Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
95 Persen Mandul


__ADS_3

"Bagaimana perasaanku sekarang, ibu. itu Faktanya aku mandul, ibu! aku pria yang tidak sempurna."


Ibu Rama mendengar kenyataan itu bagaikan ia di sambar petir. gelas yang ia pegang bergetar.


"Katakan padaku, ibu! Apa yang harus aku lakukan! Perasaanku sekarang hancur. Maafkan aku yang telah menghancurkan pula impian kalian. Jangan salahkan Syakira jika ia belum hamil sampai sekarang. Akulah yang mandul,ibu! Aku!"


"Stop, Rama! Stop kau menyalahkan dirimu!" Ibu Rama memeluk putranya. "Itu mungkin dokter salah diagnosa. Ini diagnosa tahun kemarin jadi itu tidak mungkin."


"Setiap bulan aku memeriksakan kesehatanku, ibu. Masih hasil yang sama. Bagaimana ibu mengira ini salah. aku tidak main drama dengan ibu. Aku serius, ibu!"


Ibu Rama hanya bisa menangis melihat putranya duduk terkulai. Ia tidak bisa bayangkan betapa menyakitkannya dan merasa tak percaya dirinya Rama sebagai seorang suami.


"Fakta 95 persen aku mandul membuatku sekarang membenci diriku menjadi pria tak sempurna!" kata lemah Rama.


"Apa yang kamu katakan, Rama. Kamu mandul?" Nenek tiba-tiba datang mendengar kabar menyakitkan itu.


"Ibu?" Sahut Ibu Ratna berbalik melihat nenek Yang semakin hari tak mampu lagi mengangkat kakinya untuk berjalan. "Apa yang dikatakan cucuku itu benar, Ratna?"


"Ibu aku bisa jelaskan. Nenek jangan panik. Kita akan mencari jalan solusinya."


"Mengapa kabar ini kamu sembunyikan dari kami, Rama? Kenapa, cu....mengapa kamu menanggung beban ini sendiri, cu? Kenapa? bertahun kamu rasakan ini seorang diri dan kamu berpura-pura tersenyum dihadapan kami dihadapan istrimu, ternyata dibalik senyuman itu ada cerita yang menyiksa. Nenek tidak habis pikir jalan pikiranmu cu."


Rama memeluk tubuh nenek tua renta itu. Ini pertama kalinya nenek melihat cucunya terpuruk benar-benar dalam keterpurukan yang tak bisa lagi nenek gambarkan.


"Nenek tak mengapa, cu. Jangankan menyalahkan dirimu. Gusti Allah yang memegang setiap rahasia. Bisa kita percaya analisa dokter, tapi jangan sampai lupa diri bahwa semua terjadi atas Izin gusti Allah. Di dunia ada banyak cara bisa dilakukan seperti yang nenek katakan percaya pada Gusti Allah."


Di balik ketegaran nenek tersimpan rasa yang tak bisa digambarkan. Nenek masuk kamarnya. Rama yang melihat itu yakin jika nenek masuk kamarnya menumpahkan kesedihannya.


"Katakan ini pada istrimu, Rama. Jangan menanggung sendiri. jangan kau pura-pura bahagia. Suami istri alangkah baiknya saling terbuka," ujar ibunya Rama melihat kepergian nenek.


"Aku belum mampu, ibu," tolak Rama.


Ibu Ratna mengerutkan keningnya. "Kamu belum mampu, lalu kapan? Jangan sampai hal ini mereka tahu dari orang lain."


"Tidak ada yang tahu hal ini selain ibu, dan nenek." Bantah Rama dengan suara yang sedikit tinggi Ia lupa, jika Zakir juga tahu.


"Jangan membantah ibu, Rama! Apa kamu mau menyesal seumur hidupmu kehilangan istrimu bila Syakira sampai tahu dari orang lain dan merasa tidak dianggap. Apa kamu tahu, Rama? Wanita itu memakai perasaan dalam menyikapi sesuatu. Dia istrimu. Aku yakin Syakira bisa menerima kekuranganmu."

__ADS_1


"Aku tahu ibu, tapi aku yang tak sanggup." Rama kembali menjambak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Pikirkan dengan baik, Rama. Ibu ingatkan saja.


"Akan aku pikiran. Aku mau jemput Syakira. Assalamu'alaikum." Rama berlalu dengan wajah lusuh.


Tiba di kampus. Rama tidak menemukan Syakira. Ia memang sudah sangat terlambat. Rama akhirnya memutuskan kembali ke rumahnya dan melihat mobil Leon terparkir di sana bersamaan istrinya turun dari mobil Leon.


Syakira memang tidak seorang diri mendapat tumpangan dengan Leon. akan tetapi itu hal yang sangat tabu bagi Rama. Rasa cemburu serta emosi menguasainya. Selama ia tahu dirinya memiliki kekurangan Rama cepat emosian.


Syakira melihat suaminya dan Leon merasa ada angin cemburu buta melihat wajah Rama.


"Keluar kamu. Keluar!" bentak Rama.


"Kak, gak baik dilihat tetangga," bisik Syakira sambil melihat Leon dan Ana di dalam mobil.


Ana yang paham maksud kode Syakira segera meminta Leon untuk pergi. Leon ingin turun meladeni Rama, namun di cegah oleh Ana.


"Kenapa? takut?" tantang Rama.


"kak, sudah. cukup. ini tidak seperti dalam pikiranmu," bisik Syakira dan pergi meninggalkan tempat itu.


Rama pun memasukkan mobilnya dan Leon pergi di sana dengan penuh kecamasan memikirkan Syakira.


"Aku sering ingatkan padamu, jauhi Leon!" bentak Rama pada Syakira.


Syakira hanya diam dan terus melepaskan khimarnya. Ini pertamanya selama dua tahun pernikahannya mendengar bentakan dari Rama.


"Aku tidak suka kau dekat dengannya. Kau anggap apa aku, Syakira Al-ikhsan!"


"Kau suamiku, kak." syakira pun mengeluarkan Suara.


"Lalu, kenapa kamu tidak mendengarku, hah?"


Syakira tetap diam dan memilih membersihkan wajahnya dan Rama terus marah.


"Kenapa, Syakira. Apa karena kau sudah bosan dengan suamimu?"

__ADS_1


Syakira berbalik. Ia tidak suka mendengar perkataan Rama. "cukup, kak! Apa maksud kakak? Apa kakak tahu itu menyakitkan. Aku menumpang dengan Leon itu juga karena aku bersama Ana. Aku di sana menunggu berjam-jam, akan tetapi tidak ada tanda-tanda kakak akan datang. Dan ponselku lobet. kakak bisa lihat sekarang sudah hampir magrib," jelas Syakira dengan sabar.


Ia pun marah dan meninggalkan Rama masuk dalam kamar mandi. sementara Rama, dipenuhi rasa sesal.


***


Dilain tempat Maura tampak bahagia kerena karena Sahabatnya Zakir akan menemuinya. Ada banyak cerita dan kekecewaan yang ia akan bagikan.


"Zakir!" pekik Maura langsung menghamburkan tubuhnya memeluk pria itu yang selalu ia anggap sahabat. Tapi Zakir, sebenarnya memiliki perasaan lebih pada Maura. Ia meninggalkan kampung halamannya merantau ke luar negri karena kecewa Maura akan di jodohkan dengan pria yang ia cintai. Ia kembali setelah tahu Maura batal dalam perjodohan itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Zakir melihat Maura semakin cantik menurutnya. Dengan kulit putih dan rambut panjangnya terkesan menarik untuk kaum pria. "Apa tidak ada baju yang lebih baik dari yang kamu kenakan Maura?"


"Apa sih. kok bahas penampilanku lagi." cetus Maura tidak suka. Sejak dulu Zakir menegur cara berpakaiannya padahal itu bentuk peduli Zakir padanya.


"Aku peduli padamu Maura. cukup suamimu kelak yang menikmati keindahan tubuhmu."


"Sudahkah Zakir. gak suka tutup matamu."


"Bagaimana aku menutupnya kamu yang mengundang. Aku hanya ingin kamu tampil seperti dulu Maura. Seperti pertama kita bertemu. Tidak mesti kamu menutup seluruh tubuhmu, jika belum bisa. tapi, harusnya kamu bisa dan berusaha karena itu kewajiban bagi perempuan muslim menutup auratnya."


Maura bukan marah malah terkekeh mendengar ceramah Zakir, sahabatnya.


"Kenapa terkekeh? Memang aku lagi lawak. Gak Maura."


"Iya stop. aku paham," sela Maura. "boleh aku curhat?"


"Curhat apa? Curhat seputar pria yang kamu cintai itu dan tidak ada rasa padamu? kenapa masih berharap dengan orang yang sudah menikah dan jelas-jelas di depan matamu setia menunggumu," jujur Zakir.


Maura memukul lengan Zakir. Ia anggap Zakir bercanda. Ia pikir Cinta Zakir padanya sudah padam.


"Iya. Apa lagi. hanya itu ceritaku menyakitkan." ungkap Maura.


"Tidak perlu kau bahas aku paham perasaanmu. Justru kau bahas pria itu mengingatkan aku dengan seseorang yang frustasi karena di vonis oleh dokter Pria mandul. Aku tidka bisa bayangkan betapa hancurnya hidupnya. Pasti istrinya ikut merasakan kesedihan suaminya," papar Zakir mengingat wajah Rama dua tahun lalu.


"Mandul? Siapa namanya? Tanya Maura melihat zakir dengan serius.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu yang terlihat serius?" tawa zakir pada Maura.

__ADS_1


Maura memukul lengan zakir. "Aku serius, zakir.


"Namanya Rama." Zakir bingung melihat Maura tampak sangat terkejut.


__ADS_2