Namun, Zakir yang masih menyimpan rasa pada Marwa menghentikan langkah Rama sebagai adik dari wanita yang selama ini pernah menyiksa perasaannya.
"Tuan Rama, bisakah sebentar sore kita bertemu di suatu tempat. Aku hanya ingin menanyakan seputar tentang kakak kamu."
Rama mengerutkan keningnya, walau dia sudah tahu arah pembicaraan Zakir.
"Tuan, aku yakin anda sudah tahu status kakak saya sekarang," Kata Rama menatap Zakir.
"Iya, tuan benar, aku sudah tahu statusnya. Dan aku juga tahu, bagaimana Marwa sekarang, pastinya dia sangat membatasi diri dekat dengan seorang pria, sekalipun pria itu adalah temannya. Tapi apakah salah jika seandainya saya memiliki niat baik?"
Rama tersenyum. " Niat anda tidak salah, tuan, hanya saja—"
Zakir mengangguk dan paham akan maksud Rama. Zakir cukup mengerti kondisinya Marwa yang baru di tinggal mati oleh suaminya. Zakir berfikir, dia tidak mungkin secepat itu meminang Marwa mengingat Marwa pasti merasa minder dengan statusnya yang sekarang.
__ADS_1
"Yasudah, kami duluan," Pamit Rama menepuk bahu Zakir untuk bersabar.