
Malam ke 10 Syakira dirawat di rumah sakit. Setiap waktu ujian terus datang. Ia seakan lelah menghadapi Maura yang setiap waktu-waktu akan terus menganggu rumah tangganya.
Ia takut suatu hari tak mampu untuk berbuat. Syakira sangat mengenal baik watak Maura yang tak akan menyerah begitu saja.
Syakira kembali menulis di buku diary miliknya. 'Saat aku merasa lelah, tetaplah di sampingku hingga aku tak lagi merasakan rasa lelah itu kembali.
dan andai aku tidak berumur panjang aku tidak rela jika wanita yang akan menggantikan posisiku sebagai istri kamu berikutnya tidak benar-benar tulus, karena aku sebagai istrimu begitu banyak kekurangan. Aku rela jika wanita yang menggantikan aku adalah wanita yang tulus mencintaimu. Maafkan aku yang mendahulukan egoku.' makna yang tersirat di dalam tulisannya seakan ia tunjukkan pada seseorang.
"Astaghfirullah." ucapnya Syakira membaca tulisannya sendiri.
kembali tangan itu menulis di atas kertas putih. 'saat kau utarakan cintamu dengan begitu tulus. aku takut untuk menolaknya, karena aku tidak pernah tahu apakah aku bisa menemukan pria sebaik dirimu. untuk itu seandainya suatu saat kita berpisah hidup atau mati satu hal yang kamu harus tau bahwa buah hati kita adalah merupakan tanda kuatnya cinta kita. kelak ia lahir. harapanku.'
Syakira menatap tangannya yang terlihat bengkak karena jarum selan infus. Ia tidak menyangka takdirnya diberikan ujian melalui penyakit yang terbilang mengerikan.
Syakira kembali merasakan sakit bagian perutnya. Ia kembali merasa mual dan tubuhnya kembali terasa lemas. "Apa mungkin kamu bisa melihat dunia, nak? ibu berharap kamu dan aku bisa bertahan, nak. Ibu rela menukar nyawa ibu demi kamu bisa lahir di dunia ini," Syakira berbicara seorang diri.
"Nak, kelak kamu tumbuh dewasa sampaikan pesan ibu, jika ibu sangat menyayangi kalian. ibu sangat sayang sama ayahmu. Apa kamu tahu dulu ibu tidak memiliki perasaan pada ayahmu. seiring berjalannya waktu ayahmu berhasil merebut semua hati ibu hingga kamu hadir di rahim ibu," ungkap Syakira mengajak calon buah hatinya berbicara.
Syakira terus melanjutkan tulisannya pada sebuah buku diary miliknya. Melihat buku diary itu Syakira kembali teringat masa lalunya saat pertemuan awalnya dengan Rama. Ia ingat bagaimana Ia mengancam Rama tidak kawin jika Rama membuka dan membaca buku diary miliknya kala itu.
Tulisannya terhenti, ketika sebuah kertas terselip di dalam sampul buku diary nya. "Bukankah catatan ini dari seorang pria saat itu?" pikir Syakira sambil membaca kembali serta mengingat masa lalunya saat masih santri.
Ketika akan menyimpan buku diary itu di dalam laci, Syakira menemukan sebuah kotak yang sangat cantik. Syakira pikir itu kado dari suaminya, Rama.
"Itu dari Leon, Sayang," sahut Rama yang baru datang mengurus administrasi Syakira untuk pulang.
Dokter sudah membolehkan Syakira pulang, karena kondisinya sudah terlihat membaik walau masih terus mengontrol kesehatannya satu kali dalam seminggu.
"Dari Leon?" tanya Syakira.
__ADS_1
Rama mengangguk. "Bukalah, jika kamu ingin aku tidak melihatnya aku akan keluar. itu privasi kamu."
Rama yang hendak keluar tangannya ditarik oleh Syakira. "Bagaimana jika ini bom?" canda Syakira. "Apa kamu mau aku mati sendiri di sini?"
Rama tersenyum dan kembali duduk di sisi istrinya. "Andai itu bom aku akan ikut mati bersamamu. Andai penyakit yang kami derita sekarang ini bisa dibagi aku akan rela berbagi merasakan sakit yang kamu rasakan kini. Andai maut bisa diminta Aku ingin mengatakan biarkan aku yang mendahului dirimu."
"Kak, jangan membuatku baper. Hatiku tak mampu, jiwaku meronta-ronta," imbuh Syakira sambil tersenyum. menganggap kata-kata suaminya hanya untuk menggodanya.
Rama mengecup kening istrinya kemudian beralih mengecup punggung tangan istrinya. "Kau adalah nafasku Syakira."
"Kau adalah jantungku, kak." balas Syakira.
Rama tersenyum sambil memberikan kotak milik Leon pada Syakira. "bukalah,"
Dengan pelan Syakira membuka kotak pemberian Leon. Ia terus membuka. hingga terlihat kotak kecil berwarna merah. Syakira melihat suaminya.
"Bukalah apa isinya?" perintah Rama.
Syakira megambil kertas itu yang terlipat dengan rapi. Dengan pelan Syakira membaca tulisan Leon.
'Sebelumnya maafkan aku. Ku tulis sepucuk surat ini walau ku tahu tulisan ini mungkin tak berati, tapi tak mengapa. Aku puas dan tenang telah mengungkapkannya. Aku mengembalikan barang ini pada pemiliknya yang sudah dua tahun bersamaku. Aku tak akan menyesal pernah mengenalmu dan mencintaimu dalam diam ku. Dulu, kupikir pemilik barang ini kelak akan menjadi penyejuk hatiku nyatanya dia bukan takdirku. Dia bukan untukku. Aku bahagia melihatmu bahagia bersama pria yang begitu tulus mencintaimu. dan aku juga akan mengatakan bahwa aku lah Leon yang pernah mengirimkan secarik kertas bertuliskan beberapa kata. Leon. terimakasih mengajarkan aku makana mencintai dan di cintai.'
Syakira melebarkan matanya melihat bros miliknya. ternyata bros kesayangannya ada pada Leon selama ini. lain dengan Rama. usai ikut membaca surat itu kini ia tahu mengapa Leon selama ini begitu gentar mengejar syakira. Bahkan Leon tak tak segan-segan memperlihatkan ketulusannya pada Syakira.
"Sayang?" tegur Syakira.
Rama menoleh ke arah istrinya. lalu, menatapnya dalam. "Ternyata ada seorang yang lebih tersiksa selama ini dan aku merebutnya tanpa aku tau." ungkap Rama, lalu mengenakan bros itu di hijab Syakira. "Aku paham perasaan Leon."
Syakira membenamkan wajahnya di dada suaminya. "Takdir, jodoh dan maut tak ada yang tahu, kak." Syakira memainkan jarinya di dada suaminya. "Leon hanya jatuh cinta, akan tetapi suamiku dia mencintaiku. Ketika seseorang mencintai dengan tulus, ia akan lebih banyak memberi tanpa meminta. Saat memberi, seseorang yang cintanya tulus tak akan meminta balasan atas apa yang telah ia berikan. itulah suamiku," Ungkap Syakira.
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah pandai berkata-kata. Akunya semakin ingin melahap kamu habis-hanis."
"Kanibal dong."
"Kanibal ama istri sendiri sepertinya tidak mengapa dong."
Rama mendekatkan wajahnya. semakin dekat membuat Syakira memejamkan matanya. ketika dua bibir itu hampir saling bertaut, suara dehem Fajri, kakak Syakira dan istrinya mengacaukan momen itu.
"Maaf, kami menganggu ya?" ledek Laila yang pura-pura menutup matanya.
"Bukan menganggu sayang, tapi mengacaukan momen mereka. sepertinya kunjungan kita salah deh," ledek Fajri lagi.
"Iya, sepertinya begitu deh," ujar Laila berjalan menuju adik iparnya, kemudian memeluk Syakira dan menanyakan kabarnya.
Rama pun menyambut Fajri yang merupakan sahabat baik sekaligus kakak iparnya.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Fajri.
"Kami baik." jawab Rama.
kemudian Fajri menoleh ke arah adiknya yang kini masih dalam tangannya di infus.
"kak," Syakira memeluk kakaknya dengan erat. "Kenapa kakak baru lihat Syakira?"
"Maafkan kakak. kakak juga baru tahu. kamu yang sabar. Dia tahu kau mampu melewatinya sehingga Dia memberimu Ujian. Kamu pasti pernah dengar sebuah hadits. 'Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian; mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan syaitan yang selalu menyesatkannya.” (HR. Ad-Dailami).'
"Iya, kak."
"Bersabarlah, dek. semua akan indah pada saatnya." Fajri memeluk adiknya kembali.
__ADS_1
Setelahnya Fajri pun menepuk bahu adik iparnya. sebagai pesan agar Rama menjaga adiknya dengan baik.
Dukungan dari kalian sangat berharga bagi kami untuk menunjang motivasi kami sebagai Author. mohon dukungannya🥰🥰🥰🥰love-love buat pembaca setia 'Terlanjur Sayang' masukkan dalam daftar Favorit untuk mengetahui update terbaru dari kami. TERIMAKASIH LOVE YOU🥰🥰🥰