Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
perjuangan zakir


__ADS_3

Hari itu Zakir mendatangi kantor Rama. Rama yang tengah sibuk cukup terkejut dengan kehadiran Zakir yang tiba-tiba datang.


"Tuan zakir?" Sapa Rama berjabat tangan dengan Zakir yang kerap ia Sapa Tuan Zakir. "Mari silahkan duduk." Rama menyambut Zakir dengan ramah tamah.


"Aku sedikit kepo, nih, dari mana Tuan bisa tahu alamat kantor saya?"


"itu mudah bagiku," ucapnya.


"Baiklah, Tuan. kalau begitu," Rama paham. "Ada angin apa ini? "tanya Rama yang kemudian mempernaikai posisi duduknya. "sepertinya ada hal sangat penting."ujar Rama tersenyum.


"Begini, sebelmnya aku pernah mencintai Marwa, bahkan aku perna bercita-cita melamarnya, akan tetapi ternyata Marwa bukan jodohku hingga aku meninggalkan kota ini cukup lama. Tepat di sebuah pesta kami bertemu dan mengetahui Marwa sudah beda status.


"Jadi maksud tuan, kamu kemari berniat mau melamar kak Marwa?" tebak Rama menatap Zakir mengusap dagunya ya g muali dibuhi rambut di sana.


"Cukup lama aku bersabar, bahkan perasaannku sempat jatuh cinta pada seorang wanita, jauh sebelum bertemu dan mengetahui fakta tentang Marwa, aku sering teringat padanya. Hingga hari ini aku memutuskan untuk bisa menjadikan Marwa pendamping hidupku," papar Zakir panjang lebar.


"Niat anda sungguh mulia tuan, hanya saja soal kak Marwa aku tidak bisa putuskan. kak Marwa yang berhak memutuskan sebagai seorang janda untuk kehidupannya. Aku merestui hubungan kalian andai kak Marwa menerima niat baik Tuan," Senyum Rama menatap Zakir penuh harap.


Zakir mengangguk paham maksud Rama. "Baiklah, aku paham maksud anda, Tuan Rama."


Zakir mengulurkan tangannya. Rama dengan tersenyum menyambut tangan Zakir untuk bersalaman.

__ADS_1


"Semoga saja perjuangan anda membuahkan hasil, Tuan. jika kalian berjodoh pasti ada jalannya begitu juga sebaliknya, semua ada sebab akibatnya." Tampak senyum di wajah Rama.


Begitu Zakir keluar ia tidak sengaja bertabrakan dengan Marwa yang datang yang berniat untuk menemui Rama.


"Maaf," ujar Marwa.


"Iya, tak mengapa," ujar Zakir yang kemudian melepaskan tanganya dari lengan Marwa.


Zakir pamit undur diri pada Marwa. Marwa mengangguk dan cukup penasaran dengan kehadiran Zakir ke kantor Rama. pandangan Marwa terus menatap Zakir hingga tak terlihat lagi.


Rama tersenyum tepat di belakng Marwa dan berdeham. "hem!"


Marwa melonjak kaget dan memukul bahu Rama. "Bikin kaget saja kamu. memang Zakir ada perlu apa?"


"Kakak itu serius Rama."


"Ayo kak, kita bicara di dalam. tidak di enak sini di lihat oleh karyawan."


Rama membuka pintu ruangannya dan diikutin oleh Marwa di belakangnya. lalu Marwa duduk. Namun begitu bokongnya duduk, tidak sengaja Marwa seprti memegang sebuah benda pipi.


"Ini ponsel siapa, Rama?" Marwa melihat foto Zakir di sana. Marwa tersenyum.

__ADS_1


"Sepertinya itu ponsel milik Tuan Zakir, kak."


"Iya, nih jelas terlihat milik siapa." Celetuk Marwa menunjuk layar ponsel milik Zakir.


"Kak?"


"hmm..., kenapa?"


"Kak, apa kak Marwa masih punya perasaan dengan zakir?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Marwa yang kemudian memasukkan ponsel Zakir di tasnya.


"Aku hanya ingin memastikan perasaan Kak Marwa pada Tuan Zakir.


"Aku tidak mau membahas hal itu," Marwa berdiri menatap kek uar dari gedung kantor itu.


"Apa salahnya jika kakak seorang janda. Memangnya seorang wanita yang di tinggal mati oleh suaminya tidak bisa menikah lagi?"


Marwa terdiam. Rama kembali melanjutkan ucapannya. "Zakir datang dengan niat tulusnya."


Marwa menoleh. kembali lagi Rama membenarkan. "Aku serius. Dia brusan menyatakan kesungguhannya. Dan aku katakan, jika semua keptisan ada pada. kak Marwa.

__ADS_1


Marwa diam. perasaan tak menentu.


__ADS_2